SINAM

SINAM
Saling Rebut


__ADS_3

“Sansiro, kau periksa sebelah sana, aku yakin peta itu berada di sekitar sini. ” ucap Sinam penuh semangat.


“kau benar, pasti disekitar sini. ” Sansiro juga bersemangat sambil mencari-cari peta.


Lima Menit Kemudian...


“sial, kenapa tidak ketemu juga? aku sudah meriksa semuanya. ” Sinam terlihat kesal.


“ini benar-benar membosankan. ” sahut Sansiro juga kesal.


Bukk..


Sinam menghempaskan bokongnya dengan kasar ke tanah, tepatnya dibawah pohon, begitu juga dengan Sansiro.


“eh.?! ” Sinam seperti merasakan sesuatu, lalu menoleh kebelakang, “ ini.?! ” dia tersenyum semangat.


Sansiro mengikuti arah mata Sinam, “itu peta, kita menemukannya.! ” dia langsung bersemangat.


Sinam mengambil sebuah gulungan yang menyelip di pohon, itu adalah peta yang sengaja di sembunyikan.


Sinam membuka gulungan kertas tersebut, “ benar, ini adalah peta kedua. ” dia terlihat bahagia.


“benar-benar menjengkelkan, kita sudah mencari kemana-mana, ternyata ada di pohon ini. ”


Sinam menatap Sansiro, “peta kedua sudah kita temukan, sekarang kita cari yang ketiga.! ” dia bersemangat.


“Yosh..! ” Sansiro tersenyum semangat.


★★★★★


“kita sudah mendapatkan tiga peta, sekarang kita cari yang keempat. ” Harumi menatap peta sambil tersenyum.


“ternyata ini lebih mudah dari yang ku pikirkan. ” Kaori tersenyum. “jika terus seperti ini, mungkin kita yang akan pertama sampai ke arena pelatihan Akademi. ”


“kau benar. ” ucap Harumi, “ayo kita lanjutkan.! ”


Tap.. Tap..


Harumi dan Kaori berlari menuju arah peta, keduanya terlihat begitu sigap dan cerdas.


Tap..


setelah cukup lama berlari, Harumi dan Kaori menghentikan langkah, mereka berada di padang rumput yang disekelilingnya terdapat pohon besar dan rindang.


“aku yakin di sekitar sini. ” ucap Harumi sambil memeriksa rerumputan.


“kau benar, arah peta ketiga menunjukan peta keempat ada sini. ” Kaori juga memeriksa dengan teliti.


Harumi dan Kaori terus mencari dan memeriksa sekeliling, namun juga tidak menemukan apa yang mereka cari.


Harumi terduduk, “ada apa ini? seharusnya ada di sekitar sini. ” dia terlihat kesal.


“padahal kita sudah memeriksa dengan benar, apa yang salah.? ” Kaori terlihat kesal.


Harumi menatap peta dengan seksama, “kita sudah mencari dengan teliti, aku yakin ada yang salah dengan peta ini. ”


“itu musta... ” Kaori menghentikan ucapannya, lalu terlihat berfikir, “ada yang salah dengan peta ini.? ” dia menatap peta dengan seksama.


Harumi dan Kaori saling tatap, keduanya terlihat berfikir, beberapa saat kemudian mereka tersenyum.


“sepertinya kita kurang beruntung. ” ucap Harumi.


“pantas saja dari awal kita menemukan peta dengan mudah, ternyata ini jebakan. ” Kaori seperti mengerti.


Harumi tersenyum, “peta pertama sampai ketiga mungkin terhubung, namun peta keempat sudah tidak ada, ini salah satu jebakan yang dimainkan oleh orang bernama Deiki itu..”


“jadi, kita harus bagaimana? bukankah kita harus membawa tujuh peta agar tidak gagal. ” Kaori terlihat serius.


“kita akan merebutnya dari orang lain. ” Harumi tersenyum jahat.


“apa? bukankah kita akan melanggar peraturan.? ” Kaori terkejut.


“tidak, aku yakin inilah yang diinginkan orang bernama Deiki itu. ” Harumi berdiri. “ aku yakin bukan hanya kita yang mengalami ini, kita akan saling rebut.. para peserta akan berguguran. ”


Kaori tertegun menatap Harumi, “Harumi, kau memang hebat. ”


“ayo pergi.! ” Harumi bergegas pergi, Kaori menyusul dari belakang.


Tap..

__ADS_1


setelah beberapa saat berlari sambil mengintai, Harumi dan Kaori menghentikan langkah, sepertinya mereka menemukan mangsa.


tidak jauh dari tempat Harumi dan Kaori berada, terlihat dua orang anak laki-laki sedang menatap peta, salah satu diantaranya memakai kacamata.


“aku yakin disini. ”


“aku menemukannya. ”


“kau hebat, ternyata orang yang memakai kacamata memang pintar, ya. ”


mereka berdua berbincang, keduanya terlihat bersemangat.


“serahkan peta kalian, atau kami akan menghabisi kalian.! ” tiba-tiba terdengar suara teriakan.


“eh?! ” kedua anak laki-laki tadi menoleh kearah suara.


keduanya terkejut, mereka melihat Harumi dan Kaori sedang berdiri di atas dahan pohon.


“kau.?! ” salah satu anak terlihat serius, “ apa yang kau inginkan.?! ”


Kaori melompat dan berdiri di depan kedua anak itu, lalu tersenyum, “ memangnya tadi belum jelas dia berkata apa, serahkan peta mu.! ”


“ apa maksud mu?! kau melanggar peraturan.! ” jawab salah satu anak.


Harumi menatap anak itu, “ hah?! melanggar peraturan? tidak ada peraturan yang mengatakan tidak bisa merebut peta dari orang lain. ” kemudian melompat mendekati Kaori.


salah seorang anak menatap Harumi, “ Sato Harumi.?! ”


“kami tidak akan menyerahkannya.. jika kau ingin, kau harus mengalahkan kami dulu.! ” salah seorang anak bersiap maju.


“aku tahu kau berasal dari Klan Sato, sama dengan pimpinan Desa Yama, tapi kami akan menghadapi mu. ” ucap yang lainnya.


“kau mengenal ku? ternyata aku cukup populer, ya. ” Harumi tersenyum, kemudian terlihat serius, “ memangnya kau pikir siapa yang ingin membanggakan Klan, hah.?! ”


Tap...


Harumi dan Kaori menatap kedua anak laki-laki yang berada di depannya, begitu juga sebaliknya, mereka menarik senjata, lalu menerjang maju.


Trang...


Harumi dan lawannya beradu pedang, diawal pertarungan keduanya terlihat seimbang.


Harumi terus menyerang dengan beberapa tebasan, lawannya terlihat kewalahan, “ada apa? kau terlihat ragu-ragu, apa kau takut.?! ” sambil berbicara.


Blaak..


disisi lain, Kaori menghadapi anak yang menggunakan kacamata, namun mereka hanya tangan kosong.


anak bermata empat itu terus melepaskan pukulan kearah wajah Kaori, namun tidak ada yang mengenai.


“ya, ampun, kau payah sekali menjadi laki-laki. ” ejek Kaori.


Bukk..


Kaori melesatkan tendangan yang mendarat di dada lawannya secara telak, anak itu terpental dan menghempas pohon.


“akh..! ” anak itu mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, setelah itu dia kehilangan kacamatanya karena terjatuh.


“sal, aku tidak bisa melihat. ” anak itu mencari kacamatanya.


“ya, ampun, imut sekali. ” Kaori berjalan mendekati anak tadi, lalu mengambil kacamata yang tergeletak di tanah.


“jika kau ingin kacamata mu kembali, serahkan peta milikmu.! ” ucap Kaori tersenyum manis.


“aku tidak menyimpannya, semuanya ada pada temanku. ” ucap anak tadi.


“ bagus. ” Kaori memberikan kacamata pada anak itu.


Harumi sudah menyelesaikan pertarungannya, “ berikan peta mu. ! ” dia meletakkan ujung pedangnya dekat leher lawannya.


“ba.. baiklah..” lawan Harumi terlihat takut melirik ujung pedang Harumi.


Sreek..


lawan Harumi membuka tas, lalu mengeluarkan peta yang ada lima buah.


Harumi tersenyum, “ternyata kalian sudah mendapatkan lima peta, ya. kalian memang hebat. ” ucapnya manis, “ kami hanya memiliki tiga peta, kalau begitu berikan aku peta keempat dan kelima.. ”


“baiklah.” anak itu memberikan dua peta pada Harumi.

__ADS_1


Harumi dan Kaori tersenyum menatap kedua peta tersebut, “ apa yang akan kita lakukan setelah ini.? ” tanya Kaori.


Harumi tersenyum, “ kita akan mencari peta keenam dengan peta kelima ini. ”


“ begitu, ya.. ” Kaori tersenyum, “ lalu, bagaimana dengan mereka. ? ”


Harumi menoleh kearah dua anak laki-laki tadi, “ jika kalian masih ingin melanjutkan, kalian bisa merebut peta orang lain.. begitulah peraturan yang sebenarnya.. maaf, ya. ”


setelah itu, Harumi dan Kaori pergi dari tempat itu.


beralih ke Saken dan Yoja, terlihat mereka baru saja menemukan peta.


“ini yang keenam, itu artinya tinggal satu lagi. ” ucap Yoja.


“begitu, ya. ” ucap Saken datar.


keduanya kembali melanjutkan perjalanan, mereka terlihat santai dan tenang, namun bergerak dengan pasti, tinggal satu peta lagi mereka sudah keluar dari hutan ini.


Yoja menatap Saken dari belakang, “ orang ini... semakin lama dekat dengannya, semakin membuat ku takut.. aku belum pernah seperti ini sebelumnya. ” batinnya.


Saken melirik Yoja, “ selama kau tidak membuat ku kesal, aku tidak akan membunuhmu, kau tidak perlu takut. ” ucapnya datar.


“da.. darimana kau tahu? aku tidak takut padamu.! ” Yoja memaksakan diri.


Saken menghentikan langkah, lalu melirik tajam Yoja, “ aku bisa melihatnya dari matamu.. tatapan mu ketika melihatku sama dengan yang lain.. benar-benar menjengkelkan.. ” ucapnya datar.


Yoja tersentak, lalu membisu, “ sekali lagi.. aku merasakan sesuatu di dalam dirinya.. sesuatu yang bukan dia, namun juga dia.. dan itu terus memaksaku untuk waspada. ” batinnya.


Tap...


tiba-tiba muncul dua anak laki-laki di hadapan Saken dan Yoja, keduanya terlihat tersenyum jahat dan mengeluarkan senjata.


“kalian sudah sampai sini, ya. hebat juga. ”


“aku yakin peta yang kalian dapatkan sudah banyak, lima atau enam, benar bukan? ”


kedua anak laki-laki tadi berbicara secara bergantian sambil tersenyum jahat.


Yoja tersenyum menatap kedua orang itu, “ jika itu benar, kau mau apa? mau menggagalkan kami.?! ”


“kami sudah mendapatkan empat peta, namun peta kelima tidak bisa kami temukan. kami ingin meminta bantuan kalian. ” ucap salah seorang terlihat polos.


Saken menatap kedua orang ini, “ tidak perlu beromong kosong, katakan apa yang kau inginkan.? ” ucapnya datar.


“cih, aku suka orang seperti mu. ” salah satu anak menatap Saken, “ serahkan peta mu atau kau ku bunuh. ” kemudian tersenyum jahat.


Yoja tersenyum, “ sudah ku duga, kalau begitu, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu. ”


“jika kau yang memaksa, apa boleh buat.?! ” kedua orang tersebut berlari maju dengan pedang di tangan.


Tap.. Tak..


Yoja berlari kearah lawan dengan tangan kosong, namun dia terlihat bersemangat.


Wuushh...


tiba-tiba ada sesuatu yang melesat cepat melewati Yoja kearah dua lawannya.


Crakhh...


tiba-tiba dua orang tersebut terhempas ke batang pohon dengan sangat keras, di leher keduanya terlihat mulut seekor ular yang sedang menerkam, darah mengalir kemana-mana.


“akh.. ” kedua orang itu kesakitan, kemudian menoleh lehernya yang ternyata ular sedang menerkam.


“iblis! kau iblis ular yang dibicarakan itu.! ”


“tidak.. tolong lepaskan kami..! ”


kedua orang itu berteriak histeris menatap Saken.


“ular.?! ” Yoja memandang ular yang menerkam kedua lawannya dengan terkejut, kemudian mengikuti arah ular tersebut berasal.


Degg..


Yoja tersentak melihat ular yang berasal dari kedua lengan baju Saken, serta Shaka mencekam milik Saken.


Saken menatap tajam kedua orang tersebut, “ awalnya berlagak sombong, setelah tahu aku iblis ular, kalian menatap ku dengan tatapan menyedihkan.. kalian semua sama saja. ” kemudian menarik kembali ularnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Yoja menatap kepergian Saken, “ iblis ular.?! ” dia masih diam ditempat.

__ADS_1


__ADS_2