SINAM

SINAM
Api Hijau


__ADS_3

“ayah.! ” Himiko keluar dan berlari menuju tempat Hikaru.


melihat kemunculan Himiko, tiga pimpinan pasukan lawan terkejut.


“ayah?! ” ucap Ikumo, “tidak salah lagi, anak itu adalah anak dari pengendali api. ”


“kalau begitu, kita harus membunuhnya.! ” sahut Judoro.


“benar, jika kita membiarkannya tetap hidup, dimasa depan dia bisa menjadi ancaman.! ” Mikami bersiap menerjang Himiko, anak yang masih berusia sekitar tujuh tahun itu.


Mikami mengejar Himiko, “maafkan aku, tapi aku tidak bisa membiarkan kau tetap hidup. ” dia melesatkan tebasan dari belakang.


Himiko melirik kebelakang, lalu melompat untuk menghindar, pedang Mikami menebas udara.


Tap..


Himiko mendarat, lalu menatap ketiga pimpinan tersebut dengan tatapan tajam.


“apa? dia menghindari tebasan ku?! ” Mikami terkejut.


“akan ku bunuh kalian semua.! ” Himiko mengeluarkan api dari telapak tangannya, namun api tersebut terlihat sangat kecil.


“apa? dia sudah bisa mengendalikan api?! ” Ikumo terkejut.


Mikami menatap serius Himiko, “anak ini.. jika tidak dibunuh sekarang, sudah bisa dipastikan akan membalas dendam.. dia terlalu kuat untuk anak seusianya. ” batinnya.


Braaakk...


puing-puing yang menimpa Hikaru terlempar kesana kemari, kemudian hangus terbakar di lahap api yang berwarna hijau, disitu terlihat Hikaru sedang berdiri dengan wajah penuh darah, sepertinya serangan dari Judoro sebelumnya cukup mematikan.


“ini? api hijau..?! ” semua pimpinan lawan terkejut melihat api hijau tersebut.


“ayah.! ” Himiko tersenyum melihat ayahnya yang telah bangkit.


“hosh... hosh..! ” Hikaru mengatur nafas dengan tubuh sedikit membungkuk, “beraninya kalian menyerang anak kecil.. ”


Hikaru menoleh Himiko, “Himiko, pergilah! ayah tidak bisa melindungi sambil bertarung. ” ucapnya lembut.


“tidak, aku akan bertarung bersama ayah.! ” jawab Himiko dengan gagah.


Hikaru tersenyum, “ayah hargai keputusan mu, tapi kau yang sekarang bukanlah apa-apa, pergilah.! ”


Himiko tidak menjawab, namun dia tetap diam.


Tap.. Tap..


Hikaru melangkah maju secara perlahan.


“dia datang! berhati hatilah, api hijau sangat berbahaya.! ” Mikami bersiap, Judoro dan Ikumo juga terlihat serius.


“Api Hijau, Semburan Pemusnah.! ” Hikaru mengeluarkan jurus.


Blurr..


sesaat kemudian, api berwarna hijau muncrat dari mulut Hikaru dengan dahsyatnya kesana kemari memburu lawan.


“menghindar.! ” teriak Mikami.


Kraak..


Judoro mengangkat batu dengan ukuran besar untuk melindungi tubuhnya.


“aku ingin lihat sekuat apa serangan mu. ” Judoro tersenyum remeh.


Mikami dan Ikumo melompat kesana-sini untuk menghindar, lalu melirik Judoro, “bodoh! api hijau bukanlah sesuatu yang mudah diatasi. ” ucap Ikumo.

__ADS_1


“jika kau pikir itu bisa menahan api hijau, kau salah, Judoro.! ” batin Mikami.


Hikaru terus menyembur api hijau kearah semua musuh dengan brutal.


Csss...


batu yang menjadi perisai Judoro hangus terbakar.


“apa.?! ” Judoro terkejut.


“Aaakh..! ” kemudian berteriak kesakitan, tangan kanannya terkena api hijau milik Hikaru walau hanya sedikit.


“sial.! ” Judoro berlari mundur sejauh-jauhnya.


Ikumo terus berlari dan menghindar dengan sesekali melompat, “sial, sampai kapan dia bertahan dengan serangan ini.? ” dia terlihat kesal.


di suatu kesempatan, Ikumo tidak bisa menghindar, tangan kirinya dimakan oleh api hijau milik Hikaru sampai batas siku.


“Aaakh..! ” Ikumo berteriak sekeras-kerasnya.


kini, serangan Hikaru terpusat pada Mikami, api hijau tersebut terus memburu Mikami tanpa memberi nafas.


Mikami melirik kebelakang yang terlihat api hijau terus mengejar, “sial..! ”


“gawat.! ” Mikami dikejutkan oleh api hijau yang berada di depannya.


“Pencuri Bayangan.! ” Mikami mengeluarkan jurus.


sesaat kemudian, tubuh Mikami berubah menjadi hitam pekat, semburan api hijau melewati tubuhnya seperti tidak menyentuh apa-apa.


setelah itu, serangan api hijau milik Hikaru usai, tapi api hijau tersebut masih menyala di sekeliling sekalipun itu di tanah yang terkena.


“jadi ini.. api hijau. ? ” Himiko menatap kagum melihat api hijau tersebut yang menyala di tanah, “suatu saat nanti, aku pasti bisa mengendalikannya. ” batinnya.


“uhuk.. uhuk..! ” Hikaru terbatuk, seteguk darah muncrat dari mulutnya.


Tap..


pimpinan pasukan musuh yang awalnya terpencar, kembali bersatu dan berdiri didepan Hikaru walau masih menjaga jarak.


Ikumo menatap tangan kirinya sambil menahan sakit, “tidak ku sangka, api hijau akan mengerikan seperti ini. ” dia memandang luka bakar ditangannya yang menyebar sampai ke bahu.


“sebaiknya kau memotong tanganmu, kalau tidak mungkin luka itu terus menyebar ke seluruh tubuh mu. ” ucap Mikami datar.


Zrasshh...


tanpa basa-basi, Ikumo memotong tangan kirinya sampai batas bahu, namun setetes darah pun tidak keluar, sepertinya api hijau tersebut sudah mengeringkan cairan tangannya.


“tanpa kau beritahu aku sudah tahu. ” ucap Ikumo datar.


Judoro memandang tangan kanannya yang terbakar sampai batas lengan namun tidak menjalar, “sialan, dia berani melukai tubuh ku ini. ” dia terlihat kesal.


“jika tubuh mu tidak kuat, mungkin kau sudah bernasib sama dengan Ikumo. ” sahut Mikami.


“kau benar, aku tidak pernah melihat pimpinan Desa yang cacat.. hahaha..! ” Judoro tertawa.


Ikumo melirik Mikami, “terlepas dari itu, kau memang cepat Mikami, bisa terhindar dari serangan secepat itu.. ”


“aku hanya beruntung saja. ” ucapnya sambil tersenyum.


Hikaru menatap Mikami, “Jurus Pencuri Bayangan, aku belum pernah dengar sebelumnya, sejauh ini pimpinan Yama sepertinya masih menahan diri. ” batinnya.


Mikami juga menatap Hikaru, “padahal sebelum pertempuran ini terjadi, aku sudah mempelajari banyak hal tentang pengendali api, tapi sepertinya aku masih belum tahu apa-apa. ” batinnya.


Judoro menatap tajam Hikaru, “kau sudah melukai tubuhku, kau harus membayarnya.! ” teriaknya.

__ADS_1


Zuorr...


Shaka ungu milik Judoro menggelora, tekanan udara membuat debu beterbangan.


Kraak...


tubuh Judoro membesar drastis, celananya koyak dan yang tersisa hanyalah sampai batas paha, tanah tempat Judoro berpijak pun hancur, kakinya masuk kedalam tanah.


Ikumo dan Mikami menutupi wajah dari debu dengan menggunakan tangan, “Shaka yang sangat kuat, pimpinan Arkan benar-benar menakutkan.! ” gumam Ikumo.


“akhirnya dia mulai serius. ” batin Mikami.


Judoro memasang kuda-kuda, “sekarang giliran ku menyerang balik. ”


Judoro melesat cepat kearah Hikaru, Shaka ungu di sekujur tubuhnya bersinar menambah aura mematikan.


“dia datang.?! ” Hikaru bersiap.


“Hembusan Pembunuh! ” Hikaru menyemburkan api merah untuk mengadu dengan serangan Judoro.


“dengan Shaka ku yang sekarang, hanya Api Merah yang bisa ku gunakan. ” batin Hikaru.


Judoro terus melesat, “tahanlah ini jika kau bisa.! ” teriaknya.


“Tinju Besi Kedua.! ” saat hampir bersentuhan dengan semburan api Hikaru, Judoro berteriak sambil mengarahkan tinju.


Wushh...


dengan mudahnya Judoro membelah api Hikaru, tinju itu semakin mendekati Hikaru.


“Ayaaaah..! ” Himiko yang berada di belakang Hikaru berteriak keras, wajahnya terlihat sangat cemas.


Hikaru menatap Judoro yang sudah menembus serangannya, “gawat.! ” matanya terbuka lebar.


Judoro tersenyum jahat, saat ini sudah tidak ada penghalang antara tinjunya dengan tubuh Hikaru.


“matilah..! ” teriak Judoro.


“Perisai Es.! ” tiba-tiba terdengar suara seseorang.


disaat bersamaan, air muncul di depan Hikaru dan membeku menjadi perisai yang cukup tebal.


Greebb..


seseorang menarik tubuh Hikaru dan Himiko untuk menjauh.


Hikaru dan Himiko menoleh kearah orang tersebut, “Hikari..?! ” ucap Hikaru.


“paman.?! ” Himiko terkejut.


Kraak...


tinju Judoro menghantam perisai es milik Hikari, perisai es retak dan terus terkikis.


Hikari berdiri gagah menatap Judoro, “dia bahkan mampu menembus pertahanan ku?!” batinnya, “pantas saja kakak bisa dikalahkan. ” dia terlihat serius.


serangan Judoro terus mengikis perisai es, saat dinding es tersebut tinggal beberapa cm lagi jebol, tiba-tiba tinju Judoro terhenti bersama lenyapnya Shaka dari tubuhnya yang bagaikan raksasa.


Cssss...


diantara tinju Judoro dan es yang masih bersentuhan, asap tipis muncul menghiasi.


Judoro menatap tinju kanannya, “sepertinya luka bakar dari Api Hijau tadi tidak bisa diremehkan, saat ini tinju ku sudah tidak bisa digunakan untuk menggunakan Jurus. ” batinnya.


Mikami memandang Judoro dari belakang, “sudah kuduga, Api Hijau tadi menghancurkan bagian dalam tinjunya sekalipun tubuhnya kuat. ” batinnya.

__ADS_1


“apa yang terjadi? kenapa serangannya terhenti? seharusnya dia bisa menembus Perisai Es itu dengan serangan sekuat itu. ” batin Hikari.


__ADS_2