
Akaza masih berdiri di tengah arena, “Uhara sialan, kenapa dia belum datang juga. ” batinnya terlihat kesal.
Wasit kembali melihat jam, “satu menit lagi, jika Uhara tidak datang, pertarungan ini di batalkan. ” ucapnya datar.
“dimana Uhara.?! ”
“ada apa ini.?! ”
“hey, cepat! kami sudah bosan menunggu. ”
para penduduk desa yang ingin menonton terus berteriak, sementara petarung desa Yama bersikap tenang.
“sepuluh.. sembilan.. delapan.. ” wasit mulai menghitung mundur.
Akaza memejamkan matanya, “sial, padahal aku sudah siap untuk bertarung. ” dia terlihat kesal.
Tap...
tiba-tiba Uhara berdiri di depan Akaza, tepatnya diantara wasit, entah dari mana dia muncul.
wasit terkejut, “cepatnya.! ” batinnya menoleh Uhara.
Akaza juga terkejut, namun kemudian tersenyum, “kau sengaja datang terlambat agar terlihat seperti tokoh utama. ” ucapnya meledek.
“bukankah aku tetap waktu.? ” ucap Uhara datar.
“lihat itu! bukankah ini Uhara?! ”
“benar, itu dia! ”
“akhirnya dia datang juga. ! ”
semua penonton langsung berteriak semangat melihat Uhara.
“ pertarungan akan segera di mulai, bersiaplah.! ” wasit mengingatkan.
Uhara menatap Akaza datar, sementara Akaza menatap Uhara penuh nafsu bertarung. keduanya berdiri berhadapan di arena pertarungan melingkar yang lumayan luas, sementara para penonton berada di atas.
Akaza tersenyum, lalu menoleh kearah ayahnya, “lihatlah ayah, akan ku buktikan bahwa aku seorang petarung hebat, walaupun aku bukan manusia iblis seperti Saken. ”
Ayah Akaza bernama Kei Takeyomi, saat ini dia memandang Akaza dengan datar, “Akaza, kau tidak mungkin menang melawan Uhara.. kau hanya akan mempermalukan Klan Takeyomi. ” batinnya.
adik Uhara bernama Saken Takeyomi, dia menatap Uhara dengan khawatir, “kakak, berjuanglah. ” ucapnya pelan, matanya terlihat lebih menakutkan dari mata orang pada umumnya.
disisi lain, Sinam dan Sansiro berdiri di area paling atas, sepertinya mereka tidak dapat kursi.
“Sinam, kita harus memperhatikan pertarungan ini baik-baik. ” ucap Sansiro.
“kau benar, anggap saja menambah pengalaman. ” sahut Sinam.
tidak terlalu jauh dari Sinam dan Sansiro, terlihat Sena sedang berdiri, sepertinya dia tidak dapat kursi juga.
Sena memandang Uhara dan Akaza yang berdiri di arena, “sebenarnya aku tidak ingin melihat, tapi kebetulan tidak ada misi. ” gumamnya pelan.
selain itu, Rokuga Sato juga disitu bersama Harumi, mereka duduk di kursi terdepan bersama Kazuo serta petarung desa Yama yang lainnya.
“Uhara bertarung dengan Akaza,
aku yakin semua orang sudah tahu hasilnya. ” salah seorang petarung desa berucap sambil tersenyum.
wasit mengangkat tangannya keatas, “mulai.! ” kemudian menghempaskan tangannya ke bawah.
Akaza menatap Uhara penuh gairah, “baiklah Uhara, ayo mulai.! ” teriaknya.
Uhara menatap datar Akaza, “aku harap setelah ini kau tidak menyesalinya. ” ucapnya datar.
__ADS_1
Sringg..
Akaza menarik pedang yang berada di punggungnya, kemudian melesat cepat kearah Uhara.
Uhara tetap diam di tempat, sementara Akaza terus berlari bersiap menyerang.
Akaza mengayunkan pedang kebelakang, “ada apa dengan mu?! majulah.!! ” dia terlihat kesal lalu melesatkan tebasan kearah Uhara.
Braaak..
tebasan Akaza menghantam tanah, sementara Uhara sudah tidak terlihat.
“dimana.?! ” Akaza kebingungan menoleh sekeliling.
Akaza melihat bayangan dibawahnya, “cih, sial.! ” kemudian menatap keatas yang ternyata Uhara sudah siap dengan tendangan.
Akaza tersenyum jahat, “dasar bodoh.! ” kemudian melepaskan tebasan kearah Uhara yang berada di udara, “kau tidak mungkin bisa menghindar saat di udara. ” batinnya.
Tap..
pedang Akaza di injak oleh Uhara, setelah itu dia melompat mundur.
Akaza terlihat kesal, “sial.! ” kemudian menjatuhkan pedangnya ke tanah hingga hancur, lalu kembali maju memburu Uhara.
Uhara menatap datar Akaza, rambut putihnya menutupi mata, dia berdiri menunggu serangan dari Akaza.
Akaza sudah dekat dengan Uhara, dia melompat sambil mengarahkan tebasan kearah Uhara untuk membelah.
Braak..
pedang Akaza menghancurkan tanah, sementara terlihat Uhara melayang di udara dengan gerakan salto.
“cih.” Akaza terlihat kesal menatap Uhara yang baru saja mendarat, “dia terus menghindar, apa dia sengaja ingin mempermalukan ku? ” batinnya.
Akaza kembali maju dengan pedang, namun kali ini dia lebih brutal, tanah hancur karena tebasan Akaza, tapi tetap tidak ada yang menggores Uhara.
Uhara menatap datar Akaza, dia berdiri di dekat tembok arena.
wasit melirik Uhara, “Uhara Denko terkenal sebagai petarung cepat dan jenius, wajar saja Akaza tidak bisa mengimbanginya. ” batinnya.
Sringg..
tiba-tiba Uhara menarik pedangnya.
“dia mulai.?! ” batin wasit tersenyum.
Akaza menatap Uhara sambil tersenyum semangat, “ayo Uhara, majulah! ”
Uhara menarik nafas panjang, “Jurus Satu Tarikan Nafas.! ” gumamnya lalu melesat cepat.
“apa.?! ” Akaza terkejut, dia kehilangan Uhara.
Trang.. Ting.. Ctang..
Uhara menebas lawan dengan cepat dan bertubi-tubi, Akaza berhasil menahan namun sangat kewalahan.
Tap..
Uhara menebas Akaza untuk terakhir kalinya sambil melewati Akaza, kemudian menghembuskan nafas lembut dan panjang sambil menyarungkan kembali pedangnya.
Uhara melirik ke belakang, terlihat Akaza masih berdiri, namun tiba-tiba kedua lututnya terjatuh.
“sial.” tubuh Akaza penuh goresan dan darah.
wasit melirik Uhara, “jadi dia sengaja menebas pedang Akaza, ya.. jika tidak seperti itu mungkin Akaza sudah terbunuh.. ” batinnya.
__ADS_1
Sinam dan Sansiro terkejut, “Jurus Satu Tarikan Nafas.?! ” ucap keduanya.
“benar-benar hebat.! ” puji keduanya.
“Jurus Satu Tarikan Nafas adalah teknik menyerang lawan dengan satu nafas, Uhara sendiri yang menciptakan Jurus itu. ” tiba-tiba Sena mendekati Sinam dan Sansiro.
“eh, kak Sena juga disini juga, ya. ” ucap Sansiro menoleh Sena.
“ternyata kak Sena tahu banyak tentang kak Uhara, ya. ” ucap Sinam.
Sinam kembali menatap Uhara yang berdiri di arena, “Jurus Satu Tarikan Nafas, aku harus bisa menggunakannya. ” batinnya dengan penuh semangat.
Rokuga memandang kejadian tersebut, “Uhara memang hebat, mengalahkan lawan hanya dengan satu jurus. ”
“level kekuatan mereka terlalu jauh. ” sahut Kazuo.
“orang bernama Uhara itu, dia terlihat sombong sekali, dia bahkan tidak membuka mulut dari tadi. ” Harumi memandang Uhara dari kejauhan, “tapi kakak itu keren sekali. ”
“bagi Uhara yang merupakan anggota Kelelawar Merah sangat mudah mengalahkan Akaza, semua orang pasti berpikiran begitu. ”
“kau benar, aku dengar baru-baru ini Kelelawar Merah membantai Klan Taro. ”
“Klan Taro? kalau tidak salah Klan Taro adalah salah satu Klan hebat, tidak ku sangka mereka harus punah. ”
“ya, begitulah.. ”
tepat di saat itu, para petarung di samping Rokuga dan Kazuo bersuara, Rokuga dan Kazuo melirik, namun Kazuo terlihat tidak senang.
Kei Takeyomi memandang Akaza yang sudah terjatuh, “ayo Saken, Akaza sudah kalah. ” ucapnya pada Saken, “Saken, kau bukan hanya kebanggaan Klan Takeyomi, tapi juga bagi Desa Yama.. kau adalah orang yang spesial, berbeda dengan kakakmu yang hanya sampah. ”
Saken menatap ayahnya, “ayah..? ” ucapnya pelan.
“kakak belum kalah, pasti belum kalah.! ” Saken memandang Akaza.
“KAKAK..! AYO BANGUN KAKAK..!! KAU PASTI BISA..!! ” teriak Saken penuh semangat.
Semua orang memandang Saken, sepertinya mereka cukup terkejut.
Sinam dan Sansiro memandang Saken, “anak itu.. ?!”
“dia adalah Saken Takeyomi, dia akan masuk Akademi tahun ini, dia akan menjadi saingan terkuat kalian. ” jelas Sena serius, “bukan hanya itu, dia bukan manusia biasa.. ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya spesial.. ”
“spesial.?! ” Sinam memandang Saken dari kejauhan, “baiklah kalau begitu, aku tidak akan kalah. ” kemudian tersenyum.
“AYO KAK UHARA, HABISI DIA..! ” tiba-tiba Sinam berteriak dengan keras sehingga semua orang menoleh nya.
“memangnya dia pikir dia siapa.? ” Harumi kesal menoleh Sinam.
Rokuga tersenyum menoleh Sinam, “aku baru ingat, saat aku menitipkan Sinam pada kakek dan nenek itu, Uhara juga tinggal di situ.. ” batinnya.
Kazuo tersenyum, “anak bodoh, memangnya Uhara butuh dukungan seperti itu.. anak itu benar-benar lucu.. ”
Saken menoleh Sinam yang kebetulan menoleh nya, “ada apa dengan anak itu.? apa dia ingin berkelahi dengan ku.? ” batinnya.
“AYO KAK AKAZA, HABISI ORANG ITU, AYO KAK AKAZA..!! ” Saken membalas dengan teriakan.
Akaza terduduk, dia masih sadarkan diri dan menoleh kearah Saken, “berisik! aku tidak butuh dukungan iblis seperti mu.. enyahlah.. ” batinnya menundukkan kepala dengan ekspresi penuh kebencian.
Uhara menoleh Sinam lalu tersenyum, kemudian melirik wasit, “apa aku sudah bisa pergi.? ” tanyanya datar.
wasit melirik Uhara, kemudian memandang Akaza yang terduduk, “bagaimana, kau masih ingin bertarung.? ”
Zuoorr...
tanpa menjawab, tiba-tiba Akaza mengeluarkan Shaka biru yang besar, kembali berdiri dan berbalik menatap Uhara.
__ADS_1
“aku masih belum kalah, Uhara.! ” ucap Akaza dengan senyuman kematian.