SINAM

SINAM
Kekalahan Harumi


__ADS_3

“aku tidak akan kalah dari orang yang hanya bisa bertarung dengan mengandalkan senjata seperti kalian.! ” ucap Yoja, matanya menatap tajam Harumi dan Kaori yang saat ini terjatuh.


Deiki melirik tajam Yoja, “apa maksud anak ini?! cara bicaranya seperti kebanyakan orang Arkan.. ” batinnya. “ jika dipikir-pikir... dia juga bertarung seperti orang dari Desa Arkan.. selalu mengandalkan fisik serta kekuatan.. tapi.. bukankah sudah jelas dia berasal dari Klan Terui.?! ” batinnya.


Mikami Sato juga memandang tajam Yoja, “anak ini sama sekali tidak menghargai lawan yang menggunakan senjata.. sepertinya dia tidak tahu peraturan tentang menjadi seorang petarung di Desa Yama.. ” ucapnya terlihat kesal.


“tenangkan diri mu pimpinan, dia mungkin belum tau banyak hal, tapi dia memang berasal dari Klan Terui Desa Yama. ” sahut pengawal Mikami.


“ibunya memang dari Klan Terui, tapi ayahnya berasal dari Desa Arkan.. ” sahut yang lainnya, “pimpinan pasti pernah dengar tentang berita itu, pria Arkan yang meninggalkan Desanya untuk menikahi wanita dari Klan Terui Desa Yama. ”


“begitu, ya.. jadi dia memakai Klan ibunya. ” Mikami kembali tenang.


“bukan hanya itu.. aku dengar pria Arkan itu salah satu petarung hebat, semua misi diselesaikannya dengan cepat.. ” orang itu melanjutkan, “tapi rumornya dia tidak memiliki teman, sepertinya petarung Desa Yama menjauhinya.. ”


Mikami Sato terlihat serius, “ternyata peperangan peperangan masa lalu masih menyimpan luka bagi setiap orang.. sudah terlalu banyak darah yang tumpah.. aku tidak ingin peperangan kembali pecah.. ” batinnya.


Tap.. Tap..


Yoja melangkahkan kaki perlahan, menuju Harumi dan Kaori yang masih terduduk.


Kaori terlihat kesal, “dia kasar sekali dengan wanita.. ” ucapnya.


“siapa perduli tentang itu, kita harus bisa mengalahkan anak ini.” sahut Harumi.


“jangan membuat ku menunggu, ayo bangkit dan hadapi aku.! ” ucap Yoja dingin.


Harumi dan Kaori kembali berdiri, lalu menatap Yoja dengan kesal, namun mereka masih cukup berjarak.


“ayo Harumi, kalahkan anak itu! buat dia menyesal telah meremehkan mu.! ” Tiba-tiba Kazuo berteriak dari kursi penonton sambil tersenyum, semua mata tertuju kearahnya.


“eh.?! ” Harumi menoleh Kazuo, kemudian kembali menatap Yoja, “baiklah, karena kak Kazuo yang meminta, aku tidak akan kalah. ” dia kembali semangat.


“Kaori, ayo maju..! ” Harumi maju menuju Yoja, dibelakangnya Kaori menyusul.


Yoja berlari kearah Harumi yang juga berlari kearahnya, keduanya menggenggam pedang yang siap menebas.


jarak keduanya semakin dekat, Yoja menerjang dengan melompat sambil melepaskan sebuah tusukan, namun Harumi melewati Yoja dari bawah sambil melesatkan tebasan.


“apa.?! ” Yoja terkejut.


Traangg..


Yoja menahan serangannya, lalu mengayunkan pedang untuk menahan tebasan Harumi yang berasal dari bawah, kedua pedang beradu.


Tap..


Yoja mendarat ke bumi, didepannya Kaori langsung menyambut dengan sepasang pedang, sementara Harumi berada di belakang Yoja.


Traang.. Ting..


pertarungan sengit kembali terjadi, Harumi dan Kaori menyerang secara bersamaan dengan gaya berlompatan, sementara Yoja terlihat kewalahan dan terus mengayunkan pedang untuk menahan.


Zraash..


Yoja terus tergores, luka tersebut tidak parah, namun cukup untuk mengalirkan darah.


“mereka adalah petarung terhebat yang pernah ku hadapi dengan menggunakan pedang.. ” batin Yoja terus mengayunkan pedang, “seandainya saja.. satu kali saja.. aku menghadapi mereka dengan tangan kosong.. pasti lebih mudah. ”


“itu dia.! ” tiba-tiba Yoja membuka mata lebar-lebar.


Traang..

__ADS_1


Zraash..


Yoja mengayunkan pedangnya penuh tenaga, dia tidak perduli dengan serangan Kaori sehingga punggungnya tergores cukup dalam, namun pedang Harumi yang beradu tebas dengan pedang Yoja langsung terlepas.


“dia mengabaikan serangan Kaori.. hanya untuk melepaskan tebasan kearah ku? apa dia tidak takut mati.?! ” batin Kaori menatap Yoja tidak percaya.


Yoja tersenyum jahat menatap Harumi, “hanya kau yang ku waspadai, Sato Harumi.. jika pedang sudah tidak ada ditangan mu.. kau akan kalah. ” batinnya.


Cep..


pedang Harumi terbang cukup jauh dengan berputar-putar, lalu menancap di tanah.


“sekarang tinggal kau..! ” Yoja berteriak lalu membalikkan badan menatap Kaori.


“cih, kau memang tidak takut mati..! ” Kaori mengangkat kedua pedangnya keatas, lalu menjatuhkan kearah Yoja.


disaat bersamaan, Yoja mengayunkan pedangnya ke belakang, lalu mengayunkan nya kembali ke depan dengan penuh tenaga.


Traang..


kedua tebasan itu bergesekan dan menghasilkan percikan api, detik selanjutnya Kaori terhempas jauh ke belakang dan kehilangan keseimbangan hingga terjatuh, namun kedua pedangnya masih ditangan.


Sinam terkejut, “padahal ukuran pedang mereka sama.. tapi anak itu langsung terlempar.. sekuat apa tenaga anak bernama Yoja itu.? ” batinnya.


Tap.. Tap..


disisi lain, Harumi berlari kearah pedangnya, namun saat ini masih cukup jauh.


“aku harus mengambil pedang ku.. tidak mungkin bisa menang menghadapinya dengan tangan kosong. ” batin Harumi terus berlari.


“takkan kubiarkan.! ” tiba-tiba Yoja berteriak, dia mengejar Harumi dengan cepat, saat sudah dekat dia mengarahkan pukulan dari belakang.


“cih, sial.! ” Harumi berbalik lalu menyilangkan tangan untuk menahan.


Buaak..


“akh..! ” Harumi mengeluarkan sedikit darah, “pedang.?! ” dia melihat pedangnya berdiri di depan matanya, lalu tersenyum berniat mengambilnya.


“kau sudah kalah, Harumi Sato..! ” tiba-tiba Yoja bersuara dari belakang Harumi.


Harumi menoleh, dia terkejut karena ujung pedang Yoja sudah berada di lehernya, lalu terdiam dengan wajah kesal.


Deiki memandang itu, “kau sudah kalah Harumi Sato.. ” ucap Deiki.


“tapi, aku masih belum menyerah.. ” Harumi terlihat kesal.


“jika pertarungan sungguhan, leher mu sudah terpotong sekalipun kau belum menyerah, tidak akan ada yang berbelas kasih. ” ucap Deiki datar.


“sekarang tinggal satu lagi. ” Yoja membalikan badan, lalu berjalan kearah Kaori yang sudah berdiri.


“dasar tidak berguna.. ” batin Harumi memandang tanah dengan kesal, sepertinya dia tidak terima dengan kekalahan.


Kaori memandang Yoja yang semakin dekat, kemudian menoleh Harumi yang masih terdiam, “aku menyerah.. ” lalu menjatuhkan pedang dan mengangkat tangan.


Harumi terkejut dan menoleh Kaori, “Kaori.. kau.?! ” ucapnya.


“hahaha.. hahaha.. ” tiba-tiba Yoja tertawa terbahak-bahak, wajahnya terlihat sangat menakutkan, “siapa lagi, ayo maju..! ” tantangnya.


disudut Arena, terlihat dua orang anak sedang berbincang, satu perempuan berambut hitam, satunya lagi anak laki-laki berambut biru tua, mereka adalah Aozora dan Ryugu, salah satu tim yang tersisa dari ketiga tim.


“bagaimana? hanya tim kita yang tersisa, ayo maju.. ” Aozora penuh semangat.

__ADS_1


“tidak, biarkan anak itu maju duluan. ” Ryugu memandang Sinam datar.


Aozora memandang Sinam, “tapi, dia hanya sendiri, aku sendiri tidak tahu dia sedang apa. ” dia terlihat tidak sabar.


“baiklah, kita saja yang maju terlebih dahulu. ” Ryugu berdiri dari duduknya, wajahnya terlihat begitu tenang.


Kaori sudah berada di dekat Harumi yang masih terduduk, “jangan bersedih.. kita masih punya banyak waktu untuk menjadi kuat. ” dia tersenyum manis.


“aku memang tidak berguna, aku tidak bisa apa-apa tanpa pedang..” ucap Harumi, “aku hanya membuat malu Klan Sato. ”


Rokuga Sato memandang putrinya dari jauh, “Harumi.. kekalahan ini akan menjadi guncangan hebat di hatimu.. kau akan mengerti rasa bencinya dikalahkan.. setelah ini kau akan belajar untuk menjadi lebih kuat agar terus menang. ” batinnya.


“oi, ada apa ini?! ayo maju.. ” Yoja terus berteriak menantang.


Tap.. Tap..


tiba-tiba Sinam melangkah perlahan, kepalanya tertunduk sehingga wajahnya tidak terlihat, dia mengambil pedang yang berdiri di dekat Harumi dan Kaori.


Harumi dan Kaori tertegun memandang Sinam, namun Sinam terus melewati mereka dengan langkah perlahan.


“keren sekali.. ” Kaori tersenyum melihat gaya Sinam.


“jangan berlagak keren di hadapan ku. ” ucap Harumi, namun Sinam tidak menjawab.


Aozora dan Ryugu memandang Sinam, “sepertinya dia sudah maju lebih dulu.. ”


Deiki tersenyum memandang langkah Sinam, “dengan semangat seperti ini, aku tidak sabar melihat kemampuan bocah bodoh ini. ” batinnya.


“eh.?! ” Yoja memandang Sinam, kemudian mengubah ekspresinya menjadi lebih serius, “jadi kau yang maju. ” ucapnya dingin.


Sinam menghentikan langkah, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Yoja, “aku menantang mu.! ” teriaknya penuh semangat sambil tersenyum.


“jangan banyak bicara cepatlah maju..! ” Yoja berteriak.


Tap.. Tap..


Sinam berlari kearah Yoja dengan sebilah pedang yang ada ditangan.


Buaak..


detik berikutnya, tiba-tiba Sinam terpental, tubuhnya menghantam tembok sampai retak, lalu pedangnya menancap di sebelah wajahnya.


disisi lain, terlihat Yoja seperti baru saja melesatkan tebasan, kakinya juga baru saja terayun, seperti habis melepaskan tendangan.


“apa.?! ” semua orang terkejut.


“Sinam.?! ” Harumi berteriak dan menoleh Sinam.


Kaori menepuk kepalanya, “hanya gayanya saja yang keren, mengecewakan. ” ucapnya.


“dasar lemah. ” seringai Yoja dengan wajah angkuh.


tubuh Sinam masih menempel di tembok, kepalanya dalam posisi kearah kanan. dia menggerakkan kepalanya untuk memandang ke depan, pelipis kanannya pecah dan berdarah. Sinam menoleh ke kiri, dia melihat sebilah pedang yang menancap di tembok.


“inikah yang dinamakan pertarungan? jika bukan menghadapi Sansiro.. aku tidak pernah bertarung, lagipula Sansiro tidak mungkin serius menghadapi ku. ” batin Sinam.


Braak..


Sinam melepaskan tubuhnya dari tembok yang setengah hancur tersebut, lalu membungkuk memandang bumi.


Sinam mengambil pedang yang tertancap, lalu kembali menatap Yoja sambil tersenyum semangat, “dia adalah lawan yang kuat, aku akan menjadikannya batu lompatan untuk menjadi lebih kuat. ” batinnya.

__ADS_1


“masih bisa tersenyum.?! ” Deiki terkejut, lalu tersenyum menatap Sinam.


Yoja terlihat kesal menatap Sinam, “lihat wajah mu penuh darah! apa yang membuat mu masih bisa tersenyum.?! ” teriaknya.


__ADS_2