
ditengah arena pertarungan, terlihat dua anak laki-laki sedang beradu tatap, wajah keduanya terlihat menakutkan dengan Shaka yang membara seperti api, mereka adalah Saken dan Kaito, keduanya terlihat menunjukkan sisi iblisnya, tubuh mereka tidak normal.
Deiki memandang Saken dari atas dengan serius, “tidak ku sangka Saken akan menghadapi sesama Iblis.. Saken, berjuanglah..! ” batinnya.
Kaito berdiri kokoh menatap tajam Saken, kedua tangannya masih menyerupai capit kalajengking, “sekarang bagaimana? kau sudah tahu sedikit kekuatan ku, aku yakin kau takut sekarang.! ” dia tersenyum jahat.
“jangan bercanda..!! ” teriak Saken, lalu berlari kearah Kaito.
Tap.. Tap..
Saken terus berlari kearah Kaito, semakin lama jarak terus dipangkas.
Saken tersenyum, kini jarak keduanya sudah cukup dekat, disaat itu Saken mengeluarkan sangat banyak ular dengan ukuran cukup besar untuk menyerang Kaito.
Kaito tersenyum menatap serangan ular dari Saken, “Ular-ular mu tidak berguna dihadapan tangan Kalajengking ku..!! ” teriaknya.
Zuoorr...
puluhan ular itu menyerbu Kaito yang tetap diam ditempat, dia terlihat tenang dengan kedua capit kalajengking yang siap memotong.
Srang.. Sringg.. Srang...
detik berikutnya, terlihat kilatan cahaya bergerak cepat, itu adalah gerakan capit kalajengking Kaito yang memotong serangan lawan, semua ular Saken tercincang habis, darah mengalir ke segala arah.
“hebat..! ”
“dia mematahkan serangan Saken dengan sangat mudah.?! ”
Sinam dan yang lain terkejut.
“masih belum.. ” ucap Deiki serius.
Kaito melihat sekeliling, “dimana dia.?! ” dia tidak melihat Saken.
Krak..
Tiba-tiba tanah di bawah Kaito retak, seperti akan ada sesuatu yang keluar.
“apa.?! ” Kaito terkejut dan menatap kebawah, “dia dibawah.?! ” lalu melompat keatas.
Krakk..
tanah hancur, seekor ular keluar dan mencoba menyambar Kaito, namun tidak kena sama sekali.
“hanya Ular.?! ” Kaito terkejut, tubuhnya masih melambung di udara.
“aku disini.!! ” tiba-tiba terdengar suara dari atas Kaito, itu adalah Saken yang bersiap dengan tendangan.
“gawat.! ” Kaito menoleh ke atas, dia melihat Saken dan sekali lagi terkejut.
Buaakk..
dengan sangat telak, tendangan Saken mendarat di kepala Kaito yang tidak sempat menahan sama sekali.
“Akh..! ” Kaito kesakitan, berkali-kali tubuhnya terpantul di tanah sebelum akhirnya tergeletak.
Tap..
Saken mendarat di tanah, dia menatap Kaito yang tergeletak, “ aku yakin dia masih bisa bertarung. ” batinnya.
Sinam menatap Saken dari atas, “hebat, Saken benar-benar hebat.. ” batinnya.
Tap..
Kaito kembali berdiri secara perlahan, luka di kepalanya kembali sembuh, namun darah tetap menempel di wajahnya, dia terlihat menakutkan.
“cih, sudah ku duga.. ” Saken terlihat kesal, lalu mengeluarkan ular ularnya dari lengan pakaiannya untuk menyerang Kaito.
Tap.. Tap..
Kaito berlari kearah Saken yang sudah menyiapkan serangan.
“sekarang giliranku.!! ” teriak Kaito.
__ADS_1
Srakk..
puluhan ular Saken menyerbu Kaito, dengan begitu cepat Kaito menembus dengan sesekali mencincang, dia terus maju mencoba mendekati Saken.
Kaito sudah berdiri di depan Saken, dia melompat keatas, lalu kembali mendarat kearah Saken dengan tangan kalajengking yang siap menghantam.
“matilah.!! ” teriak Kaito sambil tersenyum jahat.
Boommm...
detik berikutnya, gumpalan debu muncul ditengah-tengah arena, itu akibat serangan Kaito yang menghantam tanah.
Sinam terkejut, “Saken... apa dia baik-baik saja..? ” gumamnya pelan.
Deiki memandang debu yang menggumpal, Kaito dan Saken masih belum terlihat, “Saken.. bertahanlah.. walaupun sulit untuk menang, tapi setidaknya kau harus menunjukkan tekad bertarung mu.. ” batinnya.
Wushh..
beberapa saat kemudian, Saken keluar dari debu dengan melompat keatas, pakaiannya terlihat lusuh, wajahnya juga terlihat kesal.
debu mulai menipis, terlihat Kaito berdiri menatap Saken sambil tersenyum remeh, dia terlihat begitu menakutkan.
“nah, sekarang bagaimana? aku yakin kau takut.. hahaha..!! ” ucap Kaito.
Saken menatap tajam Kaito, begitu juga sebaliknya, untuk sesaat suasana hening, hanya suara hembusan angin yang terdengar.
Krak..
dengan tiba-tiba, Kaito bergerak dengan melompat maju, tanah tempat dia berpijak sebelumnya hancur.
“aku datang..!! ” teriak Kaito.
Saken tersentak, “cepat sekali.?! ”
*Tap..
Booomm*..
Saken masih di udara, dia menoleh kehancuran karena serangan Kaito, “jika aku terkena serangannya secara langsung, bisa fatal akibatnya. ” batinnya.
“lagi-lagi dia berhasil menghindar. ” Kaito terlihat kesal, kemudian menoleh kearah Saken yang berada di udara.
Tap..
Kaito melompat keatas memburu Saken, “bagaimana dengan yang ini.?!” teriak Kaito sambil mengarahkan capit kalajengking kanannya.
“sekarang..dia tidak mungkin bisa menghindar karena masih di udara. ” batin Kaito tersenyum jahat.
“gawat.! ” Saken terlihat serius bercampur kesal.
“matilah..!! ” teriak Kaito.
disaat itu, Saken mengubah tangan kanannya menjadi ular yang cukup besar, ular tersebut melesat kearah serangan Kaito.
Srakk..
capit kalajengking Kaito bertemu dengan ular Saken. seperti kertas yang digunting, ular Saken terbelah, darah terciprat kemana-mana.
Crakhh..
terdengar suara daging yang terpotong, tangan kanan Saken terpotong sampai batas bahu, darah mengalir dengan derasnya.
Tap..
Saken mendarat di bumi, begitu juga dengan Kaito, namun keduanya saling membelakangi dan cukup berjarak.
“hahaha.. hahaha.. ” tanpa berbalik, Kaito tertawa terbahak-bahak.
Saken menoleh tangan kanannya yang mulai beregenerasi, wajahnya terlihat sangat kesal dan penuh kebencian, “aku benci situasi ini. ” batinnya.
Saken berbalik dan menatap Kaito, “capitnya sangat merepotkan, aku akan membuat dia tidak bisa bergerak bebas. ” batinnya serius.
tiba-tiba, Saken terlihat kesakitan, tubuhnya membungkuk, terlihat punggungnya bergerak-gerak seperti ada yang ingin keluar.
__ADS_1
Srak..
pakaiannya Saken sobek, dari punggungnya keluar ratusan ular, namun ukurannya tidak terlalu besar, ular tersebut langsung melesat kearah Kaito.
Kaito membalikkan badan dan menatap Saken, melihat ratusan ular yang melesat kearahnya dia melompat mundur.
“yang benar saja? kenapa dia bisa mengeluarkan ular sebanyak ini.? ” Kaito terlihat kesal sambil melompat mundur kesana-kemari.
Kaito baru saja mendarat di tanah, dia menatap ratusan ular yang semakin mendekat dengannya, “cih, tidak ada pilihan lain, aku akan mencincang semuanya. ” gumamnya.
Kaito bersiap maju, dia mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa, “kenapa.?! ” Kaito menoleh ke bawah, “apa!? sejak kapan.?! ” dia melihat beberapa ular yang melilit kakinya, ular itu terlihat terus bermunculan dari dalam tanah.
Kaito menoleh kearah Saken, “kau..?! ” disitu terlihat Saken sedang berjongkok, kedua tangannya terlihat tenggelam di dalam tanah.
Saken tersenyum jahat, “ya, aku juga menyerang mu dari dalam tanah. ” ucapnya.
Kaito melirik kakinya, ular Saken terus bermunculan dan melilit dari bawah, sementara dari sisi lain ratusan ular Saken juga menyerbu.
“percuma, tidak mungkin aku mencincang semuanya.. ” batin Kaito memejamkan mata.
Crakhh..
ular Saken mulai mengerumuni Kaito, gigitan serta belitan diterima Kaito yang seolah pasrah.
Saken berdiri, “sudah berakhir. ” dia tersenyum.
Sinam terlihat bersemangat, “yosh.. dia berhasil. ” teriaknya.
disaat itu, disaat tubuh Kaito sudah dibalut ratusan ular dan semua orang berpikir pertarungan sudah selesai, tiba-tiba ular Saken yang membelit Kaito membusuk dan mengeluarkan asap tipis.
“eh.?! ” Saken terkejut, “apa yang terjadi.? ”
Blak.. Blak..
secara perlahan, ratusan ular Saken yang membalut Kaito membusuk dan berjatuhan, semuanya mati membusuk.
disitu, terlihat Kaito berdiri kokoh dengan Shaka ungu mencekam, di pinggang belakangnya tumbuh sesuatu seperti senjata yang ada pada kalajengking, cairan berwarna hijau begitu pekat, sepertinya itu adalah sumber racun yang membunuh ular Saken.
Kaito melirik Saken tajam, “aku akan membunuhmu.!! ”
Gedung Pimpinan Desa Sanji...
didalam ruangan, terlihat beberapa orang sedang duduk, mereka terlihat berbincang santai.
“karena pimpinan masih berada di Desa Pedang Kembar, sebaiknya kita harus waspada.. ” ucap salah seorang.
“tidak perlu khawatir begitu, aku tahu kau menjadi pengganti sementara saat pimpinan pergi, tapi sekarang sudah era perdamaian, tidak ada peperangan lagi. ” ucap yang lainnya.
“tidak, kita harus memikirkan bagian terburuknya, bisa jadi Desa lain sedang mencari kesempatan untuk menyerang kita. ” sahut yang lainnya lagi, “terutama Desa Arkhan.. ”
setelah itu, mereka saling tatap dengan ekspresi serius, namun tidak ada yang bersuara.
Brakk..
tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, disitu terlihat dua orang pria dengan pakaian khas Desa Sanji, keduanya terlihat serius dengan nafas tidak beraturan.
“gawat, ini gawat..!! ” belum sempat orang diruangan itu bertanya, salah seorang berteriak.
“apanya yang gawat.?! ” orang di ruangan terlihat serius. “jelaskan pada kami apa yang terjadi.? ”
salah satu pria mengambil nafas panjang, “tadi, kebetulan kami berdua sedang berkeliling di perbatasan, tepatnya di area hutan, tanpa sengaja kami melihat api dari kejauhan.. ” lalu menjelaskan.
“kebakaran maksudmu.? ” tanya salah seorang.
“awalnya kami berpikir begitu, tapi.. ” pria yang lain menjawab, “ini tidak sesederhana itu, saat kami sampai di tempat itu, terlihat banyak pohon tumbang karena tebasan pedang, setiap pohon yang terkena tebasan juga terbakar, dan lebih parah lagi... dua prajurit Desa Sanji terbunuh, di sekujur tubuh mereka terdapat luka bakar.. ” lanjutnya serius.
“Pengendali Api? yang benar saja? seharusnya orang seperti itu sudah punah.! ” salah seorang terlihat ketakutan.
“tidak, bisa jadi dia Pewaris Pedang Kembar Api, kemungkinan dia juga sudah menguasai Elemen Api.. ” ucap salah seorang, “ini situasi darurat, cepat pergi ke Desa Pedang Kembar, Pimpinan harus segera kembali, Pengendali Api bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihadapi. ”
“baik, kami akan pergi.! ” dua prajurit berteriak, lalu pergi dengan cepat.
“yang lainnya, ayo kita ke tempat kejadian, kita harus memastikannya sebelum mengambil langkah berikutnya.. ” ucap salah seorang, “siapapun kalian, mulai sekarang harus waspada, jika bertemu dengan Pengendali Api, mundur dan beritahu Desa. ”
__ADS_1