SINAM

SINAM
Pantang Menyerah


__ADS_3

Jido menoleh Sinam yang kembali bangkit dari tidurnya, “dan lagi.. dia masih bisa bertahan.. ” batinnya kesal.


Sinam menatap datar Jido, walau tubuhnya baru menghantam dinding, tapi dia terlihat baik-baik saja, tiada sedikitpun yang kurang.


“cih.. menyebalkan, serangan ku tidak berefek, lalu tatapannya itu. ” Jido terlihat kesal.


wasit melirik Sinam, “Sinam benar-benar istimewa, seharusnya dia kehabisan Shaka dan tiba-tiba muncul begitu saja.. lalu, dia mampu mengimbangi Jido yang sudah menggunakan pelepasan Shaka. ” batinnya serius.


Jido menatap tajam Sinam, saat ini Shaka biru ditubuhnya mulai melemah, kobaran nya mulai berkurang.


“sial, sebentar lagi teknik ini akan berakhir, aku harus segera menyelesaikan ini.! ” Jido bersiap.


Tap.. Tap..


tanpa basa-basi, Sinam melangkah maju, kemudian disusul oleh Jido yang melesat cepat, keduanya saling mendekati.


“menyerahlah, kau tidak akan bisa mengalahkan ku.!! ” Jido berteriak keras sambil mengarahkan tinju.


“ memangnya apa yang kudapatkan jika menyerah.?! ” Sinam berteriak sampai melepaskan tinju.


Wushh..


tinju Sinam dan tinju Jido tidak berbenturan dan saling melewati.


Buaakk..


dengan sangat dahsyat, tinju Sinam mendarat di pipi kiri Jido, wajah Jido terlihat jelek dengan air liur keluar, dan sebaliknya, tinju Jido mendarat di pipi kiri Sinam dengan telak.


*Wushh


Buaakk*..


detik selanjutnya, tubuh Sinam dan Jido terhempas kearah berlawanan dengan dahsyat, tubuh Sinam kembali menghantam dinding hingga hancur. Jido juga mengalami hal yang sama, hanya saja benturannya lebih pelan karena jaraknya lebih jauh dari tempat mereka adu pukul, keduanya tergeletak lemah.


Wasit melirik keduanya bergantian, “apakah sudah berakhir.? ” batinnya.


Tap..


tidak butuh waktu lama, Sinam kembali bangkit, dia berdiri kokoh walau tubuh penuh darah, ekspresinya begitu mencekam.


Jido masih tergeletak, matanya menatap langit, Shaka biru sudah tidak lagi terlihat di tubuhnya.


“apa aku menang.? ” Jido memutar tubuhnya sehingga menjadi telungkup, lalu dia melihat kearah tempat Sinam menghantam dinding, “apa? sialan, dia sudah berdiri lebih awal..! ” Jido terlihat kesal.


saat ini, Sinam dan Jido berjarak sekitar seratus meter sesuai luas arena, itu di


karenakan keduanya berdiri di dinding arena.


Jido terluka parah dengan wajah penuh darah, dia menoleh tubuhnya, “sial, aku kehabisan waktu, teknik pelepasan Shaka sudah berakhir. ” gumamnya, “apa yang harus ku lakukan.? ”


Jido menoleh kearah penonton, kemudian menatap tajam Sinam, “aku tidak boleh kalah, jika itu terjadi akan sangat memalukan.. dia sudah menghadapi Tori.. sementara aku menghadapi dia yang sudah mengalahkan Tori, jika aku menang pun, pasti ada yang mengatakan bahwa itu hal wajar.. tapi jika dia menang, semua orang akan memandang rendah diriku.. ” batinnya.


Plakk..


Jido mengadu telapak tangannya, Shaka kembali berkobar di tubuhnya, namun kali ini berwarna hijau.


“itu tidak boleh terjadi.!! ” Jido kembali tersenyum jahat.


wasit terkejut, “dia melakukannya lagi, tapi kali ini sudah menggunakan Shakanya sendiri. ” batinnya serius.


Yoja terkejut, “dia melakukan pelepasan Shaka, sebanyak apa Shaka yang dimilikinya.? ” ucapnya.


“kali ini dia sudah menggunakan Shaka miliknya.. tapi, mungkin dia sudah memperkecil resikonya. ” sahut Deiki.


“maksud guru.? ” Saken penasaran.


Deiki melirik Saken, “dia adalah petarung yang mampu menyerap Shaka lawan, mungkin dia bisa mengatur kadar Shaka di tubuhnya.. itu terlihat dari pertama dia melakukan pelepasan Shaka.. hanya Shaka Sinam yang keluar tanpa sedikitpun miliknya yang keluar. ” jawabnya, “kau akan sulit mengerti, pewaris kekuatan Iblis seperti mu mustahil kehabisan Shaka. ” dia menoleh Saken.


“begitu, ya. ” Saken tersenyum tipis.


Sansiro memandang Sinam, “Sinam, bertahanlah, kau pasti bisa. ” batinnya penuh harap.


Saat ini, tubuh Jido sudah terbalut Shaka hijau, dia menatap Sinam remeh, “hahaha, percuma saja! kau tidak akan bisa mengalahkan ku sekuat apapun kau berjuang.! ” teriaknya sambil tertawa lantang.

__ADS_1


Sinam tidak menjawab, namun wajahnya terlihat datar seolah tidak perduli dengan ocehan Jido.


Jido kesal memandang Sinam, “Sialan, dia meremehkan ku.! ” gumamnya.


Tap..


Sinam mulai melangkah maju, namun dia terlihat tenang dengan langkah santai.


Jido terlihat serius, “dia datang.! ” batinnya, lalu menoleh Shaka hijau di tubuhnya, “kali ini hanya bertahan satu menit, tapi kekuatan lebih dahsyat dari yang sebelumnya. ” lalu tersenyum jahat.


Tap...


Jido melesat cepat, seketika dia sudah tidak terlihat.


Sinam yang memburu Jido terkejut, “dimana dia.?! ” gumamnya sambil menoleh kanan kiri.


Sinam menyadari sesuatu, dia melihat bayangan di bawah, “diatas.?! ” tanpa menoleh Sinam menghindar dengan melompat.


Brakk..


benar saja, Jido melepaskan tendangan dari atas, bumi remuk terkena dampak tendangan Jido.


Jido terlihat kesal memandang Sinam yang masih di udara, “padahal aku menyerang dari titik buta, tapi dia bisa menghindar, cih. ” kemudian tersenyum jahat, “tapi kali ini mustahil dihindari.!! ”


Tap..


Jido melompat kearah Sinam yang masih melambung di udara dengan cepat, setelah hampir menyentuh Sinam dia memutar tubuhnya, kakinya diatas dan siap melepaskan tendangan.


“apa.?! ” Sinam terkejut, “kecepatannya bertambah.?! ”


Buak.. Bukk..


dengan bertubi-tubi, Jido melesatkan tendangan kearah Sinam yang hanya bisa menahan bersama tubuhnya yang ikut terdorong ke atas.


*Boomm..


Braaakk*..


Jido tidak memberi nafas, dia terus mengguyur Sinam dengan serangan super cepat, Sinam terlihat kewalahan dan berkali-kali menghantam dinding.


Buaakk..


dengan telak, kaki Jido menghantam perut Sinam dengan dahsyat, Sinam terhempas jauh dengan kecepatan tinggi lalu menghantam dinding, kemudian puing-puing menimpa Sinam.


Jido berdiri memandang kearah Sinam yang terhempas puing-puing, “hosh.. hosh.. ” dia mengatur nafas, “kali ini aku yakin mustahil dia masih bisa bertahan. ”


Jido menoleh kearah tubuhnya yang dibalut Shaka, “beberapa detik lagi waktu ku habis.. ini benar-benar memeras energi. ” gumamnya terlihat kelelahan.


wasit melirik ke segala arah, hampir semua bagian arena telah hancur, “pertarungan ini benar-benar dahsyat, seolah mereka petarung kelas atas.. apalagi disaat-saat terakhir. ” batinnya lalu melirik Sinam yang tertimbun puing-puing, “tapi sepertinya Sinam sudah pingsan, namun ini sudah melebihi harapan ku, aku benar-benar terhibur. ”


Sinam memandang kearah Sinam yang tertimbun puing-puing, “gawat, Sinam terkena serangan beruntun dari anak itu.. aku sendiri tidak yakin apakah Sinam masih bisa bertahan. ” batinnya kesal. “entah kenapa tiba-tiba anak itu menjadi cepat dan sangat kuat. ”


Deiki terlihat serius, “begitu, ya.. Jido melakukan pelepasan Shaka namun mampu mengaturnya.. waktunya singkat, namun kekuatannya sangat dahsyat, itu sebabnya dia menyerang Sinam dengan brutal.” batinnya, “Sinam.. kau sudah berjuang sebisa mu, walaupun kalah, pertarungan mu ini layaknya pertarungan kelas atas.. kau hebat. ” dia terlihat pasrah lalu memejamkan mata.


Krak..


tiba-tiba saja puing-puing yang menimpa Sinam bergerak, semua orang langsung terkejut. beberapa saat kemudian, Sinam sudah kembali berdiri menatap Jido.


“cih.! ” Jido terlihat geram menatap Sinam, “apa kau tidak tahu kapan untuk menyerah.?! ” teriaknya.


Sinam terlihat serius, “berhenti meminta ku untuk menyerah.. tidak ada yang kudapatkan jika aku menyerah.. waktu akan tetap berjalan sekalipun aku berhenti, tidak ada yang menungguku.. menang atau kalah, yang terpenting bertahan sekuat mungkin.. ” ucapnya lantang dengan wajah mencekam.


Jido terlihat kesal, “baiklah, ayo kita akhiri ini.! ” dia bersiap.


“tentu saja, aku sudah bosan bertarung dengan lawan yang sama. ” dia bersiap.


Tap..


keduanya melesat cepat secara bersamaan, setelah cukup dekat, keduanya bersiap melepaskan tinju.


“selagi masih bisa berdiri, aku tidak akan pernah menyerah.!! ” batin Sinam serius.


“ini adalah serangan terakhir ku.!! ” batin Jido serius.

__ADS_1


Buaakk..


detik selanjutnya, tinju Sinam dan tinju Jido berbenturan, gelombang kejut tercipta dan menghempas segalanya, debu beterbangan menutupi arena sehingga tidak terlihat apa yang terjadi.


“cih, aku tidak bisa melihat.! ” wasit melindungi pandangannya dari debu lalu melompat keatas keluar arena.


“apa yang terjadi.?! ” Deiki dan murid-muridnya terlihat bingung.


setelah cukup lama debu beterbangan, dengan perlahan arena mulai terlihat, disitu terlihat Jido berdiri dengan tubuhnya yang sudah tidak dibalut Shaka, disudut yang lain terlihat Sinam tergeletak dengan tubuh menatap bumi.


Bukk..


kedua lutut Jido terjatuh ke tanah, “hosh..hosh.. aku kehabisan Shaka.. ” mengatur nafas lalu menoleh kearah Sinam yang tergeletak, “tapi aku menang.. ” dia tersenyum tipis.


wasit kembali turun ke arena, menoleh Jido datar, “sepertinya anak ini yang menjadi pemenang. ” batinnya, lalu menoleh Sinam yang tergeletak, “walau kau pantang menyerah, tapi ada saatnya kau dipaksa menyerah. ” batinnya.


Sansiro memandang Sinam yang tergeletak, dia terlihat kesal dengan mata berkaca-kaca, “padahal sudah sejauh ini. ” batinnya kemudian memalingkan pandangan dari arena.


wasit mendekati Jido, memegang tangannya dan mengangkatnya keatas, “pemenangnya adalah Ji.. ”


“masih belum.! ” Sinam memotong perkataan wasit, dia kembali bangkit dengan perlahan.


“apa.?! ” Semua orang terkejut dengan wajah tidak percaya.


Deiki, Sansiro dan yang lain tertegun, mereka tidak percaya bahwa Sinam masih bisa berdiri.


Jido terlihat kesal, “menyerahlah, kau sudah kalah.!! ” teriaknya.


Tap.. Tap..


Sinam melangkah maju secara perlahan, “wasit, menyingkir lah.. aku masih bisa bertarung. ” dia terlihat menakutkan.


wasit terdiam, “padahal sudah berkali-kali terjatuh, tapi dia selalu saja bangkit.” tapi berbicara dalam hati dan menjauh dari Jido.


Jido melirik wasit yang menjauh, kemudian menatap Sinam yang berjalan kearahnya, “sialan, aku akan membunuhmu.!! ” dia terlihat geram.


Buk..


baru saja akan berjalan, kedua lutut Jido kembali terjatuh, dia menatap telapak tangannya, “sial, aku sudah kehabisan Shaka.. aku sudah tidak bisa melakukan pelepasan Shaka, jika ku paksa bisa-bisa aku mati. ” batinnya kemudian menoleh Sinam yang semakin mendekat, “tapi jika tidak, aku akan kalah.! ” dia terlihat kesal.


Sinam sudah didekat Jido, dia menghentikan langkah dan menatap Jido yang tertunduk didepannya, “ada apa dengan mu? apa kau sudah menyerah.? ” tanya Sinam datar.


Jido terlihat kesal, “sialan kau.! ” kemudian menoleh kearah penonton, “seharusnya dia sudah kalah, dari awal aku sudah menyerap Shakanya dan mustahil dia bisa bertarung lagi.. pasti ada yang mengirimkan Shaka kepadanya..!! ” teriaknya.


“eh.?! ” wasit terkejut, “benar saja, bukan mustahil jika ada orang yang mengirimkan Shaka pada Sinam, aku sendiri sudah merasakan bahwa Shaka di tubuh Sinam benar-benar dikuras habis oleh Jido.. ” batinnya menoleh kearah pasukan Yama, tepatnya kearah Deiki.


setelah mendengar perkataan Jido, semua penonton mulai rusuh, mereka berteriak seolah tidak terima dengan Sinam, khususnya orang dari Arkan.


“jika ada yang mengirimkan Shaka pada Sinam, tetap saja harus melalui kontak fisik, apa kalian melihat ada yang menyentuh Sinam selain Jido.?! ” Deiki berbicara dengan datar, namun penuh penekanan, dia melirik kearah wasit yang berasal dari Desa Pedang Kembar tersebut.


wasit terdiam menatap Deiki, “apa-apaan orang ini? dia terlihat begitu mengancam. ” batinnya.


“begitu, ya. ” ucap wasit, “benar juga, mustahil seorang petarung mengirimkan Shaka tanpa kontak fisik. ” lanjutnya, setelah itu semua penonton kembali tenang.


Sinam menatap Jido dengan tajam, “seorang pecundang akan selalu membuat alasan saat menerima kekalahan, tapi... seorang pemenang akan selalu menerima kekalahan walau hati penuh dendam. ” ucapnya datar, “kembalilah lagi jika kau merasa sudah cukup kuat untuk mengalahkan ku.. aku siap bertarung kapan saja. ” lanjutnya.


Jido tertegun, “kenapa? padahal sudah berkali-kali terjatuh, tapi kenapa kau selalu bangkit? kenapa kau tidak menyerah saja.?! ” dia bertanya.


“menyerah, ya. ” Sinam memandang awan, “sederhana, aku ingin menjadi petarung terkuat sehingga semua orang mengenalku.. dengan begitu aku bisa mengetahui tentang orang yang ku cari. ” ucapnya tersenyum tipis.


Jido terkejut, kemudian tersenyum tipis sambil memaksa diri untuk berdiri, “petarung terkuat, ya.. ” ucapnya, “aku berbeda dengan mu, aku sadar kondisi ku dan sudah tidak bisa bertarung lagi, jadi... ”


“aku menyerah..!! ” Jido mengangkat tangannya.


Sinam tertegun, “kau..?! ”


Jido melangkahkan kaki meninggalkan arena, “jujur, aku benci mengakui ini, tapi dia benar-benar spesial, aku tidak yakin bisa mengalahkannya di masa depan. ” batinnya.


Jido menghentikan langkah, menoleh Sinam dan berkata, “nama mu Sinam, ya.. aku akan selalu mengingat mu. ” dia tersenyum ramah, “namaku Jido, aku harap kau juga mengingatnya. ” lanjutnya.


Sinam tertegun, “Jido, ya. ” kemudian tersenyum.


wasit menoleh kepergian Jido, lalu mendekati Sinam, “pemenangnya adalah Sinam.!! ” teriaknya,lalu disusul dengan sorak-sorai para penonton.

__ADS_1


“mengecewakan, padahal sudah bersusah payah, tapi dia malah menyerah. ” batin Sinam kesal, “kesannya jadi terlihat kurang keren. ”


__ADS_2