SINAM

SINAM
Kebenaran Hikasa {6}


__ADS_3

Hikasa dan Hikaru menatap orang berpakaian serba putih di hadapan, keduanya terlihat serius.


“ begitu, ya.. ” ucap Hikasa datar.


“ ya, kami sudah meringkus tujuh orang dari pasukan Arkan, dua orang dari Yama, dan tiga orang dari Sanji. ” ucap orang tersebut.


Hikaru terlihat serius, “ sepertinya mereka sangat ingin mendapatkan informasi dari desa kita, jika mereka tahu pendiri tidak ada di desa, tidak diragukan lagi peperangan akan terjadi. ” ucapnya serius.


“ ya, itu sudah pasti, jika hanya satu desa saja yang menyerang kita, mungkin kita masih bisa mengatasinya, tapi jika ketiga desa besar beraliansi, desa elemen akan hancur. ” ucap orang itu.


“Arkan, Sanji dan Yama, ketiga desa besar sudah lama berdiri, mereka juga dikenal selalu bermusuhan, mustahil mereka beraliansi. ” ucap Hikaru.


“ biar bagaimanapun, kita harus memikirkan kondisi terburuknya, dengan kondisi desa terpecah belah seperti ini, kita benar-benar rapuh. ” ucap Hikasa serius.


setelah itu, suasana menjadi hening untuk beberapa saat, ketiganya terlihat berpikir dengan wajah serius.


“ baiklah, pimpinan, senior, aku akan kembali ke perbatasan.. jumlah pasukan kami sangat sedikit untuk menjaga luasnya perbatasan, satu orang saja sudah sangat membantu. ” ucap orang itu, “ apakah ada yang ingin pimpinan atau senior sampaikan pada senior Hikari.? ”


“ tidak ada. ” jawab Hikaru.


“aku hanya berharap dia baik-baik saja. ” jawab Hikasa.


Tap..


orang itu meninggalkan Hikasa dan Hikaru dengan cepat.


Hikaru memandang kepergian orang itu, lalu memegang kepalanya, “ Hikari sudah bekerja keras, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk kembali ke desa untuk menemui Hayumi dan Sinam, hanya orang suruhannya yang memberi kabar. ” ucapnya, dia terlihat pusing.


“ kau benar, kita harus mencari cara untuk menyatukan desa kembali. ” ucap Hikasa.


Tap.. Tap..


Hikasa berjalan diantara perumahan, didalam kegelapan malam, namun rembulan sedikit memberikan penyinaran.


Hikasa menatap langit dengan serius, “ orang-orang dari tiga desa besar terus menyusup, mungkin sekarang Hikari dan pasukannya berhasil menahan, tapi tidak tahu kedepannya. ” batinnya serius, “ lalu.. kondisi desa terpecah menjadi dua, setengah mengakui Hikaru, setengahnya lagi membantah dan ingin aku menjadi pimpinan, desa benar-benar kacau. ” batinnya.


Hikasa menatap bumi, “ dua pimpinan didalam satu desa.. ” dia teringat dengan kata-kata Hikaru tadi, “ jika aku menerima itu, sama saja dengan aku menerima kehancuran desa.. itu tidak bisa terjadi. ” dia serius.


keesokan harinya...


Hikasa bersandar di batang pohon yang rimbun, walaupun matahari begitu terik, daun tersebut menghalaunya.


didepan Hikasa, berdiri tiga pemuda, mereka adalah Fujita, Fumio dan Gin yang saat ini sedang membungkuk memberikan hormat.


“ kenapa tuan memanggil kami? apa ada hal penting yang akan tuan tugaskan pada kami.? ” tanya Gin.


Hikasa menatap ketiga pemuda itu, “ ya, ini sangat penting dan rahasia. ” jawabnya serius.


“ rahasia.?! ” Fumio terkejut.


“ tapi, kenapa harus kami.?! ” tanya Fujita.


“ itu artinya aku menaruh kepercayaan pada kalian. ” jawab Hikasa, “ kondisi desa saat ini sedang tidak baik-baik saja, penduduk saling membenci satu sama lain, tapi.. aku tidak melihat api kebencian dari mata kalian, itu sebabnya aku memilih kalian. ” lanjutnya.


“ begitu, ya.. ” ucap Fujita.


“ terimakasih, Tuan Hikasa sudah mempercayai petarung amatiran seperti kami. ” sahut Gin tersenyum polos.


“ kami akan menjalankan perintah mu dan tidak akan gagal. ” Fumio bersemangat.


“ baiklah kalau begitu, Fumio, aku perintahkan kau untuk mengawasi para penduduk yang mendukung Hikaru.. awasi mereka dari balik bayangan, jangan sampai mereka curiga. ” ucap Hikasa menatap Fumio.


“ baiklah. ” Fumio menunduk.


Hikasa menatap Fujita, “ kau Fujita, aku minta kau untuk mengawasi pergerakan orang-orang yang menolak untuk mengakui Hikaru sebagai pimpinan, pergerakan mereka sangat nekad, jadi berhati-hatilah. ” ucapnya tegas.


“ aku mengerti. ” Fujita menjawab.


Hikasa menatap Gin, “ dan kau Gin, aku memberimu tugas yang paling berat, aku ingin kau keluar dari desa dan mencari informasi tentang tiga desa besar, khususnya tentang pergerakan mereka terhadap desa Elemen.. jangan sampai tertangkap. ”


“ aku akan berusaha sebisa mungkin. ” jawab Gin.


“ baiklah, sekarang jalankan tugas. ” ucap Hikasa.


“ baik.! ” ketiga pemuda itu menjawab, lalu menghilang secara bersamaan.


beberapa bulan kemudian..


Hikasa bersandar di batang pohon, tempat yang sama saat dia berbincang pada Fujita, Fumio dan Gin.


“ biasanya mereka datang lebih awal, ada apa ini.? ” gumam Hikasa.


Tap..


beberapa detik selanjutnya, Fujita dan Fumio datang bersamaan, keduanya langsung menunduk.


“ maaf membuat mu menunggu, Tuan Hikasa. ” ucap Fujita dan Fumio bersamaan.


“ jangan di pikirkan. ” ucap Hikasa, “ apa situasinya terus memburuk.? ” lanjutnya.


Fujita terlihat bersedih, “ kebencian para pendukung mu semakin dalam, bahkan mereka terlibat pertarungan beberapa kali, dan mereka menyebut mereka pasukan Petir. ” ucapnya, “ sepertinya sampai kapanpun mereka tidak menerima Tuan Hikaru. ”

__ADS_1


“ begitu, ya. ” ucap Hikasa, lalu menatap Fumio, “ bagaimana dengan mu Fumio.? ” lanjutnya.


“ pada awalnya, mereka tidak terlalu menggubris pasukan Petir, mungkin tidak ada alasan bagi mereka untuk membenci pasukan Petir karena Tuan Hikaru yang menjadi pimpinan, seperti yang mereka harapkan.. ” jawab Fumio, “ akan tetapi, semua pemberontakan yang di lakukan pasukan Petir membuat mereka terpaksa menjawab kebencian itu, kini mereka menamai mereka dengan pasukan Api.. ” lanjutnya.


“ pasukan Petir dan pasukan Api, ya. ” Hikasa termenung, “ aku pikir seiring berjalannya waktu kebencian mereka semakin reda, ternyata aku salah besar, ini semakin memburuk. ”


Hikasa menatap kedua pemuda itu, “ apa kalian tidak melihat seseorang yang selalu mencoba memecah dengan kata-kata liciknya.? ” dia bertanya.


“ tidak, aku tidak melihat orang seperti itu. ” jawab Fumio.


“ aku juga. ” lanjut Fujita.


“ baiklah, kalian boleh pergi sekarang. ” ucap Hikasa.


“ baik.! ” Fujita dan Fumio bergegas pergi.


Hikasa menatap langit, “ bagaimana dengan Gin, sudah beberapa bulan aku tidak menerima kabar darinya, apa mungkin dia sudah tewas. ” batinnya.


Tap.. Tap..


malam ini, Hikasa berjalan menuju ruangan Hikaru, dia terlihat santai dengan wajah datar.


“ bagaimana ini pimpinan.? ”


“ mereka terus menjaga jarak, cepat atau lambat perang saudara akan terjadi.! ”


“ ya, pertarungan antara pimpinan dan senior Hikasa harus segera dilakukan, itu jalan satu-satunya. ”


terdengar suara beberapa orang dari dalam ruangan Hikaru, Hikasa yang hendak membuka pintu pun menahan diri, dan terpaksa mendengarkan.


“ sialan, mereka sama saja, mereka berniat menghasut Hikaru agar bertarung dengan ku. ” batin Hikasa.


“ tidak, itu tidak berguna, jika aku bertarung sekarang, dan seandainya aku menang, pasukan Petir belum tentu menerimanya, kebencian sudah terlalu lama bersarang di hati mereka.. mereka akan terus membelot. ” ucap Hikaru tegas dari dalam ruangan.


“ tapi, jika senior Hikasa yang menang, kami akan menerimanya sebagai pimpinan, kami tidak akan membelot. ” ucap salah seorang.


“ tidak, kalian berbicara seperti itu karena kalian belum merasakan kekecewaan, jika itu sudah terjadi, aku yakin kelakuan kalian sama saja dengan pasukan Petir. ” jawab Hikaru tegas.


“ lalu, jika perang saudara benar-benar terjadi, apa yang akan kau lakukan.?! ” tanya seseorang.


“ kesalahan terletak pada pasukan Petir karena tidak mengakui ku sebagai pimpinan, jadi, mau tidak mau aku akan menghabisi mereka semua tanpa melibatkan kalian. ” Hikaru terlihat mencekam.


“ memang benar pimpinan mungkin sanggup menghabisi mereka, tapi bagaimana jika senior Hikasa membantu pasukan Petir karena telah mendukungnya. ” tanya yang lainnya.


“ aku akan menghadapinya.. aku akan bertarung dengannya secara serius, hanya itu pilihannya. ” ucap Hikaru dingin.


Deg..


Tap..


detik selanjutnya, Hikasa pergi dari tempat itu dengan cepat.


Beberapa bulan kemudian..


seperti biasa, Hikasa bersandar di batang pohon, sepertinya dia menunggu para pemuda itu.


“ menunggu memang hal yang paling membosankan. ” gumam Hikasa.


Tap..


baru selesai Hikasa berbicara, tiba-tiba Fumio datang, “ maaf membuatmu menunggu, Tuan. ” ucapnya.


“ tidak apa-apa. ” jawab Hikasa, “ bagaimana dengan kabar pasukan Api.? ”


“ mereka berniat menyerang pasukan Petir, begitu juga dengan pimpinan. ” jawab Fumio.


“ apa? Hikaru juga bersiap.?! ” Hikasa terkejut.


Hikasa membalikkan badan, “ begitu, ya..” ucapnya, sementara Fumio berada di belakangnya.


tiba-tiba Fumio tersenyum jahat, terlihat gigi yang tajam.


“ Tuan, dibelakang.!!! ” Tiba-tiba terdengar suara teriakan, seperti suara Fujita.


Hikasa reflek dan menoleh belakang, “ apa.?! ” dia terkejut.


Zraasshh..


detik selanjutnya, darah beterbangan di udara, terlihat tangan kanan Hikasa tersayat cukup dalam.


disisi lain, Fumio memegang pedang yang berlumuran darah menatap Hikasa, dia tersenyum jahat seolah bukan Fumio.


Hikasa melompat mundur menjaga jarak dari Fumio, lalu memegangi luka di tangannya, “ siapa kau.?! ” dia bertanya.


Tap..


Fujita mendarat di samping Hikasa, “ maaf, Tuan, karena aku terlambat kau jadi terluka. ” ucapnya lalu menatap tajam Fumio, “ sepertinya kau juga berkhianat, Fumio. ”


Sriing..


Fujita menarik pedang, dia bersiap maju.

__ADS_1


“ tunggu, Fujita.. kau tidak akan sanggup menghadapinya. ” Hikasa menahan, lalu menatap Fumio dengan tajam, “ dasar pecundang, kau hanya berani menyerang dari belakang. ” ucapnya.


“ hahaha.. hahaha.. ” Fumio tertawa terbahak-bahak, “ padahal tadi itu hampir saja.. tidak ku sangka kau mengetahuinya. ” perlahan, tubuh Fumio berubah menjadi Serano, sosok Iblis yang pernah bertarung melawan Hikasa.


“ apa? berubah.?! ” Fujita terkejut.


“ sudah kuduga, itu memang kau Serano. ” ucap Hikasa dingin.


“ sebentar lagi, desa ini akan hancur, kau akan berakhir, Hikasa.. ” ucap Serano menyeringai.


Bzcipcipbzcip..


Hikasa mulai bersiap dengan petirnya.


Tap.. Tap..


Serano melompat menjauh, “ sampai jumpa lagi.. Hikasa, aku sudah tidak sabar menantikan pertarungan mu melawan Hikaru.!! ” sambil berteriak.


Hikasa berniat mengejar, namun tiba-tiba dia kesakitan dan langsung memegangi tangan kanannya yang terluka, “ sial.! ” darah terus bercucuran.


“ aku yang akan mengejarnya.! ” Fujita bersiap.


“ cukup, kau bukan tandingannya.! ” Hikasa menahan.


setelah itu, Hikasa mengikat tangannya yang terluka dengan bantuan Fujita, mereka berbincang-bincang.


“ sepertinya Tuan kenal dengan orang tadi. ” ucap Fujita.


“ orang itu adalah Serano, dia adalah Iblis yang ingin menghancurkan desa ini, dia adalah dalang dari semua perselisihan yang terjadi sekarang. ” jawab Hikasa.


“ Iblis.? ” Fujita terkejut, “ lalu bagaimana dengan Fumio.? ”


“ fakta bahwa Serano berubah menjadi Fumio menandakan, Fumio sudah tewas.. ” jawab Hikasa.


“ begitu, ya. ” Fujita terlihat bersedih.


Hikasa menatap Fujita, “ lalu, bagaimana dengan kabar pasukan Petir.? ” dia bertanya.


Fujita terlihat bersedih, “ aku tidak tahu harus memulainya dari mana.? ” ucapnya.


“ katakan saja.! ” ucap Hikasa.


“ keadaan semakin memburuk, pasukan Petir mulai mempersiapkan persediaan senjata, mereka berniat mengangkat senjata dan melakukan perang saudara.. ” ucap Fujita.


Hikasa tersentak mendengar itu, namun perlahan wajahnya kembali datar, “ begitu, ya.. ” dia termenung.


Fujita menatap Hikasa, “ bagaimana dengan Gin, apa dia sudah memberi kabar pada senior.? ” dia bertanya.


“ dia mengirimkan surat melalui elang pengantar pesan. ” jawab Hikasa, “ isinya mengatakan bahwa tiga desa besar sudah beraliansi dan berniat menghancurkan desa Pedang Kembar. ” lanjutnya.


“ beraliansi.?! ” Fujita terkejut, “ berniat menghancurkan desa Pedang Kembar, ya.. sebaiknya Tuan jangan terfokus pada informasi yang diberikan Gin.. ” lanjutnya.


“ apa maksud mu.? ” Hikasa serius.


“dibandingkan dengan desa Pedang Kembar, keberadaan Desa Elemen lebih mengancam, Sanji, Arkan dan Yama biasanya bermusuhan, jika mereka membentuk aliansi, itu artinya yang akan mereka hadapi adalah desa kuat.. ” jelas Fujita, “ dan mungkin itu adalah Desa Elemen.. ” dia terlihat serius.


Hikasa menatap Fujita serius, “ benar juga yang kau katakan.. ” ucapnya.


Tap..


Tiba-tiba Gin muncul di hadapan Hikasa dan Fujita, namun tubuhnya penuh luka dan darah.


“ Gin.?! ” Hikasa dan Fujita terkejut.


Buukk..


Gin terjatuh, namun dia masih sadarkan diri, dia menatap Hikasa dan Fujita.


“ ini gawat. ” ucap Gin terdengar berat.


“ apa yang terjadi padamu? kenapa kau terluka seperti ini.? ” tanya Hikasa, “ lebih baik kau obati dulu luka mu.! ”


Gin mencoba bangkit, “ tidak, sudah tidak ada waktu lagi.. ” ucapnya, “ tiga desa besar mengubah arah, kini mereka menuju desa Elemen, mereka berniat menghancurkan desa kita.! ” dia tergesa-gesa dan ketakutan.


“ apa.?! ” Hikasa tersentak, begitu juga dengan Fujita.


“ apa kau yakin, Gin.?! ” tanya Fujita.


“ ya, itu benar.. awalnya mereka berniat menghancurkan desa Pedang Kembar, namun ternyata itu hanya untuk mengecoh penyusup penyusup seperti ku, bahkan aku hampir saja terbunuh. ” jelas Gin. “ mungkin dua hari lagi mereka akan sampai ke desa kita.! ” dia berteriak.


Fujita terlihat bingung, “ padahal kondisi desa benar-benar kacau, mungkin akan terjadi pertumpahan darah beberapa hari lagi, ditambah lagi dengan aliansi yang sudah bergerak.. apa yang harus kita lakukan.?! ” ucapnya keras.


Gin terkejut, “ maksud mu, kondisi desa semakin memburuk.?! ” dia bertanya.


“ selama kau pergi, perpecahan bukannya mereda, mereka malah semakin menjaga jarak, kini pasukan Petir bersiap mengangkat senjata untuk menyerang pasukan Api.. aku tidak tahu dengan pasukan Api, jika mereka mengetahui ini, mereka pasti juga bersiap.. ” jelas Fujita.


“ pasukan Petir? pasukan Api.?! ” Gin terkejut, “ dasar payah.! ” dia terlihat kesal.


Fujita dan Gin menatap Hikasa, “ bagaimana ini Tuan Hikasa, apa yang akan kita lakukan.? ” keduanya penuh harap.


Hikasa memejamkan matanya cukup lama, “ kalian berdua, tinggalkan desa ini, desa ini mustahil untuk diselamatkan.! ” ucapnya serius sambil membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2