
di atas desa Yama, matahari pagi bersinar cerah, langit biru yang dihiasi awan putih.
Braak..
Sinam terbangun, dia menatap tempatnya berada yang merupakan sebuah kamar lengkap dengan peralatan medis, dia saat ini berada di sebuah kamar rumah sakit.
Sinam sedikit terkejut, lalu terlihat berpikir, ingatannya tentang pertarungan melawan Satoru kembali terlintas, “ Ryugu..?! ” ucapnya, dia mengingat Ryugu.
Krak..
pintu terbuka, lalu masuk seorang perawat mendekati Sinam, “ tenanglah, kau tidak bisa keluar kamar untuk saat ini. ” ucapnya menatap Sinam lembut.
Sinam melihat tubuhnya yang penuh perban, dia terlihat kesal, “ Ryugu, bagaimana dengan Ryugu.? ” dia bertanya dengan panik.
perawat menatap Sinam dengan bimbang, “ anak itu.. dia.. ” ucapnya.
Sinam menatap perawat itu, “ begitu, ya. ” lalu terlihat bersedih, dia mengingat momen Ryugu berbicara dengannya untuk yang terakhir kali.
masih di desa Yama, tepatnya di tempat pemakaman para petarung Yama yang gugur, terlihat banyak orang berkumpul berpakaian serba hitam diantara banyaknya makam yang berbaris.
“ hiks.. hiks..! ” terdengar suara isak tangis, itu adalah tangisan Aozora yang saat ini duduk di depan makam Ryugu, dia meletakkan bunga yang khas untuk kematian.
“ Ryugu, kenapa kau pergi secepat ini? siapa yang akan melindungi ku nanti.? ” ucap Aozora disela-sela tangisnya.
dibelakang Aozora, terdapat banyak orang berdiri, Sansiro dan yang lain, Deiki, Kazuo, Sena dan masih banyak lagi.
Saken Takeyomi menatap makam Ryugu dari kejauhan, lalu wajahnya terlihat kesal, “ seandainya.. ” dia menundukkan kepala, “ seandainya aku tidak larut dalam kesedihan dan ikut menjalankan misi, mungkin hal ini tidak harus terjadi. ” batinnya.
Krek..
terdengar suara gigi yang beradu bersama suara kepalan tinju yang begitu erat, “ Ryugu tewas dan Sinam terluka parah.. ini semua terjadi karena salahku.. dasar payah.!! ” batin Saken terlihat kesal.
Deiki memandang Aozora yang menangis di depan makam Ryugu, dia terlihat bersedih, “ satu murid ku gugur.. disaat misi pertama. ” batinnya, “ tidak, tidak ada yang bisa disalahkan, ini di luar dugaan, seharusnya ini adalah misi mudah.. tapi.. ” lalu menatap langit.
“ siapa sangka si Setan Merah yang menjadi lawan mereka.. aku sendiri mungkin tidak bisa mengalahkan orang itu, tapi.. Sinam beruntung karena selamat, walaupun sangat di sayangkan Ryugu harus tewas. ” batin Deiki lalu terlihat serius, “ Setan Merah.. jika suatu saat bertemu, aku akan membalas kematian murid ku ini.. ya, bagaimanapun caranya. ” lanjutnya.
setelah itu, ketika waktu sudah berlalu dan hari sudah sore.
Tap.. Tap..
Saken berjalan perlahan melewati perumahan desa Yama, dia berjalan dengan tatapan kosong, seolah rasa kecewa dan penyesalan merenggut pikirannya.
Sansiro dan Yoja menatap Saken dari kejauhan, keduanya terlihat bingung dan saling memandang.
“ sepertinya dia ada masalah, aku akan menghiburnya sebentar. ” ucap Sansiro lalu berjalan menuju Saken.
“ tunggu, Sansiro.! ” Yoja menahan, Sansiro menghentikan langkah dan menoleh, “ aku yakin saat ini dia sedang merasa bersalah karena kejadian ini. ” lanjut Yoja.
“ merasa bersalah? untuk apa.? ” Sansiro bertanya.
“ dia tidak ikut menjalankan misi bersama kita, dan tragedi ini kebetulan terjadi, kau akan mengerti jika kau membayangkan berada di posisinya. ” jawab Yoja.
__ADS_1
Sansiro berpikir sejenak, “ benar juga, ya. ” ucapnya. “ baiklah, bagaimana jika kita menjenguk Sinam di rumah sakit. ” lanjutnya.
“ ya, itu juga yang ingin ku katakan. ” jawab Yoja.
Tap.. Tap..
Sansiro dan Yoja pergi ke suatu arah, sementara Saken terus berjalan.
setelah cukup lama berjalan, akhirnya Saken mulai memasuki kediaman Klan Takeyomi, tatapan matanya masih kosong.
“ mau sampai kapan kau terus seperti ini.? ” Tiba-tiba ada yang bersuara.
Saken terkejut, lalu menoleh ke suatu arah, disitu terlihat Kei Takeyomi sedang berdiri dengan tubuh bersandar di dinding.
“ ayah.? ” ucap Saken.
Kei Takeyomi menatap Saken serius, “ percuma menyalahkan dirimu sendiri, semuanya sudah terjadi. ” ucapnya.
Saken menatap ayahnya, “ tapi.. ” ucapnya.
“ penyesalan memang selalu datang di belakang, tapi jauh sebelum penyesalan pelajaran ada di depan. ” ucap Kei Takeyomi serius, “ jangan hanya karena kehilangan satu orang yang berharga membuat mu melupakan semuanya, masih ada teman yang harus kau lindungi, jika tidak ingin menemui penyesalan lagi, mulai sekarang lakukan yang terbaik.! ” lanjutnya, lalu pergi meninggalkan Saken.
Saken tertegun menatap kepergian ayahnya, “ baiklah.. ayah. ” ucapnya pelan.
Di rumah sakit...
Sansiro dan Yoja memasuki rumah sakit, terlihat mereka berbincang dengan seorang perawat, lalu berjalan menuju sebuah kamar.
Sansiro bersiap membuka pintu, “ jadi di kamar ini, ya.. Sinam dirawat. ” ucapnya.
Kraak..
Sansiro membuka pintu, mereka berdua memandang isi kamar tersebut yang kosong dan hening.
“ kosong.?! ” Sansiro terkejut.
“ Sinam dimana.?! ” Yoja terkejut, lalu menoleh kearah jendela kaca yang terbuka, “ jangan-jangan, dia.?! ” lanjutnya.
Sansiro berlari ke arah jendela, lalu menatap keluar jendela, tanah terlihat jauh di bawah karena bangunan tersebut memang tinggi.
“ cih, Sinam lari dari rumah sakit. ” ucap Sansiro terlihat kesal.
“ tenang saja, jika dia sudah bisa keluar dari tempat ini, itu artinya kondisinya sudah membaik. ” ucap Yoja tersenyum.
“ benar juga, ya.. tapi, kemana dia.? ” Sansiro bertanya.
Tap.. Tap..
Sinam berjalan perlahan di hari yang mulai menjelang malam, dia menuju kearah pemakaman Petarung Yama.
Sinam menghentikan langkah, memandang begitu banyak pemakaman di tempat itu, dan tidak sengaja melihat Aozora, Harumi dan Kaori di sebuah makam, itu adalah makam Ryugu.
__ADS_1
Tap..
Sinam bersembunyi di balik pohon yang berada di pinggiran makam, dia memandang makam yang berada di depan Aozora, “ jadi, itu makam Ryugu, ya.. ” batinnya terlihat sedih.
Ryugu berjongkok di depan makam, dia terdiam dengan tatapan kosong, walau tidak menangis tapi di wajahnya jelas terlihat ketidakrelaan.
“ Aozora, hari mulai gelap, sebaiknya kita kembali. ” ucap Harumi.
“ aku memang tidak meminta kau melupakan Ryugu secepat itu, tapi.. jika kau terus seperti ini, hanya akan membuat Ryugu semakin bersedih. ” lanjut Kaori, “ yang kau butuhkan adalah rasa ikhlas. ”
“ Kaori, mungkin benar yang kau katakan, tapi kau tidak akan mengerti apa yang kurasakan jika tidak berada di posisi ku, ini benar-benar sulit. ” ucap Aozora melirik Kaori.
“ ya, itu pasti benar-benar sakit, aku bisa membayangkannya. ” ucap Kaori sedikit merasa bersalah.
“ tidak, bahkan membayangkan saja tidak akan cukup. ” Aozora terlihat kesal.
“ kau tidak akan pernah sembuh jika masih menggenggam erat sesuatu yang membuatmu sakit, yang kau butuhkan adalah merelakan yang telah terjadi.. walau pahit, tapi inilah kenyataan, terkadang memang sangat jauh dari keinginan kita.. ” ucap Harumi, “ jika kau terus seperti ini, dan sekalipun kau menyerah dan berdiam diri, waktu tidak akan menunggu mu, semuanya akan terus berlanjut.. jadi, lepaskanlah secara perlahan.. ” lanjutnya.
Aozora tertegun menatap Harumi, lalu berdiri dari jongkoknya, “ ayo pulang. ” ucapnya, lalu berjalan pergi.
Harumi dan Kaori saling menatap, lalu berjalan mengikuti Aozora.
Sinam masih bersembunyi, dia menatap Aozora dari kejauhan, “ aku tidak tahu kesedihan yang di tanggung Aozora saat ini, sakit yang tidak bisa dibayangkan. ” batinnya.
Tap..
setelah senyap, Sinam berdiri di depan makam Ryugu, wajahnya terlihat datar menatap makam tersebut.
Tes..
walau mencoba untuk kuat, namun air mata Sinam menetes tanpa aba-aba membasahi pipi, saat-saat Ryugu meregang nyawa kembali terlintas di ingatan Sinam.
“ hiks.. hiks..! ” Sinam mengusap air matanya, dia terlihat sangat menyedihkan, “ tidak ada waktu untuk menyesali yang telah terjadi.. Ryugu.. aku berjanji akan menghabisi orang itu untuk mu.. ” dia menguatkan diri sambil membayangkan wajah Satoru.
Gedung Pimpinan..
“ begitu, ya.. jadi salah satu murid mu tewas. ” ucap Mikami Sato sang pimpinan.
“ ya, ini diluar dugaan, tidak ada yang menyangka orang yang menyewa jasa Petarung Yama ternyata buruan Kaisar Besi. ” jawab Deiki di depan Mikami Sato, dia membungkuk.
ditempat itu, terdapat cukup banyak orang, mereka adalah para petinggi Yama dan beberapa orang Petarung.
“ Kaisar Besi, ya.. Organisasi kriminal ini berkembang dengan cepat, kita harus segera menemukan persembunyian mereka. ” ucap salah satu orang.
“ tapi, siapa yang membangun Kaisar Besi dan apa tujuan mereka.? ” tanya yang lainnya.
“ orang yang membentuk Kaisar Besi adalah Agara, mantan petinggi Sanji yang melarikan diri karena suatu masalah, sejauh ini mereka hanya merampok dan mencuri persenjataan lalu menjualnya, tapi aku belum mendapatkan informasi tentang tujuan mereka yang sebenarnya. ” ucap Mikami serius.
Deiki menatap Mikami serius, “ lalu, apakah pimpinan mengetahui tentang Setan Merah.? ” dia bertanya.
“ tidak, Sanji, Arkan dan Pedang Kembar tidak ada yang mengakui bahwa Setan Merah berasal dari desa mereka, sepertinya dia berasal dari desa kecil. ” jawab Mikami, “ dilihat dari insiden ini, sepertinya Setan Merah benar-benar kuat, dia berhasil membunuh delapan Petarung Sanji dengan cepat.. dibandingkan dengan Yama yang hanya kehilangan satu nyawa Petarung muda, Sanji lebih di rugikan. ” lanjutnya.
__ADS_1
“ hanya.? ” batin Deiki sedikit kesal.
Deiki menenangkan diri, “ begitu, ya. ” lalu pergi meninggalkan tempat itu.