SINAM

SINAM
Ujian Dari Deiki


__ADS_3

Sinam dan yang lainnya memandang Deiki yang tergeletak di bawah pohon, seluruh tubuhnya dipenuhi darah, dia seperti sudah tidak bernyawa.


“guru Deiki.!! ” teriak mereka, namun tidak ada jawaban.


Sinam dan yang lainnya terlihat panik, termasuk Saken, namun tidak dengan Ryugu, wajahnya terlihat begitu datar.


ketiga orang bertopeng terlihat bersiap, Sinam dan yang lainnya juga bersiap, namun ada juga yang terlihat ketakutan.


Tap..


beberapa detik kemudian, orang yang menyerang Deiki bergerak cepat ke depan Harumi. waktu seolah berhenti bagi Harumi, sementara orang itu bergerak bebas.


Harumi terkejut dan ketakutan, “cepatnya.?! ” batinnya.


orang itu bersiap melayangkan tendangan dengan kaki kanan, sementara Harumi masih diam ditempat.


Tap..


Sinam muncul di depan Harumi, bersiap dan menatap tajam orang itu.


Harumi terkejut, “Sinam.?! ” ucapnya pelan.


Blaakk..


tendangan orang itu melesat dengan gaya menyamping, Sinam menahan dengan kedua tangan, namun tetap terdorong sedikit.


Sinam tersenyum tipis, “sekarang kesempatan ku.! ” batinnya.


Sinam mengepalkan tinju, lalu melesatkan pukulan datar kearah orang bertopeng itu yang langsung menahan dengan telapak tangannya.


“lemah sekali. ” ucap orang itu, dia masih menahan tinju Sinam.


Sinam tersenyum tipis, “berhasil, aku bisa merasakannya. ” batinnya.


orang bertopeng itu terkejut, “apa ini? kenapa tubuh ku tidak bisa bergerak.? ” batinnya, “bukan kebetulan tubuh ku kaku seperti ini. ”


Sinam menarik tinjunya dari telapak tangan lawan dan mengayunkan tinju kebelakang, “waktunya hanya sekitar sepuluh detik. ” batinnya sambil melesatkan tinju yang begitu keras.


Buaakk..


sebelum tinju Sinam menyentuh lawan, kaki pria itu bergerak cepat menghantam tubuh Sinam yang langsung terpental, Harumi yang dibelakang juga terhempas ditabrak tubuh Sinam.


Buaakk..


tubuh Sinam menghantam batang pohon, lalu tergeletak lemah, sementara Harumi juga tergeletak namun tidak membentur batang pohon.


“Sinam.!! ” teriak Sansiro, lalu mendekati Sinam.


“Harumi.!! ” Kaori membantu Harumi berdiri.


sebelum Sansiro membantu, Sinam sudah kembali berdiri dan menatap lawannya, “kenapa? seharusnya berhasil.. ya, tidak salah lagi. ” batinnya, lalu tiba-tiba tersentak, “aku ingat, guru Abame mengatakan mungkin Jurus Dua Sentuhan tidak berarti jika digunakan untuk orang yang level bertarungnya jauh lebih kuat daripada penggunaannya.. tapi, tadi dia memang tidak bisa bergerak..mungkin sekitar lima detik. ”


Sinam tersenyum semangat, “menarik.. mungkin dengan pertarungan ini aku bisa bertambah kuat.. lagipula kami diuntungkan, sepuluh lawan tiga. ” batinnya.


pria bertopeng itu menatap Sinam, “anak ini.. dia adalah anak bodoh saat itu.. ” batinnya, “bukan kebetulan tubuhku kaku, sebelum itu dia tersenyum.. aku yakin ini tekniknya, tapi bagaimana cara dia melakukannya.? ”


Sinam, Sansiro, Harumi dan Kaori terlihat bersiap menatap pria bertopeng itu, mereka bersiap maju.


Sansiro tersenyum semangat, “Sinam, sudah lama aku menantikan situasi ini, aku ingin bertarung bersama mu. ” ucapnya sambil menarik pedang besarnya.


Yoja mendekati Sansiro, “aku juga akan membantu. ” ucapnya.


Sansiro menoleh, “apa maksudmu? lihat Saken dan yang lain, mereka kerepotan. ” ucapnya.


Yoja menoleh kearah lainnya, dia melihat Saken sedang bertarung bersama Jiromaru, Thakesi, dan Aozora, sementara Ryugu terlihat begitu tenang menyaksikan, mereka menghadapi dua orang lawan bertopeng.


Brakk..


ular Saken menghantam tanah yang langsung hancur, sementara lawannya terlihat melompat mundur.


Saken, Jiromaru dan Thakesi menghadapi satu orang musuh, sebut saja pria bertopeng kedua, pertarungan ini sangat sengit.


Thakesi Nakai mengarahkan telapak tangannya kearah pria bertopeng kedua, “Jurus Penghalang.! ” teriaknya dengan wajah serius.


detik berikutnya, orang itu sudah terkunci berada di dalam penghalang putih transparan.


“jadi, kau dari Klan Nakai, ya. ” ucap orang itu, lalu menarik pedangnya.


Zrashh..


orang itu mengalirkan Shaka hijau ke pedangnya, lalu menebas penghalang yang langsung terbelah dan lenyap.


“aku terpaksa menggunakan pedang. ” batin pria bertopeng itu.


Thakesi terkejut, “apa.. dihancurkan.? ” ucapnya.


“sekarang giliran ku. ” Saken menoleh Thakesi lalu bersiap, matanya menatap tajam musuh.


pria bertopeng kedua menatap Saken, “jadi, dia pewaris Iblis Ular, ya. ” batinnya.


Brakk..


Saken meninju bumi dengan kedua tangannya dalam posisi duduk, tanah itu hancur sehingga tangannya tenggelam.


“apa yang dilakukannya.? ” gumam pria bertopeng itu.

__ADS_1


beberapa saat kemudian, pria bertopeng itu melihat tanah dibawahnya yang bergetar, “apa.?! ” dia terkejut.


Brakk..


tanah dibawah kaki orang itu hancur, terlihat dua ekor ular muncul dan membelit kaki pria itu sebelum bergerak, itu adalah tangan Saken yang berubah.


“cih.” orang itu terlihat kesal, dia bersiap mengayunkan pedang.


Saken tersenyum, “jangan meremehkan ku. ” ucapnya.


“aku datang.!! ” tiba-tiba Jiromaru muncul, dia mengarahkan ujung Toya kearah pria bertopeng itu.


“gawat, mereka benar-benar hebat.! ” batin pria bertopeng itu.


Zrashh..


kedua ular Saken terpotong terkena tebasan pria bertopeng itu, kakinya sudah bebas.


Bukk..


belum sempat menghindar, Toya Jiromaru sudah mendarat pada lawan yang langsung menahan dengan telapak tangan, mereka saling dorong.


“Jurus Toya, Teknik Memanjang.!! ” ucap Jiromaru.


Zrakk..


detik selanjutnya, Toya Jiromaru memanjang sehingga musuh terhempas mundur jauh kebelakang, namun dia masih menahan dengan kedua telapak tangannya.


Thakesi tersenyum, “Jiromaru hebat.! ” ucapnya.


Saken terlihat kesal, “cih, dia mengambil bagian terbaiknya. ” ucapnya.


Braak..


Toya Saken terus mendorong tubuh musuh sampai menabrak batang pohon.


orang bertopeng itu masih bertahan, “jadi ini.. murid dari Deiki.. mereka benar-benar hebat. ” batinnya.


“memendeklah.!! ” ucap Jiromaru, seketika Toya memendek sehingga tubuhnya ikut tertarik kearah lawan.


setelah itu pertarungan kembali dilanjutkan, Saken dan Thakesi membantu Jiromaru menghadapi pria bertopeng kedua.


“sesuai permintaan, seharusnya aku tidak boleh menggunakan senjata, tapi apa boleh buat. ” ucap pria bertopeng itu, lalu mengeluarkan dua pedang.


Yoja menoleh kearah lainnya, terlihat Aozora bertarung menghadapi orang bertopeng ketiga, gadis kecil itu terlihat bersemangat, namun tetap kewalahan.


Yoja menoleh Ryugu yang terlihat tenang, “apa-apaan dia? kenapa dia diam saja. ” batinnya.


Aozora mengeluarkan senjata cakar besi kebanggaan di dua tangannya, lalu menyerang maju, “ matilah.!! ” teriaknya.


Tap..


Aozora melesatkan serangan dengan cakar besinya, musuhnya melompat keatas untuk menghindar.


“bagaimana dengan yang ini.?! ” tiba-tiba Yoja muncul dan berteriak, saat ini dia berada di atas orang bertopeng ketiga, dia bersiap melepaskan tinju.


“apa.?! ” orang itu terkejut dan menoleh kearah Yoja yang berada di udara, orang itu tidak bisa menghindar dan mencoba berputar untuk menahan tinju Yoja.


Buaakk..


Yoja sudah melepaskan pukulan kearah lawannya, pria bertopeng itu menahan dengan menyilangkan tangan, namun tetap terhempas kearah bumi.


“kuat sekali.. ” batin orang itu.


dibawah, Aozora bersiap menyambut dengan cakar besinya, wajahnya tersenyum jahat melihat musuh yang terhempas kearahnya.


pria bertopeng itu menoleh kearah Aozora yang ada di bawah, “cih, tidak ada pilihan lain. ” batinnya, lalu menarik pedang.


Ctang..


pedang pria bertopeng itu bergesekan dengan cakar besi Aozora, serangan Aozora berhasil di tahan.


di samping itu, Sinam, Sansiro, Harumi serta Kaori menghadapi pria bertopeng pertama, pertarungan sengit terus terjadi. Harumi dan Kaori dengan dua pedang, Sansiro dengan senjata andalannya yang berupa pedang besar, sementara Sinam tangan kosong.


tebasan dan pukulan terus dilesatkan Sinam dan yang lain, pria bertopeng pertama hanya bisa menghindar dan tidak menyerang balik.


“aku.. kewalahan..? ” batin orang itu. “ bagaimana mungkin aku bisa menghadapi mereka yang menggunakan pedang dengan tangan kosong.. ” ucapnya lalu menarik pedang.


Ctang.. Ting..


pria bertopeng pertama menggunakan pedang dengan sangat lincah, serangan Harumi dan Kaori bisa mereka tangkis, sesekali dia menyerang balik, terutama kearah Harumi.


Sansiro mengayunkan pedang besarnya kebelakang, lalu mengayunkan pedang itu kearah musuh dengan kuat, “rasakan ini.!! ” teriaknya.


Ctang..


pria bertopeng itu menahan tebasan Sansiro dengan tebasan, namun tubuhnya terhempas kebelakang walau masih dalam posisi berdiri.


pria bertopeng itu menoleh Sansiro, “aku terhempas.?! ” batinnya, “sekuat apa anak ini.. sepertinya pedang yang digunakannya sangat berat. ”


Tap..


Sinam menyerang dari belakang, dia berlari kearah pria bertopeng itu.


orang itu menyadari Sinam, “tapi.. yang lebih berbahaya anak ini.. ” membalikkan badan kearah Sinam, “jika kejadian yang tadi terulang lagi.. bisa jadi aku terbunuh. ” batinnya.

__ADS_1


Wushh..


pria bertopeng itu melesatkan tebasan kearah Sinam, dengan wajah kesal Sinam terpaksa mundur untuk menghindar.


Sinam menatap pria bertopeng itu dengan kesal, “ hosh.. hosh.. ” dia mengatur nafas, “entah hanya perasaan ku saja.. tapi sepertinya dia sangat waspada padaku, mungkin dia sudah menyadari Jurusku. ” batinnya.


Buakk..


Aozora terpental terkena serangan pria bertopeng ketiga, dia menabrak pohon dan tergeletak.


“akh.! ” Aozora kesakitan.


Yoja menoleh Aozora, “sepertinya dia sudah tidak bisa bertarung lagi. ” lalu menoleh musuhnya, “sepertinya aku harus menggunakan Jurus Tinju Besi ku. ” kemudian tersenyum.


Tap.. Tap..


Ryugu memasuki pertarungan, dia menatap pria bertopeng yang telah menyerang Aozora dengan tajam.


“kau sudah melukai Aozora, akan ku buat kau membayarnya. ” Ryugu mengeluarkan senjatanya, Sabit yang berukuran besar.


Yoja menoleh Ryugu, “sama seperti waktu itu.. dia terlihat berbeda ketika anak bernama Aozora itu dilukai. ” batinnya.


Ryugu bersiap, “Jurus Sabit, Darah Pencabik. ” ucapnya dingin sambil memainkan sabitnya.


“apa yang dia lakukan.? ” ucap pria bertopeng itu.


Wushh..


beberapa saat kemudian, terlihat darah muncul dan mengikuti gerakan sabit milik Ryugu, darah itu tipis dan terlihat begitu tajam, angin berhembus kencang.


“darah.? darimana.?! ” orang bertopeng itu terkejut.


“matilah.! ” Ryugu melepaskan tebasan walau lawan masih jauh, seketika darah yang siap mencabik terbang kearah musuh.


“gawat.! ” pria bertopeng itu langsung lari sejauh-jauhnya untuk menghindar.


Zuorr...


serangan darah Ryugu tidak mengenai target, pepohonan yang berada di pinggir jalan menjadi korban, cukup banyak pohon-pohon yang tumbang.


pria bertopeng itu bersembunyi di balik pohon yang tidak terkena dampak serangan Ryugu, “hampir saja. ” gumamnya lalu menghela nafas.


semua orang menghentikan pertarungan, mereka menoleh kearah pepohonan yang tumbang terkena serangan Ryugu.


“apa.. yang barusan.? ” Sinam menatap tidak percaya.


“yang benar saja.. ? ” ucap Sansiro.


Yoja yang melihat kejadian itu, menatap Ryugu dengan wajah ketakutan, “apa itu tadi.. dia menggunakan Jurus dengan darah.? ” batinnya.


setelah itu, suasana hening untuk beberapa saat, Sinam dan lainnya belum melanjutkan pertarungan dengan musuh, Ryugu dan Yoja kehilangan musuh, hanya Saken, Jiromaru dan Thakesi yang masih menghadapi musuh, namun mereka cukup berjarak.


“cukup..! ” tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing.


“eh.?! ” semua orang menoleh kearah suara tersebut, disitu terlihat Deiki berdiri dengan tubuh penuh darah, dia tersenyum seolah baik-baik saja.


“guru Deiki.?! ” Sinam dan yang lainnya terkejut.


pria bertopeng yang menghadapi Sinam dan yang lain membuka topeng, “ padahal aku masih ingin bermain sebentar lagi. ” ucapnya, ternyata dia adalah Kazuo.


“kak Kazuo.?! ” Harumi terkejut, lalu tersenyum lepas, “jadi kakak dan guru Deiki menguji kami, ya. ” ucapnya dengan kesal.


Kazuo tersenyum, “bukan begitu, aku hanya di minta senior Deiki untuk membantunya. ” ucapnya cengengesan.


Sinam memandang kearah Saken dan yang lainnya, “hey, teman-teman! guru Deiki masih hidup.!! ” teriaknya.


Saken, Jiromaru dan Thakesi menoleh, mereka juga melihat Kazuo disitu, seketika mereka terlihat kesal.


“hampir saja.” ucap pria bertopeng yang berhadapan dengan Saken dan yang lain, saat ini tubuhnya sudah terlilit beberapa ekor ular Saken.


“cih.” dengan terpaksa Saken melepaskan ularnya dari musuh, lalu pergi mendekati Deiki dan Kazuo.


Yoja juga mendengar suara Sinam, dia menoleh dan melihat Deiki serta Kazuo. awalnya dia terlihat kesal, namun akhirnya tersenyum.


Ryugu memandang kearah Deiki dan yang lain, “jadi.. semua ini hanya berpura-pura.. ” dia terlihat kesal.


“akhirnya.. sandiwara ini selesai juga. ” ucap orang pria bertopeng yang sedang bersembunyi di balik pohon, lalu keluar dan mendekati Deiki dan yang lain.


beberapa saat kemudian, semuanya sudah kembali berkumpul, semuanya baik-baik saja terkecuali Aozora, untuk saat ini dia harus berjalan dengan bantuan Ryugu.


“jadi, semua ini hanya untuk menguji kekuatan kami.. hahaha, lucu sekali. ” Sansiro tertawa.


“ya, begitulah, aku ingin melihat kemampuan kalian, jadi aku meminta Kazuo dan dua temannya untuk membantu ku. ” ucap Deiki lalu melirik Kazuo, “tapi, tendangan mu tadi sangat keras.. aku hampir saja mati. ”


Kazuo tersenyum, “kau sangat pintar membuat ku kesal, selagi ada kesempatan tidak mungkin aku sia-siakan. hahaha. ” kemudian tertawa.


Sinam menatap Deiki, “tapi.. bukankah guru Deiki terkena tebasan, aku melihat jelas darah berceceran. ” ucapnya.


Deiki tersenyum, “tebasan itu tidak mengenai ku, sementara darah yang berceceran itu hanyalah cairan merah yang sudah ku persiapkan. ” ucapnya.


“tapi, kenapa guru menghentikan pertarungan disaat belum selesai.? ” tanya Jiromaru.


“tujuan ku bukan untuk melihat kalian menang ataupun kalah, aku ingin melihat mental kalian. dengan membuat kalian berpikir aku sudah terbunuh, kalian pasti merasa takut.. kalian mungkin akan lari, itu yang kupikirkan pada awalnya. ” ucap Deiki, “tapi sesuai dengan yang ku harapkan, kalian benar-benar hebat.. awalnya Kazuo dan dua temannya aku minta untuk tidak menggunakan senjata, tapi kalian memaksa mereka untuk menggunakan pedang.. kalian memang murid ku yang terbaik. ” dia tersenyum.


“ tapi, jika sebaliknya dan kalian memilih untuk menyerah..” Deiki terlihat serius, “ kita akan putar arah dan kembali ke Desa Yama.. aku tidak mau membuat malu Desa Yama karena membawa murid pecundang ke Desa lain. ”

__ADS_1


__ADS_2