
Zuoorr...
tubuh Akaza memancarkan Shaka berwarna biru, dia menatap tajam Uhara, “aku masih belum kalah, Uhara. ” sambil tersenyum jahat.
Uhara melirik Akaza dengan alis yang hampir menyatu, dia terlihat kesal.
“baiklah, pertarungan di lanjutkan. ” ucap wasit datar.
Saken memandang Akaza, “bagus, kakak pasti bisa mengalahkannya. ” batinnya.
melihat Akaza yang mengeluarkan Shaka, semua orang kembali bersorak semangat.
“wah, ternyata anak itu boleh juga. ”
“benar, dia masih bisa bertahan. ”
teriak para penonton.
Sinam memandang energi yang menyelimuti Akaza, “apa itu? dia terlihat keren dengan cahaya biru itu. ” dia tertegun.
“kau, benar.. dia sangat keren. ” Sansiro juga tertegun.
“itu adalah Shaka. setiap orang memilikinya. ” sahut Sena, “terutama petarung, tidak akan ada apa-apanya tanpa Shaka. ”
Sinam dan Sansiro menoleh Sena, “Shaka.?! apa itu.?! ” tanya mereka.
Sena menatap Sinam dan Sansiro, lalu menghela nafas, “Shaka adalah energi dalam tubuh yang terlihat, tanpa Shaka seorang petarung tidak bisa menggunakan Jurus. ” jelasnya.
“begitu, ya. ” Sansiro menatap Sena penuh kekaguman, “ternyata kakak memang tahu banyak. ”
“lalu, kenapa namanya Shaka.?! ” Sinam bertanya lagi.
Sena menoleh kesal Sinam, “ya, ampun, anak ini benar-benar banyak tanya. ” batinnya.
Sinam tersenyum menatap Sena yang diam, “sudah kuduga, kakak tidak tahu. ” ucapnya.
“bukannya tidak tahu, tapi terlalu panjang untuk di ceritakan. ” Sena cengengesan, dia terlihat menahan amarah, “nama Shaka berasal dari nama petarung legenda, Shakayama, dia juga orang pertama yang memiliki Shaka.. jika kau ingin tahu lebih banyak, baca saja buku sejarah. ” ucapnya ketus dan cepat.
“hehehe, sepertinya aku membuat kakak marah, ya. ” Sinam cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
Akaza tersenyum menatap Uhara, “baiklah Uhara, aku datang. ” ucapnya lalu melesat cepat.
Uhara mengikuti gerakan Akaza namun kehilangan Akaza, “kecepatannya bertambah.?! ” batinnya.
Tap...
tiba-tiba Akaza muncul di depan Uhara, lalu melesatkan tebasan yang dialiri Shaka biru.
“apa.?! ” Uhara terkejut melihat Akaza, kemudian menghindar dari pedang Akaza.
Wusshh..
pedang Akaza menebas udara, suara angin yang terbelah begitu mengancam di telinga.
Blaakk..
detik berikutnya, Akaza mengarahkan tendangan datar kearah Uhara yang langsung menyilangkan tangan untuk menahan.
Sreett...
Uhara terdorong mundur kebelakang beberapa meter, kakinya mengikis tanah, namun dia masih dalam posisi berdiri.
Uhara menatap Akaza, “tidak hanya kecepatannya saja, tapi kekuatannya juga. ” batin Akaza.
Akaza tersenyum jahat, “masih belum. ” ucapnya.
wasit melirik keduanya secara bergantian, “apa ini? situasi berbalik.?! ” batinnya.
Akaza menyarungkan pedang, “aku bukanlah petarung yang jenius seperti mu, aku sadar dengan kekurangan ku, aku terus berlatih agar fisik ku menjadi kuat, lihatlah gaya bertarung ku tanpa senjata.! ” ucapnya serius.
“tapi tujuan utama ku adalah.. pengakuan dari Klan Takeyomi serta ayah ku sang kepala Klan. ” batin Akaza dengan mata melotot.
Uhara berdiri dengan jarak sekitar dua puluh meter dari Akaza, dia masih terlihat begitu tenang, angin berhembus menyapu rambutnya.
Tap..
Akaza kembali bergerak, sesaat kemudian dia sudah tidak terlihat.
“dia datang.?! ” Uhara bersiap.
__ADS_1
Braakk..
tiba-tiba Akaza muncul dari atas sambil mengarahkan tendangan kapak kearah kepala Uhara yang langsung menghindar dengan melompat, kaki Akaza mendarat di tanah yang langsung hancur.
Uhara masih di udara, “sampai kapan dia bisa menggunakan Shaka sebesar itu. ? ” batinnya. matanya memburu keberadaan Akaza yang saat ini sudah tidak terlihat.
detik berikutnya, Uhara seperti menyadari sesuatu, menoleh kebelakang, dan ternyata Akaza berada dibelakangnya.
Blakk.. Buukk..
adu pukul di udara pun terjadi, Akaza melepaskan pukulan serta tendangan, namun Uhara berhasil menepis serta menahan.
Tap..
Uhara mendarat ke bumi, lalu berdiri kokoh seperti tiada yang kurang.
Tap..
Akaza juga mendarat, dia menatap kesal Uhara yang juga menatapnya.
“cih, dia masih bisa bertahan. ” batin Akaza kesal, namun kemudian kembali tersenyum, “tidak masalah, aku masih punya Jurus baru. ”
saat ini, tubuh Akaza masih di selimuti oleh Shaka yang berwarna biru, sementara Uhara masih belum terlihat serius sedikitpun.
beberapa saat saling tatap, Akaza kembali melesat cepat kearah Uhara.
Blaak..
saat sudah dekat, Akaza melepaskan tinju yang langsung berhasil ditahan Uhara, namun Akaza terus menyerang dengan jarak dekat, tinju serta tendangan menghujani Uhara.
Braakk...
di suatu kesempatan, tendangan Akaza mendarat di dada Uhara, tubuh Uhara terlempar dan menghempas dinding arena.
Uhara kembali berdiri, namun kali ini dia menatap tajam Akaza, “sepertinya kau memang sangat ingin menjadi anggota Kelelawar Merah.. ” ucapnya datar.
Akaza tidak menjawab, kemudian menarik pedangnya, “baiklah Uhara, ayo selesaikan ini.! ” ucapnya sambil tersenyum.
Tap..
setelah itu Akaza melompat keatas dengan tubuh yang masih diselimuti Shaka, dia memainkan pedangnya, “Jurus Tebasan Bulan Sabit. ” gumam Akaza.
detik berikutnya, melesat sebuah cahaya berwarna biru berbentuk bulan sabit kearah Uhara dengan ukuran cukup besar.
“apa.?! ” Uhara sedikit terkejut.
Booomm...
serangan Akaza mengarah ke Uhara yang berada di depan dinding arena, ledakan terjadi, asap menggumpal menutupi pandangan, namun tidak tahu apakah Uhara masih di situ.
semua penonton terkejut menyaksikan itu, semuanya terdiam untuk memastikan apakah Uhara terkena atau tidak.
Akaza mendarat, “hahaha, lihatlah Jurus baru ku ini.. ” dia tertawa.
wasit tertegun menatap Akaza, “Jurus baru katanya? itu tadi sangat hebat untuk Jurus yang baru di kuasai. ” batinnya.
Akaza tersenyum menoleh kearah Kei Takeyomi yang masih menonton, “bagaimana ayah? apa kau masih bisa meremehkan ku setelah ini.?! ” batinnya.
Kei Takeyomi memandang Akaza, “tidak akan semudah itu Akaza. ” batinnya seolah mengerti apa yang di pikirkan oleh anaknya.
Akaza kembali menoleh kearah gumpalan asap yang masih menutup pandangannya dari Uhara, “aku tak dia tidak akan bisa bertarung lagi. ” dia tersenyum.
Tap..
tiba-tiba Uhara muncul dan berdiri di depan Akaza, dia tidak terluka sedikitpun, sepertinya dia sempat menghindari serangan Akaza tadi, semua orang kembali terkejut.
“apa.?! ” Akaza terlihat sangat kesal.
wasit melirik datar Uhara, “ tidak mengejutkan, orang seperti dia tidak mungkin kalah dengan mudah. ” batinnya.
“baiklah kalau begitu, yang berikutnya tidak akan gagal.! ” Akaza kembali melompat.
Uhara memandang Akaza, “jika serangan mu masih sama dengan yang tadi, itu takkan berguna, aku lebih cepat dari yang kau pikirkan. ” ucapnya datar.
“jangan meremehkan ku.! ” Akaza sudah di udara, kemudian memainkan pedangnya, “Jurus Tarian Bulan Sabit. ” gumamnya.
detik berikutnya, sinar biru berbentuk bulan sabit melesat kearah Uhara dengan cepat, namun kali ini jumlahnya lebih banyak.
“apa?! dia sudah berhasil mengembangkan Jurus barunya.?! ” wasit terlihat kaget menatap Akaza, “seberat apa latihan anak ini.?! ”
__ADS_1
Boomm..
serangan pertama berhasil dihindari Uhara, serangan kedua serta ketiga juga tidak mengenai, Uhara terus melompat kesana-sini.
Boomm..
di suatu kesempatan, Uhara terkena serangan Akaza, asap menutupi pandangan semua orang.
Akaza masih di udara dan tersenyum, “bagus, kali ini sudah jelas kena. ” gumamnya.
Boomm.. Boomm...
Uhara yang sudah terkena serangan Akaza, terus di serbu jurus Akaza yang berbentuk bulan sabit itu, asap melebar dan menutupi pandangan.
wasit menjauh dari kepulan debu, “sekalipun Uhara kuat, jika terkena serangan beruntun seperti ini bukan tidak mungkin dia akan kalah. ” batinnya memandang gumpalan debu tersebut.
semua orang yang menyaksikan pertarungan terkejut, sekali lagi mereka memandangi debu yang menyamarkan keadaan.
“Kak Uhara.! ” Sinam berteriak, “apa yang terjadi? apa kak Uhara kalah. ” ucapnya pelan dengan tatapan tidak percaya.
Akaza tersenyum memandang gumpalan debu, “Jurus ku memang tidak terlalu mematikan, namun yang terkena tidak akan bisa bergerak untuk beberapa saat.. lalu, aku bisa membaca pikirannya.. ” batinnya, “sederhananya.. aku memasukkan Shaka ku kedalam otaknya. ”
gumpalan debu mulai hilang, semua orang terkejut dengan pemandangan berikutnya.
saat ini, Uhara berdiri di antara debu dengan tubuh diselimuti Shaka gelap, berwarna hitam pekat yang menakutkan, namun dia membelakangi Akaza.
“apa?! Shaka hitam.?! ” Akaza terkejut, namun kembali tersenyum, “percuma saja, saat ini dia tidak bisa bergerak. ” batinnya.
wasit tidak percaya melihat Uhara, “dia bertahan?! lalu.. Shaka itu.?! ”
Rokuga dan Kazuo juga terkejut menatap kejadian itu, mereka terlihat sangat serius.
“Shaka hitam? saat masih di Akademi Uhara tidak memiliki Shaka seperti itu. ” ucap Rokuga.
Kazuo tidak menjawab, “sepertinya jalan Uhara benar-benar gelap.. ” namun berbicara dalam hati.
“wah, keren sekali, Shaka milik kak Uhara lebih keren dari orang tadi. ” Sinam terlihat bersemangat.
“kau, benar, aku lebih suka yang ini. ” sahut Sansiro.
Sena juga memandang Shaka hitam Uhara, “Shaka hitam itu, aku belum pernah melihat petarung memiliki Shaka gelap seperti itu. ” batinnya.
Uhara masih diam ditempat, hanya Shaka hitam miliknya yang berkobar seperti api.
“baiklah, ini kesempatan ku.! ” Akaza berlari kearah Uhara yang masih diam di tempat.
setelah dekat dengan Uhara, Akaza melompat tinggi lalu mengayunkan pedang untuk menebas leher Uhara dari belakang, “aku tidak ingin tahu apa yang kau pikirkan, aku akan membunuh mu saja. ” batinnya.
“matilah.! ” Akaza berteriak sambil mengayunkan pedang.
tepat disaat itu, Uhara menggerakkan leher untuk menoleh kearah Akaza yang berada di belakangnya.
Uhara membuka matanya lebar-lebar, tatapannya benar-benar mencekam, “ jika kau ingin tahu perasaan ku, lihatlah ini.!” ucapnya masih dengan mata melotot.
Degg..
Akaza menatap wajah Uhara, seketika dia terjatuh ke tanah, entah apa yang terjadi.
Zrassh..
tiba-tiba Akaza terbayang sesuatu yang mengerikan, dia melihat banyak orang yang terpenggal, darah dimana-mana, banyak jeritan orang tidak bersalah yang menyayat hati.
Akaza terbungkuk menatap tanah, hosh.. hosh.. ” nafasnya tidak beraturan, “apa ini? apa yang terjadi? ini terlalu nyata jika ilusi. ” batinnya.
Akaza mencoba menoleh kearah Uhara, namun Uhara sudah tidak menatapnya lagi.
“jika kau menang, kau akan bergabung dengan Kelelawar Merah. ” Uhara berucap tanpa menoleh, “dan semua yang kau lihat tadi adalah korban pembantaian mu. ”
Akaza memandang punggung Uhara tidak percaya, “bagaimana bisa? padahal aku yang ingin membaca pikiranmu, tapi kau sudah tahu apa yang ku pikirkan. ”
“aku tahu dari Shaka mu yang berada di tubuhku. ” jawab Uhara cepat.
Akaza mencoba berdiri, melepaskan pedang, “aku menyerah. ” sambil mengangkat tangan.
“menyerah.?! ” wasit terkejut, begitu juga semua orang.
Uhara berjalan perlahan meninggalkan arena, sementara Akaza masih memandang kepergian Uhara.
“aku mengerti Uhara, aku bisa merasakan perasaan mu yang sebenarnya.. kau menjadi anggota Kelelawar Merah agar tidak ada petarung desa yang menjadi pembunuh, cukup kau saja yang bermandikan darah, tapi Uhara.. ” batin Akaza, “apa kau pernah memikirkan dirimu sendiri, dibalik wajahmu yang selalu terlihat tenang, tersimpan banyak kebohongan.. kau sendiri tidak ingin menjadi pembunuh.. aku bisa merasakan luka hati yang terus menyiksa mu.. ”
__ADS_1
Akaza melirik kearah penonton yang masih bingung dengan situasinya, “pada awalnya aku ingin menunjukan pada ayah dan klan bahwa aku tidak kalah dibandingkan Saken, tapi kini aku sadar. ” batinnya, “kau adalah pahlawan yang sebenarnya, Uhara.. kau yang telah membuka jalan baru untukku. ” dia tersenyum.