SINAM

SINAM
Pertandingan Dibubarkan


__ADS_3

“ apa.?! ” Judoro, Mikami dan Higuchi terkejut, ketiganya menatap Ikumo dan Komuki.


“ ya, kami akan kembali ke desa Sanji, jika kalian ingin melanjutkan pertandingan persahabatan ini, tidak masalah. ” ucap Ikumo datar.


“ tidak bisa, jika pimpinan Sanji kembali, maka pertandingan ini harus di bubarkan. ” ucap Mikami serius menatap Ikumo dan Komuki curiga.


Komuki tersenyum tipis, “ aku tahu apa yang kau pikirkan, kau berpikir bisa saja kami menyerang desa lain yang saat ini tanpa pimpinan. ” ucapnya.


“ hanya untuk berjaga-jaga, kita tidak tahu apa yang di pikirkan orang lain. ” jawab Mikami menatap serius Komuki.


Higuchi menatap Ikumo, “ memangnya apa yang membuat pimpinan dan mantan pimpinan Sanji begitu khawatir? apa masalahnya seserius itu.?! ” dia bertanya.


Ikumo tidak menjawab, dia melirik kearah Komuki.


“ Pengguna Elemen Api berada di desa Sanji. ” ucap Komuki serius.


“ apa.?! ” Mikami, Higuchi dan Judoro tersentak.


“ yang benar saja.?! ” Higuchi tidak percaya.


“ jangan bercanda, saat ini sudah tidak ada lagi pengguna Elemen Api.! ” Judoro berucap keras.


salah satu orang dari Sanji maju, “ memang belum jelas pengguna Elemen Api atau Pewaris Pedang Kembar Api, tapi yang jelas orang itu sudah menyebabkan kebakaran hutan. ” ucapnya.


“ Pedang Kembar Api.?! ” Higuchi terkejut.


Judoro menatap Komuki, “ aku mengerti, pengguna Elemen Api tidak bisa diremehkan, sebaiknya kita bubarkan pertandingan ini. ” ucapnya.


Komuki dan Ikumo menatap curiga Judoro, entah apa yang mereka pikirkan.


Judoro menatap Ikumo dan Komuki sambil tersenyum, “ oi, oi, kenapa kalian menatap ku seperti itu.? ” ucapnya.


“ aku harap kau tidak mengambil kesempatan untuk menyerang kami. ” jawab Ikumo serius.


“ ayolah, sekarang kita sudah berdamai, peperangan hanya akan menimbulkan kerugian. ” Judoro tersenyum.


disisi lain, Mikami terlihat serius dan berpikir, “ pengguna Elemen Api, ya.. ” batinnya, “ jika orang itu bukan Pewaris Pedang Kembar Api, dia adalah anak Hikaru sang pimpinan desa Elemen, walaupun anak itu sudah melompat ke laut, tapi di tepi tidak ditemukan mayatnya dan saat itu juga hujan deras, ya, tidak salah lagi. ” batinnya serius.


beberapa saat suasana hening, mereka semua terlihat berpikir.


“ baiklah, sebaiknya pertandingan persahabatan ini kita bubarkan, aku sebagai tuan rumah juga mengerti dan tidak keberatan. ” Higuchi membuka pembicaraan sambil tersenyum.


“ terimakasih atas pengertiannya. ” ucap Komuki tersenyum.


Higuchi menoleh kearah pengawalnya, “ sekarang katakan pada wasit untuk menghentikan, pertandingan persahabatan ini resmi di bubarkan. ” ucapnya.

__ADS_1


“ baiklah.! ” ucap pengawalnya tersebut.


Tap...


pengawal tersebut sudah berada di depan wasit yang sudah bersiap membacakan nama petarung selanjutnya, sementara Sinam dan yang lain sudah diatas.


wasit menyadari kedatangan orang itu, “ pengawal pimpinan, apa yang terjadi.?! ” batinnya.


dari atas, Deiki memandang wasit dan pengawal tersebut yang berbincang-bincang, dia terlihat serius.


pengawal tersebut menatap wasit, “ begitulah, kita harus menghentikan pertandingan ini. ” ucapnya.


“ begitu, ya. ” wasit menghela nafas, “ baiklah, aku mengerti. ”


wasit menatap kearah pasukan Pedang Kembar, pasukan Sanji, pasukan Arkan dan yang terakhir pasukan Yama, Deiki dan kesepuluh muridnya.


“ mohon maaf para pasukan Sanji, Arkan dan Yama, pertandingan ini harus di bubarkan, aku mewakili desa Pedang Kembar meminta maaf untuk sebesar-besarnya.! ” teriak wasit keras sambil membungkuk.


“ walaupun ini bukan keinginan desa Pedang Kembar, tapi tidak ada salahnya aku menunjukkan rasa rendah hati. ” batin wasit tersenyum tulus.


“ apa.?! ” semua orang terkejut mendengar itu.


★★★★★


Tap.. Tap.. Tap..


“ setidaknya ini lebih cepat daripada berjalan, desa Pedang Kembar ternyata banyak memelihara kuda. ” ucap salah satu pengawal, dia menunggangi kuda.


“ ya, kita harus berterimakasih pada mereka. ” sahut yang lainnya sambil tersenyum, dia juga menunggangi kuda.


Mikami Sato terlihat serius, “ sebaiknya aku cepat, pengguna Elemen Api itu mengganggu pikirkan ku. ” batinnya, “ dan lagi.. aku harus segera membereskan Abame, apa yang dia cari sehingga bertahan di hutan desa Yama. ” dia menunggangi kuda dengan cepat.


jauh dibelakang Mikami dan para pengawalnya, terlihat Deiki dan kesepuluh muridnya berjalan dengan santai.


Kaori berjalan malas, “ hey, guru Deiki, apa kita tidak bisa kembalinya besok saja, aku masih ingin melihat-lihat desa Pedang Kembar. ” rengeknya.


“ tidak, ada yang harus ku selesaikan di desa. ” jawab Deiki datar, seperti tidak perduli.


“ apa-apaan mereka? membatalkan pertandingan seenaknya, aku bahkan belum bertarung, sial. ” Yoja terlihat frustasi.


“ sudahlah teman-teman, mungkin mereka memiliki masalah yang lebih serius. ” ucap Sinam berlagak dewasa.


“ memangnya kau tahu apa, hah.?!! ” Jiromaru berteriak keras ditelinga Sinam yang langsung menutup telinga, “ kau bahkan bertarung dua kali, dasar serakah.! ” lanjut Jiromaru.


Sinam berpose sok manis, “ setidaknya aku menang dua kali, hehehe. ” dia menatap Jiromaru sambil tertawa kecil.

__ADS_1


“ sudah, sudah, setidaknya desa Yama yang paling banyak mendapatkan kemenangan, walaupun pertandingan belum selesai. ” Deiki berucap.


Saken terlihat kesal menyaksikan teman-temannya, “ ternyata kalian memang berisik, ya. ” ucapnya.


Setelah itu, mereka terus melanjutkan perjalanan dengan iringan tawa, tidak terasa persahabatan mereka semakin erat.


Deg..


Tiba-tiba Sinam merasakan sesuatu, “ kenapa ini? aku merasakan ada yang kurang. ” batinnya memandang kearah teman-temannya.


“ ya, Satoji tidak ada disini, itu yang membuatku merasa ada yang kurang. ” batinnya lalu tersenyum, “ aku yakin sekarang Satoji sedang bersama guru Abame, aku jadi tidak sabar bertemu mereka. ” dia bersemangat.


Desa Sanji...


terlihat sekelompok orang sedang berada di perbukitan, mereka mengenakan pakaian khas petarung desa Sanji, mereka memandang ke suatu arah yang cukup jauh.


arah yang mereka lihat saat ini adalah pemandangan mencekam, hutan kebakaran luas dengan bentuk tidak beraturan, asap mengepul dengan dahsyat, diatas langit terlihat begitu gelap karena di balut awan hitam yang sesekali memperlihatkan kilat menakutkan.


“ tidak salah lagi, itu adalah tempat penguasa Api berada, sepertinya dia sedang terlibat pertarungan. ” ucap salah seorang.


“ sepertinya begitu, tapi siapa yang menjadi lawannya, pertarungan ini sudah di luar nalar. ” sahut yang lain.


“ jangan-jangan.. yang menjadi lawannya adalah Hitomi.! ” yang lainnya menyambut.


“ untuk sekarang kita tidak bisa menebaknya, bisa jadi dia hanya ingin mengacaukan Sanji dengan membakar hutan. ” sahut yang lain.


“ itu asumsi yang bodoh, jika dia ingin mengacau seharusnya dia menyerang di pusat desa. ” yang lain membantah.


“ lalu, apa yang harus kita lakukan ketua.?! ” semua orang menatap seseorang.


“ untuk sekarang, kita hanya di tugaskan memantau mereka, jika terlalu dekat juga berbahaya, bisa jadi kita menjadi korban. ” ucap sang ketua, “ kita tunggu sampai pimpinan kembali, saat itu baru kita bertindak dengan jumlah besar. ” lanjutnya.


beralih ke pertarungan Himiko dan Hitomi menghadapi Hikasa, mereka terlihat sangat buruk dengan tubuh penuh luka.


“ hosh.. hosh.. ” Hikasa mengatur nafas, dia menatap Hitomi dan Himiko, “ mereka berdua benar-benar tumbuh menjadi petarung yang kuat, lalu kerja sama mereka.. ” batinnya tersenyum, dia terlihat kacau.


“ hosh.. hosh.. ” Hitomi dan Himiko mengatur nafas, keduanya terlihat kelelahan.


Himiko menatap Hitomi, “ bagaimana, apakah kakak masih bisa bertarung.? ” dia bertanya.


“ Shaka ku sudah terkuras, mungkin aku hanya bisa menggunakan Jurus Petir yang lemah, sisanya hanya bertarung secara fisik. ” jawab Hitomi, “ bagaimana dengan mu.? ” dia bertanya balik.


“ jujur saja, untuk beberapa saat lagi aku tidak bisa menggunakan Elemen Api, aku kehabisan Shaka. ” jawab Himiko, “ tapi, aku masih bisa bertarung menggunakan Pedang Kembar Api. ” lanjutnya.


Tap..

__ADS_1


Himiko dan Hitomi bersiap, keduanya terlihat tersenyum.


“ ayo maju..!! ” teriak keduanya sambil melesat maju.


__ADS_2