
Tap..
Uhara berjalan santai di sebuah hutan, entah kemana tujuannya, yang jelas saat ini dia sudah hampir keluar dari wilayah Yama.
dengan wajah datar dan pandangan lurus ke depan, Uhara terus berjalan melewati pepohonan yang begitu rimbun, sinar matahari sore berhasil menyelinap dan memberikan penerangan.
Sriing..
dengan tiba-tiba, Uhara menoleh ke belakang, disitu melesat sebilah pisau yang tertuju kearahnya, dia pun melompat untuk menghindar.
Cep..
pisau tersebut menancap di tanah.
Tap..
Uhara mendarat, lalu menatap ke suatu arah.
“ hanya pecundang yang menyerang tanpa menunjukkan wajahnya. ” ucap Uhara datar.
Tap..
setelah itu, muncul dua orang petarung didepan Uhara, keduanya melompat dari atas, persenjataan mereka terlihat lengkap.
“ sungguh sebuah kehormatan bisa bertarung melawan Uhara Denko. ” ucap salah seorang.
Uhara menatap keduanya dengan seksama, “ kalian.. pengawal Pimpinan.?! ” ucapnya.
“ ya, kami di perintahkan untuk membunuhmu jika kau bertindak sesukamu. ” jawab salah seorang.
“ sesuai dugaan Pimpinan, kau berniat meninggalkan Yama, bukan.? ” sahut yang lainnya.
Uhara menatap keduanya, “ benar, aku akan meninggalkan Yama, aku harap kalian tidak menghalangi ku. ” ucapnya.
“ jangan bercanda, pimpinan sendiri yang memerintahkan, itu artinya dia percaya kami bisa mengalahkan mu. ” ucap salah seorang.
“ Uhara Denko si jenius, Pembunuh dari Kelelawar Merah.. walaupun kau memiliki banyak julukan, kami akan tetap mengalahkan mu.! ” sahut yang lain.
Uhara menatap keduanya, “ percuma saja, kalian bukanlah tandingan ku. ” ucapnya datar.
Sriing..
Keduanya bersiap dengan menarik pedang, kedua tangan mereka saat ini menggunakan pedang.
“ ayo maju.!! ” teriak salah seorang, keduanya maju bersamaan.
Tap..
keduanya menyerang dengan cepat menggunakan tebasan, Uhara menghindar dengan melompat keatas.
“ cukup, aku tidak ingin melukai kalian.!! ” teriak Uhara di udara.
Wushh..
tanpa mendengarkan, kedua orang tersebut menyerang Uhara dengan tebasan, Uhara terus menghindar ke sana kemari.
“ cih. ” Uhara terlihat kesal.
Tap..
Uhara mendarat di dahan pohon, namun tiba-tiba asap muncul dari bawah kakinya.
salah seorang musuh tersenyum, “ kena kau. ” ucapnya.
Uhara menatap asap tersebut, “ peledak? sejak kapan mereka.?! ” batinnya.
Boomm..
terjadi ledakan dahsyat di tempat Uhara berada, asap mengepul bersama kobaran api, tekanan udara juga meningkat.
seorang musuh menatap kobaran api, “ berakhir. ” ucapnya sambil tersenyum.
“ dia terlalu meremehkan kita. ” sahut yang lainnya.
__ADS_1
Tap..
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di belakang keduanya.
Deg..
keduanya tersentak, merasakan kehadiran seseorang dan menoleh kebelakang secara perlahan.
Zrasshh..
belum sempat keduanya menoleh kebelakang, darah sudah beterbangan di udara, tubuh keduanya terkena tebasan dari belakang.
“ akh..! ” keduanya meringis kesakitan, walaupun tidak terlalu parah, luka keduanya cukup dalam untuk melanjutkan pertarungan.
salah seorang menatap kebelakang, “ kau? bagaimana mungkin.?! ” ucapnya.
“ jelas-jelas kau terkena ledakan tadi, kenapa kau masih hidup.? ” tanya yang lain menoleh kebelakang.
di belakang kedua orang tersebut, Uhara berdiri dengan pakaian kumuh dan penuh sobekan, dia menatap tajam dengan pedang yang berlumuran darah.
“ aku bisa menyakiti kalian lebih dari yang kalian lakukan padaku, tapi aku sadar kalian tidak sekuat diriku. ” ucap Uhara mencekam, “ sekarang kembalilah, kalian yang sekarang tidak bisa mengalahkan ku, seharusnya dari awal kalian sadar mana yang mungkin dilakukan dan mana yang hanya untuk sebatas mimpi.. ” lanjutnya.
kedua orang tersebut menatap Uhara, keduanya terlihat sangat kesakitan.
Uhara menyarungkan kembali pedangnya, “ aku berkata seperti ini karena aku menganggap kita sama saja.. manusia yang berada diantara kenyataan dan ilusi, sehingga tidak tahu mana yang bisa digapai dan mana yang untuk sebatas mimpi. ” ucapnya lalu meninggalkan kedua orang itu.
keesokan harinya....
Sinam dan Sansiro berjalan santai, keduanya saat ini menuju pusat Desa Yama.
“ padahal hari ini aku malas sekali bepergian. ” ucap Sinam terlihat malas.
“ ayolah, hanya kau temanku satu-satunya, lagipula ini juga karena di minta ayahku. ” ucap Sansiro, “ kau sendiri tahu ayahku sangat lambat berjalan, kemana-mana dia harus memakai tongkat. ” lanjutnya.
“ temanmu satu-satunya? Yoja kau anggap apa.? ” tanya Sinam.
“ aku memang menganggapnya teman, tapi tetap saja kita berdua yang berasal dari pinggiran Desa, lagipula kita bersahabat sudah sangat lama. ” ucap Sansiro, “ aku berjanji akan mentraktir mu makan nanti. ” lanjutnya.
“ padahal aku ingin melanjutkan latihan ku, tapi Jurus Satu Tarikan Nafas memang sangat sulit di kuasai. ” batin Sinam.
Tap.. Tap..
Sinam dan Sansiro terus berjalan, hingga pada akhirnya keduanya sampai di pusat Desa Yama.
Sansiro memandang kearah pedagang yang menjual alat pertanian, lalu menoleh Sinam, “ Sinam, kau tunggu di sini saja, aku akan membeli pesanan ayahku. ” ucapnya.
“ baiklah. ” jawab Sinam.
Sinam berjalan memandang kearah penjual makanan, “ entah mengapa belakangan ini aku tidak selera makan.. ” gumamnya terlihat malas, lalu berjalan kearah pedagang buku.
Sinam memandangi buku-buku yang sebenarnya untuk orang dewasa, “ buka apa ini.? ” gumamnya.
pemilik toko menyadari dan mendengar suara Sinam, “ dilarang membeli ataupun melihat jika usia mu belum delapan belas tahun. ” ucap orang tersebut.
Sinam terlihat penasaran, “ memangnya buku ini tentang apa paman.? ” ucapnya langsung membuka salah satu buku.
“ aaakkh..! ” detik selanjutnya, Sinam mimisan dan berteriak, wajahnya memerah dan dia tersenyum nakal.
Plak..
pedagang buku tersebut menepuk Sinam dengan buku, “ sudah aku katakan jangan melihatnya, atau kau akan dipaksa dewasa saat belum waktunya.!! ” teriaknya.
beberapa saat kemudian, Sinam berjalan sambil memandangi para pedagang, “ sungguh Desa yang damai. ” ucapnya sambil tersenyum.
Tap.. Tap..
Tiba-tiba Sansiro berlari dari belakang Sinam, “ Sinam..!! ” teriaknya.
Sinam terkejut dan menoleh Sansiro, “ Sansiro? kenapa kau berteriak.?! ” dia bertanya.
Sansiro mengatur nafas sejenak, “ kau harus melihat ini, ini sangat penting. ” ucapnya.
Tap.. Tap..
__ADS_1
Sansiro menarik tangan Sinam, keduanya berlari ke suatu arah.
“ hey, memangnya kita mau kemana.?! ” Sinam berteriak.
“ lihat saja nanti.! ” jawab Sansiro.
sesaat berlari, Sansiro menghentikan langkah dan Sinam mengikut saja, didepan keduanya terdapat segerombolan orang sedang berkumpul dan terlihat heboh.
“ kau lihat, aku yakin kau penasaran mereka melihat apa. ” Sansiro menunjuk segerombolan orang tersebut.
Sinam memandangi gerombolan orang tersebut, tanpa bicara dia langsung memasuki kerumunan orang tersebut.
Deg...
setelah melihat itu, seketika Sinam tersentak, tatapan hangatnya perlahan berubah menjadi tatapan kosong, dia terdiam dan mematung, hanya rambutnya yang menari di hembus angin sepoi-sepoi.
“ bukankah dia si jenius Uhara.?! ”
“ ya, dia adalah anggota Kelelawar Merah, dia petarung yang sangat kuat. ”
“ apa yang membuatnya meninggalkan Yama.? ”
“ lihatlah, harganya sangat mahal, aku tidak terkejut karena dia petarung papan atas.! ”
di sekeliling Sinam, semua orang berbincang dan sangat heboh.
didepan Sinam, terdapat selebaran yang menggambarkan wajah Uhara, kini Uhara sudah menjadi buronan dan sudah meninggalkan Desa Yama.
Sinam masih memandangi wajah Uhara di kertas tersebut, dia masih terdiam, kepalanya menunduk sehingga tidak terlihat sorot matanya.
Sansiro memegang bahu Sinam, “ oi, Sinam, apa kau baik-baik saja.? ” dia terlihat cemas.
“ ya, aku baik-baik saja. ” jawab Sinam dengan suara dingin.
Ctas..
dia menyingkirkan tangan Sansiro dari bahunya.
Tap.. Tap..
setelah itu, Sinam berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
Sansiro terkejut, “ oi, Sinam, tunggu.!! ” teriaknya.
Greb..
tiba-tiba ada yang menangkap tangan Sansiro.
“ menyingkir, dasar sialan.! ” Sansiro mencoba melepaskan, lalu menoleh orang tersebut, “ eh? Saken.?! ” dia melihat Saken.
“ biarkan dia sendiri. ” ucap Saken.
Sinam berhenti di bawah pohon yang berada diantara perumahan yang saat ini sepi.
Tes.. Tes..
awalnya Sinam terlihat biasa saja, namun akhirnya air matanya pun menetes sejadi-jadinya, isak tangis tak dapat dia bendung.
Greb..
Sinam menggenggam erat dadanya, “ sakit sekali.. ” ucapnya.
“ kenapa? kenapa kau meninggalkan ku, kak Uhara.? ” Sinam terus menangis, momen terakhir dia bersama Uhara kembali terbayang.
setelah beberapa saat menangis, air mata Sinam mulai terhenti, tatapan matanya begitu kosong.
Buaak..
Sinam meninju pohon dengan keras, “ pertama Satoji dan guru Abame, dan sekarang kak Uhara.. Sial.!! ” dia terlihat kecewa.
“ aku selalu bicara seolah bisa melakukan segalanya.. apanya yang ingin menjadi Petarung terkuat.?! ” ucap Sinam, dia seperti membenci dirinya sendiri, “ aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk teman-teman ku, aku hanyalah orang gagal, itu sebabnya aku terus kehilangan satu persatu teman-teman ku, dasar payah.!! ” teriaknya.
“ bodoh.. lemah.. banyak mimpi.. itulah aku, aku hanyalah manusia yang menginginkan kemustahilan menjadi kenyataan, tidak seharusnya aku berada di sini..!! ” teriaknya.
__ADS_1