SINAM

SINAM
Pertarungan Kematian


__ADS_3

“baiklah, ayo kita turun ke bawah.! ” ucap Abame lalu melompat dari rumah pohon ke bumi penuh semangat.


“yosh.! ” Sinam penuh semangat, lalu ikut melompat.


Abame dan Sinam sudah dibawah dan menginjak bumi, keduanya saling berhadapan.


Abame melipat kedua tangannya, “sekarang, coba perlihatkan Shaka mu.! ” ucapnya sambil tersenyum.


“baiklah.! ” Sinam langsung menapakkan kedua telapak tangannya, “HIAA.!! ” dia berteriak.


Blaarr..


sesaat kemudian, terlihat Shaka biru muncul dan membalut tubuh Sinam.


Abame terkejut, “anak ini.. Shaka nya terlalu besar untuk anak seusianya.. darah dari Klan Nogo memang berbeda, tidak, lebih tepatnya anak Hikari memang hebat.! ” batinnya lalu tersenyum.


“bagaimana.?! ” tanya Sinam semangat.


“sudah cukup.! ” ucap Abame.


perlahan Shaka Sinam mulai menghilang, “kalau begitu, sekarang ajari aku cara menggunakan Jurus Dua Sentuhan. ” ucapnya semangat.


“tidak, kau yang sekarang masih belum bisa, kau harus melatih cara mengendalikan Shaka lebih baik, itu yang terpenting dalam menggunakan Jurus Dua Sentuhan. ” ucap Abame.


“apa? kenapa belum bisa.?! ” Sinam terlihat kesal, “huh! lagi-lagi melakukan hal yang membosankan. ” lanjutnya.


Abame menoleh Sinam, “aku harus mencari persediaan makanan, kau tunggu disini saja. ” ucapnya.


“hey, guru Abame, apa maksud mu? kau mau meninggalkan ku sendiri disini? aku ikut.! ” Sinam terlihat kesal.


“baiklah, baiklah.! ” Abame terlihat pasrah.


Abame dan Sinam berjalan dibawah pepohonan, mereka tidak melewati atas dan terlihat begitu santai.


“hey, guru Abame, kenapa kau tinggal di hutan ini? kenapa kau tidak tinggal di desa saja.? ” ucap Sinam dengan tampang songong.


Abame diam saja, namun wajahnya terlihat serius, entah apa yang dipikirkannya.


Sinam menoleh Abame, “hey, guru Abame, kenapa kau diam saja?! ” dia sedikit teriak, “orang ini sangat aneh, padahal tampangnya terlihat bodoh, tapi kemampuannya sangat hebat. ” batinnya.


Abame menoleh Sinam, “bukan apa-apa, aku hanya lebih suka tinggal di hutan. ” ucapnya.


“guru memang aneh. ” ucap Sinam.


Wushh..


Tiba-tiba terlihat sebuah anak panah melesat dengan cepatnya menuju arah Sinam dan Abame.


Greb..


dengan cepat, Abame menangkap anak panah itu.


“eh.?! ” Sinam terkejut melihat itu. “apa aku melewatkan sesuatu.?! ” tanyanya.


Abame menatap tajam ke suatu arah, tepatnya kearah dahan pohon yang berada di atas, “tunjukkan dirimu.! ” ucapnya lantang.


Tap..


muncul seorang pria dengan pakaian petarung Desa Yama, dia berdiri diatas dahan pohon dengan bersenjatakan busur panah.


pria itu menatap tajam Abame, “Abame, aku diperintahkan untuk membunuhmu.! ” dia menarik tali busurnya, lalu anak panah melesat cepat.


“Sinam, menunduk.! ” teriak Abame.


dengan sigap, Sinam menunduk dan menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan.

__ADS_1


Cep..


Abame menghindari anak panah, anak panah tersebut menancap di batang pohon yang berada di belakang Abame.


Abame menarik pedang yang ada di punggung, “Sinam, lihat ini baik-baik, cara bertarung yang sesungguhnya.! ” ucapnya sambil menatap tajam lawan.


Sinam masih menunduk, dia menoleh kearah Abame dengan wajah ketakutan, “ada apa ini? kenapa orang itu menyerang guru.? ” batinnya.


pria itu kembali menarik anak panah, “matilah.! ” ucapnya dengan tatapan tajam, kemudian melepaskan anak panah.


wushh..


anak panah kembali melesat, Abame mengayunkan pedangnya, dengan seketika anak panah tersebut terbelah menjadi dua.


Sinam terkejut, “hebat.! ” batinnya.


Abame menatap musuh, lalu melompat keatas pohon untuk menyerang dengan pedang.


“sekarang giliran ku.! ” Abame sudah di atas, mengarahkan tebasan kearah lawan.


pria itu terkejut, “cepat sekali.?! ” batinnya.


Sring...


tebasan Abame memotong dahan tempat lawannya berpijak, sementara lawannya melompat keatas sambil menarik busur panahnya.


Abame melompat keatas memburu lawan, dia mencincang anak panah musuh yang menuju kearahnya, kemudian mengarahkan tusukan kearah lawan.


“apa.?! ” pria itu terlihat ketakutan.


Crakhh..


ujung pedang Abame menancap di perut musuh secara telak, darah langsung muncrat begitu juga dari mulutnya, kemudian melayang ditarik gravitasi lalu terkapar di bumi.


Sinam memandang kejadian itu dengan wajah ketakutan, “apakah ini.. dunia petarung yang sesungguhnya..? tanpa rasa bersalah membunuh sesama manusia.. ” batinnya, dia menatap darah yang bertaburan dengan mata melotot.


Abame memegang gagang pedangnya, lalu mencabutnya dari tubuh pria itu, darah kembali mengalir, “katakan, ada berapa orang yang datang untuk membunuh ku.? ” ucapnya.


“hehehe.” orang itu tertawa kecil dengan mulut penuh darah, “mereka akan membunuhmu, Abame.! ” ucap orang itu.


“cih.. ” Abame terlihat kesal, lalu menoleh Sinam, “Sinam, kita harus segera pergi dari sini. ” ucapnya.


Sinam kembali berdiri, “baiklah.” ucapnya.


Abame dan Sinam kembali berjalan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena sebilah pisau menancap di tanah secara tiba-tiba.


“cih, mereka sudah datang. ” batin Abame kesal.


“ada lagi.?! ” batin Sinam menoleh sekeliling.


“Abame, kau berkata sudah meninggalkan Desa, seharusnya kau bukan lagi penduduk Desa Yama, seharusnya kau tahu hutan ini masih wilayah Desa Yama. ” ucap seorang pria berpijak di atas dahan pohon, matanya menatap tajam Abame.


“lalu, saat masih di Desa kau selalu berkata membenci senjata seolah-olah kau petarung Arkan, tapi sekarang justru kau sangat hebat menggunakan pedang. ” ucap seorang wanita, dia juga berpijak diatas dahan pohon.


“apapun yang kau katakan, kau tidak akan lolos dari kematian, aku yakin kau adalah mata-mata dari Desa lain yang di beri perintah untuk memata-matai Desa Yama. ” sahut yang lainnya, dia juga diatas, namun disisi lainnya.


“walaupun kau di desa senior kami, tapi sekarang, kami akan membunuhmu.! ” ucap yang lainnya, dia berada di atas pohon.


“lalu, siapa anak itu? apa dia berasal dari Desa Yama.? ” sahut yang lainnya lagi, dia berada di sisi lainnya.


Abame menoleh ke segala arah, dia menatap tajam kelima orang yang mengelilinginya walau dari atas, “bukan hal sulit untuk meloloskan diri dari mereka, tapi.. jika bertarung sambil melindungi Sinam itu mustahil. ” batinnya terlihat kesal.


Sinam menoleh ke segala arah, “dilihat dari pakaiannya, mereka adalah petarung Desa Yama, tapi kenapa mereka menyerang guru Abame.? ” batinnya.


Sinam menoleh Abame, “guru, kenapa mereka ingin membunuhmu.? ” tanya Sinam.

__ADS_1


Abame menoleh Sinam, namun tidak menjawab, “Sinam, pergi dari tempat ini, aku tidak bisa bertarung sambil melindungi mu. ” ucapnya.


“jadi, aku hanya akan menjadi beban, baiklah, aku akan pergi.! ” ucap Sinam lalu pergi entah kemana.


Abame kembali menarik pedangnya, lalu bersiap dengan mata melirik segala arah.


“ayo maju.! ” kelima orang tersebut maju secara bersamaan, tiga pria dan dua wanita, empat diantaranya menggunakan senjata.


Trang.. Cting..


pertarungan di mulai, suara dentingan pedang langsung memecah keheningan hutan, Abame menghadapi kelima lawannya dengan tangguh.


“hati-hati, dia cepat sekali.! ” salah satu dari kelima orang tersebut mengingatkan.


Zrash..


terdengar suara pedang yang menebas tubuh manusia, darah muncrat kemana-mana, kemudian suara jeritan ikut menyusul.


Sinam terus berlari, dia mendengar suara teriakan dari belakang, “suara jeritan itu.. benar-benar menyakitkan telinga.. ” batinnya, dia menghentikan langkah sejenak sambil menoleh kebelakang, “ada apa ini? padahal aku selalu berkata bahwa akan menjadi petarung terkuat, tapi.. melihat pertarungan mematikan saja aku tidak sanggup. ” dia menutup telinganya.


Abame menatap musuhnya yang tinggal dua orang, sementara tiga lainnya sudah tewas dengan tubuh terkapar di bumi, “tinggal dua orang lagi. ” ucap Abame.


salah satu lawan Abame memegang dua pedang, “dia cepat sekali, kita harus waspada jika tak ingin bernasib seperti mereka.” ucapnya pada temannya.


“dia sudah membunuh tiga rekan kita, tidak pantas dimaafkan.! ” teriak orang kedua, dia terlihat marah, lalu maju menyerang.


Buakk..


orang kedua mengarahkan tendangan ke arah Abame, namun Abame menahannya dengan tangannya.


“bagus, terlalu mudah jika dia tidak menggunakan senjata. ” batin Abame tersenyum.


Blaak..


Abame mengarahkan tinju yang langsung ditahan oleh lawannya dengan telapak tangan.


“jangan meremehkan ku jika bertarung tangan kosong.! ” ucap orang itu dengan sombong.


“benarkah.?! ” ucap Abame tersenyum.


disisi lain, orang yang memegang dua pedang menatap tajam Abame, “ada apa? padahal pedang ada di tangannya, kenapa dia menyerang dengan tinju.?! ” batinnya kebingungan.


orang yang berhadapan dengan Abame tiba-tiba terkejut, “tubuh ku..?! ucapnya mencoba menggerakkan tubuh tapi tidak bisa, “kenapa tidak bisa bergerak.?! ”


Abame mengayunkan pedangnya, “karena kau sudah terkena Jurus ku.! ” ucapnya lalu menebas leher orang itu, kepalanya terjatuh dan menggelinding ke kaki pria yang memegang dua pedang.


pria dengan dua pedang memandang kepala rekannya yang berada di bawah kakinya, lalu menatap tajam Abame, “orang ini.. benar-benar berbahaya.. mereka tidak mengatakan kalau dia sehebat ini. ” batinnya, dia terlihat serius, “jika aku bertarung, mungkin aku akan kalah, dia mempunyai Jurus yang sangat mematikan, membuat lawan tidak bisa bergerak tanpa disadari lawan.. aku tidak mungkin menang. ” dia berpikir keras.


“aku harus lari.! ” orang itu membalikkan badan, lalu berlari, “aku harus meminta bantuan.! ”


“jangan harap bisa kabur. ” tiba-tiba Abame muncul di hadapan pria itu.


pria itu terkejut, “bagaimana mungkin.?! seharusnya dia dibelakang ku.!” batinnya lalu menoleh kebelakang, dia melihat Abame masih dibelakang, “apa.?! ada dua.?! ” dia terkejut.


pria itu menatap Abame yang ada di depannya, “sial.! ” teriaknya lalu mengayunkan tebasan.


Crakhh..


Abame tidak menghindar, tubuhnya terkena tebasan lawan, namun dia masih tetap berdiri.


pria itu ketakutan setengah mati, “kau.. kenapa kau tidak mati?! kau bukan manusia.! ” teriaknya, lalu terduduk di tanah, dia menatap Abame dengan mata dan hidung berair, “tolong.. biarkan aku hidup. ”


“maaf, aku harus membunuhmu.! ” Abame berjalan kearah pria itu, lalu mengangkat pedangnya tinggi keatas, lalu mengayunkannya kembali kebawah.


“AAAAAAKHH..! ” terdengar suara jeritan yang begitu menggema, lalu terlihat burung-burung beterbangan.

__ADS_1


Abame menyarungkan pedangnya, “mereka sudah tahu aku di hutan ini, mulai sekarang aku harus hati-hati. ” gumamnya terlihat serius.


Abame memandang kearah semua mayat, lalu terlihat terkejut, “seharusnya ada enam orang, kenapa hanya ada lima.? ” gumamnya, lalu menoleh kearah mayat orang pertama yang berhadapan dengannya namun tidak ada, “cih, ternyata orang itu masih hidup.. cepat atau lambat Desa akan mengirimkan orang untuk membunuh ku.. dan pastinya petarung yang kuat. ” dia terlihat kesal.


__ADS_2