
“hosh.. hosh..! ” Hikaru kelelahan, nafasnya mulai tidak beraturan, di sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka akibat goresan pedang.
di sekeliling Hikaru, banyak perumahan yang terbakar, namun api tersebut berwarna biru dan memiliki hawa panas lebih menyengat dari biasanya.
masih ditempat yang sama, Himiko, anak dari Hikaru masih bersembunyi, dia mengintip pertarungan itu tanpa diketahui ayah ataupun lawannya.
Judoro menatap tajam Hikaru, “jadi ini api biru, benar-benar diluar dugaan, baru ini ada yang bisa melukai tubuh ku. ” dia memandang perut bidangnya yang terkena luka bakar walaupun hanya sedikit.
Ikumo melangkah maju, masih jauh dari Hikaru dia melompat tinggi. “seribu pedang pembunuh! ” teriak Ikumo sambil memainkan pedangnya, sesaat kemudian sinar hijau berbentuk pedang menghujani Hikaru dengan jumlah yang tidak terhitung.
“apa?! ” Hikaru terkejut, lalu bergegas menghindar dengan melompat kesana-sini.
Mikami melirik Ikumo, “aku yakin teknik itu pasti memakan Shaka cukup banyak. ” batinnya.
Zrakhh..
salah satu sinar pedang itu menancap di kaki Hikaru yang langsung berdarah.
Hikaru memandang puluhan sinar pedang yang masih tersisa untuk menyerangnya, kemudian menapakkan kedua telapak tangannya, “Perisai Api Biru. ” sambil berteriak.
Blarr..
api berwarna biru menyala dengan tinggi yang lumayan, namun itu tidak mengelilingi dan hanya membatasi Hikaru dengan para lawan.
Buumm..
serangan dari Ikumo beradu dengan pertahanan milik Hikaru, asap mengepul dan menutupi sekeliling.
“apakah berhasil? ” tanya Judoro.
“api biru lebih kuat dibandingkan dengan api merah, tapi teknik pertahanan milik sang pengendali api saat ini masih menyimpan celah” jawab Mikami lalu bersiap, “Judoro, siapkan serangan terkuatmu! ” lanjutnya.
Ikumo menatap asap yang berada di depannya, sesaat kemudian dia melihat perisai api biru milik Hikaru masih berdiri kokoh, “cih, dia bahkan bisa menahan jurus seribu pedang. ” dia terlihat kesal.
“uhuk, uhuk. ” Hikaru terbatuk batuk, “gawat, Shaka ku sudah mulai habis. Hikari, cepatlah kembali. ” batinnya.
Tap.. Tap..
Mikami berlari kearah Hikaru yang masih dilengkapi dengan perisai api, sementara Judoro menyusul dari belakang.
Hikaru menatap kearah Mikami, “apa yang dia lakukan? apa dia berniat menembus perisai api biru ini? ” batinnya.
“perisai api merah yang sebelumnya bisa ditembus, namun yang mampu menerobos pasti mati karena bentuknya yang melingkar, sedangkan perisai api biru ini kuat jika di serang dari depan. ” batin Mikami sambil berlari. “Hikaru, jauh sebelum pertempuran ini terjadi, aku sudah banyak mempelajari tentang elemen api dan petir. ”
“jurus Pencuri Bayangan! ” tiba-tiba Mikami berteriak, lalu tubuhnya berubah warna menjadi hitam pekat.
“apa itu? ” Hikaru terkejut.
detik berikutnya, Mikami sudah melewati perisai api biru tersebut, tubuhnya juga kembali normal.
“apa? sejak kapan dia..?! ” sekali lagi Hikaru terkejut.
Tap..
“matilah! ” Mikami berteriak sambil melesatkan tebasan kearah Hikaru.
“gawat! ” Hikaru terpojok dan bersiap melompat.
Braakk..
tanah tempat Hikaru berpijak terbelah menjadi dua, walaupun sempat melompat mundur, namun tebasan Mikami yang dialiri Shaka cukup memberikan benturan, perisai api biru milik Hikaru pun hancur.
“ugh! ” Hikaru meringis kesakitan dalam posisi tubuh yang masih melayang di udara.
Mikami menatap Hikaru yang berada di udara, kemudian melirik Judoro yang berada di belakangnya, “Judoro, sekarang saatnya! ” teriaknya.
“baiklah.” Judoro mengadu kedua tinjunya, seketika Shaka miliknya menggelora.
Tap.. Tap..
“bersiaplah menerima kematian mu! ” Judoro berlari memburu Hikaru, dari tinju kanannya terpancar Shaka yang sangat kuat.
Ikumo masih dibelakang, dia memandang Mikami dengan serius, “jurus pencuri bayangan, jurus yang membuat tubuh menjadi bayangan dan bisa menembus apa saja walau dalam jangka waktu singkat, ditambah dengan teknik berpedang dan pengendalian Shaka, pimpinan Yama memang berbahaya. ” batinnya.
“Tinju Besi.! ” Judoro melompat sambil mengarahkan tinju ke tubuh Hikaru yang masih melayang di udara.
__ADS_1
“sial.! ” Hikaru menyilangkan kedua tangannya untuk menahan.
Buaakk..
pukulan Judoro mendarat tepat di perut Hikaru, tubuh Hikaru meringkuk seperti akan patah.
“Akh.. ” kemudian darah segar muncrat dari mulutnya, lalu tubuhnya terpental sejauh-jauhnya.
Braakk..
tubuh Hikaru menghantam perumahan yang langsung hancur, Hikaru pun tertimpa puing-puing.
“ayah..! ” Himiko yang bersembunyi akhirnya keluar.
★★★★★
Ctang.. Cting.. Trang...
disisi lain, pasukan Elemen dibantai habis-habisan oleh tiga pasukan musuh, korban terus berjatuhan, tidak ada pedang yang tidak mandi darah.
saat ini, pasukan Elemen sudah terkepung, tiga pasukan musuh sudah mengepung dengan gaya melingkar.
“bagaimana ini? sekalipun kita bertarung, tidak akan ada yang berubah. ”
“benar, lebih baik kita menyerah saja. ”
“jika menyerah bisa menyelamatkan nyawa kita, untuk apa kita bertarung.? ”
pasukan Elemen yang jumlahnya hanya seperlima dari pasukan musuh mulai putus asa, mereka sudah tidak memiliki tekad bertarung.
“benar, menyerah saja! lebih baik menyerah dan bergabung dengan kami. ” sahut pasukan musuh.
disaat pasukan Elemen hampir menurunkan senjata, tiba-tiba cuaca yang panas berubah menjadi begitu dingin, kemudian muncul butiran es seperti salju yang menimpa semua orang. untuk sesaat pertarungan terhenti.
“apa yang terjadi? matahari bersinar terang, darimana salju ini berasal.? ” pasukan musuh bertanya-tanya.
“jangan pernah menjilat ludah, daripada terlihat hina lebih baik mengorbankan nyawa. ” terdengar suara seseorang yang sepertinya penuh amarah.
semua orang mengikuti arah suara tersebut yang berasal dari atas, seketika pasukan Elemen kembali bersemangat karena melihat sesosok yang mereka kenal.
Hikari berdiri di udara dengan berpijak kan bongkahan es, tatapannya begitu tajam, Shaka biru yang dipancarkannya begitu mencekam.
Tap..
Hikari mendarat di depan pasukan Elemen, kemudian melirik kebelakang, “apa yang terjadi? dimana kakakku si pengendali petir.? ”
“panglima, dia berkhianat dan memberi informasi pada musuh, tapi tidak memberi informasi tentang penyerangan ini pada desa. ”
“dasar pengendali petir sialan! berani-beraninya berkhianat, sepertinya dia tidak puas karena pengendali api yang menggantikan pendiri desa. ”
“apa maksud mu? jika tuan Hikasa memang berkhianat, aku yakin dia punya alasannya.! ”
“benar, tuan Hikasa adalah orang yang bijaksana, tidak mungkin berkhianat, pasti ada seseorang yang sengaja menjatuhkannya. ”
pasukan Elemen menjawab pertanyaan Hikari secara bergantian, namun berujung ke perkelahian.
“bukan saatnya untuk berkelahi. ” Hikari melerai, “lalu, dimana pimpinan? aku tidak melihat api miliknya. ” kemudian bertanya lagi.
“pimpinan sedang menghadapi tiga pimpinan musuh dipinggir desa. ” jawab salah seorang.
Hikari memandang semua pasukan musuh, kemudian melirik pasukannya, “semuanya, istirahatlah sebentar! aku yang mengulur waktu untuk mereka. ”
Tap..
Hikari melompat jauh kearah pasukan musuh.
“memangnya kenapa kalau dia pengendali air, aku dengar dia tidak sehebat kedua kakaknya! ”
“itu benar, ayo habisi dia.! ”
semua pasukan musuh memburu Hikari tanpa menghiraukan pasukan Elemen.
Brakk..
dengan sekali terjangan, Hikari mampu menumbangkan belasan pasukan musuh.
__ADS_1
Zrashh..
Hikari menarik pedangnya, kemudian menebas dengan kecepatan tinggi, dalam sekejap puluhan lawan sudah tertidur dan tidak akan bangun lagi karena tubuhnya terpotong.
pasukan musuh mulai menjaga jarak dari Hikari, sepertinya mereka takut jika bertarung dengan jarak terlalu dekat.
Hikari menatap tajam semua lawan yang jumlahnya ada ribuan, sekujur tubuhnya sudah bermandikan darah, “Arkan, Sanji, Yama.. tiga desa besar beraliansi untuk menghancurkan desa kami yang kecil ini.. sepertinya kekuatan kami memang sangat ditakuti.. ” ucapnya.
“banyak bicara.! ” semua pasukan Sanji yang memiliki perlengkapan senjata, melepaskan ribuan anak panah kearah Hikari.
Hikari menatap ratusan anak panah yang melesat kearahnya, kemudian memejamkan matanya, “baiklah kalau begitu, aku tidak akan menahan diri. ”
Plakk..
Hikari mengadu telapak tangannya bersamaan dengan membuka mata lebar-lebar. Shaka dari tubuhnya terpancar jelas.
“hebat, aku tidak menyangka Shaka milik Hikari akan seperti ini. ” semua pasukan Elemen terkejut.
Zuorrr...
tanah di sekeliling Hikari hancur, air muncrat sebanyak-banyaknya dan terbang ke udara.
“Jurus Gelombang Es. ” teriak Hikari.
saat itu juga, air yang muncrat dari tanah bersatu dan membentuk gelombang tsunami, disaat ribuan anak panah mulai mendekat, gelombang tsunami membeku menjadi es.
ribuan anak panah tidak mampu menembus jurus Hikari melainkan hanya patah patah.
pasukan musuh memandang gelombang es yang saat ini terlihat menakutkan dengan ketinggian luar biasa.
“apa-apaan ini.? ”
“dia terlalu kuat. ”
ucap pasukan musuh.
Hikari mengangkat tangannya, kemudian menjatuhkannya ke bawah, “mencair lah..! ” teriaknya.
Blarr..
seketika itu gelombang es tersebut mencair, air pecah bagaikan tsunami yang siap menenggelamkan.
“cepat menjauh.! ” salah seorang musuh memberi komando.
Bumm..
belum sempat bergerak, pasukan musuh sudah di terkam air kematian. kemudian suara teriakan datang menyusul.
tidak lama setelahnya, air tersebut mulai menghilang, seperempat dari pasukan lawan gugur dan tergeletak, sementara sisanya masih selamat.
“cih, sialan.! ”
pasukan musuh kembali bersiap maju.
Hikari menatap semua musuh, “aku harus menghemat Shaka ku, aku yakin kakak saat ini sedang terdesak. ” batinnya.
tepat disaat itu, tiba-tiba Hikari tersentak, “apa? ini Shaka milik kakak, gawat.! ” batinnya.
Hikari melirik semua pasukan Elemen, “semuanya, aku serahkan sisanya pada kalian! apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah.! ” ucapnya lalu pergi.
“hehe, panglima air benar, walaupun kita hancur, sejarah tidak akan melupakannya, desa kecil yang terkenal dengan kekuatannya sehingga musuh harus beraliansi. ”
“berhenti mengeluh, ayo maju.! ”
semangat pasukan Elemen kembali terbakar dan menyerbu maju.
Trang... Cting..
peperangan kembali berlanjut, walaupun pasukan Elemen dipenuhi dengan semangat, tapi itu saja tidak cukup, perbedaan jumlah menjadi penentu, satu-persatu pasukan Elemen berjatuhan.
Tap.. Tap...
Hikari berlari sambil melompati atap-atap rumah, sepertinya dia menuju tempat Hikaru berada.
“ini? tidak salah lagi, kakak mulai menggunakan api hijau. sekuat apa ketiga orang itu sampai membuat kakak ketitik ini.? ” batinnya mempercepat langkahnya, “gawat, Shaka kakak semakin melemah saja.. ”
__ADS_1