
Sembilan tahun kemudian...
Desa Yama...
siang ini langit terlihat cerah, langit biru yang dihiasi dengan awan putih, serta matahari yang bersinar terang.
di sebuah perkebunan yang dipenuhi dengan padi, tepatnya dibawah sebuah pohon yang lumayan besar serta rindang, terlihat dua orang anak sedang berteduh sambil berbincang.
“hey, Sansiro! kita disini menjaga burung agar tidak memakan padi, tapi kau malah yang menjadi burungnya. ” ucap seorang anak laki-laki, wajahnya tampan dan berambut hitam, dia adalah Sinam.
“tenanglah Sinam, aku hanya mengambil beberapa saja, tidak akan merugikan. ” jawab anak laki-laki yang disebelahnya, kulitnya tidak seputih Sinam dan berwajah biasa saja, di bibirnya terselip padi muda, dia adalah Sansiro, sahabat akrab Sinam.
Sinam menatap Sansiro, “aku hanya tidak ingin kau menambah susah orang tuamu. ”
“jangan mengasihani ku, kau juga tidak lebih bahagia dariku. ” Sansiro tersenyum.
Sinam terdiam cukup lama sambil memandang langit, “tidak masalah jika kehidupan ini sulit.. tapi aku penasaran dengan kedua orang tuaku, seperti apa mereka? apakah mereka seorang petarung atau tidak, aku tidak tahu. ” ucapnya pelan.
Sansiro menatap Sinam, “entahlah, kalau dipikir-pikir aku juga bingung, sudah berkali-kali kau menanyakan itu pada kakek dan nenek mu, tapi mereka tetap diam.. ” ucapnya, “tapi jika mereka seorang petarung, pasti mereka petarung yang hebat. ” lalu tersenyum.
“kau benar, seperti ayahmu.. ” ucap Sinam sambil tersenyum.
“berbicara tentang seorang petarung.. minggu depan akademi Desa Yama menerima murid baru.. ” ucap Sansiro. “walaupun ayah ku melarang, aku akan tetap masuk akademi dan menjadi petarung yang hebat, dan akan ku buktikan pada ayah aku tidak akan berakhir seperti dia. ” ucap Sansiro.
Sinam terdiam menatap Sansiro, kemudian terlihat berpikir.
“lalu, bagaimana dengan mu.? ” tanya Sansiro.
“entahlah, aku juga tidak yakin, aku tidak bisa apa-apa, fisik ku lemah tidak seperti mu, Sansiro. ” jawab Sinam.
Sansiro tersenyum, “jangan bodoh, siapun bisa menjadi petarung, tapi semuanya harus dari bawah, semuanya butuh proses. ”
“Yosh.! ” tiba-tiba Sinam mengangkat tangan keatas, “jangan bercanda! aku akan menjadi petarung yang hebat, lalu mengalahkan semua kejahatan.! ” lalu berteriak.
Sansiro terkejut, “ada apa denganku? seharusnya aku tahu kalau tadi cuma bercanda, orang yang penuh semangat seperti dia tidak mungkin merasa tidak yakin. ” batinnya.
beberapa saat kemudian, Sinam sudah berada di rumahnya yang berukuran sedang, di samping rumahnya juga banyak rumah.
“kakek, nenek, minggu depan aku akan masuk akademi petarung, apakah kalian mengizinkan.? ” tanya Sinam pada pasutri yang cukup tua serta berambut putih.
Kakek dan nenek tersebut saling pandang, kemudian tersenyum.
“sebenarnya kakek juga ingin kau menjadi petarung, sama seperti Uhara. ” jawab kakek tersebut.
Sinam terkejut, lalu memeluk kakek dan nenek tersebut, “Terima kasih kakek.. nenek.. aku berjanji tidak akan menanyakan soal orang tuaku lagi.. ” ucapnya lembut.
kakek dan nenek terdiam dan terlihat sedih memeluk Sinam, “maafkan kakek dan nenek, Sinam.. jika kau menjadi petarung yang hebat, mungkin kau akan mengetahui semua tentang orang tuamu. ” ucap nenek.
keesokan harinya...
Sinam berjalan menuju rumah Sansiro yang cukup jauh dari rumahnya, begitu sampai Sinam mendapat pemandangan yang kurang mengenakan, dia pun bersembunyi dengan memanjat pohon.
“kenapa ayah? kenapa kau melarang ku? sudah ku katakan aku tidak akan berakhir seperti mu.?! ” teriak Sansiro pada ayahnya yang kakinya putus sebelah.
__ADS_1
“dengarkan Sansiro, kau sudah tahu kaki ayah seperti ini karena sebuah misi, tapi apakah kau tahu misi apa itu.? ” tanya ayah Sansiro datar.
“cukup ayah, apapun yang ayah katakan, aku akan tetap menjadi seorang petarung yang akan melindungi desa. ” Sansiro tidak perduli, lalu membelakangi ayahnya.
“disaat kau menjadi petarung, itu artinya kau harus mengorbankan segalanya untuk misi.. sekalipun keluarga mu dalam bahaya. ” ucap ayah Sansiro.
Sansiro terdiam, lalu kembali membalikkan badannya, “lalu.. apa hubungannya itu dengan kaki ayah.? ”
“waktu itu ayah dalam misi penting, namun tiba-tiba ayah mendengar kabar bahwa ibu mu dalam bahaya saat menjalankan misi... ” ayah Sansiro menatap bawah, “saat dalam pertarungan bersama teman-teman, ayah meninggalkan semua dan bergegas menolong ibumu, namun semuanya hancur.. ternyata semuanya jebakan.. ibumu terbunuh, semua teman ayah tewas.. semuanya karena salah ayah.. ” dia terlihat bersedih.
“itu artinya.. kita harus tetap mengutamakan misi yang ditugaskan pada kita, tanpa menghiraukan apapun.. ” Sansiro membuka matanya, “dengan kata lain.. mengorbankan segalanya demi misi.. ”
Sinam tersentak mendengar semua itu, “mengorbankan segalanya demi misi.? ” batinnya, “bagaimana jika suatu saat aku di hadapkan dengan dua pilihan sulit, apakah aku bisa memilih..? ”
“sekarang.. apa kau masih berpikir untuk menjadi petarung..? ” ayah Sansiro menatap Sansiro.
“ya.. ” jawabnya cepat dan serius, “jika suatu saat aku diposisi ayah, aku akan menyelamatkan semuanya.. ” dia tersenyum.
“itu mustahil.. ” ucap ayah Sansiro.
“jangan pernah meremehkan ku, aku akan menyelamatkan semuanya.. karena prinsip ku adalah.. ” Sansiro menghentikan ucapan, “aku lebih baik mati daripada orang-orang terdekat ku yang mati.. aku akan mengorbankan diri asal semuanya selamat.. ” dia mengacungkan jari jempolnya kearah ayahnya sambil tersenyum lepas.
Ayah Sansiro tertegun, lalu tersenyum, “sepertinya ayah memang tidak bisa menghalangi mu.” ucapnya.
Sinam yang mendengar ucapan Sansiro terdiam, “mengorbankan diri.? ” kemudian tersenyum, “Sansiro memang hebat, dia berlagak keren agar di izinkan oleh ayahnya. ” sepertinya dia salah arti.
Ayah Sansiro berdiri dari duduknya, “sudah diputuskan, sampai minggu depan kau harus membantu ayah berkebun. ”
“hah? bukankah biasanya aku juga membantu ayah.. ” Sansiro terlihat kesal.
Brukk..
Sinam jatuh dari atas pohon dan tergeletak.
“Sinam..?! ” Sansiro dan ayahnya kaget.
“hehehe, maaf.” Sinam cengengesan.
Sansiro tersenyum menatap Sinam, “kebetulan sekali. ayah, sebelum ke kebun bagaimana jika kami latihan sebentar, kami harus lebih kuat sebelum masuk akademi. ”
“baiklah, baiklah. ayah akan melihat kalian bertarung terlebih dahulu. ” ucap ayah Sansiro tersenyum, “entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi semangat. ” batinnya.
Sinam dan Sansiro saling menatap, memasang kuda-kuda lalu maju dengan bersamaan.
Sansiro melesatkan tinju, “walaupun hanya latihan, aku tidak akan menahan diri. ”
Sinam menahan pukulan Sansiro, “tidak perlu menahan diri, tapi juga jangan memaksakan diri. ” dia tersenyum.
Ayah Sansiro mengawasi, “ya ampun, mereka sangat besar bicara. ” batinnya.
Blaak..
tendangan Sansiro mendarat di dada Sinam yang langsung terjatuh, namun Sinam kembali berdiri.
__ADS_1
“sial, kau kuat sekali. ” Sinam tetap tersenyum.
“akhirnya kau mengakuinya. ” Sansiro kembali maju.
Sinam dan Sansiro saling melepas pukulan, kedua tinju itu tidak beradu dan saling melewati.
Baakk.. Bukk..
tinju Sinam mendarat di pipi Sansiro, begitu juga sebaliknya, namun Sinam langsung terjatuh sementara Sansiro hanya oleng sedikit.
Sinam terduduk, “sial, Sansiro sangat kuat, mau fisik ataupun stamina, aku bukan tandingannya.. ” batinnya kembali berdiri.
Sansiro menatap Sinam dengan nafsu membunuh, “ayolah Sinam, tunjukkan semua yang kau punya! aku baru ini bertarung dan sangat menyenangkan. ” dia terlihat serius.
ayah Sansiro terkejut melihat Sansiro, “Sansiro, kau?!” batinnya, “Jangan-jangan dia sama seperti ibunya, memiliki semangat bertarung tinggi, tidak perduli lawannya sekuat apa, dia akan selalu menikmatinya.”
Sinam tersenyum, “cih, kau membuatku kesal. ” dia kembali bersiap.
Sinam berlari ke arah Sansiro, setelah dekat dia mengarahkan pukulan yang langsung dihindari Sansiro.
Plak..
Sinam dan Sansiro beradu tendangan, Sinam terlempar dan terjatuh.
Sinam menatap Sansiro kesal, “Sansiro memang hebat, aku tidak bisa mengalahkannya. ” batinnya. “ada apa denganku? sejak kapan aku menjadi pengecut.? ” dia kembali tersenyum.
Sinam dan Sansiro terus bertarung, saling pukul dan tendang, menahan juga menangkis, terjatuh kembali berdiri, saat ini mereka dipenuhi dengan semangat.
“melihat mereka bersemangat seperti ini, aku jadi ingat masa muda ku. ” gumam ayah Sansiro.
“sudah cukup. ” tiba-tiba ayah Sansiro menghentikan pertarungan. “ada yang ingin ku katakan pada kalian. ”
Sinam dan Sansiro sudah babak belur, tapi mereka masih bisa tersenyum.
“sudah jelas, aku lebih unggul dari mu. ” ucap Sansiro.
Sinam melirik, “untuk saat ini, tidak untuk hari esok. ” kemudian tersenyum.
ayah Sansiro menatap Sinam dan Sansiro, “kalian yang sekarang bukanlah apa-apa, anak dari kalangan atas pasti semuanya kuat, mereka juga menguasai teknik berpedang.. ”ucapnya, “kalian bahkan tidak pernah menyentuh pedang, perjalanan kalian pasti berat.. ”
“tunggu paman.! ” Sinam memotong, “lalu ini apa? bukankah ini pedang.? ” dia memegang pedang yang terbuat dari kayu.
“ayah, yang dikatakan Sinam benar. ” sahut Sansiro.
ayah Sansiro menggaruk kepala, “ya ampun, mereka masih sangat polos. ” batinnya.
“itu tidak termasuk, jika kau sudah memegang pedang asli, itu artinya kau sudah siap membunuh, menebas lawan hingga berlumuran darah. ” ayah Sansiro terlihat serius.
Sinam dan Sansiro terdiam sejenak, “membunuh.? ” suara mereka menelan ludah terdengar.
“ada yang lebih penting. ” ayah Sansiro melanjutkan, “kalian harus bisa mengendalikan Shaka kalian secepatnya. ”
“Shaka? apa itu.? ” Sinam kebingungan.
__ADS_1
“entahlah, aku juga sering mendengar orang mengatakan itu. ” sahut Sansiro.
“cepat atau lambat kalian pasti mengetahuinya. ” ucap ayah Sansiro.