SINAM

SINAM
Gempuran Musuh


__ADS_3

Braak..


tubuh Sinam terhempas menghantam batang pohon yang langsung tumbang, kemudian dia tergeletak lemah di tanah, pandangan sedikit buyar.


Akaza masih bersembunyi, “ sial, apa yang harus ku lakukan.?! ” batinnya mengadu gigi.


Satoru berdiri dengan wajah datar menatap Matsuda, dia terlihat bersiap untuk bergerak.


Tap.. Tap..


Matsuda berlari mundur, kini dia berada di belakang semua orang.


“ kalian, ayo lindungi aku! kalian harus mengorbankan nyawa.!! ” teriak Matsuda dengan wajah ketakutan.


Matsuda menatap Satoru dengan ketakutan, “ bagaimana ini? apa yang harus kulakukan.?! ” batinnya.


Tap..


Satoru mulai bergerak, diawali dengan langkah yang santai, tangan kanannya memegang pedang yang di gagangnya terdapat rantai besi penghubung ke pedang lain di punggungnya.


Thakesi mengarahkan telapak tangannya kearah Satoru seolah membidik, “ Jurus Penghalang. ” ucapnya.


Sraak..


Detik selanjutnya, langkah Satoru terhenti, dinding kotak transparan muncul dan mengurungnya.


Satoru melirik ke segala arah, namun dia benar-benar terkurung dinding kaca tersebut.


“ Jurus macam apa ini.? ” gumam Satoru.


Jiromaru tersenyum lepas melihat Satoru yang terkurung Jurus Thakesi, “ hebat, kau berhasil Thakesi.! ” ucap Jiromaru.


Thakesi menatap datar Satoru, “ jangan senang dulu, aku merasa dia bisa de.. ”


Sriing..


Zrassh..


belum selesai Thakesi bicara, Satoru menarik pedang yang di punggungnya dengan tangan kiri, lalu melepaskan tebasan ganda ke kanan kiri, dinding disekelilingnya langsung hancur.


“ Jurus Pedang, Irisan Kematian. ” ucap Satoru datar, asap tipis muncul dari mulutnya, dia baru saja mengeluarkan Jurus.


Saat ini, Satoru memegang dua pedang yang berukuran tebal dan cukup besar, gagang kedua pedang tersebut saling terhubung dengan rantai.


Thakesi menatap serius Satoru, “ sudah ku duga, level bertarungnya memang jauh di atas kita. ” ucapnya.


Satoru menatap datar kearah anak-anak yang mencoba melindungi Matsuda, “ sepertinya aku harus membereskan kalian terlebih dahulu. ” ucapnya datar.


Tap..


Satoru melesat cepat, sesaat setelahnya dia tidak terlihat ditempat.


Wushh..


Satoru muncul di depan Thakesi, dia bersiap memotong dengan tebasan.


“ Thakesi.!! ” Jiromaru berteriak keras, lalu bergerak cepat.


Thakesi terdiam di tempat, dia tidak percaya melihat Satoru sudah di depannya, “ cepat.. sekali.. ” batinnya mematung.


Ctaang..


tebasan Satoru bergesekan dengan toya Jiromaru, namun itu hanya sedikit mengubah arah pedang Satoru.


Zrassh..


Thakesi terkena ujung pedang Satoru,walau tidak dalam perutnya tergores cukup panjang, namun itu cukup membuat darah berceceran di udara.


diwaktu yang sama, Sansiro menatap darah yang berhamburan di udara, matanya terbuka lebar bersama waktu yang seolah terhenti.


“ AAAAAKKHH...!!! ” detik berikutnya, jeritan penderitaan menggema dan menghiasi pertarungan, Thakesi memegangi perutnya dengan wajah trauma.


Sinam yang masih terhuyung, tersadar mendengar jeritan Thakesi, dia mencoba memandang kearah pertarungan. walau cukup jauh tapi dia bisa melihat Thakesi yang terduduk dengan tangan yang memegang perut.


Cep..


Sinam mencoba bangkit dengan bantuan pedang, “ sial, orang itu benar-benar kuat. ” gumamnya.


Ctang..


Jiromaru mengarahkan pukulan Toya kearah Satoru yang langsung menangkis dengan mudah.


Buuaak..


Satoru membalas dengan tendangan keras yang tepat mendarat di perut lawan, Jiromaru terhempas jauh.


Sansiro menatap tidak percaya semua yang terjadi, namun ekspresinya berubah menjadi penuh kebencian menatap Satoru, “ berhenti melukai teman-teman ku di depan ku.! ” ucapnya dingin.


Satoru melirik Sansiro, “ jika kau tidak ingin melihat teman-teman mu terluka, maka yang kau butuhkan hanyalah lari. ” ucapnya dingin.


Sriing..

__ADS_1


Sansiro menarik pedang, “ jangan meremehkan ku.! ” ucapnya penuh amarah.


“ jika kau tidak lari, itu artinya kau sudah siap untuk dilukai. ” ucap Satoru sambil memiringkan kepala.


Tap..


Sansiro berlari memburu Satoru, “ diamlah, dasar sialan.!! ” teriaknya.


Ctaang..


Sansiro melayangkan tebasan dengan kedua tangannya, terlihat begitu bertenaga. disaat bersamaan Satoru melepaskan tebasan dengan tangan kanannya.


kedua pedang itu bertemu, terlihat pedang Sansiro sedikit lebih besar dari milik Satoru, hingga saat ini kedua pedang tersebut masih saling menempel.


Sraak..


kaki Satoru sedikit terdorong, permukaan tanah sedikit terkikis.


Satoru melirik kakinya yang sedikit bergeser, lalu menatap Sansiro sambil tersenyum jahat, “ sepertinya yang satu ini boleh juga. ” batinnya.


Ctaang.. Cting..


selanjutnya, Satoru membalas dengan tebasan dua pedang bertubi-tubi, dia benar-benar cepat, Sansiro kewalahan menahan semua itu.


“ sial, dia cepat sekali.! ” batin Sansiro sambil menahan tebasan lawan.


Yoja menatap tidak percaya Sansiro yang maju dengan gagah, kemudian terlihat serius, “ aku.. tidak akan membiarkan mu bertarung sendirian. ” ucapnya lalu bergerak cepat.


Ctaang..


Sansiro dan Satoru beradu tebas, terlihat Sansiro terdorong ke belakang, dia kewalahan.


Satoru berdiri menatap Sansiro, “ dimana kesombongan mu yang tadi.? ” ucapnya sambil tersenyum jahat, kemudian bersiap.


“ Tinju Besi.! ” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari atas Satoru.


Satoru menoleh ke atas, disitu terlihat Yoja bersiap dengan tinju yang dibalut Shaka hijau.


Booomm..


detik selanjutnya, terdengar suara dentuman, debu menggumpal di tempat Satoru berpijak, terlihat tanah retak cukup lebar.


Sansiro memandang Yoja yang berdiri diantara gumpalan debu, namun disitu tidak terlihat Satoru.


“ dia menghindar.. ” batin Sansiro sedikit kesal.


Yoja menatap sekeliling, “ sial, dia benar-benar gesit. ” batinnya.


Tap..


Satoru menatap Sansiro dan Yoja bergantian, lalu tersenyum jahat, “ gawat, aku mulai menikmati ini. ” ucapnya.


disisi lain, Harumi mencoba mengobati luka Thakesi yang saat ini tidak sadarkan diri. Kaori membantu Jiromaru untuk kembali bangkit, terlihat Jiromaru cukup parah, sepertinya tangannya patah.


Kaori memandang Harumi, “ Harumi, bagaimana ini.? ” dia terlihat cemas memandang Jiromaru yang meringis kesakitan.


Harumi terlihat sibuk membalut luka Thakesi, “ kita obati dulu mereka, lalu.. kita akan ikut bertarung.. ” ucapnya.


“ tapi, Jiromaru dan Thakesi saja bisa dengan mudah dikalahkan.. ” ucap Kaori.


Jiromaru menatap Kaori, “ sebaiknya kalian pergi saja, tidak ada kesempatan menang untuk kita.. biarkan saja kami disini. ” ucapnya.


“ tidak, apapun yang terjadi kita akan kembali ke Desa Yama bersama-sama. ” Harumi terlihat penuh keyakinan.


Matsuda menyaksikan pertarungan dari kejauhan, perlahan-lahan dia semakin menjauh dari tempat itu, “ ini kesempatan ku untuk lari.. ” gumamnya lalu bergerak cepat.


Akaza masih bersembunyi di dedaunan, dia menyadari Matsuda yang akan lari, “ jangan harap bisa lolos, tujuan utama kami adalah dirimu. ” batinnya.


Sraak..


Akaza mengoyak pakaiannya, lalu menutup sebagian wajahnya dengan kain tersebut.


“ dengan ini.. mereka tidak akan mengenali ku. ” gumamnya.


Matsuda melirik ke belakang, dia melihat Satoru tidak memperdulikannya, “ Yosh, aku lolos.! ” ucapnya terus berlari.


Tap..


Tiba-tiba muncul seseorang menghalangi langkah Matsuda, wajah pria itu tertutup kain sehingga tidak bisa dikenal, dia adalah Akaza.


“ jangan harap bisa lolos. ” ucap Akaza datar.


Matsuda menatap Akaza dengan ketakutan, “ siapa orang ini? aku tidak ingat ada anggota Kaisar Besi seperti dia.. ” batinnya, “ tapi.. dia juga terlihat lebih kuat dibandingkan dengan ku. ” lanjutnya.


Tap.. Tap..


Matsuda kembali mundur mendekati Harumi dan Kaori, “ tolong aku, dia tidak sendiri.!! ” teriaknya.


“ tidak sendiri.?! ” Harumi dan Kaori terkejut.


Akaza tidak mengejar, dia duduk dan memandang kearah pertarungan, “ aku tidak berniat bertarung melawan junior ku sendiri. ” gumamnya.

__ADS_1


Harumi dan Kaori memandang Akaza dari kejauhan, keduanya terlihat bingung.


Kaori menoleh Harumi, “ bagaimana ini? ternyata dia tidak sendiri, kita benar-benar dalam masalah. ” ucapnya.


Harumi terdiam, dia sendiri terlihat bingung.


“ jika kita terus mencoba melindungi paman Matsuda, mungkin kita semua akan mati, tapi.. jika kita meninggalkan paman Matsuda, belum ada jaminan mereka akan melepaskan kita. ” ucap Kaori cemas.


“ apa maksud mu meninggalkan ku, aku sudah membayar kalian.!! ” Matsuda terlihat panik menatap Kaori.


“ kalian pergi saja.. ” Tiba-tiba Jiromaru bersuara, kemudian menatap Matsuda dengan penuh kebencian, “ tinggalkan saja orang tua brengsek ini.. ” lanjutnya.


“ apa maksud mu.?! ” Matsuda tidak terima.


Jiromaru menatap tajam Matsuda, “ dari awal dalam misi ini tidak ada kejujuran.. kau tidak berkata bahwa ada orang yang sedang memburu mu.. kaulah penyebab kami berada dalam situasi sekarang.. ” ucapnya serius.


Matsuda terdiam, terdengar suara dia menelan ludah.


Jiromaru menoleh Harumi dan Kaori, “ Harumi, Kaori, pergilah.. ajak Aozora dan Ryugu pergi.. aku tidak ingin kita mati di tempat yang sama. ” ucapnya lalu tersenyum.


Harumi dan Kaori menatap Jiromaru, keduanya tertegun.


“ tidak akan ada yang mati. ” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing, itu adalah Sinam.


Jiromaru, Harumi, Kaori dan Matsuda menatap Sinam, “ Sinam..?! ” mereka terlihat terkejut.


Sinam menatap Sansiro dan Yoja yang bertarung di kejauhan menghadapi Satoru, “ kita akan kembali bersama-sama, apapun yang terjadi.. aku sudah tidak ingin kehilangan sahabat lagi. ” ucapnya penuh keyakinan, “ aku tidak bisa membayangkan, jika salah satu dari kalian pergi. ” lanjutnya.


Sinam melirik kearah Akaza yang berada di kejauhan, “ orang itu seperti tidak perduli dengan pertarungan.. ” ucapnya lalu menoleh kearah Satoru, “ jadi.. hanya orang itu yang perlu kita habisi.. ” lanjutnya.


“ Harumi, Kaori, ayo kita bantu mereka menghadapi orang itu, setelah itu kita urus yang satunya.. ” ucap Sinam memberi perintah, lalu berlari menuju kearah pertarungan Satoru.


“ ya.! ” Harumi dan Kaori mengejar Sinam.


Jiromaru tersenyum tipis memandang Sinam dari belakang, “ apa-apaan dia memutuskan sesuatu sendiri.? ” batinnya, “ tapi, sangat jarang melihat mereka bisa akur. ” lanjutnya.


Jiromaru menatap Thakesi yang pingsan dengan lukanya, “ Thakesi, bertahanlah, kita pasti akan kembali. ” batinnya dengan wajah sedih.


Ctaang... Cting..


berkali-kali pedang Sansiro bergesekan dengan pedang Satoru, percikan api bertaburan layaknya kembang api, pemandangan yang cukup langkah.


Buaak..


Yoja melepaskan pukulan dari belakang, namun kaki Satoru lebih dulu mendarat di wajahnya, Yoja pun terhempas.


Buuakk..


Yoja menabrak batang pohon, lalu tergeletak di tanah, dia mencoba menggerakkan lehernya untuk memandang kearah Satoru.


“ apa-apaan orang itu? padahal aku menyerang dari belakang, tapi dia seolah menyadarinya.. ” batinnya dengan wajah babak belur, “ apa insting bertarungnya sehebat itu.? ”


“ Jurus Pedang, Irisan Kematian. ” Satoru menjurus, detik selanjutnya dia sudah melewati Sansiro.


Sansiro terlihat baik-baik saja, dia melirik Satoru yang berada di belakangnya.


Zrassh..


detik selanjutnya, tubuh Sansiro penuh dengan goresan bersama darah yang terciprat ke segala arah, seperti itu adalah efek dari Jurus Satoru.


Bukk..


kedua lutut Sansiro terjatuh ke bumi, dia hampir tumbang.


Cep..


Sansiro menancapkan pedangnya ke bumi sebagai penahan tubuhnya, dia tidak jadi tumbang.


kepala Sansiro tertunduk, “ hehehe.. ” dia tertawa kecil, “ hahaha.. hahaha.. ” dilanjutkan dengan tertawa terbahak-bahak, dia mengangkat wajahnya yang terlihat semangat.


“ rasa sakit ini... rasa lelah ini... aku benar-benar menikmatinya..!! ” teriak Sansiro penuh nafsu bertarung.


Yoja memandang Sansiro dengan posisi tergeletak, “ Sansiro berbeda dengan orang lain.. rasa lelah adalah sumber kekuatannya, dan rasa sakit semakin membuatnya semangat, dia tidak merasakan apa-apa. ” batinnya serius, “ tapi.. itu akan membuatnya tidak memiliki batasan.. dia tidak tahu kapan harus berhenti. ” lanjutnya.


Satoru melirik Sansiro yang berada di belakangnya, “ anak ini.. benar-benar aneh.. ” batinnya serius.


Aozora dan Ryugu berada cukup dekat dengan Satoru dan Sansiro, keduanya masih diam ditempat.


Aozora menoleh Ryugu, “ Ryugu.. apa kau tidak berniat membantu mereka.? ” dia bertanya.


“ kenapa aku harus membantu mereka.? ” Ryugu bertanya balik.


Aozora terlihat kesal menatap Ryugu, “ sudah ku duga kau akan berkata seperti itu.. ” ucapnya.


Aozora menoleh Satoru, “ orang itu benar-benar kuat, menghadapinya sendiri sama saja bunuh diri. ” batinnya lalu menoleh ke suatu arah, “ bagus, Harumi, Kaori dan Sinam datang juga. ” lanjutnya sambil tersenyum.


Tap.. Tap..


Sinam, Harumi dan Kaori memasuki pertempuran, mereka bertiga terlihat serius.


Sansiro melirik Sinam, “ Sinam, bagaimana jika kepala orang ini kita penggal saja.?! ” teriaknya sambil menunjuk Satoru dengan pedangnya, dia tersenyum jahat.

__ADS_1


Sinam tertegun menatap Sansiro yang penuh dengan luka, “ walaupun dia berkata seperti itu, sebenarnya dia sudah terluka parah.. ” batinnya lalu menoleh kearah Yoja yang tergeletak, “ saat ini... kami benar-benar berantakan.. ” lanjutnya.


__ADS_2