SINAM

SINAM
Perjuangan Sanji


__ADS_3

“mengecewakan.” ucap Tori meremehkan, matanya menatap tubuh Sanji yang tertutup debu menggumpal.


Sinam menatap Sanji yang tergeletak, debu sudah menghilang, “Sanji, bertahanlah.! ” dia menggertakkan gigi.


“uhuk.. uhuk..! ” Sanji terbatuk, darah keluar dari mulutnya.


Tori menatap Sanji, “lumayan, ternyata kau masih bisa bertahan. ” ucapnya remeh.


Sanji kembali bangkit dengan tubuh bergetar, “sial, aku tidak boleh dikalahkan oleh orang seperti dia. ” batinnya.


Sanji melirik persenjataannya, disitu terlihat tinggal sebuah belati dan lumayan banyak pedang, “aku hanya memiliki satu belati lagi.. aku harus segera menyelesaikan ini. ”


Tori melangkah maju secara perlahan, “ada yang berbeda dari dia.. dari awal pertarungan aku tidak merasakan Shaka miliknya, dia juga tidak pernah mengaliri senjata dengan Shaka seperti orang Sanji pada umumnya.. ” dia terlihat serius, “sekalipun dia belum bisa menggunakan Shaka, seharusnya aku tetap bisa merasakannya walau samar.. ”


Sanji menatap Tori yang semakin dekat, “dia datang. ” batinnya.


Tori menghentikan langkah, “ kau, kenapa kau tidak menggunakan Shaka milikmu? apa kau belum bisa mengeluarkan Shaka.? ” dia menatap Sanji.


“kau menyadarinya,ya.” Sanji tersenyum tipis, “aku tidak memiliki Shaka, tubuhku cacat bagian dalam, aku hanya bisa bertarung dengan fisik dan senjata. ” jawabnya serius.


“apa.?! ” Tori terkejut, “lalu, untuk apa kita bertarung? aku tidak butuh lawan yang lemah seperti mu.! ” dia terlihat kesal.


“tidak memiliki Shaka.?! ” wasit sedikit terkejut, dia memejamkan mata cukup lama, “benar, aku tidak merasakan Shaka di dalam tubuhnya. ” dia membuka mata.


Tori menatap wasit, “hey, wasit, apa-apaan ini? aku tidak akan bertarung dengan orang cacat seperti dia? mereka benar-benar meremehkan ku, jika aku jadi dia aku lebih memilih berhenti menjadi petarung.!! ” teriaknya lalu menoleh kearah gerombolan orang dari Desa Sanji yang berada di atas, “hey, kalian dari Desa Sanji! apakah kalian tidak memiliki orang yang lebih hebat di Desa kalian sehingga mengirim orang cacat untuk bertarung.?! ” teriaknya.


guru dari Desa Sanji terlihat kesal, “sudah kuduga akhirnya akan seperti ini. ” gumamnya pelan.


Sinam menatap Tori dengan ekspresi kesal, “dia.. benar-benar meremehkan Sanji, aku sangat ingin menghabisinya.. ” dia mengeratkan genggaman tangannya, “orang seperti dia.. orang yang selalu meremehkan dan tidak menghargai kekurangan lawan, tidak pantas hidup. ” dia terlihat penuh kebencian.


“oi, Sanji, habisi orang sombong seperti dia.!! ” teriak Sinam.


semua orang menoleh kearah Sinam, begitu juga dengan Sanji dan Tori.


“Sinam.?! ” Sanji tertegun, kemudian tersenyum.


Tori menatap Sinam cukup lama, “hahahaha.. hahaha..!! ” kemudian tertawa keras, “apa yang kau harapkan dari orang lemah seperti dia? memberinya semangat hanya akan membuatnya terus bermimpi dan tidak melihat kenyataan. ” ucapnya.


Sinam menatap Tori dengan kesal, “tutup mulut mu dasar sialan, akan ku habisi kau.! ” dia berniat turun.


“Sinam.! ” Deiki menahan, “tidak perlu gegabah, ini bukan pertarungan mu. ” ucapnya datar.


Sinam menoleh Deiki, “cih.” kemudian mengalihkan pandangannya dengan wajah kesal.


Tori menatap Sinam, “baiklah, sudah ku putuskan, setelah ini aku akan menghadapi mu.. aku harap kau tidak hanya besar bicara saja. ” ucapnya tersenyum remeh.


Judoro pimpinan Arkan menatap arena pertarungan, “jadi benar anak dari pimpinan Sanji tidak memiliki Shaka, tanpa sadar kalian sudah meremehkan tiga Desa lain. ” ucapnya tersenyum sambil melirik Komuki pimpinan Sanji.


Komuki tidak menggubris, dia memandang Sanji yang berdiri di arena pertarungan, “Sanji.. ” batinnya.


Tori menatap tajam Sanji, “baiklah, menghadapi orang lemah seperti mu aku anggap sebagai pemanasan.. akan ku buat kau membuka matamu lebar-lebar untuk melihat kenyataan.. ” ucapnya, “ orang yang tidak memiliki Shaka hanyalah pecundang dan tidak pantas menjadi petarung.! ”


Sanji menatap tajam Tori, “pantas atau tidaknya, aku yang memutuskan.. pertarungan masih belum berakhir, jika kau merasa kuat, ayo kalahkan aku.! ” ucapnya.


“jika kau yang meminta, apa boleh buat.! ” Tori berlari kearah Sanji.


Tap.. Tap..


disaat bersamaan, Sanji juga berlari kearah Tori, namun dia tidak menggunakan senjata apapun.


“apa yang dia pikirkan? apa dia tidak tahu bahwa Arkan sangat hebat bertarung tangan kosong.? ” batin Tori, “baiklah, ini akan menjadi cepat. ” kemudian tersenyum.


setelah jarak terpangkas, Tori melompat dengan terjangan kaki walau masih jauh dari Sanji.


Tap..


dengan mudah Sanji menghindar dengan menunduk, setelah itu keduanya adu pukul dan tendang.


Blak. Buaak..


dengan gerakan bertubi-tubi Sanji menyerang Tori, tinju serta tendangan dia lepaskan secara terus menerus dengan sesekali berlompatan, namun dengan mudah Tori menghindar dan menahan, serangan Sanji seolah tidak berefek.


“terlalu lemah. ” Tori tersenyum remeh.


“cih, semua pukulan ku ditahan dengan mudah. ” Sanji terlihat kesal.


“sekarang giliran ku.! ” teriak Tori.

__ADS_1


Buuk..


Tori melepaskan tinju namun bisa dihindari Sanji, berikutnya Tori melesatkan tendangan datar kearah wajah Sanji, walau sudah menahan dengan kedua tangan yang menyilang, tubuh Sanji tetap terhempas keatas, pertahanannya dengan mudah di jebol Tori.


“akh..! ” Sanji kesakitan dengan tubuh yang masih melayang di udara, “jika adu fisik, aku memang bukan tandingannya... tapi.. ” dia tersenyum tipis.


Sring..


Sanji menarik belati yang ada di pinggangnya, kemudian melemparkannya dengan arah tidak jelas.


Cep..


belati menancap di tanah, sekitar dua meter lagi dari kaki Tori.


“apa yang dia lakukan? tanpa menghindar aku juga tidak akan terkena serangan seperti itu.! ” batin Tori tersenyum.


Sanji masih melayang, namun dia mulai ditarik gravitasi bumi, “meledak lah.! ” batinnya.


Tori merasakan sesuatu, dia melihat kearah belati, disitu terlihat asap, “bom asap? bukan, ini.. ” dia terkejut.


Buummm.. Boomm..


detik selanjutnya, ledakan bertubi-tubi muncul, itu terjadi diarea Tori berdiri, entah apa yang terjadi. setelah itu asap tebal menutupi pandangan.


Bukk..


Sanji terkena efek ledakan walau sedikit, dia terhempas dan tergeletak di tanah.


Sanji menatap kearah gumpalan debu yang menutupi Tori, “apakah berhasil.? ” gumamnya.


setelah beberapa saat, asap mulai menghilang, disitu terlihat Tori dengan pakaiannya yang robek sana-sini, Shaka hijau mengalir di sekujur tubuhnya yang saat ini berdiri kokoh.


“apa? dia bertahan.? ” Sanji terkejut.


Tori menatap kesal Sanji, “kau, sejak kapan kau memasang peledak di situ. ? ” tanyanya.


Sanji menatap Tori serius, “saat pertarungan dimulai, saat itu aku membuatmu berada di dalam, bom asap sehingga tidak melihat apa-apa.. disaat itu aku juga masuk ke dalam gumpalan asap dan menanam peledak ini. ” ucapnya, “peledak ini dibuat khusus oleh Desa Sanji, gesekan besi seperti belati sudah cukup memicu ledakannya.. aku menghubungkan satu peledak dan peledak yang lain sehingga ledakannya cukup dahsyat, aku tidak menyangka kau masih bisa bertahan. ” jelasnya.


Tori terkejut, ingatan saat awal pertarungan kembali terbayang, “begitu, ya.. dia sengaja melemparkan pedang kearah ku saat berada di dalam asap untuk mengalihkan pikiranku, jika tidak mungkin aku akan penasaran apa yang dia lakukan di dalam gumpalan asap tersebut.. aku benar-benar meremehkannya. ” batinnya kesal.


“orang yang hanya bertarung dengan cara-cara licik seperti mu tidak pantas disebut petarung, petarung sesungguhnya adalah orang yang bertarung secara terbuka dan hanya mengandalkan kekuatan. ” ucap Tori serius.


Sanji melemparkan tiga pedang sekaligus ke udara, lalu menangkapnya serta menggigitnya, tangan kiri, tangan kanan, satu di mulut, dia terlihat serius.


“aku memang akan bertarung dengan mu secara terbuka.. ” ucapnya tidak jelas karena pedang di mulutnya. “ini adalah upaya terakhir ku. ” batinnya.


Tori menatap Sanji, “jadi kau akan menyerang dengan menggunakan pedang, ya.. ” dia tersenyum, “kau tidak sadar, peledak saja tidak mampu melukaiku.. aku mengaliri Shaka di setiap bagian tubuhku, kulit ku keras, itu adalah kelebihan ku. ” ucapnya.


“itu mustahil..! ” selesai bicara, Sanji berlari kearah Tori.


Tori menatap Sanji, “jika bisa dihindari, aku tidak perlu mengaliri Shaka.. aku harus menghemat Shaka ku. ” batinnya serius.


Wushh..


begitu dekat dengan Tori, Sanji langsung menyerang dengan tebasan bertubi-tubi, Tori menghindari semua tebasan itu.


“apa yang terjadi? kenapa dia menghindar jika dia bisa menahannya.? ” batin Sanji sambil melayangkan beberapa tebasan.


Sanji terus menyerang, gerakannya semakin cepat, kedua pedang di tangannya bergerak lincah kesana kemari.


Tlang..


satu tebasan melayang ke lengan Tori, namun pedang Sanji tidak mampu menggores, Tori tidak terluka sedikitpun.


“apa.?! ” Sanji terkejut, “mustahil.?! ”


Tori tersenyum, “kau lihat, tubuhku tidak tergores sedikitpun, pedang mu tidak akan mampu melukaiku jika tidak dialiri Shaka, tapi itu mustahil bagi orang cacat seperti mu. ” ucapnya remeh.


Greb..


Tori mencengkram kedua tangan Sanji dengan cepat dan erat, Sanji tidak bisa bergerak, kedua pedangnya tidak lagi bisa menyerang.


“sial.. ” Sanji mencoba melepaskan cengkraman Tori namun tidak bisa.


“jika dia memang bisa menahan semua tebasan ku, kenapa dia terus menghindar.? ” batin Sanji, “dia menahan dengan mengumpulkan Shaka di bagian yang akan di serang.. tapi, peledak tadi memang tidak melukainya. ”


“menyerahlah.!! ” Tori mengeratkan cengkraman nya, dia tersenyum jahat.

__ADS_1


Tlang..


kedua pedang ditangan Sanji terlepas dan tergeletak di tanah, yang tersisa hanya pedang yang masih berada di mulutnya.


Sanji melepaskan gigitan dari gagang pedang, pedang tersebut terjatuh kearah bumi, berada di antara Sanji dan Tori berada.


Tori tersenyum, “bagus.. ” ucapnya.


tepat saat itu, saat pedang itu masih di udara dan berada di tengah-tengah Sanji dan Tori, Sanji melepaskan tendangan kearah ujung gagang pedang.


*Wusshh..


Crakhh*..


pedang melesat kearah Tori, lalu terdengar suara daging yang terkoyak, disitu terlihat pedang sudah tertancap di paha Tori yang langsung mengeluarkan darah.


Tori tersentak dan kesakitan, dia melihat pedang yang menancap di pahanya, lalu menatap Sanji tajam, “sialan kau.!! ” dia terlihat geram.


tanpa mencabut pedang yang menancap di pahanya, Tori yang masih mencengkram kedua tangan Sanji langsung meninju Sanji habis-habisan.


Buakk.. Buukk..


Sanji tidak bisa menghindar, dia mencoba bertahan namun tidak bisa, sesaat kemudian dia sudah tergeletak.


Tori mencabut pedang di pahanya, “sial, aku lengah.! ” darah langsung muncrat.


Sanji tergeletak lemah, wajahnya penuh darah, “aku belum kalah.! ” dia menatap langit.


Tori berjalan kearah Sanji dengan ekspresi geram, lalu menginjak-injak Sanji tanpa ampun.


“matilah, orang lemah seperti mu tidak pantas menjadi petarung.!! ” teriak Tori.


Buuakk.. Buukk..


entah berapa banyak tendangan yang diterima Sanji, dia tidak bisa menghindar selain hanya tergeletak lemas.


Sinam terlihat geram menatap Tori, “orang itu.. entah kenapa aku benar-benar membencinya.. ” batinnya dengan gigi beradu.


“sudah cukup.. ” wasit menghentikan.


“tidak, ini belum selesai.! ” Tori terus menginjak Sanji yang terus tergeletak.


“aku belum kalah..! ” Sanji masih bisa bersuara, namun terdengar lemah.


Tori menoleh wasit, “kau dengar, aku masih berhak menghajarnya, dia belum menyerah.! ” ucapnya lalu menendang Sanji.


Komuki terlihat bersedih, “Sanji.. ” batinnya, “seandainya ada suatu cara untuk membuatmu memiliki Shaka, aku rela melakukan apapun sekali pun harus berkorban nyawa, sebagai ayah aku benar-benar tidak berguna. ”


“baiklah, akan ku akhiri sekarang.!! ” Tori mengangkat kakinya tinggi keatas, dia bersiap mengarahkan tendangan kapak kearah Sanji yang masih tergeletak dengan posisi telungkup.


“matilah.!! ” Tori mengayunkan kakinya ka bawah.


*Tap..


Greb*..


tepat saat itu, Sinam muncul dan menahan tendangan Tori dengan tangannya, wajahnya terlihat mencekam.


“Sinam.?! ” semua orang terkejut, termasuk Deiki dan murid-muridnya.


Tori mencoba melepaskan kakinya dari genggaman Sinam, “kau.?! ” ucapnya.


Sinam melepaskan kaki Tori, “apa kau tidak melihat dia sudah tidak bisa bertarung.? ” dia terlihat sangat geram.


Sinam menoleh wasit, “wasit, biarkan aku bertarung menghadapinya.! ” dia penuh keyakinan.


“tidak bisa, sebenarnya ini.. ” wasit menghentikan ucapannya, dia melihat mata Sinam yang penuh keyakinan, “baiklah.. ” ucapnya.


“anak ini.. benar-benar memiliki tekad bertarung yang kuat. ” batin wasit tersebut.


Sinam mendekati Sanji, dia mengubah posisi Sanji yang telungkup menjadi menatapnya, terlihat Sanji sudah tidak sadarkan diri, matanya terpejam dengan wajah bersimpuh darah, “aku tidak akan kalah. ” Sanji masih bisa bersuara.


“Sanji.. ” Sinam terlihat sedih, “aku bersumpah akan mengalahkan dia untuk mu.! ” dia menatap Tori dengan wajah mencekam.


setelah itu, tim medis membawa Sanji keluar arena untuk diberikan perawatan, tinggallah Sinam, Tori dan wasit di arena pertarungan.


“jika sekarang ingin mundur dari arena pertarungan, sudah terlambat, aku tidak akan melepaskan mu.!! ” Sinam terlihat serius.

__ADS_1


“seharusnya aku yang berkata begitu. ” Tori tersenyum remeh.


“Sanji, aku tidak tahu sesulit apa perjuangan mu untuk menjadi sekuat itu.. hinaan yang selalu kau terima.. tapi kau tidak pernah patah semangat.. aku yakin itu benar-benar menyakitkan.. karena itu. ” batin Sinam sambil menatap tajam Tori, “karena itu.. aku akan menghabisi orang ini untuk melanjutkan perjuangan mu.!”


__ADS_2