
saat ini langit terlihat cerah berwana jingga, matahari condong menandakan hari telah sore, terlihat beberapa burung beterbangan menghiasi pemandangan.
dibawah langit jingga tersebut, tepatnya di arena pertarungan, terlihat dua anak laki-laki saling bertatap mata dengan tubuh dibalut Shaka, mereka adalah Sansiro dan Yoja yang saat ini berdiri berhadapan.
semua penonton terdiam, suasana hening untuk sejenak.
Deiki melirik jam, “sepertinya aku harus mengakhiri ini. ” batinnya lalu melirik Sansiro dan Yoja.
Yoja memegang tangan kanannya, “tangan kanan ku sudah tidak bisa ku gunakan.. tapi, tidak masalah, aku sudah terbiasa menggunakan tangan kiri ku. ” batinnya.
Sansiro menatap Yoja, “baiklah, ayo kita lanjutkan.! ” teriaknya.
Tap.. Tap..
Sansiro mulai berlari, langkahnya cepat ke arah Yoja, dia terlihat begitu semangat, “kali ini, aku pasti membuat mu tidak bisa berdiri lagi.! ” teriaknya.
“akulah yang seharusnya berkata begitu.! ” Yoja juga mulai berlari ke arah Sansiro.
“walaupun dia sudah bisa menggunakan Shaka, tapi dia belum bisa mengendalikan sepenuhnya.. ” batin Yoja terus berlari, terlihat di tinju kirinya Shaka ungu mengumpul, “aku hanya memperkuat pukulan ku dengan Shaka, aku tidak tahu apakah ini bisa mengalahkan orang yang bahkan bisa menahan Jurus Tinju Besi. ”
Sansiro dan Yoja sudah berdekatan, keduanya berteriak sambil melayangkan tinju ke arah lawan, Sansiro tinju kanan sementara Yoja tinju kiri, Shaka merah dan ungu sudah menjadi satu.
“matilah..!! ” teriak keduanya secara bersamaan dengan ekspresi mencekam.
Tap..
tiba-tiba debu ditengah Sansiro dan Yoja tertiup secara melingkar, lalu muncul Deiki berdiri ditengah dengan tenang.
Greeb..
Deiki menangkap tinju Sansiro dengan tangan kirinya, disaat bersamaan dia juga mencengkram tinju Yoja dengan tangan kanannya, kedua tinju itu berhenti dan tidak jadi berbenturan.
“apa.?! ” Sansiro dan Yoja tersentak.
Sinam terkejut, “ada apa? kenapa dia menghentikan pertarungan.?! ” batinnya.
Kazuo tersenyum, “padahal hampir saja.. senior Deiki sangat pintar membuat orang kesal. ” ucapnya.
“sepertinya dia berniat menghentikan pertarungan, ya. ” sahut Rokuga.
“ya, ampun.. kenapa di saat seperti ini.? ” Kaori terlihat kesal.
“mungkin karena hari sudah mulai gelap. ” jawab Harumi.
Sansiro menatap Deiki dengan kesal, “apa-apaan ini? kenapa kau mengganggu.?! ” ucapnya sambil menarik tinjunya, namun tidak bisa.
Yoja menatap Deiki, “kenapa kau menghentikan kami? pertarungan masih belum selesai.! ” ucapnya, dia juga mencoba melepaskan tinjunya tapi tidak bisa, “orang ini.. padahal aku sudah menggunakan Shaka untuk memperkuat tinju ku, tapi dia menahannya dengan mudah. ” batinnya.
Deiki memandang ke arah langit, “lihat! sudah mulai gelap, pertarungan sudah selesai.! ” ucapnya datar.
“apa katamu.?! ” Sansiro dan Yoja terlihat kesal.
“benar, pertarungan ini sudah selesai. ” ucapan ucap Deiki.
“tapi, kami belum selesai.! ” Sansiro tidak Terima.
Deiki menoleh Sansiro kesal, “oi, disini aku yang bertanggung jawab atas penerimaan murid di Akademi.. apa yang ku katakan adalah keputusan mutlak. ” ucapnya dingin.
“cih, sial..! ” Sansiro terlihat kesal.
Deiki berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh ke sekeliling, “baiklah, semua.. pertarungan sudah selesai, kalian bisa pulang sekarang.! ” teriaknya seperti terpaksa dengan wajah cuek.
“apa-apaan dia?!”
“benar, sungguh mengecewakan.! ”
“padahal tadi hampir saja.! ”
para penonton terlihat kesal menatap Deiki, mereka berbicara memperlihatkan rasa kecewa.
Mikami Sato tersenyum, “seperti biasa, Deiki selalu bertindak sesukanya. ” batinnya berdiri, lalu meninggalkan tempat itu, para pengawalnya mengikuti dari belakang.
“hey, apa-apaan ini?!” Tiba-tiba Aozora mendekati Deiki, “aku bahkan belum bertarung sedikitpun.! ” dia terlihat kesal.
Sansiro dan Yoja masih saling menatap, keduanya terlihat kesal, mendengar suara Aozora memaksa keduanya untuk menoleh, perlahan Shaka keduanya mulai menghilang.
“siapa wanita itu.?! ” tanya Sansiro.
Deiki melirik Aozora, “kau tidak bertarung karena kau terlalu pengecut, kau terus menunggu sampai semua orang melemah. ” ucapnya datar, “tujuanku melakukan pertarungan ini bukan untuk siapa yang menang ataupun kalah, tapi melihat potensi kalian.. aku tidak butuh orang pengecut seperti dirimu. ” lanjutnya.
__ADS_1
“pengecut katamu.?! ” Aozora terlihat kesal.
Tap..
Sinam melompat ke Arena pertarungan, “apa yang terjadi.?! ” batinnya.
“Sinam.?! ” Saken yang duduk di depan bendera menoleh Sinam, kemudian berdiri, sepertinya dia ingin mendekati Sinam.
“Sinam.?! ” Harumi menoleh Sinam, kemudian ikut melompat ke Arena.
“Harumi, tunggu.! ” Kaori ikut melompat.
Aozora tersenyum jahat menatap Deiki, “baiklah kalau begitu, kau saja yang menjadi lawan ku. ” ucapnya.
Sraak..
Aozora mengeluarkan senjatanya yang berbentuk tiga cakar besi dengan ukuran panjang, menyeretnya ke tanah bersiap menyerang Deiki.
Deiki terlihat tenang, di detik berikutnya, tidak jelas apa yang terjadi, Deiki sudah memijak tubuh Aozora dengan sebelah kakinya, sementara Aozora tergeletak dengan posisi telungkup.
Deiki tersenyum tipis, “berapi-api boleh saja, tapi lihat juga siapa yang kau hadapi. ” ucapnya datar.
Aozora terlihat kesal, “cih, dia cepat sekali.! ” batinnya.
“Aozora..!! ” Ryugu yang awalnya terlihat tenang berteriak, lalu berlari mendekati Deiki dan Aozora.
“apa yang terjadi.?! ”
“pertarungan lagi.?! ”
penonton yang hampir bubar, kembali bersemangat.
Ryugu menatap Deiki dengan nafsu membunuh, “beraninya kau menyentuh Aozora.. ” ucapnya dingin, “ku bunuh kau.! ” wajahnya terlihat mencekam.
Deiki menoleh Ryugu, “anak ini.. sorot matanya begitu haus darah.. ” batinnya.
Ryugu mengeluarkan senjatanya, sebuah sabit berukuran besar, dia menggores lengannya dengan sabit, darah langsung menetes ke tanah.
Ryugu memainkan sabitnya, “Jurus Sabit Darah.! ” setelah itu darah yang berada di sabit tersebut membesar dan mengikuti gerakan sabit nya.
Deiki terkejut, “dia sudah bisa mengeluarkan Jurus.?! ” batinnya.
“jika kau masih banyak bicara, ku bunuh kau.! ” Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang Ryugu, suara itu sangat dekat dengan telinga Ryugu.
Ryugu terkejut, dia tidak melihat Deiki lagi, yang terlihat hanya Aozora yang masih ditempat.
Ryugu menoleh kebelakang, disitu terlihat Deiki sudah mengancam leher Ryugu dengan sebuah tusukan pedang.
“cih, dia cepat sekali.! ” batin Ryugu, wajahnya terlihat kesal dan tidak terima.
“simpan senjata mu, jika kau tidak ingin pedang ini memotong lehermu. ” ucap Deiki datar.
Ryugu menggertakkan gigi, dia terlihat sangat kesal, lalu mengayunkan sabitnya kebelakang, sepertinya dia tidak takut dengan ancaman Deiki.
“Ryugu, cukup.!! ” Aozora berteriak.
Ryugu menghentikan laju sabitnya, menatap Aozora, “baiklah.” dia kembali tenang.
Sinam menatap Ryugu dengan serius, “dia menggunakan Jurus dengan darah.?! ” batinnya.
Deiki menoleh ke sekeliling, “dengarkan ini baik-baik, siapa yang namanya ku sebut, angkat tangan, kalian akan dikirim ke Desa Pedang Kembar.. ” ucapnya keras.
“Desa Pedang Kembar.?! ” tanya Harumi.
“benar, kalian akan melakukan pertarungan di sana. ” ucap Deiki. “jadi, mulai sekarang, berusahalah untuk akur.. ”
Sinam terlihat serius, “Desa Pedang Kembar? Pertarungan.?! ” batinnya.
Deiki menoleh sekeliling, “Saken..! ” ucapnya.
Saken mengangkat tangannya, namun wajahnya terlihat datar.
Deiki menoleh Saken, “kau adalah petarung yang hebat, bisa dikatakan kaulah pemenangnya disini. ” ucapnya.
Kei Takeyomi tersenyum, “Saken benar-benar anak yang hebat, sebagai ayah aku benar-benar bangga. ” batinnya.
Akaza masih ditempat itu, dia berdiri menjauh dari keramaian, dia memandang Saken kesal, “seperti biasa, dia selalu menjadi tokoh utama. ” batinnya.
“Yoja..! ” teriak Deiki, Yoja mengangkat tangan, “Sansiro.. ” lanjutnya.
__ADS_1
Sansiro tersenyum semangat, “bagus, aku terpilih.. dengan begitu aku akan terus bertambah kuat. ” batinnya.
“Harumi, Kaori. ” lanjut Deiki.
“kita berhasil.! ” Harumi dan Kaori terlihat bahagia.
Rokuga dan Kazuo tersenyum, “jadi, mereka berhasil, ya. ” ucap Rokuga tersenyum.
“Jiromaru dan Thakesi..! ” teriak Deiki.
“kita terpilih.! ” ucap Jiromaru dengan wajah penuh perban, dia berada di kursi penonton bersama Thakesi.
“baiklah, ayo kita turun.! ” ucap Thakesi, keduanya pun melompat turun ke Arena mendekati Deiki.
Deiki memandang sekeliling, “dan yang terakhir. ” ucapnya.
“yang terakhir.?! ” batin Sinam terkejut, kemudian terlihat bersedih, “sepertinya namaku tidak mungkin disebutkan. ”
“Sinam..!! ” Deiki berucap dengan suara keras, dia menatap Sinam tersenyum.
“a.. aku..?! ” Sinam terkejut, “aku berhasil..!! ” kemudian terlihat bahagia.
Deiki memandang Sinam, “aku sengaja menyebut namanya diakhir.. karena dengan begitu namanya akan mudah diingat semua orang.. anak yang tidak mengenal kata menyerah.. anak yang benar-benar menarik, suatu saat dia pasti menjadi petarung terkuat. ” batinnya, “dan dikenal sebagai.. Sinam Petarung hebat dari Desa Yama. ”
Sinam melangkah maju mendekati Deiki, lalu membungkukkan badan, “aku berjanji tidak akan mengecewakan mu, paman..! ” dia terlihat sangat semangat.
Deiki tersenyum, lalu menoleh kearah Aozora dan Ryugu dengan serius, “jika kalian ingin menunjukkan kemampuan kalian, maka siapkan diri kalian, dan.. jangan kecewakan diriku.. tunjukkan pada Desa lain bahwa Petarung muda Desa Yama benar-benar kuat. ” ucapnya.
Aozora menatap Deiki terkejut, “ba.. baiklah.. ” lalu tersenyum semangat.
Ryugu menoleh Aozora, “jika kau berkata seperti itu, aku hanya akan mengikut saja. ” ucapnya datar.
Deiki melirik Ryugu serius, “anak ini.. aku yakin dia sangat kuat. ” batinnya.
Deiki menoleh sekeliling, “baiklah kalian semua, tujuh hari dari sekarang kita akan pergi ke Desa Pedang Kembar, kalian akan melakukan pertarungan dengan Desa lain. ” ucapnya.
“Desa lain.?! ” tanya Jiromaru.
“benar, tidak hanya Desa Pedang Kembar, tapi Desa Sanji dan Desa Arkan juga.” jawab Deiki, “tidak akan ada keluarga yang mendukung kalian, tapi.. pimpinan Desa Yama akan ada di sana untuk melihat kalian, jadi jangan kecewakan dia.. ” lanjutnya.
“siapapun diantara kalian yang ingin berlatih, aku menunggu kalian di sini setiap hari, aku akan menjadi guru kalian. ” ucap Deiki, “dan satu lagi.. mulai sekarang kalian bersepuluh menjadi murid elite Desa Yama. ” dia bersemangat.
“bersepuluh.?! ” Aozora tertegun.
“benar, kalian berdua termasuk. ” Deiki menoleh Aozora dan Ryugu.
“tapi, kami belum sempat bertarung.. ” Aozora terlihat kesal.
“memang benar, tapi kalian tidak menyerah disaat banyak orang yang menyerah saat melihat kekuatan Saken. ” ucap Deiki, “itu sudah cukup untuk memperlihatkan mental kalian. ”
Deiki menoleh sekeliling, “baiklah, aku rasa hanya itu yang ingin ku sampaikan.. aku akan pergi.! ” setelah itu Deiki langsung menghilang.
Sansiro dan Yoja masih berdekatan, namun keduanya tidak saling menatap.
tiba-tiba Yoja mengarahkan tangan kanannya ke arah Sansiro untuk bersalaman, “Sansiro.” ucapnya.
“eh.?! ” Sansiro tertegun, namun kemudian tersenyum sambil menyambut tangan Yoja, keduanya bersalaman.
Yoja tersenyum hangat, “jujur aku benci mengatakan ini, tapi kau benar-benar kuat, Sansiro.. semangat mu tidak tertandingi, aku tidak yakin bisa mengalahkan mu jika pertarungan dilanjutkan. ” ucapnya, “tapi.. jika kita bertarung lagi.. aku tidak akan kalah. ”
Sansiro tersenyum, “benarkah? aku jadi tidak sabar untuk bertarung lagi dengan mu. ” ucapnya.
“untuk sekarang, demi Desa Yama.. kita harus bertarung bersama, mengalahkan semua orang dari Desa lain. ” Yoja tersenyum.
“dengan kata lain, kau ingin menjadi teman ku, benar bukan.?! ” Sansiro tersenyum.
Brakk..
Sinam menempel di bahu Sansiro secara tiba-tiba, “oi, Sansiro, ayo pulang.! ” ucapnya.
Sinam menatap ke atas langit, “tujuh hari lagi.. tujuh hari lagi.. orang dari Desa lain akan menjadi lawan kita.. aku tidak sabar untuk bertarung dengan mereka.. aku bisa menjadi lebih kuat lagi dan lebih kuat lagi.. ” gumamnya.
Saken, Yoja, Harumi, Kaori, Jiromaru, Thakesi, Aozora dan Ryugu memandang Sinam, terlihat mereka tersenyum tipis.
“padahal tadi kalah, tapi berlagak sombong, dasar anak aneh.! ” Harumi menyindir Sinam.
“apa katamu?! memangnya kau pikir kau menang.?! ” balas Sinam.
“berisik.!! ” Sansiro ikut-ikutan.
__ADS_1
Saken tersenyum tipis, “ternyata mereka semua memang berisik.! ” batinnya dengan mata terpejam.