SINAM

SINAM
Terkepung


__ADS_3

Sinam menatap kelima orang yang saat ini tersenyum jahat, “cih, mereka kuat. ” batinnya.


Satoji terlihat kesal menatap kelima orang musuhnya, dia menggertakkan gigi, lalu menoleh Sinam, “sudah seperti ini.. aku tidak bisa lari lagi.. lagipula Sinam ada di sini.. ” batinnya.


“Sinam, aku akan mencoba menahan mereka, jika ada kesempatan kau lari saja.! ” teriak Satoji.


Sinam tertegun menoleh Satoji, kemudian tersenyum semangat, “sudah kukatakan, aku tidak akan meninggalkan teman ku sendirian.. ” ucapnya penuh keyakinan.


Satoji tertegun menatap Sinam, lalu tersenyum bahagia.


“sudah cukup omong kosongnya, kalian tidak akan bisa lari.! ” teriak salah seorang musuh.


Tap... Tap..


setelah itu, keempat musuh maju secara bersamaan dari segala arah, terlihat seorang hanya berdiri dan menyaksikan.


Satoji melirik Sinam, “Sinam, hati-hati..! ” ucapnya lalu bersiap menghadapi musuh.


Sinam tersenyum, “Satoji, ayo maju.! ” ucapnya.


“dasar anak-anak sombong.! ” teriak salah seorang sambil mengayunkan pedang.


Wushh..


tebasan demi tebasan dilesatkan lawan, dengan segala usaha Sinam dan Satoji mencoba menghindari dengan berlompatan ke sana kemari.


Buaakk.. Buukk..


Sinam dan Satoji mencoba membalas, mereka melepaskan pukulan serta tendangan, namun musuh dengan mudah menahan.


“mereka cepat..! ” gumam salah seorang musuh.


“tapi aku yakin mereka tidak bertahan lama.. ” sahut yang lainnya.


Buaakk..


Satoji berhasil menendang lawan dari belakang saat mengeluarkan tebasan, orang itu langsung tersungkur.


Srakk..


Satoji merebut pedang orang tersebut, lalu mengarahkan tebasan kearah orang itu.


“matilah dasar sialan..!! ” Satoji berteriak dengan mata penuh kebencian.


detik berikutnya, darah langsung berceceran ke udara, terlihat tubuh orang tersebut terkoyak dari bagian belakang, orang itu tewas seketika.


Satoji menatap mayat orang yang baru saja dibunuhnya, wajahnya terlihat sangat mencekam, “akan ku bunuh kalian semua.. ” dia tersenyum jahat.


Sinam masih bertarung, dia terlihat kewalahan, “padahal dua lawan satu, tapi.. Satoji bisa menekan mereka.. hebat..! ” batinnya.


Satoji melirik salah seorang musuh yang berdiri di dekatnya, “sekarang, giliran mu..! ” dia tersenyum jahat.


orang tersebut terlihat kesal, “beraninya kau membunuh sahabat ku, aku akan membunuhmu..! ” lalu melesat maju kearah Satoji.


Trang.. Cting..


Satoji dan musuhnya bertarung satu lawan satu, keduanya beradu tebas, terlihat percikan api muncul saat kedua logam berbenturan, keduanya terlihat seimbang.


“cih, apa-apaan ini? aku sudah mengeluarkan semua kemampuan ku, tapi kenapa anak ini bisa mengimbangi ku..? ” batin orang yang berhadapan dengan Satoji, wajahnya terlihat kesal.


di samping itu, terlihat satu orang lagi memandangi pertarungan, sepertinya dia tidak berniat maju.


“anak dari Klan Taro memang tidak bisa diremehkan, mereka memiliki Shaka yang besar, kemampuan berpedang mereka juga sudah diakui. ” batin orang itu sambil tersenyum, “mungkin aku akan menjualnya dengan harga mahal, aku akan kaya.. ” sepertinya dia adalah ketua dari kelima orang itu.


Blaak..


Satoji terhempas, tubuhnya menghantam batang pohon, dari mulut Satoji keluar sedikit darah, dia terduduk bersandar di pohon.


“Satoji..!! ” Sinam berteriak keras.


“lihat kemana kau dasar bocah..?! ” salah seorang memukul wajah Sinam.


Buakk..


Sinam terlempar jauh, lalu menghempas pohon, kemudian tergeletak.


“Sinam..?! ” Satoji berlari kearah Sinam.


orang yang berhadapan dengan Satoji menghalangi Satoji, “kita belum selesai, dasar bocah.. ” dia tersenyum jahat, “akan ku buat kau kelelahan sampai tidak bisa bergerak. ” lanjutnya.


Satoji terlihat kesal, menggenggam erat pedang dengan kedua tangannya, lalu melesat maju sambil mengarahkan tebasan penuh tenaga.

__ADS_1


Ctang...


pedang Satoji dan musuhnya saling bergesekan, keduanya terdorong mundur lalu maju kembali.


disisi lain, Sinam memaksakan diri untuk kembali berdiri, dia menatap kesal dua lawannya.


“level bertarung mereka lebih tinggi dibandingkan aku, lalu.. mereka berdua, aku kalah jumlah.. ” batin Sinam.


salah satu menatap Sinam, “oi, bocah.! kau terlalu lemah, kami tidak tertarik kepada mu, jika kau ingin pergi, silahkan pergi. ” ucapnya sambil tersenyum jahat.


“jika kau terus melawan, kau akan mati, kami masih belum serius. ” sahut yang lainnya.


Sinam terlihat kesal, lalu menoleh Satoji yang masih terus bertarung dengan lawannya, kemudian menatap tajam dua lawannya, “seharusnya kalian tahu apa jawaban ku, aku adalah temannya, aku tidak akan meninggalkannya dalam situasi seperti ini. ” ucapnya yakin.


kedua orang itu terlihat kesal, “cih, sepertinya kau memang sudah bosan hidup.! ” ucap salah satunya, keduanya bersiap maju.


Sinam menatap kesal kedua lawan, “ aku belum menguasai Jurus Dua Sentuhan, bagaimana ini.? ” batinnya, “tapi, mungkin ini bisa jadi kesempatan ku untuk menguasainya. ”


Sinam tersenyum, “aku kecewa dengan kalian, aku pikir kalian petarung hebat, tapi.. hanya sebatas ini saja.. ” ucapnya semangat.


“eh.?! ” kedua lawannya terkejut, “apa dia mencoba memprovokasi kita.? ” mereka kebingungan.


Sinam menunjuk kedua lawannya dengan telunjuknya, “aku menantang kalian bertarung dengan tangan kosong.! ” ucapnya sambil tersenyum, “biasanya orang yang merasa lebih kuat mudah terpancing. ” batinnya.


“aku merasa bodoh karena terprovokasi, tapi.. ” salah satu lawan tersenyum, “aku menerima tantangan mu, aku akan menghadapi mu sendirian. ” dia menyarungkan pedangnya.


“baiklah, aku juga tidak terlalu suka menyiksa anak-anak. ” sahut yang lain.


salah satu melesat kearah Sinam, saat dekat dia langsung mengarahkan tinju, Sinam menahan, tapi dia terdorong beberapa langkah.


Sinam terlihat serius, “satu sentuhan.. ” batinnya.


Sinam melesatkan tendangan, lawannya dengan santai menahan dengan tendangan.


“dua sentuhan.. ” batin Sinam, dia melihat lawannya masih bergerak, “sudah kuduga, tidak akan semudah itu. ”


“ada apa? kenapa kau lemah sekali.? ” ejek musuhnya.


Sinam kembali maju, “sekali lagi, aku yakin bisa.! ” batinnya.


Buaakk.. Bukk..


Sinam menyerang dengan tinju, lalu disusul dengan tendangan, kedua serangannya cukup memiliki jeda.


Sinam memejamkan mata, “Jurus Dua Sentuhan.. aku sudah memusatkan Shaka di bagian tubuh ku yang bersentuhan dengan tubuh lawan, Shaka ku juga sudah merasakan Shaka lawan, tapi.. kenapa masih gagal.? ” batinnya.


“kenapa? apa kau sudah putus asa.?! ” lawan Sinam meremehkan.


Sinam membuka mata lebar, “kali ini pasti bisa.! ” dia terlihat serius, lalu maju.


Buaakk..


Sinam melesatkan tinju, dengan santai lawannya menahan.


“satu.. ” gumam Sinam.


Grebb..


detik selanjutnya, leher Sinam terkena cengkraman lawan yang sangat erat, dia terlihat kesakitan.


“Akh..!! ” Sinam memuntahkan sedikit darah, “sial, padahal sedikit lagi..” batinnya, “tidak! tubuh ku bersentuhan dengannya, ini kesempatan ku.!! ”


“matilah..! ” lawan terus mempererat cengkraman, dia tersenyum jahat.


Sinam kesakitan, “aku mohon.. terkuncilah..!! ” batinnya.


lawan Sinam terkejut, “ada apa ini? ada apa dengan tubuh ku.?! ” ucapnya.


“berhasil..?! ” Sinam terkejut, “sekarang kesempatan ku.! ”


Sinam mencoba mengambil pedang lawan namun tidak sampai, lehernya masih tertahan cengkraman, “sial, ini hanya bertahan sepuluh detik. ” kemudian mengayunkan kedua kakinya untuk mengambil pedang yang berada di bahu belakang lawan.


“sudah bisa bergerak.?! ” lawan Sinam mulai bergerak.


Zrashh...


Sinam mengoper pedang dari kaki ke tangannya, lalu memotong tangan lawannya, darah langsung mengucur.


orang itu terkejut, “AAAKKHH..!!! ” kemudian berteriak sekeras-kerasnya, dia memegangi tangannya yang puntung.


Cep...

__ADS_1


tidak membuang kesempatan, Sinam melepaskan tusukan kearah jantung lawan.


Sinam menekankan pedangnya ke tubuh lawan, “matilah.. ” ucapnya, lalu menarik pedangnya.


“akh..! ” lawan Sinam memuntahkan darah, lalu kehilangan keseimbangan dan akhirnya tumbang.


Sinam menatap mayat sejenak, ekspresinya semakin lama berubah, dia terlihat ketakutan, “ aku membunuh..?! ” dia memandang kedua telapak tangannya yang berbalut darah.


Tap.. Tap..


melihat temannya telah telah terbunuh, orang lainnya langsung maju secara tiba-tiba, dia menarik pedangnya.


“bocah sialan, beraninya kau membunuh temanku.!! ” teriak orang itu.


Sinam menoleh orang itu, dia mencoba menahan tebasan lawan dengan pedang.


Buaak..


detik berikutnya, lawan melesatkan tendangan keras yang mendarat di perut Sinam, Sinam terhempas, berguling-guling lalu tergeletak di tanah.


Sinam masih tergeletak dengan telungkup, matanya menatap tanah, “menjadi petarung berarti kita siap bertarung demi sesuatu yang berharga bagi kita... bertarung adalah kata lain dari saling membunuh, tapi.. ” batinnya, “kenapa aku merasa bersalah saat membunuh musuh, apakah semua petarung merasakan hal yang sama ketika membunuh musuh pertama kali. ” lanjutnya.


Tap.. Tap..


musuh Sinam berjalan perlahan kearah Sinam, dia masih memegang pedang.


orang itu sudah berdiri di dekat Sinam yang masih tergeletak, “aku akan menyiksa mu terlebih dahulu. ” dia terlihat sangat marah.


Buaakk.. Bukk..


orang itu menginjak dada Sinam dengan sangat keras, lalu menendang tubuh Sinam yang langsung terhempas menghantam batang pohon.


Ctaang..


disisi lain, Satoji sudah kewalahan, lawan menyerang secara bertubi-tubi dengan tebasan, dia tidak bisa menangkis semuanya, tubuhnya banyak tergores.


“aku kehabisan stamina.. ” batin Satoji.


“aku memang tidak akan membunuhmu, tapi bukan berarti aku tidak akan menyiksa mu.! ” musuh Satoji melesatkan tendangan.


Buaakk..


secara telak, ujung kaki musuh menghantam dada Satoji, tubuh Satoji terpental jauh lalu tergeletak.


di samping itu, orang yang dari tadi hanya menonton tersenyum jahat, “sepertinya sekarang waktu yang tepat.. ” gumamnya, dia menatap Satoji dan Sinam yang tergeletak.


setelah itu, orang itu melemparkan dua pisau, satu kearah orang yang berhadapan dengan Sinam, satunya lagi kearah orang yang berhadapan dengan Satoji.


Cep..


pisau menusuk sasaran dengan lurus dari belakang, darah langsung mengalir.


“eh.?! ” kedua orang itu terlihat terkejut, lalu menoleh kebelakang, tepatnya kearah orang yang melemparkan pisau.


“ketua..?! ”


“kenapa.?! ”


keduanya berucap secara bergantian, dari sudut bibir mereka keluar darah.


ketua mereka tersenyum jahat, “tugas kalian suka selesai, aku ingin menikmati uang itu sendirian. ” jawabnya, “pisau itu beracun, jadi matilah dengan tenang..! ”


Bukk..


kedua orang ini mulai hilang kesadaran bersama pandangannya yang memudar, lalu tumbang dan tergeletak, mereka berdua mati dengan tubuh membiru.


Satoji masih tergeletak, dia mencoba berdiri tapi tidak bisa, “lawan tinggal satu orang.. tapi, tubuhku sudah tidak sanggup berdiri lagi. ” batinnya kesal.


pria itu tersenyum jahat sambil berjalan kearah Satoji, dia mengeluarkan tali, “sekarang tinggal membawa anak dari Klan Taro ini.. lalu sisanya tinggal menikmati uang.. ” gumamnya.


Satoji menatap pria itu penuh kebencian, “ berhentilah menganggapku seperti barang, dasar sialan..!! ” teriaknya, dia mulai duduk.


“berisik..!! ” teriak orang itu, lalu mengayunkan tendangan.


Buaakk..


dengan langkah tidak karuan, Sinam berlari dan meninju orang itu hingga terjatuh, Satoji tidak sempat terkena tendangan.


“hosh.. hosh.. ” Sinam mengatur nafas, lalu menoleh Satoji, “Satoji.. apapun yang terjadi, aku tidak akan menyelamatkan mu.. ” dia tersenyum.


Satoji menatap Sinam, dia hanya terdiam.

__ADS_1


pria tadi kembali berdiri, “padahal awalnya aku tidak ingin membunuhmu, tapi.. ” dia melirik tajam Sinam, “sekarang aku berubah pikiran.. aku akan membunuhmu.!! ”


__ADS_2