
Ctaang..
dua sabit Ryugu berbenturan dengan dua pedang Satoru, keduanya saling tebas.
Sraak..
setelah saling gesek, keduanya terhempas mundur, namun masih dalam posisi berdiri.
Satoru tersenyum jahat, “ yang satu ini memang lumayan, dan dia memiliki wajah yang datar. ” batinnya.
Ryugu menatap datar Satoru, lalu menoleh kearah Sinam, “ entah apa yang membuat ku berpikir untuk menyelamatkannya.. tapi kenyataannya aku sudah ada di sini. ” batinnya.
Sinam menatap Ryugu dari kejauhan, dia tercengang, “ Ryugu.. saat di Desa Pedang Kembar dia mengeluarkan kekuatannya.. dia benar-benar kuat, tapi.. ” batinnya, lalu menoleh Satoru, “ orang itu sangat kuat, aku harus membantu Ryugu. ” lanjutnya.
Sinam yang dalam posisi duduk, mencoba berdiri dengan tubuh bergetar, “ cih. ” dia terlihat kesakitan.
“ sudah aku katakan, mulai sekarang aku yang mengambil alih pertarungan, kau duduk manis saja di situ. ” ucap Ryugu tanpa menoleh Sinam.
Sinam menatap Ryugu, “ tapi.. ” ucapnya.
Ryugu melirik tajam Sinam, “ kau.. tidak bisakah kau berhenti menyakiti diri sendiri hanya untuk orang lain.? ” ucapnya, dia terlihat mencekam.
Sinam terdiam, namun dia terlihat kesal.
Ryugu menatap Satoru datar, “ kalau begitu, ayo kita akhiri ini.! ” lalu bergerak maju.
“ kita akhiri? ini baru saja di mulai. ” Satoru terlihat bersemangat.
Ryugu terus melangkah, “ jangan menyakiti jika tidak disakiti, itulah kata-kata yang menjadi pedoman hidup ku, tapi kali ini.. ” dia terus memburu Satoru, “ sebelum di sakiti, aku akan menyakiti. ” lanjutnya.
Satoru berlari kearah Ryugu, “ kenapa aku tiba-tiba jadi semangat seperti ini? tidak, bukan aku, ini.. ” batinnya, lalu melirik kearah kedua pedangnya, “ kedua pedang ku seperti haus darah, seolah ingin menebas anak ini. ” lanjutnya.
Ctaang.. Ctiing..
keduanya kembali bergesekan, dengan gerakan super cepat, Satoru dan Ryugu beradu serangan, setiap benturan menghasilkan percikan api bersama suara besi beradu yang menyakitkan telinga, keduanya terlihat seimbang.
Satoru terus melesatkan tebasan, “ dia mengimbangi ku. ” dia tersenyum jahat, “ dan sepertinya staminanya lebih bagus daripada anak yang tadi, menarik.. ”
Wuushh..
Satoru melesatkan tebasan kearah kepala Ryugu dengan gaya memotong, Ryugu menghindari sambil membalas dengan melesatkan tebasan sabitnya.
Buuaakk..
Satoru berhasil menghindari tebasan sabit Ryugu, namun detik selanjutnya telapak kaki Ryugu sudah mendarat di wajah Satoru, dia terkena tendangan dengan telak.
Buaakk.. Booomm..
dengan dahsyatnya, tubuh Satoru terhempas jauh dan menabrak pepohonan sampai tumbang, lalu terdengar suara dentuman di kejauhan bersama kepulan debu yang mengudara, sepertinya laju tubuh Satoru sudah terhenti.
Sinam terkejut menatap bekas tubuh Satoru yang terhempas menghancurkan pepohonan, “ padahal hanya tendangan.. tapi.. ” batinnya lalu menoleh Ryugu.
Ryugu berwajah datar, dia menatap ke suatu arah, tepatnya kearah debu yang menggumpal, sepertinya dia menunggu Satoru untuk kembali.
dari kepulan debu, Satoru keluar dengan tubuh baik-baik saja, hanya bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, dia tersenyum jahat, “ benar-benar kekuatan yang luar biasa, siapa sebenarnya anak ini.? ”gumamnya, saat ini dia masih berjauhan dengan Ryugu.
Tap..
Satoru bersiap untuk melompat, tanah tempat dia berpijak hancur, lalu melesat cepat dengan sekali lompatan tinggi.
Ryugu menatap datar ke suatu arah, “ masih baik-baik saja, ya.. ” gumamnya.
Tap..
Boom..
Satoru mendarat dengan dahsyat, tanah tempat dia berpijak langsung hancur dan menimbulkan debu menggumpal.
Sinam memandang kearah Satoru, “ dia.. baik-baik saja.? ” dia terkejut.
setelah beberapa saat tertutup debu, akhirnya tubuh Satoru terlihat, angin bertiup mengobrak-abrik rambut Satoru dan Ryugu.
“ baiklah kalau begitu. ” ucap Ryugu datar, dia mulai bersiap memasang kuda-kuda, “ bagaimana dengan yang ini.? ” lanjutnya.
Satoru bersiap, “ dia mengeluarkan Jurus.? ” batinnya serius.
__ADS_1
“ Jurus Sabit, Tebasan Pencabik. ” ucap Ryugu sambil memain mainkan kedua sabitnya.
Blaarr..
beberapa saat kemudian, tiba-tiba darah muncul dan menari-nari mengikuti gerakan sabit Ryugu, lalu darah tersebut melesat kearah Satoru dengan ukuran yang semakin melebar, terlihat tipis namun begitu tajam.
“ darah.? ” Satoru terkejut, “ sepertinya aku terlalu meremehkannya. ”
Satoru memasang kuda-kuda seperti elang yang siap menerkam, “ Jurus Pedang, Tebasan Pemecah Kesunyian. ” Satoru menjurus, lalu memain mainkan kedua pedangnya.
Ciiing..
detik selanjutnya, terdengar suara menyakitkan telinga dari Jurus Satoru, itu tercipta akibat kecepatan pedang Satoru yang bergesekan dengan udara.
“ akh..! ” Sinam kesakitan sambil menutupi telinganya, “ Jurus ini.. ”
Buuk..
kedua lutut Sinam terjatuh ke tanah, dia kesakitan.
sesaat kemudian, dari gesekan pedang Satoru, tercipta Shaka merah yang berbentuk seperti tebasan yang beribu-ribu, kemudian melesat kearah serangan Ryugu dan melebar.
“ gawat, mereka beradu Jurus. ” Sinam memaksa diri untuk berdiri, “ aku harus bersiap dengan dampaknya. ” lalu bergerak menjauh.
Wussh..
jarak serangan Jurus Ryugu dan Satoru semakin dekat, tebasan darah tipis dan tajam yang terlihat mematikan, melawan tebasan Shaka merah yang terlihat mengerikan, namun keduanya masih berdiri di tempatnya.
“ enyahlah.! ” gumam Ryugu dengan wajah datar, tekanan udara menghempaskan rambutnya.
“ berakhir. ” Satoru tersenyum jahat, rambutnya juga terhempas kesana-kemari, itu terjadi akibat hempasan udara yang tercipta akibat jurus keduanya.
Booommm..
kedua Jurus tersebut bertabrakan, untuk sesaat cahaya warna-warni menghiasi, dan akhirnya terjadi ledakan super dahsyat.
Zuoorr..
ledakan terdengar bersama melebarnya cahaya menghancurkan segalanya, bumi berlubang karena tanahnya termakan, pepohonan lenyap entah kemana, lalu hempasan udara datang menyusul bersama debu yang melingkari tempat itu.
Satoru menatap datar ke depan, rambutnya tidak beraturan terhempas udara, hingga akhirnya tubuhnya juga ikut terlempar jauh.
Sinam tergeletak, dia menggenggam erat sebuah batu yang menyatu dengan tanah, dia mencoba menahan agar dirinya tidak terhempas.
“ benar-benar kekuatan yang dahsyat, jadi ini yang terjadi ketika dua Petarung beradu Jurus level tinggi. ” batin Sinam, rambutnya terhempas kesana-kemari.
Sraak
Satoru melayang di udara, tiba-tiba lengannya tergores terkena sisa Jurus Ryugu, darah tajam yang berukuran seperti mata anak panah, darah keluar dari lengan Satoru.
setelah beberapa saat kemudian, suasana mulai tenang, terlihat sebuah lubang dibumi cukup dalam dan besar, sementara di pinggirannya pepohonan hancur berantakan.
Tap...
setelah cukup lama terpisah, Ryugu dan Satoru kembali saling mendatangi, keduanya melompat dan mendarat di tengah lubang tersebut, namun keduanya berjarak dan saling menatap.
Ryugu menatap datar Satoru, “ untuk seorang manusia, kau hebat juga.. ” ucapnya datar.
Satoru terkejut, lalu tersenyum jahat, “ begitu, ya.. jadi kau memang bukan manusia. ” ucapnya.
Ryugu tersentak, dia terlihat bingung mengingat perkataannya barusan, “ apa yang baru saja kukatakan? memangnya aku ini apa.? ” batinnya, dia memegangi kepalanya.
Tes..
darah terus menetes dari lengan Satoru, luka akibat serangan darah Ryugu.
Satoru melirik lengannya, dia terlihat serius menatap darahnya yang tak hentinya mengalir, “ darahku terus menetes.. ” batinnya, “ begitu, ya.. jadi dampak Jurus darahnya membuat luka musuh terus mengeluarkan darah.. ” dia tersenyum jahat.
Sraak..
Satoru mengeluarkan tali, lalu menjahit lukanya dengan santai.
Satoru mengikat tali dengan bantuan mulutnya, “ yang seperti ini.. bukanlah ancaman bagiku. ” batinnya, lalu melirik Ryugu sambil tersenyum jahat.
Satoru memusatkan Shakanya yang berwarna merah di dua jarinya, lalu meletakkannya di dekat lengannya yang terluka, sepertinya dia mengobati luka itu.
__ADS_1
“ karena aku.. menguasai ilmu medis.. ” batin Satoru.
Tap..
Sinam berdiri di pinggir lubang tersebut, dia memandangi Ryugu dan Satoru dari kejauhan.
Sinam terkejut, “ padahal baru beradu Jurus.. tapi mereka terlihat baik-baik saja. ” gumamnya.
Sinam menatap Ryugu dari kejauhan, “ dia berhasil menghadapi orang itu sendirian.. Ryugu, kau benar-benar kuat. ” batinnya.
beralih ke tempat Matsuda dan Sansiro serta yang lain, mereka masih berada di gerobak kuda yang terus bergerak cepat.
Ctas..
Matsuda memukul kuda dengan tali, dia terlihat berkeringat dingin dengan wajah penuh harap, sesekali dia menoleh ke belakang.
“ sedikit lagi, ayolah, tinggal sedikit lagi sampai Sanji. ” batin Matsuda, sementara Sansiro, Harumi, dan Kaori tertidur dengan luka di sekujur tubuh.
di gerobak kedua, Aozora terlihat cemas, dia menoleh kearah Yoja, Jiromaru, serta Thakesi yang terlelap dalam luka di tubuh mereka.
“ Sinam.. Ryugu.. bertahanlah.. ” mata Aozora berkaca-kaca.
Tap..
tepat di saat itu, tiba-tiba muncul seseorang di tengah jalan, menghalangi langkah kuda pertama, yaitu tempat Matsuda berada.
kuda berteriak, lalu menghentikan langkah, begitu juga dengan kuda kedua, tempat Aozora berada.
“ eh.?! ” Matsuda terkejut, lalu menatap depan, di situ terlihat seorang pemuda yang sebagian wajahnya tertutupi, itu adalah Akaza.
“ orang ini.. ” Matsuda terlihat serius, “ sepertinya anak bernama Sinam itu berhasil menahan si Setan Merah, kalau begitu aku harus bisa mengurus orang ini. ” batinnya.
Akaza menatap Matsuda, “ serahkan uang hasil kau menjual senjata dari Kaisar Besi, jika tidak.. ” matanya terlihat mencekam, “ ku bunuh kau.!! ” lanjutnya.
Matsuda terlihat serius, lalu mengeluarkan kantong uang dari tasnya, “ baiklah. ” ucapnya.
Tap.. Tap..
Matsuda turun dari gerobak, lalu jalan perlahan mendekati Akaza, dia menunduk sambil tersenyum jahat.
Akaza menatap tajam Matsuda, dia terlihat berpikir.
“ ini semua uangnya. ” Matsuda bersiap menyerahkan, dan Akaza bersiap menerima.
Sring..
tiba-tiba Matsuda mengeluarkan pisau dari lengan bajunya, dia mengarahkan tusukan ke perut Akaza.
“ kena kau.. ” teriak Matsuda.
Zraasshh..
darah berceceran ke segala arah, namun malah Matsuda yang terlihat kesakitan, hingga akhirnya tumbang.
Sriing..
Akaza kembali menyarungkan pedangnya, “ aku menawarkan kebaikan dan kau malah memanfaatkannya, sayang sekali kau harus berakhir. ” ucapnya sambil menatap Matsuda yang tergeletak dengan tubuh hampir terpotong dan mengeluarkan darah.
Aozora tersadar dari lamunannya, dia menoleh kudanya yang terhenti, “ berhenti? apa yang terjadi.? ” dia sedikit terkejut.
Tap..
Aozora mencoba turun dengan tubuh bergetar, dia terlihat kesakitan.
Aozora menatap Matsuda yang tewas mengenaskan, lalu menoleh Akaza yang memegangi kantong uang, seketika dia tersentak.
Sriing..
Aozora mengeluarkan cakar besinya, “ aku tidak akan membiarkan mu menyakiti teman-teman ku. ” ucapnya menatap tajam Akaza.
Akaza menatap Aozora, “ memangnya siapa yang mau membunuh teman-teman mu? buang-buang waktu saja. ” ucapnya datar, lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah santai.
“ eh.?! ” Aozora kebingungan.
Akaza memainkan kantong uang, melempar keatas dan menangkapnya kembali sambil berjalan, “ uang ini sangat banyak, jika aku tidak kembali ke Kaisar Besi, mungkin.. ” gumamnya, “ hehehe.. aku butuh kekuatan, bukan uang, karena aku adalah seorang Petarung. ” lanjutnya tertawa sebelum berbicara.
__ADS_1