SINAM

SINAM
Jurus Dua Raga


__ADS_3

Tap.. Tap..


Sinam berjalan semangat di hari yang masih pagi ini, sementara Deiki dan kesembilan temannya mengikuti dari belakang.


Sansiro mempercepat langkahnya untuk menyusul Sinam, “ padahal aku saja sudah mulai bosan, tapi kau tetap semangat. ” ucapnya pada Sinam.


Sinam menoleh Sansiro, “ tidak seperti kau saja, Sansiro. ” ucapnya.


“ sepertinya aku kurang istirahat.. tidur tadi malam terasa begitu singkat. ” jawab Sansiro lesu.


“ aku baru tahu seorang Sansiro bisa lelah. ” ucap Sinam.


“ hey, guru Deiki, mau sampai kapan kita terus berjalan.?! ” teriak Harumi.


“ padahal baru saja mulai berjalan, tapi aku sudah sangat lelah. ” lanjut Kaori.


Deiki menoleh Harumi dan Kaori, “ bertahanlah sedikit lagi, sebentar lagi juga sampai di desa Yama. ” jawabnya, dia juga terlihat kelelahan.


“ huh, sepertinya aku sudah berulang kali mendengar jawaban itu. ” keluh Harumi.


Sansiro menoleh kearah Harumi dan Kaori, “ lihatlah dua monyet itu, mereka terus saja mengeluh. ” ucapnya agak keras lalu melirik Sinam.


“ pelan kan suara mu Sansiro, nanti mereka dengar.! ” lanjut Sinam namun suaranya lebih leras dari Sansiro.


“ apa maksud mu, ha.?! ” Kaori menatap Sansiro dan Sinam.


“ dan kau berpikir kami tidak mendengarnya.?! ” lanjut Harumi terlihat marah.


Sinam menatap Harumi dan Kaori, “ tidak, mungkin kau salah mendengarnya.. ” jawabnya.


“ jangan bercanda.. ” Harumi dan Kaori mendekati Sinam dan Sansiro dengan ekspresi mencekam.


“ gawat.! ” Sansiro menelan ludah.


Buukk.. Buaak..


“ Aaaakkhh..! ”


“ tolong..!! ”


beberapa saat kemudian, terdengar suara orang memukul seseorang, lalu disusul dengan teriakan.


“ kami minta maaf.! ” ucap Sinam dan Sansiro dengan wajah bengkak sana-sini, keduanya memegangi kepalanya.


Deiki menatap kelakuan muridnya itu, “ ada-ada saja. ” batinnya menghela nafas.


Saken memandang kearah Sinam dan yang lain, “ sekali berisik, mereka akan tetap berisik. ” gumamnya pelan, namun dia tersenyum tipis.


★★★★★


Uhara dan Abame mendarat, keduanya saling membelakangi dengan jarak cukup dekat.


Deg..


Uhara tersentak, “ kenapa ini? tubuh ku terasa kaku.! ” batinnya, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Abame tersenyum sambil melirik ke belakang, “ Jurus Dua Sentuhan, berhasil.! ” batinnya.


Tap..


detik selanjutnya, Abame berbalik dan melompat kearah Uhara sambil melepaskan tendangan dari belakang.


Buaakk..


dengan telak, tendangan keras Abame menghantam punggung Uhara yang langsung terhempas jauh.


Booomm..


tubuh Uhara menghantam batang pohon yang langsung tumbang, tubuhnya terus terhempas.


Uhara masih belum bisa bergerak, “ sial. ” batinnya.


Buuaakk..


tubuh Uhara masih belum terhenti dari terhempas, Abame menyusul dan mendaratkan tendangan yang menghantam wajah Uhara dengan keras.


Brraakk..


tubuh Uhara menghantam tanah berbentuk tebing, debu tebal langsung menggumpal dan menutupi tempat itu.


Abame menatap debu yang menggumpal, tatapannya terlihat datar.


Syuutt..


beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang, disitu terlihat Uhara masih menempel di dinding tanah, terdapat sedikit darah di bibirnya.


Uhara menatap Abame kesal, “ dia.. benar-benar berbeda dari guru Abame yang kukenal. ” batinnya.


Abame menatap Uhara sambil tersenyum jahat, kemudian memiringkan kepala, “ bagaimana.? ” dia bertanya.


Uhara membenarkan posisi, dia menatap Abame dengan serius, disisi lain Abame berjalan perlahan mendekati Uhara.

__ADS_1


kini, jarak antara Uhara dan Abame hanya sekitar tiga meter, keduanya menatap tajam dengan rambut yang di terpa angin.


“ dia bisa mengunci pergerakan lawan hanya dengan beberapa pukulan, itu yang jelas.. yang berikutnya aku harus waspada. ” batin Uhara serius.


Greb..


Uhara menggenggam gagang pedangnya yang berada di pinggang, dia bersiap menariknya.


Abame menatap Uhara sambil tersenyum, “ kau benar-benar jenius Uhara, padahal baru sekali terkena Jurus ku, tapi kau sudah memahaminya. ” ucapnya sambil melirik tangan Uhara yang bersiap menarik pedang.


Sring..


Buaakk..


Uhara menarik pedangnya, namun Abame menendang ujung gagang pedang tersebut sehingga kembali masuk.


“ tidak akan ku biarkan.! ” ucap Abame.


“ cih.! ” Uhara terlihat kesal.


Blaak.. Buaak..


Uhara berusaha menarik pedangnya, namun Abame terus menyerang, akhirnya Uhara mengangkat pedang tersebut bersama sarungnya untuk menahan pukulan Abame.


“ jadi kau sudah tahu pukulan ku bisa membuat mu tidak bisa bergerak, dan kau menahan pukulan ku dengan sarung pedang mu, kau benar-benar hebat Uhara.! ” teriak Abame sambil tersenyum.


Buaakk..


tendangan keras Abame tertuju pada Uhara yang langsung menahan dengan sarung pedang, dia menahan sarung pedang tersebut dengan kedua tangannya.


Sraak..


Uhara terdorong ke belakang, namun dia masih dalam posisi berdiri, kini keduanya cukup berjarak.


Uhara menatap tajam Abame, “ pimpinan tidak mengatakan bahwa guru Abame mampu melumpuhkan pergerakan lawan, tapi.. ” batinnya, dia bersiap menarik pedangnya, pantulan cahaya matahari yang menimpa pedang tersebut terlihat begitu mengancam.


Abame menatap Uhara sambil tersenyum, “ sepertinya kau mulai serius. ” ucapnya.


“ kau benar-benar kuat guru Abame, aku beruntung pernah menjadi murid mu. ” ucap Uhara.


Abame mengubah ekspresi menjadi datar, “ aku juga bangga pernah menjadi guru seorang petarung seperti mu, Uhara.. kau rela mengorbankan dirimu menjadi pembunuh demi Yama. ” ucapnya serius, “ tapi tetap saja itu salah. ” lanjutnya.


“ terlepas dari benar atau salah, hanya itu yang bisa ku lakukan sebagai manusia. ” jawab Uhara datar.


Sring..


Uhara menjatuhkan sarung pedang, lalu menarik nafas panjang dan dalam.


“ apa yang akan dia lakukan.?! ” Abame terkejut.


Abame tersentak, “ cepat sekali.! ”


Zrashh..


Tiba-tiba Uhara muncul dan mengarahkan tebasan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi, Abame mencoba menahan namun tetap saja kewalahan, tubuhnya tersayat cukup parah dan mengeluarkan darah.


Tap..


Uhara melewati Abame, kini dia berdiri di belakang Abame cukup jauh, di pedangnya terdapat darah yang masih segar.


Bukk..


Abame masih berdiri, namun tiba-tiba dia terjatuh, tubuhnya penuh luka cukup dalam dan mengalir darah segar, dia seolah sudah tewas.


Uhara menghembuskan nafas kasar, “ selesai. ” ucapnya sambil melirik Abame yang tergeletak, namun dia terlihat bersedih.


“ apa yang membuat mu berpikir ini sudah berakhir, Uhara.?! ” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari atas, suara itu tidak asing.


Deg..


Uhara tersentak bukan main, wajahnya terlihat ketakutan bercampur tidak percaya, lalu menatap kearah asal suara.


“ guru Abame.?! ” Uhara terkejut, disitu dia melihat Abame sedang duduk di atas dahan pohon, kemudian Uhara melirik kearah belakangnya, disitu terlihat jasad Abame masih tergeletak


Abame duduk santai di dahan pohon, dia menatap Uhara sambil tersenyum, “ Jurus mu benar-benar mematikan Uhara, aku bahkan tidak melihat pergerakan mu. ” ucapnya, “ tapi.. tetap saja kau tidak bisa mengalahkan ku. ” lanjutnya.


Uhara menatap serius Abame, “ dia menjadi dua.. ” batinnya, perkataan Mikami Sato saat terakhir kali kembali teringat di kepalanya, “ begitu, ya.. jadi ini yang dimaksud pimpinan. ”


Tap..


tubuh Abame yang penuh sayatan kembali berdiri, lukanya perlahan sembuh, terlihat dia bersiap menyerang Uhara.


Uhara terkejut dan menoleh kebelakang, “ apa? dia masih bisa bertahan? dan luka-luka itu..?! ” dia tidak percaya.


disisi lain, Abame yang duduk di atas pohon terlihat memejamkan mata, dia tidak bergerak seperti sedang pingsan, namun Uhara tidak menyadari itu.


Tap..


disaat yang sama, Abame yang berada di hadapan Uhara mulai bergerak menyerang, dia mengeluarkan dua pedang, sebut saja dia Abame pertama.


Uhara bersiap menyambut serangan Abame, dia maju dengan pedang di genggaman.

__ADS_1


“ aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, aku akan mencari kelemahannya.! ” batin Uhara serius.


Ctang.. Ting..


pertarungan kembali dimulai dengan adu tebas di udara, suara besi beradu memecah keheningan hutan, percikan percikan api muncul di setiap gesekan pedang.


Zraashh..


suatu kesempatan, Uhara berhasil melayangkan satu tebasan yang mengoyak tubuh Abame bagian depan, darah pun berceceran.


Buaak..


setelah itu Uhara melepaskan satu tendangan ke perut Abame yang langsung terhempas, lalu menabrak batang pohon, Abame terduduk di situ dengan wajah menunduk.


Uhara menatap Abame yang terduduk, “ apakah berhasil.? ” batinnya, dia terlihat ragu.


Wusshh..


Uhara terkejut, dia seperti merasakan sesuatu bergerak di belakangnya.


Ctang..


detik berikutnya, terdengar suara pedang beradu.


Sraak..


Uhara terdorong mundur dengan tangan yang memegang pedang, didepannya Abame berdiri sambil memegang pedang, ini adalah Abame yang berada di atas pohon sebelumnya, sebut saja Abame kedua.


Uhara menatap datar Abame, “ bagaimana kau bisa melakukannya.? ” dia bertanya.


Abame tersenyum, “ aku menamainya dengan Jurus Dua Raga. ” jawabnya, “ aku memiliki dua raga dan bisa sembuh dengan cepat walaupun terluka parah. ” lanjutnya.


“ apa.?! ” Uhara terkejut, lalu menoleh Abame pertama yang terduduk di bawah pohon, lukanya perlahan kembali sembuh, “ sial.! ” batinnya.


Ctang.. Cting..


pertarungan dilanjutkan, kali ini Uhara menghadapi Abame kedua yang menggunakan pedang, keduanya bertarung sengit.


“ aku terlalu meremehkan guru Abame, dia yang dulu tidak pernah menggunakan senjata ternyata sangat kuat. ” batin Uhara terus bertarung, “ lalu Jurus Dua Raga, ditambah lagi dia bisa membuat lawan tidak bergerak ketika terkena beberapa pukulannya.. jika terus seperti ini, bisa-bisa aku.. ”


Ctang.. Ting..


Pertarungan masih berlanjut, Uhara menghadapi Abame pertama dan kedua secara bergantian, setiap kali salah satu Abame terluka, maka Abame yang lain yang akan maju.


Traang..


Uhara mengarahkan tebasan keras kearah Abame pertama yang melakukan hal sama, keduanya beradu pedang dan terdorong mundur, keduanya kembali berjarak.


“ hosh.. hosh.. ” Uhara terlihat kelelahan, dia mengatur nafas.


“ bagaimana? sekarang kau sudah tahu seberapa kuat diriku. ” ucap Abame pertama sambil tersenyum.


Uhara menatap kesal Abame pertama, kemudian melirik Abame kedua yang tergeletak dengan luka yang kembali sembuh, “ ada apa ini? kenapa dia menyerang secara bergantian.?! ” batinnya.


“ kau mengatakan Jurus mu adalah Jurus Dua Raga, tapi kenapa kau tidak menyerang ku secara bersamaan.? ” tanya Uhara.


“ memang benar aku memiliki dua raga, tapi tetap saja aku memiliki satu jiwa. ” jawab Abame, “ jawabannya karena aku tidak bisa melakukannya, tapi bisa aku dengan mudah memindahkan jiwa ku ke tubuh mana yang aku mau. ” lanjutnya.


“ memindahkan jiwa.? ” Uhara terkejut.


“ ya, aku bisa berpindah jiwa kapan saja sesuai keinginan ku.. dan satu lagi, ketika jiwa ku ke tubuh yang lain, tubuh ku yang kosong akan beregenerasi dari luka semua serangan mu. ” jawab Abame.


Uhara terkejut, “ jadi maksud mu, Jurus ini tidak memiliki kelemahan. ” ucapnya.


“ aku tahu apa yang kau pikirkan, Uhara.. kau berpikir mencari kelemahan ku dan berharap bisa mengalahkan ku.. ” ucap Abame tersenyum tipis, “ tapi, kenyataannya tidak semudah itu, tidak selamanya kejeniusan bisa mengalahkan kekuatan.. ” lanjutnya.


Uhara terlihat serius, “ guru Abame, kau benar-benar petarung yang sangat kuat, kau bahkan menguasai teknik yang sangat tidak masuk akal. ” ucapnya.


“ hanya ada satu kelemahan Jurus ku, kau harus menghabisi tubuh ku yang melekat jiwa ku. ” ucap Abame.


Uhara tertegun, “ apa maksud mu? aku sudah melakukannya dari awal. ” ucapnya.


“ tidak, saat serangan mu mengenai ku aku sudah memindahkan jiwa ku. ” jawab Abame, “ sudah aku katakan, aku bisa memindahkan jiwa ku dengan sangat mudah. ”


“ tapi, kenapa kau memberi tahu ku.? ” tanya Uhara.


“ dengan kejeniusan mu, cepat atau lambat kau akan menyadarinya, aku hanya ingin tahu apa yang bisa kau lakukan setelah mengetahuinya.. anggap saja aku meremehkan mu. ” Abame tersenyum jahat.


Uhara terlihat serius menatap Abame, “ begitu, ya.. ” dia terlihat berpikir keras.


Tap..


Abame pertama melompat mundur untuk menjauh, meniggalkan tubuh Abame kedua yang masih tergeletak.


“ aku tahu apa yang kau pikirkan, kau berniat menghabisi kedua tubuhku dengan tempo waktu singkat.. ” ucap Abame, “ tidak akan ku biarkan.! ”


“ cih.! ” Uhara terlihat kesal, “ aku harus segera menyelesaikan ini.! ” batinnya.


Tap..


Uhara mengejar Abame pertama dengan kecepatan tinggi, sesaat keduanya berlompatan di pepohonan yang rimbun.

__ADS_1


Ctang.. Cting..


lalu suara pedang beradu datang menyusul.


__ADS_2