
Tap.. Tap..
Uhara berjalan perlahan dengan langkah yang berat, tubuhnya penuh luka dan darah yang sudah mengering, dia berada di gedung pimpinan dan menuju ruang Pimpinan.
Krek..
tanpa mengetuk, Uhara membuka pintu ruang Pimpinan, didalamnya terdapat Mikami Sato sedang duduk elegan.
Uhara memasuki ruangan dan menutup pintu, lalu menatap Mikami Sato datar.
Mikami memandang kertas yang ada diatas meja, lalu melirik kearah Uhara, “ kau sudah kembali, ya.. ” ucapnya.
“ ya, aku sudah menyelesaikan tugas yang kau berikan. ” ucap Uhara datar.
“ begitu, ya. ” ucap Mikami Sato mulai menatap Uhara dengan seksama, “ melihat kondisi mu, sepertinya Abame cukup kuat. ” lanjutnya.
“ benar.. ” ucap Uhara lalu menatap serius Mikami Sato, “ ada yang ingin ku katakan padamu, Pimpinan. ” lanjutnya.
“ katakan saja.” jawab Mikami datar.
Uhara menatap serius Mikami, “ aku akan keluar dari Kelelawar Merah, aku harap kau segera mencari pengganti ku. ” ucapnya.
“ keluar dari Kelelawar Merah.? ” Mikami terkejut, lalu mengubah ekspresinya menjadi lebih serius, “ ini tidak seperti dirimu saja, sepertinya Abame mengatakan banyak hal padamu. ” ucapnya.
“ tidak, ini memang keputusan ku. ” jawab Uhara datar.
“ begitu, ya.. ” Mikami menghela nafas, “ aku tidak bisa memaksamu, tapi aku juga tidak akan menutup rasa kecewa padamu. ” lanjutnya.
Uhara menatap serius Mikami, “ Pimpinan, ada yang ingin ku tanyakan padamu... kenapa kau menghancurkan Desa Elemen sembilan tahun yang lalu.? ” dia bertanya.
Mikami menatap serius Uhara sejenak, “ hehehe, sudah kuduga.. Abame pasti mengatakan hal-hal bodoh padamu. ” lalu tertawa kecil sambil berbicara.
“ jawabannya karena keberadaan Desa Elemen begitu mengancam.. ” ucap Mikami menatap Uhara tajam.
“ karena mengancam? apa maksud mu.?! ” tanya Uhara.
“ jika kami tidak segera menghancurkan Desa Elemen, mungkin merekalah yang akan menghancurkan kami suatu saat nanti. ” jawab Mikami.
“ bagaimana kau bisa tahu, mungkin saja mereka tidak berpikir seperti itu, atau mereka lebih suka perdamaian.. ” ucap Uhara.
“ aku tidak menyangka seorang pembunuh seperti mu menanyakan hal ini.. apa kau lupa bahwa tujuan organisasi Kelelawar Merah dibentuk adalah agar peperangan sembilan tahun yang lalu tidak kembali terulang.?! ” Mikami bernada tinggi.
Uhara menatap Mikami, “ benar yang kau katakan, tapi... aku yang sekarang sedikit berbeda.. aku sadar bahwa yang dilakukan Kelelawar Merah salah.. aku terlalu terobsesi dengan perdamaian, namun pada akhirnya yang kami lakukan hanya melahirkan kebencian. ” ucapnya, “ kedua orang tua ku terbunuh saat menjalankan misi, dan yang membunuh mereka adalah petarung Desa Pedang Kembar, aku sangat membenci mereka dan sangat ingin balas dendam.. tapi tetap saja menghancurkan Desa Pedang Kembar tidak terpikirkan oleh ku.. ”
__ADS_1
Uhara menatap tajam Mikami, “ bagaimana jika suatu saat nanti muncul Petarung kuat yang mengaku dari Desa Elemen, dan dia datang bersama kebenciannya untuk balas dendam.? ” dia bertanya.
“ berbicara tentang kebencian.. aku memang sangat membenci Pendiri Desa Elemen.. ” ucap Mikami dengan wajah mencekam.
Uhara terkejut, “ Pendiri Desa Elemen.? ” dia bertanya.
“ benar, Huyabasa Nogo.. aku sangat membenci orang itu, dan yang menyatukan pasukan Aliansi sembilan tahun lalu adalah aku.. aku ingin dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang berharga. ” ucap Mikami Sato penuh kebencian.
“ bukankah perang sembilan tahun lalu Pendiri Desa Elemen tidak ada, kenapa kau sangat membencinya.? ” tanya Uhara.
“ jauh sebelum itu, aku pernah bertemu dengannya.. ” jawab Mikami, “ semua orang tidak ada yang tahu, tapi.. Pendiri Desa Yama pernah bertarung dengan Huyabasa Nogo.. dan Yamamura kalah sehingga dia terluka bagian dalam.. ini adalah hal memalukan sehingga selalu ku tutupi. ” lanjutnya.
“ Yamamura kalah? bukankah orang tersebut adalah petarung kuat, dan sekaligus guru anda.? ” tanya Uhara.
“ benar, Yamamura yang merupakan Pendiri Desa adalah guruku, itulah alasan mengapa aku sangat membenci Huyabasa Nogo sekaligus para pengikutnya. ” jawab Mikami.
“ sungguh tidak pernah terpikirkan oleh ku.. jadi, dari awal memang sudah dimulai dengan kebencian, ya.. ” ucap Uhara, “ hehehe.. kehancuran di masa depan memang tidak bisa dihindari.. ” lalu tertawa kecil, namun di dalam tawanya terselip kecewa mendalam.
“ kehancuran masa depan? kau berbicara seolah kau bisa melihat segalanya.. tidak ada yang namanya kehancuran.. aku tahu kau berpikir Huyabasa Nogo masih hidup dan akan balas dendam, tapi... ” Mikami menatap tajam Uhara.
“ tapi apa.? ” Uhara serius.
“ kejadian sembilan tahun lalu adalah tanggung jawab semua orang, sekuat apapun Huyabasa Nogo, tetap mustahil mengalahkan empat desa besar. ” lanjut Mikami tersenyum remeh.
Mikami menatap tajam Uhara dari belakang, “ tidak masalah jika kau keluar dari organisasi, tapi jika kau meninggalkan Yama, kau ku anggap pengkhianat, kepalamu akan sangat berharga, jadi jangan berbuat nekat. ” ucapnya mengancam.
Uhara bersiap membuka pintu, namun dia menyempatkan melirik tajam Mikami, “ benarkah? ancaman mu membuat ku takut.. ” ucapnya, “ tapi, semua orang memiliki hak untuk memilih jalannya masing-masing, jadi.. jangan pernah memaksakan kehendak mu pada orang lain. ” lanjutnya.
“ aku harap kau tidak menyesal, Uhara.. ” ucap Mikami datar.
“ aku sangat takut dengan penyesalan.. maka dari itu, mulai sekarang aku akan melakukan yang terbaik. ” ucap Uhara penuh keyakinan, lalu meninggalkan ruangan itu.
“ cih. ” Mikami terlihat kesal, “ Abame sialan, bahkan sebelum mati pun dia terus menyusahkan. ” batinnya.
★★★★★
Sinam, Deiki dan yang lain sudah sampai di depan gerbang Desa Yama, diwaktu yang saat ini sudah siang.
Sinam menatap gerbang dengan semangat, “ akhirnya sampai juga.. ” ucapnya.
“ ayo, aku sudah tidak sabar menemui ayah ku.! ” Sansiro bersemangat dan masuk duluan.
Tap.. Tap..
__ADS_1
semuanya berjalan memasuki gerbang, suasana yang penuh kehidupan mulai menyambut, orang-orang mulai terlihat.
Deiki berjalan melas, “ akhirnya sampai juga.. aku sudah tidak sabar ingin tidur. ” batinnya.
setelah cukup jauh memasuki Desa Yama, di suatu tempat terlihat banyak orang berkumpul, mereka terlihat seperti menatap sesuatu yang menarik.
Sinam memandang segerombolan orang itu, “ ada apa itu? seperti ada hal yang menarik.! ” ucapnya.
“ benar, ayo kita lihat..! ” sahut Jiromaru.
Tap.. Tap..
Sinam dan yang lain memasuki kerumunan orang-orang tersebut, ternyata disitu terdapat sketsa seseorang, dan keterangan selembaran tersebut adalah tentang daftar pencarian orang ( DPO).
Yoja menatap gambar orang tersebut dengan seksama, “ dia..?! ” ucapnya.
“ orang ini..?! ” Sinam menatap foto tersebut, dia terlihat berpikir keras, “ sepertinya aku pernah melihatnya. ” lanjutnya.
Deiki menatap serius gambar orang di selebaran tersebut, “ dia.. Akaza Takeyomi..” ucapnya, lalu menoleh Saken Takeyomi.
Brak..
Saken Takeyomi berlari meninggalkan tempat itu, dia menabrak orang di sekeliling, tetesan air mata bertebaran di udara.
Saken terus berlari menjauh, “ kenapa? kenapa kau meninggalkan ku, kakak.?! ” dia menjerit didalam hati, air matanya semakin deras.
Kaori memandang kepergian Saken, “ dia kenapa.? ” dia bertanya.
Deiki menunjuk orang di selebaran tersebut, “ kalian lihat orang ini, dan baca namanya.! ” ucapnya.
“ Akaza Takeyomi.. ” jawab Sinam.
“ benar, dia adalah kakak Saken, fakta bahwa Akaza berada di selebaran ini mengatakan dia telah meninggalkan Desa Yama, sekaligus masuk daftar pencarian orang, mungkin harga kepalanya cukup mahal. ” ucap Deiki.
Sinam menatap foto Akaza, “ benar, aku ingat orang ini, dia adalah petarung yang berhadapan dengan kak Uhara saat itu. ” ucapnya lalu menoleh kearah Saken yang sudah tidak terlihat, “ lalu Saken.. ” lanjutnya, dia terlihat prihatin.
“ Saken saat ini sangat terpukul, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.. ” ucap Deiki.
“ tidak, disaat seperti inilah dia butuh sahabatnya. ” ucap Sinam.
“ benar yang kau katakan, tapi Saken berbeda dari orang lain, kita tidak bisa memahaminya dengan mudah. ” ucap Deiki. “ mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. ”
Tap.. Tap..
__ADS_1
tanpa mendengarkan, Sinam berlari mengejar Saken.