SINAM

SINAM
Keseriusan Karena Abame


__ADS_3

langit sudah mulai gelap, matahari juga mulai tenggelam, namun pemandangan hutan masih bisa terlihat.


dari atas, terlihat diantara hutan banyak pohon bertumbangan, air menggenang cukup luas, disisi lainnya terlihat dua orang anak sedang berdiri di bumi, serta seorang pria sedang bertengger di atas pohon.


Wushh..


tekanan angin kencang yang muncul akibat gelombang tsunami milik Sinam masih terasa, rambut Sinam terobrak-abrik, matanya masih terpejam.


Abame memandang pohon yang bertumbangan, “hebat, jadi ini kekuatan orang yang bisa mengendalikan air.! ” gumamnya, dia masih di atas pohon.


Sinam masih berdiri dengan mata terpejam, air yang mengelilinginya perlahan menghilang masuk ke dalam bekas luka di bahunya yang berbentuk bulir air.


Buukk..


secara tiba-tiba, Sinam terjatuh dan tergeletak, dia masih dalam kondisi pingsan.


Abame menoleh Sinam, “jadi.. air itu muncul saat Sinam benar-benar terdesak. ” batinnya.


cukup dekat dengan Sinam, terlihat Satoji masih berdiri dengan Shaka merah kehitaman bergejolak, tubuhnya yang menyerupai Serigala perlahan berubah menjadi normal, Shaka ditubuhnya juga lenyap.


Satoji menatap kedua telapak tangannya, “kekuatan apa ini.? tadi aku merasa sangat kuat.. tapi, aku juga tidak terlalu ingat, kesadaran ku seperti terenggut. ” batinnya.


Bukk..


lutut Satoji terjatuh ke tanah, nafasnya terengah-engah, wajahnya terlihat kelelahan, akhirnya dia tergeletak lemah.


“Sinam?! apa dia selamat.?! ” Satoji menoleh kearah Sinam dengan tubuh tergeletak, dia melihat Sinam juga tergeletak, “sepertinya dia selamat... aku melihat air yang begitu besar melindunginya tadi, sepertinya... ” dia tersenyum, lalu akhirnya pingsan.


“mereka berdua pingsan, aku akan membawa mereka pergi. ” gumam Abame, lalu melompat turun ke bumi membopong Sinam dan Satoji.


Abame tersenyum, “sepertinya mereka berdua sangat lelah, mungkin mereka terlibat dalam pertarungan sulit. ” ucapnya.


Beberapa saat kemudian...


secara perlahan, Satoji membuka matanya, dia langsung disambut dengan silaunya cahaya, “dimana ini.?! ” dia terkejut dan langsung duduk dari tidurnya.


saat ini, Satoji dan Sinam sedang berada di bawah batang pohon yang besar, tepatnya di bawah rumah pohon milik Abame, disitu terlihat Abame duduk di depan api unggun sedang memanggang beberapa ikan.


Satoji menatap Abame, “siapa kau..?! ” dia terlihat serius.


Abame menoleh, “kau sudah bangun, ya. ” dia tersenyum, “tenang saja, aku bukanlah orang jahat yang ingin menjual mu.. anak Klan Taro..” lanjutnya.


Satoji terkejut, “kau.. darimana kau tahu aku berasal dari Klan Taro.?! ” ucapnya.


“berisik sekali.. mengganggu saja. ” Tiba-tiba Sinam terbangun dan langsung berbicara sambil mengucek matanya.


Satoji terkejut, lalu menoleh Sinam, “Sinam..?! ” sepertinya dia baru sadar Sinam tidur di sampingnya.

__ADS_1


Sinam menoleh Satoji, “Satoji..?! ” ucapnya.


detik selanjutnya, Sinam menoleh ke segala arah, dia terlihat bingung dan panik, “kenapa kita berada di sini? dimana orang-orang tadi.?! ” ucapnya sedikit keras.


“aku juga tidak tahu, tapi.. ” Satoji menatap Sinam dengan dalam, “aku juga tidak terlalu ingat apa yang terjadi. ” kemudian tersenyum.


“yosh, ikannya sudah matang.. sekarang tinggal menikmatinya. ” Abame bersuara.


Sinam menoleh Abame, “guru..?! aku mengerti, kau pasti yang telah menyelamatkan kami. ” dia tersenyum lalu mendekati Abame.


“guru.?! ” Satoji terkejut.


Abame tersenyum, “kau baru saja menjadi murid ku, tapi kau sudah membuatku repot.. mulai sekarang kau harus menuruti semua perkataan ku. ” ucapnya.


Sinam tidak perduli, dia menatap ikan panggang dengan air liur menetes, “wah, sepertinya lezat.. ” ucapnya lalu mengambil ikan tersebut.


Abame terlihat kesal, “ya, ampun.. dia mengacuhkan ku.. ” gumamnya.


“apa guru memujiku.? ” Sinam mengunyah ikan dengan lahap.


Abame terlihat marah, lalu memukul kepala Sinam, “kau tidak memiliki sopan santun, kau bahkan tidak menyuruh teman mu makan.. ” ucapnya.


Sinam terkejut,lalu menoleh Satoji, “hey, Satoji! apa yang kau pikirkan? ayo cepat makan, apa kau tidak lapar.? ” ucapnya.


Satoji menatap Sinam, “ sepertinya dia sudah melupakan kejadian yang barusan.. ” batinnya.


★★★★★


Abame menatap Sinam dan Satoji, “jika kalian sudah sampai di desa.. jangan pernah membicarakan tentang ku ataupun menyebut namaku.. aku tidak ingin menambah masalah.. ” ucapnya.


“guru terlalu berlebihan, tidak mungkin orang hutan seperti mu banyak yang mengenal. ” Sinam menjawab dengan songong.


“apa katamu.?! ” teriak Abame kesal.


“padahal baru sehari dia menjadi murid ku, tapi dia sudah berani bertingkah kurang ajar, dasar bocah tengik. ” batin Abame.


“ya, ya.. kami tidak akan membicarakan tentang mu pada siapapun. ” ucap Sinam lalu pergi, Satoji mengikuti Sinam.


Abame memandang kepergian Sinam dan Satoji, “untuk sekarang.. mereka tidak bisa terlalu sering kemari, aku yakin dalam waktu dekat ini Mikami pasti mengirimkan petarung untuk membunuh ku. ” batinnya.


Tap.. Tap..


Sinam dan Satoji terus berjalan dibawah pepohonan hutan, namun mereka hanya lurus saja, sepertinya itu jalan untuk keluar hutan dan menuju Desa Yama.


Sinam menoleh Satoji, “Satoji, aku akan memperlihatkan desaku padamu.. aku yakin kau suka dan tidak ingin pergi. ” ucapnya.


“benarkah? aku jadi tidak sabar. ” ucap Satoji tersenyum.

__ADS_1


“aku juga memiliki teman.. yah, walaupun hanya seorang, tapi sekarang tidak lagi.. ” Sinam menoleh Satoji, “aku memiliki satu teman lagi.. kau, Satoji.. ” ucapnya.


Satoji tertegun menatap Sinam, lalu perlahan tersenyum, “benar... dia mengorbankan nyawanya demi aku.. padahal baru saja bertemu.. tapi dia.. ” batinnya.


ditempat lain, didalam gedung pusat Desa Yama, tepatnya di dalam sebuah ruangan, terlihat Mikami Sato yang sebagai pimpinan duduk di kursi, didepannya terdapat meja, dia menatap lurus ke depan dengan tajam.


“ada apa memanggil ku..? ” didepan Mikami, Kazuo berdiri dengan tatapan tajam, “aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat katakan.! ” ucapnya dingin.


“aku ingin memberimu tugas. ” jawab Mikami Sato.


“aku tidak akan menerimanya. ” Kazuo membalikkan badan, “sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan menjalankan tugas yang kau berikan. ” lalu berjalan kearah pintu.


Braakk..


saat keluar, Kazuo menutup pintu dengan keras, semua orang yang berada di dalam ruangan cukup terkejut.


Mikami menatap pintu dengan datar, “seperti biasa, dia tidak pernah mendengarkan perkataan ku.. kesalahan apa yang membuatku memiliki anak pembangkang seperti Kazuo. ” batinnya.


“hanya Kazuo seorang yang berani bersikap seperti itu pada Pimpinan. ”


“ya, Kazuo selalu bersikap seperti itu, bukan hal yang mengherankan. ”


“jika bukan anaknya, mungkin Pimpinan sudah membunuhnya. ”


beberapa orang di dalam ruangan berbisik.


Kraakk..


Tiba-tiba pintu bergerak, sepertinya ada yang akan masuk.


Mikami tersenyum tipis, “sepertinya dia berubah pikiran.. ” batinnya, sepertinya dia berpikir Kazuo kembali.


Bukk..


pintu terbuka lebar, seorang pria penuh luka masuk dengan kasar, dia langsung terduduk.


“kau...?! ” semua orang terkejut, termasuk Mikami.


“apa yang terjadi? dimana yang lainnya.? ” tanya Mikami.


orang itu mengatur nafas sejenak, “Abame.. dia benar-benar kuat.. kami dikalahkannya dengan mudah.. aku berhasil lolos. ” ucapnya, wajahnya terlihat menahan sakit. “kemampuan berpedangnya juga hebat.. ”


Mikami terlihat kesal, “cih, Abame.. kenapa dia bisa jadi sekuat itu? padahal dulu dia sangat membenci senjata..” ucapnya, “ lalu.. apa ada informasi lain tentangnya yang kau bawa.? ” lanjutnya.


orang itu terdiam sejenak, “aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya dia bisa membuat lawan tidak bisa bergerak dalam waktu singkat.. ” lalu berucap.


“begitu, ya. jadi petarung yang menghadapinya harus petarung hebat. ” ucap Mikami, “baiklah, sekarang obati lukamu. ”

__ADS_1


“baiklah.” orang itu pergi dengan perlahan.


Mikami terlihat serius, “Uhara.. aku yakin dia bisa mengatasi Abame.. aku akan menunggunya kembali.. ” batinnya, “Abame sialan, apa sebenarnya alasannya masih berada di pinggiran wilayah Yama.. ”


__ADS_2