
“Sinam, ayo Sinam..! ”
“berjuanglah, kau pasti bisa.! ”
“ayo berdiri, tunjukkan bahwa kau yang terbaik.! ”
teriak Sansiro dan yang lain.
mendengar itu, Sinam yang dalam posisi duduk, mencoba untuk berdiri dengan tubuh gemetar, pandangannya semakin pudar, pendengarannya juga mulai terganggu.
Jido tersenyum jahat menoleh Sinam, “hebat jika kau masih bisa berdiri. ” batinnya.
Braakk..
saat masih dalam posisi setengah berdiri, Sinam kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lalu kembali tergeletak.
“Sinam, bangunlah.!! ” Sansiro berteriak keras dengan wajah khawatir, kemudian yang lain juga ikut menyusul.
Sinam masih membuka mata, dia melihat Sansiro yang berteriak memandangnya dari atas, namun dia tidak mendengar teriakan teman-temannya lagi.
Desa Yama, Kediaman Klan Sato..
Rokuga duduk di teras, dia menikmati secangkir teh yang tersaji di atas meja, dihadapannya tersuguh kolam kecil yang berair biru.
Rokuga menatap langit, “mungkin saat ini Harumi dan yang lain sudah mulai bertanding.. aku harap Harumi baik-baik saja.. seandainya aku bisa ada.. huh, sudahlah.! ” dia terlihat kesal, kemudian meneguk tehnya.
sesaat kemudian, Rokuga menatap kolam didepannya yang berair biru dengan serius, “Lagi-lagi perkataan Hikari mengganggu ku, jika benar yang dia katakan, mungkin air ditubuh Sinam akan keluar jika nyawanya dalam bahaya.. aku harap itu hanya lelucon yang ditinggalkan Hikari sebelum meninggal.. ” gumamnya pelan, dia teringat dengan Hikari sembilan tahun lalu.
beralih ke arena pertarungan, wasit melihat Sinam yang tergeletak, kemudian menoleh Jido, “baiklah, kita tunggu sepuluh detik, jika tidak berdiri berarti dia kalah. ” ucapnya datar.
“dari awal sudah ku katakan, dia tidak akan bisa berdiri lagi, menunggunya hanya akan membuang-buang waktu saja. ” Jido tersenyum remeh.
Sinam masih tergeletak, wajah dan suara teriakan Sansiro sudah hilang total, dan akhirnya dia menutup mata.
“sepuluh... sembilan..!! ” teriak wasit menghitung mundur.
Tes...
dari kegelapan, sebening tetes air jatuh ke atas permukaan yang menciptakan gelombang riak, Sinam tergeletak tepat di samping bulir air jatuh tadi, dia mengapung diatas air.
“eh.?! ” Sinam membuka mata dan langsung duduk, detik selanjutnya dia terkejut.
Sinam memandang keatas, disitu terdapat langit biru yang dihiasi awan putih, indah dan cerah.
“dimana aku.? ” gumam Sinam, kemudian memandang sekeliling.
lautan tempat Sinam duduk begitu jernih, seperti cermin, pantulan langit di atas tergambar nyata, jika dimiringkan bingung mana yang lautan dan mana langit.
“lima.. empat..!! ” wasit terus menghitung.
Jido tersenyum remeh memandang Sinam yang tergeletak, “berakhir..!! ” gumamnya.
Sansiro terlihat kesal, “aku sudah percaya padamu.. bangunlah Sinam.! ” batinnya mengadu gigi.
“tiga... dua..! ” lanjut wasit.
“aku menang..! ” ucap Jido mengangkat tangan.
Blarr..
tepat saat itu, tiba-tiba Shaka biru muncul menyelimuti tubuh Sinam, udara sekitar berubah menjadi lebih dingin dan tekanannya menghembus debu beterbangan sehingga arena menjadi sedikit kacau.
“apa.?! ” wasit terkejut dan menghentikan hitungan, “darimana Shaka ini berasal? jelas-jelas Shaka anak ini sudah habis.! ” batinnya menutup mata dari debu dengan lengannya.
“apa? bagaimana mungkin.?! ” Jido terkejut dengan ekspresi kesal.
deiki terkejut, “dia mengeluarkan Shaka sebesar itu? seharusnya tidak bisa, bukan, ini berbeda dari Shaka Sinam yang biasa. ” batinnya, “mustahil seorang petarung memiliki dua jenis Shaka jika bukan Pewaris Kekuatan Iblis. ”
“Shaka.? ” Sansiro terkejut, lalu tersenyum, “itu artinya Sinam masih bisa bertarung. ” dia kembali bersemangat.
Jido memandang Sinam yang tergeletak dengan kesal, kemudian kembali tersenyum, “memangnya kenapa? aku hanya perlu menyerapnya lagi.. dengan begitu aku memiliki banyak Shaka untuk pertarungan selanjutnya. ” ucapnya.
beberapa saat angin kencang terus berhembus, akhirnya reda bersama Shaka biru Sinam yang mulai menghilang, seolah masuk ke tubuh Sinam.
Jido bergerak, “sebelum dia bangkit, aku harus menyerang, dia tidak akan punya kesempatan. ”batinnya.
Tap..
Jido berlari kencang, saat masih jauh dari Sinam, dia melompat tinggi dan bersiap mendarat di atas tubuh Sinam yang masih tergeletak.
“terimalah ini..! ” teriaknya.
Boommm..
Detik selanjutnya, terjadi suara ledakan, kemudian diikuti oleh debu yang beterbangan, itu terjadi tepat di posisi Sinam tergeletak, belum jelas apa yang terjadi karena tertutup debu, sepertinya itu akibat serangan Jido.
“Sinam..!! ” Sansiro berteriak keras, sepertinya dia berfikir bahwa Sinam terkena serangan itu.
“apa yang terjadi? apakah Sinam akan berakhir.? ” wasit sedikit kebingungan.
beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang, disitu terlihat dua sosok bayangan, itu adalah Sinam dan Jido.
Jido berdiri ditempat awal Sinam tergeletak, tanah disitu hancur, kemudian dia menatap Sinam yang berjarak sekitar sepuluh meter didepannya, “ dia menghindarinya.? ” dia terlihat kesal.
Sinam memandang telapak tangannya, “aku tidak tahu darimana kekuatan ini, yang jelas aku merasa lebih baik dari biasanya. ” batinnya, lalu menatap datar Jido.
__ADS_1
menyaksikan itu, keempat pimpinan Desa menjadi serius, mereka memandang Sinam dari posisi mereka.
“Shaka biru yang terasa tenang dan dingin. ” ucap Ikumo.
“mengingatkan ku pada kejadian itu. ” sahut Judoro.
“perang sembilan tahun yang lalu, milik Hikari sang penguasa air, itu maksud mu bukan.? ” lanjut Mikami melirik Judoro.
Judoro tersenyum menoleh Mikami, “seperti biasa, rasa waspada mu terlalu berlebihan. ” ucapnya, “jika masih ada orang seperti dia, aku sendiri yang akan menghabisinya. ” lanjutnya.
“Yosh.! dia masih bertahan. ” Sansiro semangat melihat Sinam.
wasit sedikit terkejut, “dia menghindarinya, itu artinya pertarungan kembali dilanjutkan. ” batinnya.
Jido tersenyum remeh menatap Sinam, “padahal kau sudah kehabisan Shaka, tapi kau masih bisa berdiri.. ” ucapnya, “menyerah lah, kau sudah tidak punya kesempatan untuk menang..! ” lanjutnya.
Sinam terlihat serius, “kesempatan memang tidak datang dua kali, tapi kesempatan akan datang pada orang yang mau mencoba lagi.. ” jawabnya, “itu sebabnya aku tidak akan menyerah dan terus mencoba.”
Jido tersenyum remeh, “aku harap kata-kata mu bisa kau buktikan dengan tindakan, jika tidak, hanya akan membuatmu malu saja. ” ucapnya, “jadi.. kau harus bisa mengalahkan ku. ”
setelah itu, keduanya bersiap, lalu melesat maju, namun Sinam jauh lebih cepat dari Jido.
Buaakk..
Tiba-tiba ujung kaki Sinam sudah di depan Jido, walau sedikit terlambat Jido sempat menahan dengan kedua tangan, tubuhnya terpental jauh kebelakang.
Tap..
Jido mampu mempertahankan keseimbangannya, dia masih dalam posisi berdiri.
Jido terlihat kesakitan menatap kedua tangannya yang berbenturan dengan kaki Sinam, “ kuat sekali.. ” batinnya, kedua tangannya sedikit berasap.
Jido menoleh ke depan, “dimana.?! ” dia terkejut karena tidak melihat Sinam, kemudian menoleh kanan dan kiri.
“kau mencari siapa.?! ” terdengar suara Sinam dari belakang.
Buaakk..
Jido menoleh ke belakang penuh keraguan, namun tinju Sinam langsung menyambut, wajah Jido menjadi sasaran.
“akh..! ”Jido kesakitan, tubuhnya terlempar dan melayang di udara, “dia terlalu cepat. ”
Buaakk..
tubuh Jido berulang kali memantul di bumi, dan akhirnya terhenti menghantam dinding arena yang langsung hancur.
tubuh Jido menempel di dinding tersebut, kemudian terjatuh bersama puing-puing di sekujur tubuhnya, kedua lututnya menyentuh bumi, dia dalam posisi merangkak.
“uhuk.. uhuk..! ” dia terbatuk batuk, bibirnya pecah dan penuh darah.
Tap.. Tap..
Jido menyadari itu, dia kembali berdiri, “cih..! ” dia terlihat kesal.
Tap..
Sinam yang awalnya bergerak santai, mempercepat langkah, setelah dekat dia melompat sambil mengarahkan tendangan kapak kearah Jido.
Brakk..
Jido menghindar cepat, dinding dibelakangnya hancur terkena dampak serangan Sinam.
wasit terkejut, “dahsyat, pertarungan kali ini benar-benar menarik. ” batinnya.
Sinam mencari keberadaan Jido, dia melirik ke belakang yang ternyata Jido bersiap dengan tendangan kaki kanan mengarah ke kepala Sinam, Sinam menunduk untuk menghindar, lalu menjegal kaki kiri Jido yang menjadi kunci keseimbangan.
Buaakk..
Jido kehilangan keseimbangan, saat hampir menyentuh bumi Sinam melesatkan tendangan bersama tubuhnya yang kembali berdiri. tendangan Sinam mendarat di dada Jido dengan telak.
“akh..! ” Jido kesakitan, bola matanya hampir keluar menahan sakit, mulutnya menganga lebar.
Wushh..
detik selanjutnya tubuh Jido terhempas dan melayang di udara.
“sial, dia cepat sekali, aku tidak bisa mengimbanginya.! ” batin Jido dalam posisi terhempas.
Tap..
Sinam memburu tubuh Jido yang masih terhempas, kecepatannya mampu mengejar Jido.
“apa.?! ” Jido menoleh Sinam terkejut, lalu menoleh kearah tembok yang hampir ditabrak tubuhnya. “cih.! ” dia terlihat kesal.
*Buaakk...
Booomm*....
tubuh Jido menghantam dinding sehingga debu menggumpal, kemudian disusul dengan terjangan Sinam yang memburu Jido. Jido terkena serangan beruntun, debu semakin tebal.
Tap..
Sinam mendarat, dia menatap gumpalan debu dengan wajah serius.
setelah debu menghilang, terlihat tubuh Jido menempel di dinding dengan luka yang sangat parah, tubuhnya penuh darah yang mengalir.
__ADS_1
Buukk..
tubuh Jido terjatuh ke bumi dan tergeletak. setelah beberapa saat dia memaksakan diri untuk berdiri walau tubuhnya gemetar.
Jido menatap kesal Sinam, “sial, padahal di setiap kontak fisik dengannya aku sudah menyerap Shakanya, tapi dia tetap biasa saja, memangnya seberapa besar Shaka di tubuhnya.? ” batinnya.
Jido menghela nafas panjang, “aku menyerah. ” ucapnya menatap Sinam, “kau kuat sekali. ”
“eh.?! ” semua orang terkejut, termasuk sang wasit.
“hanya bercanda. ” Jido tersenyum jahat, darah di wajahnya membuatnya menakutkan.
“sudah ku duga. ” Sinam menatap Jido datar.
“hahaha.. hahaha.. ” Tiba-tiba Jido tertawa keras, suaranya bergema di arena.
Jido menghentikan tawa, menatap Sinam serius, “namamu Sinam, ya.. kau benar-benar hebat.. kalau begitu ayo kita akhiri ini.! ” teriaknya.
Tap..
Jido mengadu telapak tangannya, “HIAA..!! ” Jido berteriak keras, seketika itu Shaka biru dari tubuhnya keluar dan membalut tubuhnya.
“hehehe, ini adalah Shaka milikmu yang ku serap. ” Jido tersenyum jahat.
wasit terkejut melihat itu, “jadi dia mengeluarkan Shaka yang telah diserap nya, ya.. itu artinya pertarungan ini sudah mendekati akhir. ” batinnya, “dengan begitu dia tidak menanggung resiko kehabisan Shaka. ”
Jiromaru menatap Jido, “dia mengeluarkan Shaka dengan sangat besar.. ini sama seperti yang dilakukan anak bernama Tori tadi. ” ucapnya.
“itu adalah teknik pelepasan Shaka. ” jawab Deiki, “biasanya terjadi saat seorang petarung pertama kali mengeluarkan Shaka, contohnya saat Sinam bertarung melawan Saken.. dan jika orang seperti kita melakukannya, resikonya terlalu tinggi.. bahkan kematian. ” ucapnya serius.
“pantas saja anak bernama Tori tadi langsung pingsan. ” sahut Thakesi.
“benar, tapi berbeda dengan Jido, dia menggunakan Shaka Sinam yang telah diserap nya, dia tidak akan menanggung resiko apapun.! ” jawab Deiki.
Blarr..
Shaka biru Jido terus berkobar, dia menatap Sinam dengan tajam, disisi lain Sinam masih terlihat tenang walau tanpa Shaka yang membalut tubuhnya.
wasit melirik Jido, “dengan begitu, dia pasti mampu mengimbangi kecepatan Sinam. ” batinnya lalu melirik Sinam, “ dan Sinam pasti sangat kesal karena Shakanya digunakan untuk menghadapinya.. ini semakin menarik..! ”
Sinam dan Jido saling tatap, keduanya terlihat serius dengan tatapan tajam, saat ini keduanya berjarak sekitar lima belas meter.
Tap..
“ayo maju..!! ” ucap keduanya bersamaan, lalu melesat cepat.
detik selanjutnya, keduanya sudah berbenturan di tengah-tengah jarak keduanya, gerakan mereka sangat cepat.
“apa.?! ” wasit terkejut, “cepat sekali.! ”
Buaakk..
tinju kanan Sinam ditahan oleh Jido menggunakan telapak tangan kirinya, begitu juga sebaliknya, untuk beberapa saat keduanya saling tatap sambil menekan tinju mereka sampai gemetar.
Srkkk..
setelah gesekan pertama, keduanya terdorong beberapa meter kebelakang, keduanya masih dalam posisi berdiri, namun gesekan kaki mereka membuat bumi terkikis.
Tap..
belum lagi dorongan tubuhnya terhenti, Jido langsung maju dengan melompat tajam kearah Sinam.
Buaak..
Jido mengarahkan tinju lurus ke wajah Sinam dari depan, dengan gesit Sinam menahan dengan kedua telapak tangannya.
Jido tersenyum jahat, “kena kau..! ” ucapnya pelan.
Buaakk..
dengan sangat keras, tendangan Jido menghantam dagu Sinam dari bawah, kejadian itu terlalu cepat, Sinam tidak sempat menghindar.
tubuh Sinam melambung tinggi ke udara, “cih.! ” Sinam terlihat kesal, dia menoleh ke bumi, namun Jido sudah tidak ada.
Buaakk.. Blakk..
tanpa menoleh ke belakang, Sinam berputar sambil mengarahkan tendangan. benar saja, Jido dibelakang dan langsung menahan, keduanya beradu pukul di udara, saling serang dan saling menahan, tubuh Jido yang dibalut Shaka terlihat sangat indah.
wasit terkesima melihat pertarungan yang terjadi di udara itu, “hebat, mereka benar-benar hebat.! ” gumamnya.
Buaakk..
wajah Jido terkena pukulan Sinam, lalu Jido membalas dengan memukul perut Sinam, keduanya terlihat seimbang, dari segi kecepatan maupun kekuatan.
“sial.! ” Jido mulai kesal.
“aku tidak akan kalah.! ” Sinam mengadu gigi.
tubuh keduanya mulai ditarik gravitasi bumi. disaat itu, Sinam dan Jido melepaskan tendangan disaat bersamaan, namun kaki Jido lebih dulu mendarat di dada Sinam karena kakinya lebih panjang.
Buaakk..
tubuh Sinam terhempas dan menghantam dinding sampai hancur, kemudian tergeletak.
Jido mendarat di bumi, menatap Sinam dengan kesal, “aku sudah melepaskan Shaka untuk menambah kecepatan dan kekuatan ku, sementara dia tidak sama sekali.. ” batinnya.
__ADS_1
Sinam kembali berdiri, walau tubuhnya penuh luka, dia terlihat menantang seolah tiada yang kurang.
“dan lagi, dia masih bisa bertahan. ” batin Jido semakin kesal.