
Deiki memandang semua anak-anak yang juga menatapnya, di samping deiki, Kazuo serta beberapa temannya juga memandang anak-anak.
“dengarkan baik-baik penjelasan ku, aku tidak akan mengatakannya dua kali, jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan saja. ” ucap Deiki keras penuh ketegasan, “kali ini, kalian akan diberi tugas yang tidak sulit.. kalian akan diberikan peta, dan peta tersebut akan menunjukkan kearah peta lain yang ada didalam hutan.. total semua peta ada tujuh.. dan arah peta ketujuh adalah tempat pelatihan Akademi.. ”
“tujuh peta?! itu artinya kita hanya akan mencari peta dengan peta.?! ” ucap salah seorang anak.
“aku tidak mengulanginya lagi. ” Deiki tidak menggubris, “ dan ingat! peta yang kalian temukan harus di simpan, jika salah satu saja hilang, kalian gagal. ” lanjutnya.
“dan jika kalian sudah berhasil membawa semua peta ke arena pelatihan. ” Deiki menunjuk kearah gedung yang terlihat agak jauh dari situ, tepatnya kearah tempat Uhara dan Akaza bertarung, “disitu akan ada satu bendera, siapapun yang lebih dulu mendapatkannya, dia lah yang menang, tapi sebelum itu... yang sudah memegang bendera harus menerima tantangan dari orang yang ingin merebutnya. ” dia tersenyum tipis.
Kazuo melirik Deiki, “padahal tahun lalu tidak seperti ini, sepertinya senior sengaja agar semuanya menjadi lebih menarik. ” batinnya tersenyum.
semua anak memandang Deiki, mereka terlihat berisik dengan para sahabatnya.
Deiki kembali serius, “satu lagi, waktu terbatas, hanya sekitar tiga jam.! ”
“tiga jam?! ”
“yang benar saja.?! ”
“apa dia sudah gila.?! ”
semua anak-anak mulai berbincang, wajah mereka terlihat kesal.
“hey, paman Deiki.! ” tiba-tiba Sansiro berteriak.
semua orang memandang Sansiro, begitu juga dengan Deiki.
“bagaimana jika kami gagal, apa kami tidak akan masuk Akademi petarung.?! ” lanjut Sansiro.
Deiki tersenyum tipis, “semua murid akan diterima, namun tingkatannya akan ditentukan oleh kemampuan kalian. ”
“jadi, ujian ini hanya untuk melihat kemampuan kami.? ” tanya anak yang lainnya lagi.
“benar.” jawab Deiki, “tenang saja, kalian tidak sendiri, kalian bisa memilih satu teman untuk ujian ini. ” lanjutnya.
semua anak-anak menatap Deiki, kemudian saling menatap satu sama lain.
Sinam tersenyum menatap Sansiro, “bagus, kita bisa memperlihatkan kemampuan kita. ” ucapnya.
“ya, kita pasti akan memenangkan ini. ” Sansiro tersenyum.
semua anak-anak saling memilih teman untuk ujian, sebentar saja mereka sudah terlihat saling berdua.
namun, tidak semuanya juga, ada dua anak laki-laki yang belum mendapatkan teman, namun mereka masih terlihat berjauhan. mereka adalah Saken Takeyomi dan Yoja Terui.
Kazuo terkejut melihat Saken, “anak ini?! dia masih belum mendapat teman.? ”
Kazuo mendekati Deiki, kemudian terlihat berbisik, setelah itu Deiki langsung menatap Saken dan Yoja.
“jika kalian belum mendapatkan teman, kalian berdua bisa menjadi tim. ” ucap Deiki datar.
__ADS_1
Yoja menatap Deiki, lalu melirik Saken, “jika sendiri saja bisa, kenapa harus berdua. ” ucapnya malas, tubuhnya lebih tinggi dari yang lain serta berotot, “aku tidak mau setim dengan orang seperti dia.”
Saken melirik tajam kearah Yoja, “aku tidak butuh teman, aku lebih suka sendirian. ”
Deg...
Yoja menatap Saken dengan sedikit takut, “apa-apaan Shaka anak ini? tatapannya saja membuatku takut. ” batinnya.
Deiki menatap Saken dan Yoja secara bergantian, “syarat utama ujian ini harus berdua, jika kalian tidak suka, kalian bisa pergi. ” ucapnya acuh tak acuh.
Yoja menatap Saken, “baiklah, aku akan menjadi teman setim anak ini. ” ucapnya, “tidak terlalu buruk, jika aku berhadapan dengan anak ini nanti, mungkin aku akan kalah, jadi lebih baik setim dengannya. ” batinnya.
Deiki memandang semuanya, “baiklah, ayo pergi ke pinggiran desa.! ”
“ya..! ” jawab semuanya serempak.
★★★★★
“baiklah, disini adalah tempat pertama aku memberikan peta. ” Deiki memberikan satu peta pada setiap tim.
Saat ini, mereka sedang berada di sebuah jalan sepi, kiri kanan mereka hanya terdapat persawahan, padi tumbuh dengan hijaunya.
Harumi menatap Deiki, “jadi kami mulai dari sini, lalu mengikuti arah peta yang memasuki hutan. ” dia sambil membuka peta, “dengan kata lain, kami akan mengelilingi hutan ini untuk mencapai pusat desa. ”
“tidak tahu juga, itu tergantung arah yang ditunjukkan peta kalian. ” ucap Deiki datar, “jika peta kalian menunjukkan kearah desa, itu artinya kalian beruntung. mencari peta di hutan tentu lebih sulit daripada mencari peta di desa. ”
“tenanglah Harumi, kita pasti bisa menyelesaikan ini dengan cepat. ” anak perempuan merangkul Harumi, dia adalah teman setim Harumi yang bernama Kaori.
Tap... Tap...
semua anak-anak langsung melesat cepat mengikuti arah peta mereka, terkecuali Sinam dan Sansiro.
Sinam menoleh Sansiro, “apa itu masih belum cukup.? ” tanyanya terlihat kesal, “hanya tinggal kita berdua yang belum bergerak. ”
“sedikit lagi. ” Sansiro memetik bunga padi yang masih setengah berisi, “tenang saja, kita tidak mungkin kalah. ”
Deiki dan Kazuo memandang Sinam dan Sansiro, mereka terlihat bingung.
“sedang apa mereka.?! ” tanya Deiki.
“aku tidak tahu, sepertinya mereka hanya bocah bodoh. ” jawab Kazuo.
“Yosh.. ” Sansiro terlihat bersemangat, di bibirnya terselip bunga padi yang mengeluarkan air seperti susu, “ayo maju.! ”
“Yosh..! ” sahut Sinam penuh semangat.
Tap.. Tap..
Sinam dan Sansiro mulai bergerak, seketika mereka sudah menghilang ditelan hutan.
Kazuo melirik Deiki, “jadi, diantara semua tim tadi, ada peta yang tidak mengarah ke hutan.? ”
__ADS_1
“tidak, semuanya mengarah ke hutan. ” jawab Deiki datar, “aku ingin melihat kemampuan mereka, didalam pertarungan tidak ada yang namanya keberuntungan, semua tergantung keahlian, semangat, serta cara kita berfikir.. ” dia terlihat serius.
Kazuo tertegun, lalu tersenyum, “sepertinya senior memang sangat berpengalaman. ” ucapnya.
“bukan hanya itu. ” ucap Deiki, “diantara empat puluh enam tim tadi, hampir setengahnya mendapatkan peta yang tidak menunjukkan kearah peta lainnya. ” lanjutnya.
Kazuo terkejut, “maksudmu?! jadi apakah Harumi Sato mendapatkan peta yang benar.?! ”
“aku tidak tahu, aku sudah mengacak-acaknya... tenang saja, peta pertama tadi masih menunjukkan kearah peta selanjutnya, tapi... ” Deiki tersenyum jahat, “peta selanjutnya belum tentu menunjukkan kearah peta yang berikutnya. ”
“itu artinya..?! ” Kazuo terlihat terkejut lalu berpikir.
“kau bisa membayangkannya sendiri. ” seringai Deiki, “ ketika mereka tidak menemukan peta selanjutnya... mereka akan saling rebut peta untuk mencari peta selanjutnya... pertarungan pun terjadi.. ”
“senior, kau.?! ” Kazuo terlihat kesal.
“tenang saja, jika terjadi apa-apa, aku sudah menyiapkan orang-orang ku. ” ucap Deiki seperti mengerti apa maksud Kazuo, “ semua ini kulakukan demi desa Yama, demi petarung desa yang terus berguguran.. aku tidak ingin kedepannya petarung desa semakin lemah dan gagal dalam menjalankan tugas.. lebih baik mengenalkan pahitnya dunia petarung pada mereka lebih awal, agar mereka siap di masa depan. ” dia terlihat serius.
disisi lain, Sinam dan Sansiro terus berlari dan berlari, sesekali mereka memperhatikan peta mereka.
“cih, ini lebih sulit dari yang ku duga.! ” Sinam terlihat kesal.
“aku bahkan tidak terlalu mengerti apa yang digambarkan di peta ini. ” Sansiro juga terlihat kesal.
Sinam dan Sansiro berhenti sejenak, mereka duduk di bawah pohon besar yang rindang, keduanya terlihat kelelahan.
“sial, jika mencari satu peta saja sesulit ini, kita tidak akan sempat, kita akan kehabisan waktu. ” ucap Sinam.
“kita harus berjuang, kita tidak boleh gagal. ” Sansiro terlihat berfikir, “jika kita langsung menuju pusat desa memangnya kenapa? kita tidak perlu repot-repot mencari peta. ” dia tersenyum.
Sinam tersenyum menatap Sansiro, “kau benar, jika seperti itu kita pasti menang. ”
“sudah diputuskan, kita langsung menuju pusat desa, aku yakin tidak akan ada yang tahu. ” Sansiro bergegas pergi.
“tunggu.. ” Sinam masih diam ditempat, dia terlihat berfikir, “jika salah satu peta hilang, artinya kita gagal.. dengan kata lain, kita harus membawa ketujuh peta.. sial.! ” dia terlihat kesal.
Sansiro menghentikan langkah serta menoleh Sinam, “sial, orang yang bernama Deiki itu benar-benar licik, dia tidak mengatakan kita harus membawa ketujuh peta, tapi dia mengatakan peta yang kita temukan tidak boleh hilang, sepertinya dia menjebak. ” dia terlihat kesal.
Sinam terlihat berfikir, “jika kita membawa enam peta, pastinya kita tetap gagal.. karena itu artinya kita melompati satu peta.. ” ucapnya.
“kita tidak mungkin melompati satu peta sekalipun, karena itu artinya kita tidak bisa menemukan peta berikutnya karena kehilangan petunjuk..” sahut Sansiro.
“benar juga, bagaimanapun peta yang pertama sampai yang ketujuh semuanya saling terikat, cih..! ” Sinam terlihat kesal.
Sinam dan Sansiro saling tatap, kemudian tersenyum hingga tertawa, lalu kembali senyap.
Sinam menatap tajam Sansiro, “ayo teman, kita selesaikan ini.! ” dia mengangkat tinjunya.
“yah, kita pasti bisa. ” Sansiro mengarahkan tinjunya kearah tinju Sinam.
Buukk...
__ADS_1
tinju Sinam dan Sansiro bertemu.