
Sinam berjalan meninggalkan hutan, “jika aku tahu akan seperti ini akhirnya, aku tidak akan ikut ke Desa Pedang Kembar. ” dia terlihat menyesal, “ guru Abame.. Satoji.. dimana kalian berada? apakah kalian baik-baik saja.? ” dia menatap langit dengan wajah bersedih.
Tap.. Tap..
Sinam terus berjalan dan berjalan dengan wajah sedih, kenangan saat dia pertama kali bertemu Satoji kembali teringat, saat mereka bertarung bersama antara hidup dan mati menghadapi orang-orang yang memburu Satoji.
“ Satoji.. walaupun kita terpisah, kau tetaplah sahabat ku.. tapi kali ini kau tidak sendiri, guru Abame pasti melindungi mu. ” gumam Sinam.
setelah cukup lama berjalan, akhirnya Sinam sampai di pinggiran desa, dia sudah berada di depan rumah kakek dan nenek.
“ akhirnya sampai juga, aku rindu masakan nenek. ” ucap Sinam tersenyum tipis, lalu berjalan menuju pintu rumah yang terbuka.
“ kakek, nenek, aku pulang.! ” Sinam berteriak hangat.
“ kau sudah pulang, ya. ” Tiba-tiba Uhara muncul dan berdiri di ambang pintu, dia tersenyum tipis.
“ eh? kak Uhara.?! ” Sinam terkejut.
“ kakek dan nenek sedang ke sawah, kebetulan aku rindu dengan mereka. ” ucap Uhara hangat, “ bagaimana pertandingan mu, aku dengar dari pimpinan pertandingan di bubarkan. ” lanjutnya.
“ benar, aku juga tidak tahu apa alasannya, tapi setidaknya aku sudah memenangkan dua kali pertandingan. ” ucap Sinam tersenyum lepas.
Uhara terkejut, menatap Sinam dengan seksama, dia terlihat kagum menatap Sinam yang saat ini tersenyum, “ begitu, ya. ” Uhara tersenyum tipis.
“ sulit di percaya.. dia yang sekarang sudah sekuat ini, aku tidak tahu bagaimana dia di masa depan nanti, dia memiliki potensi. ” batin Uhara menatap Sinam.
“ bagaimana kau bisa memenangkan pertandingan itu? apa hanya dengan kemampuan berpedang mu yang payah itu.? ” ucap Uhara tersenyum.
“ kakak terlalu meremehkan ku, aku memiliki sebuah Jurus, namanya Jurus Dua Sentuhan. ” ucap Sinam kesal.
“ Jurus Dua Sentuhan.?! ” Uhara terkejut.
“ ya, walaupun cukup sulit, setelah menguasainya kita bisa membuat lawan tidak bisa bergerak. ” jawab Sinam.
“ apa.?! ” Uhara terkejut, momen ketika dia bertarung dengan Abame kembali teringat, dimana saat itu dia terkena Jurus Abame.
“ begitu, ya.. ternyata guru Abame sudah menurunkan Jurusnya pada Sinam, dan dia tidak mengatakannya. ” batin Uhara serius.
“ tapi.. ” Sinam terlihat bersedih, “ guru yang mengajarkan Jurus itu padaku kini menghilang.. aku tidak tahu dia entah kemana. ” lanjutnya.
Uhara tersentak, “ jadi.. Sinam sudah memasuki hutan itu.. jika pertarungan kami terus berlanjut, mungkin dia akan melihat pertarungan kami, hampir saja. ” batinnya.
Uhara menatap Sinam, “ kau tidak perlu bersedih, dunia petarung sangat sempit, jika kau kuat, kalian pasti bertemu lagi. ” ucapnya sambil tersenyum.
Sinam menatap Uhara cukup lama, lalu tersenyum, “ berbicara tentang kuat, bagaimana jika kakak mengajarkanku Jurus.? ” ucap penuh harap.
“ Jurus? aku ingat pernah berjanji padamu untuk mengajarkan Jurus.. tapi apa kau tidak kelelahan.? ” tanya Uhara.
“ tidak, jika untuk latihan, aku siap kapanpun.! ” Sinam bersemangat.
beberapa saat kemudian, Sinam dan Uhara berdiri saling berhadapan, di sekeliling mereka terdapat pepohonan, namun keduanya saat ini berpijak di padang rumput.
__ADS_1
Uhara menatap Sinam, “ aku tidak punya banyak waktu, jadi kita langsung ke intinya saja. ” ucapnya.
“ aku mengerti. ” Sinam terlihat bersemangat.
Sriing..
Uhara menarik pedang, “ aku yakin kau tahu teknik seperti apa yang akan ku ajarkan padamu. ” ucapnya, dia bersiap.
“ Jurus Pedang, Jurus Satu Tarikan Nafas. ” jawab Sinam.
“ benar, walaupun terlihat sederhana, namun teknik ini sangat sulit untuk di kuasai. ” ucap Uhara serius, “ Jurus yang bergantung pada kecepatan, sehingga kau dipaksa untuk tidak bernafas selama menggunakan Jurus ini.. ” lanjutnya.
“ tidak bernafas.? ” Sinam terkejut.
“ ya, kau dipaksa bergerak cepat dan menyerang ke satu titik, itu artinya kau melakukan gerakan yang sulit, berbolak balik dengan cepat saat menyerang musuh. ” jelas Uhara, “ itu sebabnya, kau harus mengalirkan Shaka ke seluruh tubuh dengan porsi seimbang, di samping itu teknik pernafasan sangat di butuhkan disini, jika tidak.. ” lanjutnya.
“ jika tidak, apa yang terjadi.? ” Sinam penasaran.
“ cukup sulit untuk dijelaskan, jadi lihatlah ini. ” ucap Uhara bersiap, “ aku akan menjadikan pohon itu sebagai sasaran Jurus ku.. lihatlah baik-baik.! ” Uhara menatap sebuah pohon yang cukup besar.
“ aku mengerti. ” Sinam terlihat serius.
“ Fiuh.. ” Uhara menarik nafas panjang dan lembut, “ Jurus Satu Tarikan Nafas. ” lanjutnya.
detik selanjutnya, Uhara sudah menghilang dari hadapan Sinam, terlihat bayangan seseorang bergerak cepat disekitar pohon yang di pandang Sinam.
“ kak Uhara dimana? aku tidak melihatnya, apa dia secepat itu.? ” Sinam terkejut.
Tap..
“ fuh.! ” Uhara menghembuskan nafas kasar.
“ eh.?! ” Sinam terkejut melihat Uhara yang tiba-tiba muncul, lalu kembali menoleh pohon tersebut yang masih baik-baik saja, “ apa aku melewatkan sesuatu..? ” ucapnya.
Sriing..
Uhara menyarungkan kembali pedangnya bersama matanya yang terpejam.
Sraak..
detik selanjutnya, pohon dibelakang Uhara yang menjadi sasarannya tercincang, kemudian tumbang dengan perlahan.
Sinam tersentak menatap pohon tersebut, “ tercincang? bagaimana mungkin.? ” batinnya tidak percaya.
Uhara membuka mata dan menatap Sinam, “ itulah Jurus Satu Tarikan Nafas, sangat cepat bukan.? ” ucapnya.
“ yang benar saja, aku tidak melihat kapan kakak menebas pohon itu.? ” Sinam tidak percaya.
“ daripada menjelaskan, bagaimana jika kau mencobanya.? ” Uhara tersenyum.
“ ya, aku akan mencobanya. ” Sinam terlihat serius.
__ADS_1
Uhara menatap Sinam, “ ingat, kau harus menyeimbangkan aliran Shaka ke seluruh tubuhmu, dengan begitu tubuhmu akan menjadi ringan.. lalu pernafasan mu untuk meningkatkan kecepatan gerakan mu. ” jelasnya.
Sriing..
Sinam menarik pedang, dia terlihat bersiap dengan wajah serius.
“ aku pasti bisa melakukannya. ” ucap Sinam.
“ tapi ini tidak semudah yang kau pikirkan. ” Uhara tersenyum tipis.
“ fiuh..! ” Sinam menarik nafas panjang dan dalam, “ aku harus mengalirkan Shaka ke seluruh tubuh dengan porsi seimbang. ” batinnya serius.
“ Jurus Satu Tarikan Nafas. ” ucap Sinam lalu bergerak cepat.
Braak..
detik selanjutnya, Sinam tersungkur di tanah, pedangnya terlepas dan tergeletak di tanah.
“ akh.. ” Sinam masih tergeletak, tubuhnya bergerak meronta ronta, dia memukul-mukul dadanya.
“ sial, dada ku sesak, aku tidak bisa bernafas.. ” batin Sinam, dia tidak bisa bicara, air mata dan air liurnya keluar dengan sendirinya.
Buukk..
Uhara memukul punggung Sinam dengan santai.
“ akh.! ” Sinam kesakitan, “ hosh.. hosh..! ” kemudian dia kembali bisa bernafas, dia pun duduk dengan wajah yang masih kesakitan.
“ bagaimana.? ” Uhara tersenyum, “ kedengarannya memang mudah, tapi mengatakan tak semudah melakukan, menyeimbangkan Shaka sambil menahan nafas bukanlah hal mudah, karena aliran Shaka sangat bergantung dengan detak jantung. ” jelasnya.
Sinam menatap Uhara, “ ternyata kakak memang hebat, kakak melalui semua rasa sakit ini saat latihan, sungguh tidak bisa dibayangkan. ” ucapnya.
“ terkadang, untuk menjadi lebih kuat, kita harus melalui penderitaan dan rasa sakit, perubahan takkan terjadi tanpa perjuangan.. ” ucap Uhara serius, “ setelah mengetahui rasa sakit ini, apa kau akan menyerah dan memilih diam saja.. lalu berharap perubahan akan terjadi dengan sendirinya. ” lanjutnya.
Sinam menatap Uhara serius cukup lama, lalu tersenyum, “ kakak pasti bercanda, aku pasti menguasai Jurus ini.. karena aku, akan menjadi Petarung terkuat.! ” ucapnya penuh keyakinan.
“ di dunia Petarung, tidak ada yang terkuat, yang ada hanya lebih kuat.. generasi ke generasi terus melahirkan Petarung kuat, kita tidak tahu seperti apa masa depan nantinya. ” ucap Uhara serius.
Uhara berdiri, “ baiklah, aku tidak punya banyak waktu, aku akan segera pergi. ” ucapnya.
“ pergi? kenapa cepat sekali.? ” Sinam penasaran.
“ aku ke sini memang ingin bertemu dengan mu, ada hal yang ingin ku katakan. ” ucap Uhara serius.
Sinam masih terduduk, dia menatap Uhara yang berdiri di hadapannya, “ ada yang ingin kakak katakan.? ” dia bertanya.
Uhara membalikkan badan sehingga membelakangi Sinam, dia menatap langit, “ Sinam.. tidak ada derita yang menghentikan jalan hidup, tidak ada kesedihan yang menghilangkan harapan, dan tidak ada masalah seberat apapun yang membuat kita menghentikan tawa. ” ucapnya, “ kau berbeda dengan ku, kau memiliki jalan hidup yang berat, berliku serta banyak pilihan sulit menanti mu didepan sana.. tapi kau tidak sendirian, kau memiliki banyak teman yang bisa berbagi rasa sakit padamu.. apapun pilihan mu nanti, aku akan tetap menganggap mu sebagai saudara ku. ” lanjutnya.
Sinam menatap Uhara dari belakang, dia tertegun, “ kak Uhara, ada apa dengan mu.? ” ucapnya.
“ tidak ada apa-apa, aku hanya ingin kau tetap seperti biasanya.. tetap tersenyum.. tetaplah seperti ini untuk selamanya.. ” Uhara melirik Sinam sekilas, lalu pergi dengan cepat.
__ADS_1
Sinam menatap kepergian Uhara, “ yang barusan.. apa maksudnya..? ”
Uhara sudah jauh, “ suatu saat nanti Sinam pasti mengetahui bahwa dia anak dari Hikari, setelah dia tahu jika Desa kelahirannya dihancurkan oleh tiga Desa besar, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan.. dan aku tidak mungkin menutupi kenyataan itu, biarlah semua mengalir apa adanya. ” dia meneteskan air mata.