SINAM

SINAM
Kematian Hikasa


__ADS_3

“ ayo maju.!! ” teriak Himiko dan Hitomi maju menyerang Hikasa.


Hikasa tersenyum, “ sepertinya ini akan segera berakhir. ” batinnya.


Tap..


setelah cukup dekat dengan Hikasa, Hitomi dan Himiko menyerang bergantian dari depan,diawali dengan Himiko yang melesatkan tebasan pedang Apinya.


Wushh..


tebasan Himiko membelah udara, terlihat kobaran api mengikuti gerakan pedangnya, sementara Hikasa berada di belakang Himiko karena menghindar.


Buaakk..


Hikasa mengambil kesempatan dengan menendang punggung Himiko dari belakang, Himiko terhempas cukup jauh.


Hikasa menoleh kearah lainnya, disitu terlihat Hitomi bersiap melesatkan tinju.


Plakk..


Hikasa menahan tinju Hitomi dengan telapak tangannya, kemudian membalas dengan tinju yang langsung ditahan Hitomi dengan telapak tangannya.


Krek..


Hikasa dan Hitomi saling menahan dan dorong, suara cengkraman mereka cukup kuat.


Hitomi terlihat geram, “ cih..! ” matanya penuh dengan kebencian.


Buaak..


cukup lama saling menahan tinju, Hikasa melepaskan tendangan datar ke perut Hitomi, telapak kaki Hikasa mendarat dengan telak.


“ akh..! ” Hitomi kesakitan, kemudian tubuhnya terhempas cukup jauh, dia tergeletak lemas.


Hitomi memaksakan diri untuk bangkit, dia menatap tajam Hikasa, “ sial.! ” ucapnya sambil meludah.


“ dia tidak menggunakan Petirnya, mungkin dia sudah kehabisan Shaka.! ” batin Hitomi, “ baiklah, aku akan bertaruh pada kesempatan berikutnya. ” kemudian tersenyum.


Himiko berjongkok dengan bersandar pada pedangnya, angin menerpa rambutnya, “ jika bertarung jarak dekat, aku memang bukan tandingannya, tapi... aku tidak sendirian. ” gumamnya kembali berdiri, dia menatap Hikasa di kejauhan.


Hikasa menatap Himiko, “ aku sudah kehabisan Shaka, aku juga tidak ingin melanjutkan pertarungan ini, ini adalah akhir yang ku inginkan. ” batinnya tersenyum tipis.


Hikasa menoleh kearah lainnya, berlawanan dari arah Himiko, disitu Hitomi berdiri menatap tajam Hikasa, “ jujur saja, mati di tangan anak sendiri itu sangat menyedihkan, tapi setidaknya itu lebih baik daripada menjadi ayah yang membunuh anaknya. ” batin Hikasa terlihat bersedih.


Tap..


Hitomi dan Himiko bergerak bersamaan dengan tiba-tiba, Hitomi dari depan Hikasa sementara Himiko dari belakang.


Bzcipipbzcip..


Hitomi memfokuskan petir di tangan kanannya, “ ini adalah Shaka terakhir ku.! ” dia terus berlari memburu lawan.


“ Hiaaaa.! ” Himiko berteriak keras sambil berlari, dia mengarahkan tusukan pedang kearah Hikasa.

__ADS_1


Craakhh..


Hikasa tidak bergerak sedikitpun, tangan kanan Hitomi yang dialiri petir menghancurkan perut Hikasa dari depan, tangannya menembus dan masih terlihat aliran petir tersebut, darah terciprat di wajah Hitomi.


Cep...


diwaktu yang sama, pedang api Himiko menusuk Hikasa dari belakang tepat dipunggung sebelah kanan, ujung pedang tersebut tembus dan menimbulkan sensasi panas, asap tipis menyelingi darah yang terus menetes.


“ akh..! ” kemudian disusul dengan suara Hikasa kesakitan, dia memuntahkan darah.


“ berakhir.. ” Himiko tersenyum jahat, dia menatap Hikasa dari belakang.


Hitomi menatap Hikasa tidak percaya, seolah ada penyesalan di wajahnya, “ kenapa? kau sengaja membiarkan kami membunuh mu 'kan.?! ” tanya Hitomi kesal, tangannya masih menusuk perut Hikasa.


Himiko terkejut mendengar itu, “ apa.? ”


Hikasa tersenyum walau mulut penuh darah, “ kau menyadarinya, ya. ” ucapnya. “ mati di tangan kalian berdua memang hal yang ku inginkan. ” lanjutnya.


Himiko terlihat kesal dan menekan tusukan pedangnya sehingga semakin dalam menembus punggung Hikasa, “ apa maksudmu.?! ” dia bertanya.


Hikasa melirik Himiko yang ada dibelakang, “ semenjak kejadian sembilan tahun yang lalu, aku sadar suatu saat kalian pasti datang dengan membawa kebencian.. dan aku bertahan hidup untuk menampung semua kebencian kalian. ” jawabnya.


Hitomi terlihat kesal, “ jangan bercanda! dari awal kita bertarung dengan serius, kau juga menyerang dengan niat membunuh.! ” teriaknya tidak terima.


Hikasa menatap Hitomi, “ mungkin itu memang benar, tapi.. aku hanya ingin melihat kemampuan kalian berdua, ternyata kalian benar-benar kuat di usia yang masih muda. ” ucapnya.


“ lalu, apa tujuan mu yang sebenarnya.? ” Hitomi bertanya dengan wajah datar.


“ Desa Elemen mustahil untuk diselamatkan, tapi.. Klan Nogo masih punya harapan.. dan aku ingin mempercayakan Klan pada kalian. ” jawab Hikasa terdengar berat, “ kerja sama kalian juga baik, aku yakin kutukan itu tidak akan terjadi pada kalian. ” lanjutnya.


aliran petir di tangan Hitomi sudah hilang, dia mencabut tangannya dari perut Hikasa, tangannya basah karena darah.


setelah itu, Himiko mencabut Pedang Apinya dari punggung Hikasa, darah yang menempel langsung lenyap menjadi asap terkena panas pedang Himiko.


Hikasa mulai kehilangan keseimbangan, dia hampir jatuh ke depan, tepatnya kearah Hitomi.


Greb..


Hitomi memeluk Hikasa, “ ini terakhir kalinya kita bicara, jadi katakan apapun yang ingin kau katakan. ” ucap Hitomi, Hikasa tidak jadi terjatuh.


“ begitu, ya. ” Hikasa masih bisa tersenyum, “ aku senang kau masih menganggap ku sebagai ayah, walaupun disaat aku akan kehilangan nyawa. ” ucapnya.


Hikasa melirik Himiko yang ada dibelakang, “ Himiko, anggaplah kejadian sembilan tahun yang lalu semuanya terjadi karena aku, akulah satu-satunya orang yang pantas kau benci.. jadi, kau tidak perlu lagi memikul beban kebencian itu.. kau tidak perlu memikirkan untuk balas dendam. ” ucapnya.


Hitomi tertegun mendengar itu, dia terdiam menatap Hikasa.


Hikasa menatap Hitomi yang berada di depan matanya, “ lalu.. aku minta maaf pada kalian berdua.. aku tidak bisa berbuat apa-apa disaat kalian berdua terpuruk, menderita dan kesepian.. aku tidak berharap kalian memaafkan ku, tapi aku hanya ingin kalian tahu apa yang ingin ku katakan. ” ucapnya.


Hitomi terdiam, dia mencoba untuk tetap tenang, namun dimatanya terselip sebuah kesedihan, kenangan masa kecilnya saat bersama Hikasa ayahnya kembali muncul, saat dia digendong, saat latihan, saat makan, semuanya kembali terbayang.


Brakk..


tubuh Hikasa terjatuh kearah samping, lalu tergeletak di tanah yang langsung basah terkena darah, sementara Hitomi masih mematung.

__ADS_1


Hitomi tersadar dari lamunannya, dia menatap Hikasa yang tergeletak, “ lalu.. apa lagi yang ingin kau katakan.? ” dia bertanya.


“ Serano... jika kalian punya kesempatan, habisi dia.. aku punya firasat dia akan memusnahkan para manusia.. ” ucap Hikasa terbata-bata, ini adalah nafas terakhirnya, “ dan satu lagi.. mungkin.. mungkin kakek kalian masih hidup.. orang sekuat dia tidak mungkin mati dengan mudah.. ” lanjutnya, dia menutup mata dengan perlahan.


Himiko menatap Hikasa yang tergeletak, “ aku tidak perduli dengan dia.. orang yang meninggalkan anak serta cucunya demi mencari kekuatan tidak lebih baik daripada sampah. ” ucapnya.


Hitomi berdiri menatap Hikasa yang sudah tidak bernyawa, dia tidak bisa berbicara selain diam.


Himiko menatap Hitomi yang terdiam, “ sepertinya kebenciannya tidak mampu menghapus semua kasih sayangnya terhadap ayahnya, mungkin.. jika aku diposisi dia juga akan merasakan hal yang sama.. ” batinnya.


“ kakak, ayo pergi, sebentar lagi pasukan Sanji pasti ke tempat ini. ” ucap Himiko.


Hitomi menatap Himiko, “ baiklah, aku mengerti. ” ucapnya, “ ayo pergi.! ”


Tap.. Tap..


Hitomi dan Himiko meninggalkan tempat itu, keduanya terus berlompatan di dahan pohon, terlihat keduanya sambil berbincang-bincang.


“ begitu, ya.. ” ucap Hitomi, “ jadi selama ini kau tinggal sendiri, pasti kau merasa sangat kesepian. ” lanjutnya.


“ lalu, bagaimana dengan kakak.? Himiko bertanya, “ apa kakak tinggal sendiri.? ”


Hitomi terdiam cukup lama, “ aku tinggal di Desa Sanji. ” kemudian menjawab.


“ apa.?! ” Himiko tersentak, lalu menghentikan langkah di dahan pohon yang cukup besar.


Hitomi yang terus bergerak, menyadari Himiko berhenti, menoleh ke belakang dan mendekati Himiko.


Hitomi memegang bahu Himiko yang menundukkan kepala, “ Himiko, kau kenapa.? ” tanya Hitomi


Ctas..


Himiko menolak tangan Hitomi yang memegang bahunya, kemudian menatap tajam Hitomi, “ apa maksud dengan tinggal di Desa Sanji? seharusnya kau tahu Sanji juga beraliansi saat penyerangan Desa Elemen. ”ucapnya.


“ ya, aku tahu itu, tapi jika saat itu aku tidak ikut dengan mereka, mungkin aku akan diburu. ” jawab Hitomi. “ awalnya aku ingin menyerang dari dalam saat aku sudah lebih kuat, tapi.. mereka menganggap ku sebagai penduduk desa, teman, dan bahkan keluarga.. aku tidak bisa mengkhianati kasih sayang mereka. ” lanjutnya.


“ memang benar yang dikatakan ayahmu jika dia penyebab kehancuran Desa Elemen, tapi.. dia bukanlah satu-satunya orang yang bertanggung jawab, aku berniat menghancurkan Desa Yama, Arkan dan Sanji.. ” ucap Himiko lalu tersenyum jahat, “ terutama pimpinan mereka, Judoro, Mikami, dan Ikumo. ” dia terlihat penuh kebencian.


Hitomi menatap Himiko, “ jadi, kau memang mengabdikan dirimu untuk balas dendam, ya. ” ucapnya. “ hidup didalam lautan kebencian, aku rasa itu sangat menyedihkan.. ” lanjutnya.


“ aku tidak perduli dengan apa yang kau katakan, dan kau tidak mengerti dengan kebencian yang aku rasakan, ayahku di bunuh di depan mataku, bagaimana paman Hikari mati saat menyelamatkan ku, aku melihatnya dengan mata ku sendiri. ” ucap Himiko dengan mata penuh dendam. “ tidak semua luka harus berdarah dan ini benar-benar menyakitkan. ” Himiko meletakkan tangannya didadanya.


“ paman Hikari menyelamatkan mu.?! ” Hitomi bertanya dan terkejut, “ itu artinya dia sudah menyelamatkan Sinam, dan Sinam masih hidup sampai sekarang. ” lanjutnya.


Himiko menatap tajam Hitomi, “ aku tidak ingin mendengar penjelasan mu, tapi.. sudah saatnya kau meninggalkan Desa Sanji dan ikut bersamaku. ” ucapnya.


Hitomi terdiam, dia tidak menjawab.


“ begitu, ya.. diam mu ku anggap menolak. ” ucap Himiko, “ aku yang sekarang tidak mungkin sanggup menghancurkan satu Desa besar, jadi aku akan kembali setelah kekuatan ku semakin meningkat. ” lanjutnya.


“ dan saat itu.. ” Himiko menatap tajam Hitomi, “aku akan menghadapi mu jika kau menghalangi ku menghancurkan Desa Sanji. ” lanjutnya.


Deg..

__ADS_1


Hitomi tersentak, dia menatap Himiko tidak percaya, “ apa maksudmu.? ” ucapnya. “ kita akan bertarung.? ”


“ ya, jika itu terjadi, anggap saja kutukan yang dikatakan ayah mu memang benar, dan pengkhianatan yang dilakukannya demi menyelamatkan sejarah Desa Elemen bukanlah sebuah kesalahan. ” ucap Himiko serius.


__ADS_2