
siang ini, langit begitu cerah, matahari bersinar terik, angin juga berhembus sepoi-sepoi.
“kak Uhara memang hebat, bisa mengalahkan lawan dengan mudah. ” ucap Sinam penuh semangat.
“aku pikir tadi kak Uhara sudah kalah.. ” sahut Sansiro.
“aku hanya beruntung saja. ” ucap Uhara merendah.
saat ini, mereka sedang berada di jalan yang sepi, di pinggir jalan hanya ada pepohonan yang daunnya terus berguguran.
Sinam menoleh Uhara, “tapi, semua orang terkesan melihat Shaka hitam kakak tadi, sepertinya kak Uhara memang sangat terkenal, ya. ” ucapnya.
“oh, ya, kak Uhara, jika kau tidak keberatan, maukah kau mengajari kami cara menggunakan Shaka.? ” Sansiro terlihat ragu-ragu, “tapi.. aku tidak yakin memiliki Shaka. ”
Uhara melirik Sansiro, “setiap orang memiliki Shaka, namun ada juga yang tidak bisa mengendalikannya. ” ucapnya datar, “masalah belajar, jika kalian sudah menjadi petarung, cepat atau lambat pasti bisa menggunakannya.. insting bertarung kalian yang akan mengajarkan kalian cara menggunakan Shaka. ”
Sinam melirik Uhara, “kak Uhara terlihat lelah, jika tidak, aku akan memintanya untuk mengajariku cara menggunakan Jurusnya tadi. ” batinnya.
★★★★★
Sinam, Sansiro dan Uhara duduk di teras rumah, mereka terlihat menikmati pemandangan.
“jadi, kakek dan nenek sedang ke sawah, ya. ” ucap Uhara membuka pembicaraan.
“ya, biasanya aku juga ikut. ” jawab Sinam.
“aku lupa sesuatu. ” tiba-tiba Sansiro berucap, “aku harus membantu ayah, besok kita sudah masuk akademi. ” lanjutnya lalu berdiri dari duduknya.
Uhara menoleh Sansiro, “melihat tekad mu yang ingin menjadi petarung, aku pikir ayahmu seorang petarung hebat. ”
Sansiro membalikkan badan dan menoleh Uhara, “dulu dia memang petarung hebat, tapi itu sebelum kakinya patah. ” dia terlihat sedih.
“kakinya patah.?! ” Uhara terlihat serius, “apakah ayahmu Tsurugi.?! ”
Sansiro terkejut menatap Uhara, “bagaimana kau bisa tahu.? ”
Uhara terlihat melas, “dia adalah sahabat ayahku saat masih hidup. ” ucapnya, “tolong katakan aku menanyakan kabarnya. ”
“baiklah.” Sansiro meninggalkan Uhara dan Sinam.
Sinam menatap Uhara, “jadi, orang tua kak Uhara sudah tidak ada, ya. ”
“mereka tewas saat menjalankan tugas, aku yang berumur enam tahun saat itu harus menjadi beban kakek dan nenek. ” ucap Uhara, “padahal aku tidak ada hubungan darah dengan mereka, tapi mereka sangat menyayangi ku. ” dia tersenyum tipis.
Sinam menatap Uhara cukup lama, lalu mengalihkan pandangan, “ternyata hidup kak Uhara juga menyedihkan, tapi setidaknya dia tahu siapa orang tuanya. ” batinnya terlihat bersedih.
“ada apa dengan mu.?! ” Uhara menatap Sinam.
“tidak, aku hanya memikirkan siapa orang tua ku. ” jawab Sinam dengan mata sayup.
__ADS_1
Uhara tertegun membisu, “aku tahu siapa orang yang menitipkannya pada kakek dan nenek, tapi jika kuberi tahu, hanya akan memperumit keadaan, aku juga tidak tahu siapa orang tuanya. ” batin Uhara.
Sinam kembali tersenyum, “oh, ya, kak Uhara, saat di pertarungan tadi aku lihat kau menggunakan Jurus, aku yakin kau tidak keberatan untuk mengajariku. ”
“Jurus Satu Tarikan Nafas, ya. ” ucap Uhara, lalu berdiri, “lain kali akan ku ajarkan, hari ini aku lelah. ” lalu masuk kedalam rumah.
“hey, kak Uhara.! ” panggil Sinam terlihat kesal.
Keesokan harinya....
“gawat! gawat! gawat! ” Sinam berdiri dari tidurnya, “aku kesiangan.! ”
“eh.?! ” Sinam menoleh ke kanan dan kirinya, disitu terdapat selimut tidur yang berserakan, “kak Uhara kemana.?! ” tanyanya.
“dia sudah pergi. ” tiba-tiba kepala nenek masuk ke pintu kamar, “dia berkata sedang ada tugas. ” lanjutnya.
“cih, padahal dia sudah janji akan mengajarkan Jurus pada ku. ” gumam Sinam kesal.
“hey, cepat ganti pakaian lalu sarapan, bukankah hari ini kau masuk Akademi.?! ” ucap nenek, “maaf, ya. kakek dan nenek tidak bisa menemani.” ucapnya lembut.
“tidak masalah nenek. ” ucap Sinam.
Sinam dan Sansiro berjalan, saat ini mereka sedang berada di pusat desa dan sedang menuju Akademi, keduanya terlihat bersemangat.
“aku sudah tidak sabar. ” ucap Sinam.
setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Sinam dan Sansiro sampai di sebuah lapangan yang di penuhi dengan banyak anak seusia Sinam, tempat ini adalah tempat mendaftar menjadi petarung.
Sinam terkejut memandang segerombolan anak sebayanya itu, “hebat, banyak sekali. ” dia tersenyum semangat.
“aku tidak sabar ingin bertarung dengan mereka. ” Sansiro penuh semangat.
saat ini, Sinam dan Sansiro berada dipinggiran gerombolan anak-anak itu yang berserakan, sepertinya masih ada waktu untuk menunggu kedatangan prajurit desa Yama yang akan membawa acara.
Sansiro tersenyum memandang semua orang, “hey, semua! aku Sansiro, aku akan menjadi petarung, sama seperti kalian.! ” teriaknya dengan lantang.
Sinam memandang semua orang, “dan aku adalah Sinam, senang berteman dengan kalian.! ” teriaknya sambil tersenyum.
mata semua orang tertuju kearah Sinam dan Sansiro, tatapan mereka begitu dingin, ada juga yang menatap dengan nafsu membunuh.
“siapa mereka.?! ”
“tidak perlu dipikirkan, aku yakin mereka bukanlah ancaman. ”
“mungkin mereka dari pinggiran desa, aku tidak pernah melihat mereka. ”
beberapa orang berbisik melirik Sinam dan Sansiro.
Sinam dan Sansiro terkejut melihat reaksi orang-orang, namun keduanya terlihat tidak gentar sedikitpun, mereka tersenyum penuh kebanggaan.
__ADS_1
“hey, kau.! ” tiba-tiba ada yang berteriak.
Sinam dan Sansiro mengikuti arah suara, mereka melihat Harumi Sato yang saat ini menunjuk Sinam.
Sinam tersenyum, “kau lagi? memangnya kau tidak ingat aku pernah membuat mu menangis. ” ucapnya mengejek.
Harumi terlihat malu, lalu menoleh sekeliling, “itu sudah terlalu lama, lagipula apa kau tidak malu membanggakan hal seperti itu.. membuat wanita menangis bukanlah sesuatu yang hebat. ”
“usia ataupun jenis kelamin, tidak ada hubungannya dengan dunia petarung, benar bukan.? ” Sinam tersenyum menatap Harumi.
“Kau.?! ” Harumi terlihat kesal.
“kalian berisik sekali, tenanglah sedikit.! ” tiba-tiba ada yang bersuara, walau tidak keras, namun penuh penekanan, semua orang terdiam.
Sinam dan Sansiro menoleh kearah suara, begitu juga dengan Harumi, mereka melihat anak laki-laki berambut merah dengan tatapan mata super tajam sedang duduk santai, dia adalah Saken Takeyomi, adik dari Akaza.
Sinam menatap Saken, “dia.. anak yang waktu itu menonton pertarungan kak Uhara.. jadi dia masuk Akademi, ya.. ” batinnya lalu tersenyum.
“hehehe... ” tiba-tiba Sansiro tertawa kematian dengan kepala tertunduk, lalu mengangkat kepala menatap tajam Saken, “aku menantang mu.! ” dia mengangkat pedang besarnya untuk menunjuk Saken.
Braak..
Saken berdiri dari duduknya, lalu menatap tajam Sansiro, “kau membuatku kesal.! ”
“cukup.! ” tiba-tiba muncul seseorang yang mengenakan pakaian khas petarung Desa Yama, dia adalah orang yang akan membimbing para anak-anak ini.
“namaku Deiki, aku yang akan menjelaskan pada kalian tentang semuanya. ” ucap pria berambut ungu tersebut.
Sinam dan Sansiro terdiam, begitu juga dengan anak-anak yang lain.
*Tap..
Tap*...
dengan tiba-tiba, Kazuo dan beberapa orang lainnya muncul entah dari mana, mereka menatap semua anak-anak.
“aku dengar murid yang akan masuk tahun ini lumayan banyak. ” ucap salah seorang.
“benar, hampir seratus orang.. sebagian dari mereka berasal dari Klan ternama serta keluarga atas, sisanya memiliki latar belakang yang biasa saja. ” sahut Kazuo.
“kalau tidak salah, Iblis Ular dari Klan Takeyomi juga masuk tahun ini.. ” ucap yang lainnya.
Kazuo tersenyum, “begitu, ya.. sepertinya tahun ini akan menarik. ” ucapnya.
“tapi, aku dengar Klan Sato juga memiliki satu anak yang masuk Akademi tahun ini. ” ucap salah satu teman Kazuo.
Kazuo terdiam sejenak, “benar, dia adik sepupuku, namun dia hanya gadis kecil yang berisik. ” lalu berbicara.
“Harumi, sekarang kau akan tahu apa arti pertarungan yang sesungguhnya. ” batin Kazuo, “lalu.. apakah kau bisa melewatinya.. itu tergantung tekad mu.. ”
__ADS_1