SINAM

SINAM
Serangan Kombinasi


__ADS_3

dibawah matahari sore, tepatnya di tengah jalan yang berada di antara pepohonan, terlihat beberapa orang membuat kekacauan, itu adalah Satoru yang menghadapi Sinam dan yang lain.


Satoru menatap Sinam dan Sansiro datar, kedua pedang tidak lepas dari genggaman.


Sinam dan Sansiro berdiri berdampingan, keduanya menatap Satoru dengan serius, mereka juga terlihat berpikir.


Wusshh..


angin meramaikan suasana yang cukup hening, debu beterbangan bersama rambut ketiga orang itu yang diobrak-abrik.


Akaza menatap Satoru, Sinam dan Sansiro dari kejauhan, dia masih duduk santai, “ sepertinya pertarungan ini akan berakhir, anak-anak itu akan berakhir. ” gumamnya.


disisi lain, Matsuda terlihat panik, didepannya ada Akaza, jika kebelakang Satoru lebih menakutkan, “ aku sudah berakhir.!! ” dia menjerit dalam hati.


“ ayo maju..!! ” Sinam berteriak, lalu berlari bersama pedangnya yang terlihat mengancam.


“ aku datang.!! ” disaat bersamaan, Sansiro berlari di samping Sinam sambil tersenyum jahat, dia juga bersiap dengan tebasan.


Sriing..


Satoru bersiap dengan kedua pedangnya, “ kalian mulai membuat ku bosan. ” ucapnya datar lalu berlari maju.


Tap.. Tap..


Sinam dan Sansiro terus berlari ke arah Satoru yang juga berlari ke arah mereka, jarak semakin terpangkas.


“ semua terluka parah, kami tidak boleh kalah.! ” batin Sinam serius.


Wusshh..


setelah dekat, Satoru mengarahkan tebasan ganda ke arah Sinam dan Sansiro dengan cepat, suara pedangnya bergesekan dengan udara terdengar menakutkan.


Sraak..


dengan gerakan tidak terduga dan cepat, Sinam menunduk untuk menghindar sehingga kedua lututnya bergesekan dengan bumi, dia melewati ************ Satoru sambil mengarahkan tebasan ke arah kaki kiri Satoru.


Satoru melirik ke bawah, “ cih.! ” dia terlihat kesal.


Tap..


Satoru melompat keatas sambil menginjak permukaan pedang Sinam, dia berhasil menghindar.


Sinam melirik Satoru yang berada di udara, dia tersenyum tipis, “ sekarang..! ” batinnya, entah apa yang dipikirkannya.


Satoru menatap bumi, disitu ada bayangan seseorang, “ cih.! ” dia menoleh ke atas dengan wajah kesal.


“HIIIAAA..!! ” benar saja, Sansiro berada di atas dengan pedang yang sudah terayun, dia siap menebas Satoru sambil berteriak.


Satoru tidak bisa menghindar, saat ini dia berada di udara, dia menatap tajam Sansiro yang melayang di atasnya.


cep..


Satoru menancapkan pedangnya dengan tangan kanan, lalu melompat mundur untuk menghindar dengan dorongan dari tangan kanan.


Braak..


detik selanjutnya, tanah hancur terkena tebasan Sansiro, debu mengepul.


Tap..


Satoru mendarat, “ hampir saja.. ” batinnya, lalu menoleh ke depan yang ternyata Sinam sudah dekat.


Sinam terus berlari maju, “ padahal sedikit lagi, dia benar-benar gesit.! ” batinnya kesal.


Satoru menatap tajam Sinam, “ anak ini sangat gesit, gerakannya tidak terduga. ” batinnya lalu menoleh Sansiro yang berada di belakang Sinam, “ kombinasi mereka berdua tidak bisa diremehkan, aku harus lebih serius. ”


Ctaang..


Sinam melompat sambil mengarahkan tebasan ke arah Satoru yang langsung menangkis dengan pedang kanan.


Wushh..


Satoru membalas dengan melepaskan tebasan menyamping, Sinam menghindar dengan menunduk.


Buaak..


disaat menunduk, Sinam melayangkan tendangan lurus ke arah perut Satoru, namun tiba-tiba permukaan pedang menghalangi telapak kakinya, kakinya menghantam permukaan pedang Satoru.

__ADS_1


Braak..


Satoru melesatkan tebasan yang siap membelah, sekali lagi Sinam berhasil menghindar dengan menjaga jarak, tanah menjadi sasaran pedang Satoru


Syutt..


tepat di saat itu, Tiba-tiba pedang Sansiro terbang dengan gaya berputar-putar, terlihat sangat cepat dan bertenaga, pedang itu tertuju ke arah Satoru dari depan.


Ctaang..


Satoru menahan pedang Sansiro dengan menyilangkan kedua pedangnya, namun dia terdorong ke belakang.


Tap..


Sansiro melompat, tiba-tiba berada di belakang Satoru dan bersiap melepaskan tendangan kapak.


“ ini kesempatan ku.! ” Sansiro terlihat serius.


Satoru masih menahan dorongan pedang Sansiro, dia melirik kanan kiri, “ di mana pengguna pedang ini.? ” batinnya.


Buaak..


tanpa menoleh, Satoru berputar sambil melepaskan tendangan menyamping yang menghantam kaki Sansiro dengan telak, disaat kaki Sansiro hampir menghantam Satoru dari belakang.


Buaak..


dengan dahsyat tubuh Sansiro terhempas jauh menghantam pepohonan yang langsung tumbang, lalu tergeletak setelah menabrak salah satu pohon.


“ Sansiro.!! ” Sinam berteriak dan mengejar Sansiro.


“ uhuk..! ” Sansiro mengeluarkan seteguk darah, dia masih tergeletak.


Sinam sudah dekat dengan Sansiro, “ Sansiro, bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu.! ” ucapnya.


Sansiro memaksa tubuhnya untuk bangkit, “ ini belum seberapa. ” ucapnya dengan tubuh gemetar, dia masih bisa tersenyum.


Sinam menatap Sansiro, “ Sansiro.. ” dia tertegun.


“ ayo kita habisi dia, sebelumnya kita berhasil memojokkan dia, yang berikutnya pasti berhasil, serangan kombinasi kita cukup membuatnya kesulitan. ” ucap Sansiro.


Tap..


Satoru menatap Sinam dan Sansiro, “ sepertinya kalian tidak tahu kapan waktunya untuk menyerah. ” ucapnya datar.


Sinam melirik sekujur tubuh Sansiro yang penuh luka, “ Sansiro terluka sangat parah.. dia sudah banyak mengeluarkan darah.. aku takut dia.. ” batinnya, “ jika itu terjadi, tidak ada artinya memenangkan pertarungan ini, Sansiro harus tetap hidup. ” dia terlihat sedih.


Sansiro melirik Sinam, “ Sinam, apa yang kau pikirkan? berhentilah melihatku dengan tatapan seperti itu, kau membuat ku terlihat menyedihkan. ” ucapnya lalu tersenyum.


“ Sansiro.. ” ucap Sinam sambil menundukkan kepala, matanya tidak terlihat, “ aku sendiri yang akan menghabisinya. ” lanjutnya mengangkat kepala, dia terlihat meyakinkan.


“ eh.?! ” Sansiro terkejut, “ apa maksudmu.?! ” dia bertanya.


Tap.. Tap..


Sinam maju dengan langkah perlahan, “ lukamu sudah terlalu parah, Sansiro, istirahatlah sebentar.. ” ucap Sinam.


Satoru menatap Sinam yang berjalan perlahan mendekat, “ apa dia berniat menghadapi ku sendiri.? ” gumamnya.


setelah cukup dekat dengan Satoru, Sinam menghentikan langkah dan menatap Satoru serius, sekitar enam meter jarak keduanya.


Sriing..


Sinam bersiap dengan pedangnya yang memantulkan cahaya sehingga terlihat menyilaukan, dia menggenggam erat pedang tersebut yang lurus mengikuti tubuhnya.


Satoru sedikit bingung, “ apa yang akan dia lakukan.? ” batinnya.


Sinam menatap Satoru tajam, pedangnya berada di antara kedua matanya, “ Jurus Satu Tarikan Nafas.! ” ucapnya.


Wusshh..


detik selanjutnya, Sinam menghilang dari tempatnya, yang terlihat hanyalah debu melingkar.


Satoru terkejut, “ cepat sekali.. ” batinnya sambil menoleh ke segala arah, “ aku tidak bisa melihatnya. ”


“ eh.?! ” Sansiro terkejut melihat Sinam yang menghilang.


Zrashh..

__ADS_1


Tiba-tiba Satoru tertebas dari depan, namun hanya mengenai lengannya yang terluka cukup lebar dan mengeluarkan darah. sementara Sinam masih belum terlihat.


Satoru terlihat serius memandang lukanya, “ serangannya begitu cepat untuk dilihat dengan mata, kalau begitu.. ” batinnya serius.


Ctaang..


Satoru mengayunkan pedang ke belakang, walau lawannya tidak terlihat, namun suara besi beradu terdengar jelas.


“ akan ku gunakan insting bertarung ku. ” ucap Satoru serius.


Sansiro tidak percaya melihat Satoru, “ padahal Sinam bergerak sangat cepat, tapi dia bisa menahannya. ” batinnya.


“ uhuk.. uhuk.. ” tiba-tiba Sansiro terbatuk, “ gawat, aku mulai merasakan sakit.. tubuhku juga sangat kelelahan.. semuanya akan kurasakan ketika aku berhenti bertarung.. ini sebabnya aku terus ingin bertarung.. ” batinnya memandang telapak tangannya, dia terlihat kesakitan.


Braak..


tiba-tiba Sinam terhempas ke bumi dan tergeletak, dia terlihat menahan sakit namun tidak bisa bergerak.


Satoru melirik kebelakang, dia melihat Sinam yang tergeletak, “ apa yang terjadi.? ” gumamnya datar.


“ gawat, aku memang belum menguasai Jurus ini.. sekarang tubuhku tiba-tiba kaku.. ” batin Sinam, hanya bola matanya yang bergetar.


Tap.. Tap..


Satoru berjalan perlahan mendekati Sinam, “ sepertinya kau sudah tidak sanggup lagi untuk menari, itu artinya pesta telah usai. ” ucapnya datar.


Sinam menyadari Satoru yang mendekatinya, “ gawat.. ” batinnya kemudian melirik Sansiro yang berada cukup dekat dengannya.


“ akh..! ” Sansiro mulai meringis kesakitan, dia memegangi kepalanya, diantara sela-sela jarinya dia melihat Sinam yang tergeletak, “ cih.. ”


Tap..


Sansiro melompat dan membawa Sinam menjauh dari Satoru.


Satoru memandang Sansiro yang berlari dengan langkah berat, “ sungguh menyedihkan.. seharusnya kalian lari dari awal. ” gumamnya.


Bukk..


Sansiro menjatuhkan kedua lututnya, dia terlihat kelelahan dan kesakitan.


Sansiro memukul punggung Sinam yang langsung bisa bergerak, “ padahal sudah sok keren, tapi malah seperti ini.. ” ucapnya sambil tersenyum tipis.


Sinam terlihat bersalah, “ maaf, ya.. aku malah merepotkan mu. ” ucapnya.


“ tidak perlu dipikirkan, masalahnya aku sudah mulai merasakan sakit.. luka-luka ini benar-benar panas, aku tidak bisa bertarung lagi.. ” ucap Sansiro.


Sinam terlihat kesal, “ sial, dia benar-benar kuat..! ” ucapnya.


Satoru mendekati Sinam dan Sansiro, “ lihatlah diri kalian sekarang! terlihat sangat menyedihkan, dimana keangkuhan kalian tadi.? ” ucapnya datar.


Drap.. Drap..


tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cukup serempak, sepertinya lebih dari empat kaki, dan itu berasal dari arah Sanji, dibelakang Akaza.


Akaza melirik kebelakang, “ sepertinya ada pengganggu yang datang. ” ucapnya datar.


benar saja, beberapa saat kemudian terlihat beberapa kaki, namun itu bukan manusia, melainkan dua ekor kuda lengkap dengan gerobaknya.


Satoru melirik kearah kuda tersebut, “ sepertinya ada yang ingin bergabung. ” ucapnya datar.


Tap..


kedua kuda tersebut berhenti di depan Akaza, lalu turun delapan orang dari kedua gerobak tersebut, orang-orang itu mengenakan pakaian khas petarung Sanji lengkap dengan berbagai senjata.


Matsuda memandang delapan orang Sanji itu, seketika matanya berbinar seolah mendapat harapan baru, “ tolong kami.. si Setan Merah menyerang kami.. ” teriaknya.


“ Setan Merah.?! ” salah seorang bertanya.


“ dia adalah Petarung kriminal anggota Kaisar Besi. ” sahut yang lain. “ dan Kaisar Besi sangat sering merampok senjata Sanji. ” lanjutnya.


Akaza berdiri dari duduknya, menatap kedelapan orang Sanji, “ aku tidak ingin terlibat pertarungan, yang perlu ku awasi hanya orang bernama Matsuda itu. ” batinnya lalu melompat ke dahan pohon.


Orang-orang Sanji menoleh Akaza, namun mereka terlihat mengacuhkannya, kemudian memandangi Satoru.


“ harga kepala si Setan Merah sangat mahal, aku yakin Pimpinan akan memberikan hadiah jika kita berhasil membunuhnya. ” ucap salah seorang sambil tersenyum.


“ semakin mahal harga kepala seseorang, semakin kuat pula petarung itu, kita harus hati-hati. ” lanjut lainnya serius.

__ADS_1


Satoru memiringkan kepala menoleh kedelapan orang Sanji, “ jika kalian melihatku sebagai uang, kalian salah besar. ” ucapnya sambil menjulurkan lidah.


Sinam memandang ke delapan orang Sanji, “ bantuan... datang.. ” dia menghela nafas lega.


__ADS_2