
Hikasa berdiri bersandar di batang pohon yang cukup rimbun, dia terlihat bosan.
“ sudah dari tadi aku menunggu, tapi Shoi belum datang juga. ” gumamnya sambil menghela nafas.
Tap..
tiba-tiba muncul seseorang dihadapan Hikasa dengan cepat, dia mengenakan jubah, dia adalah Shoi yang mengintai Serano.
“ maaf senior, aku terlambat. ” ucap Shoi menundukkan kepala.
“ tidak masalah, langsung ke intinya saja. ” ucap Hikasa datar.
“ Serano itu.. sepertinya dia punya niat buruk.. dia selalu menghasut pendukung mu dengan mengatakan yang tidak tidak, tapi.. itu cukup membuat beberapa orang memanas.. ” jelas Shoi.
“ begitu, ya.. ” ucap Hikasa datar, “ kalau begitu, terus intai dia. ” lanjutnya.
“ tapi senior.. jika kita tidak mengambil tindakan.. bisa-bisa desa akan terpecah menjadi dua, lalu.. ” Shoi tergesa-gesa.
“ kita belum tahu apa tujuan Serano, mungkin ada orang lain yang bekerja sama dengannya, sebelum kita mengambil tindakan, kita harus mencari tahu terlebih dahulu.. ” ucap Hikasa serius.
“ begitu, ya.. baiklah, aku mengerti. ” ucap Shoi lalu pergi.
Serano dan segerombolan penduduk sedang berbincang-bincang, mereka terlihat kesal dan kecewa.
“ besok pendiri desa akan pergi, sementara Hikaru sudah resmi di nyatakan sebagai pimpinan, menyebalkan. ” ucap seseorang
“ benar, sungguh mengecewakan. ” sahut yang lainnya.
“ tidak perlu frustasi seperti itu, jika pendiri desa sudah pergi, lebih mudah bagi kita untuk membuka suara. ” ucap Serano sambil tersenyum.
Keesokan harinya....
cukup jauh dari perumahan desa Elemen, tepatnya di perbukitan yang dipenuhi pepohonan, terlihat Huyabasa sang pendiri desa Elemen sedang berdiri memandangi desanya.
“ tidak terasa desa yang ku dirikan sudah sebesar ini.. ” Huyabasa tersenyum tipis, “ tapi.. mulai hari ini aku akan pergi dan tidak tahu akan kembali kapan. ” lanjutnya.
Tap...
Tiba-tiba Hikasa muncul, dia membungkukkan badan, “ sepertinya ayah sudah lama menunggu ku. ” ucap Hikasa.
“ aku menikmati pemandangan ini.. jadi waktu terasa singkat. ” ucap Huyabasa, “ mungkin karena aku akan merindukan desa ini. ”
“ jadi ayah benar-benar akan meninggalkan kami, ya. ” ucap Hikasa.
“ ya, aku ingin memperkuat diri.. aku ingin menghapus penderitaan bagi orang-orang kecil dan memberi rasa takut pada desa-desa besar. ” ucap Huyabasa.
“ begitu, ya. ” Hikasa terlihat sedih, “ lalu.. kenapa ayah memanggilku, jika ingin bicara kenapa tidak di desa saja. ” lanjutnya.
Huyabasa memutar tubuhnya sehingga membelakangi Hikasa, dia memandang perbukitan, “ aku tidak ingin ada yang mendengar ini. ” ucapnya. “ Hikasa.. sejujurnya aku memilih mu untuk menggantikan ku.. kau bijaksana dan penuh kelembutan.. ”
Hikasa tertegun, “ terkadang.. kelembutan tidak dibutuhkan bagi seorang pemimpin. ” ucapnya tersenyum tipis.
“ tapi.. Hikaru menginginkan posisi pemimpin, sementara kau tidak. ” lanjut Huyabasa, “ seharusnya tanpa bertanya dari awal aku sudah bisa memilih mu menggantikan ku, kau anak tertua dan kau lebih pantas.. tapi dari dulu aku menyadari bahwa Hikaru ingin menjadi pimpinan, aku menghargainya.. aku tidak ingin ada perpecahan diantara kalian. ”
“ perpecahan? ayah lucu sekali, kami ini adik-kakak, itu mustahil. ” Hikasa tersenyum tipis.
“ tidak, itu bisa saja terjadi. ” Huyabasa serius, “ kau pasti sudah tahu tentang legenda itu, kutukan yang diwariskan oleh para pendahulu kita.. jauh dari hatimu kau juga sangat waspada terhadap Hikaru, kau selalu mengalah karena tidak ingin kutukan itu terjadi.. ” lanjutnya.
Hikasa tersentak, lalu termenung, “ ya.. jika waktu bisa diulang, aku tidak ingin menguasai elemen petir. ” lalu berucap.
__ADS_1
“ tidak ada gunanya menyesal.. ” Huyabasa menatap langit biru, “ sekarang.. semuanya akan menjadi sulit, setelah desa-desa besar tahu bahwa aku sudah meninggalkan desa, mereka pasti mencari kesempatan untuk menyerang. ” ucapnya.
“ aku sudah tahu itu, orang yang paling mereka waspadai adalah ayah, petarung yang menguasai lima elemen sekaligus.. ” ucap Hikasa, “ jika ayah sudah tidak ada, cepat atau lambat mereka pasti datang. ”
“ ada satu lagi, Hikasa.. ” Huyabasa melirik Hikasa, “ keadaan desa sedang tidak baik-baik saja.. sepertinya ada yang ingin memecah desa kita.. aku yakin kau menyadari itu. ”
“ jadi ayah juga menyadarinya, ya. ” Hikasa tertegun.
“ baiklah, aku akan segera pergi. ” Huyabasa mulai melangkah, “sampaikan salam ku pada menantu serta cucu-cucu ku.! ”
“ sampai jumpa lagi.. ayah..! ” Hikasa terlihat sedih.
masih cukup dekat, Huyabasa menghentikan langkah, melirik Hikasa, “ Hikasa.. walaupun Hikaru pimpinan desa, tapi apapun yang terjadi nanti, kaulah yang harus mengambil keputusan akhir, ini kukatakan langsung padamu sebagai seorang ayah.! ” ucapnya sambil tersenyum.
Hikasa tertegun, “ keputusan akhir.? ” dia bertanya.
“ terkadang, ada saatnya seorang petarung dipaksa memilih keputusan diwaktu yang mendesak. ” ucap Huyabasa, “ yang terpenting, buatlah kutukan itu seolah hanya lelucon, karena aku tidak ingin anak-anak ku saling melukai. ” dia tersenyum hangat, lalu kembali berjalan.
Hikasa memandang kepergian Huyabasa dengan mata berkaca-kaca, “ ayah.. terimakasih.. ” ucapnya pelan.
Beberapa hari kemudian...
Malam ini, bulan purnama bersinar terang, namun awan datang menutupi sehingga bayangannya menjadi gelap, angin malam mencoba menyingkirkan keheningan malam.
Hikasa berjalan di antara perumahan penduduk yang gelap, entah apa yang dicarinya diwaktu yang sudah tengah malam ini.
“ ada apa ini, seharusnya Shoi sudah datang. ” batin Hikasa.
Brak.. Buaakk..
“ akh..! ”
Hikasa terkejut, “ apa itu.?! ” ucapnya lalu berlari ke arah suara tersebut.
setelah beberapa saat berlari, Hikasa sampai di tempat asal suara, disitu terlihat seseorang tergeletak menatap bumi sehingga wajahnya tidak terlihat, orang itu mengenakan jubah yang penuh dengan darah.
Hikasa memutar tubuh orang itu, dia langsung terkejut, “ Shoi.?! ” ucapnya, dia menatap Shoi yang penuh darah, “ siapa yang melakukan ini padamu.?! ” tanyanya.
Shoi menggerakkan tangannya menunjuk ke suatu arah, terlihat dia ingin berbicara namun tidak bisa. Shoi menjatuhkan tangannya bersama matanya yang tertutup, dia tewas.
Hikasa terlihat marah, “ tidak akan ku biarkan.! ” setelah itu dia melompat ke atap rumah untuk mencari orang yang membunuh Shoi.
Tap..
Hikasa mendarat di gang perumahan, di depannya ada seorang pria yang berjalan kearahnya, orang itu tidak lain adalah Serano, saat ini di samping mereka terdapat perumahan.
“ apa yang kau lakukan larut malam seperti ini.? ” tanya Hikasa pada Serano.
“ hanya mencari angin malam. ” jawab Serano datar.
Sriing..
Hikasa menarik pedang, lalu mengarahkan tebasan kearah Serano yang langsung menghindar dengan melompat mundur.
Serano mendarat, menatap Hikasa dengan kebingungan, “ ada apa senior? kenapa kau menyerang ku.? ” dia bertanya.
“ satu-satunya orang yang sedang diawasi Shoi adalah kau, jadi kau tidak perlu berdalih, Serano. ” ucapnya dingin, “ kau adalah orang yang telah membunuh Shoi. ”
Serano terlihat terkejut, lalu tersenyum jahat, “ jadi kau sudah tahu, ya.. senior.. dan bahkan namaku. ” kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
“ kenapa kau membunuh Shoi.? ” tanya Hikasa.
“ singkat saja, aku merasa terganggu karena selalu diawasi. ” Serano tersenyum jahat.
“ begitu, ya. ” ucap Hikasa datar, “ lalu, apa tujuan mu, kenapa kau menghasut penduduk untuk membelot.? ” lanjutnya.
“ apa maksud mu, senior? aku melakukan ini karena hanya ingin kau menjadi pimpinan. ” jawab Serano.
Hikasa bersiap, “ jangan bercanda, kau membuat ku kesal.! ” lalu bergerak maju.
Tap..
Hikasa melesat cepat sambil mengarahkan tebasan, namun Serano berhasil menghindar, posisi keduanya saling membelakangi.
Hikasa melirik Serano yang ada di belakang, “ Shoi dibunuh oleh orang ini, itu artinya dia cukup kuat. ” batinnya.
Tap.. Tap..
Hikasa kembali maju dengan pedang, dia menyerang Serano yang tidak menggunakan senjata, namun Serano terlalu gesit sehingga tidak terkena sedikitpun.
“ cih, dia benar-benar cepat. ” Hikasa terlihat kesal, “ kalau begitu. ”
Sring..
Hikasa kembali menyarungkan pedangnya.
Serano sedikit terkejut, “ apa yang akan dia lakukan? jangan jangan.?! ”
Bzcipcipbzc..
setelah itu aliran listrik mulai mengalir di tubuh Hikasa, kemudian dia memadatkan petir di tangannya, sepertinya dia serius.
“ aku harus menghabisi orang ini disini. ” Hikasa bersiap.
Tap..
Hikasa mulai bergerak, detik selanjutnya dia sudah tidak terlihat.
“ cepat sekali.?! ” Serano terkejut.
Crrakhh..
Hikasa menembus perut Serano dengan petir di tangannya, darah langsung membasahi tangan Hikasa.
“ akh..! ” Serano kesakitan dan memuntahkan darah, dia menatap Serano yang ada di depannya.
“ kau sudah berakhir.” Hikasa mencabut tangannya dari perut Serano dengan paksa, darah terciprat ke wajahnya.
Buukk..
tubuh Serano terjatuh dan tergeletak ke bumi, sementara Hikasa mulai melangkah pergi.
Hikasa berjalan dengan wajah datar, “ dengan ini, aku hanya perlu berbicara secara baik-baik dengan penduduk, mungkin mereka akan menerima Hikaru nantinya. ” batinnya.
“ hehehe. ” Tiba-tiba terdengar suara tawa dari belakang Hikasa.
Hikasa tersentak dan menoleh kebelakang, dia melihat Serano kembali berdiri dengan bekas luka yang sudah hilang, dia masih membelakangi Hikasa.
“ kau.. jangan-jangan. ” Hikasa tersentak, “ pewaris Tujuh Kekuatan Iblis. ” lanjutnya.
__ADS_1