SINAM

SINAM
Pertarungan Antara Murid Dan Guru


__ADS_3

Desa Yama...


malam sudah melewati tengahnya, bulan purnama bersinar terang bersama ribuan bintang, sungguh pemandangan yang indah.


di pusat Desa Yama, di gedung pimpinan, tepatnya di dalam sebuah ruangan, Mikami Sato duduk di kursi dengan tangan di atas meja, dia terlihat berpikir dengan wajah serius, cahaya lilin menerangi wajahnya.


“ apa tujuan pengguna Api berada di desa Sanji.? ” batin Mikami, “ jika dia adalah anak dari Hikaru penguasa Api seharusnya dia mengacaukan pusat Sanji, bukan malah membakar hutan.. aku harap dia bukan anak Hikaru dan hanya pewaris Pedang Kembar Api. ” lanjutnya.


Tok.. Tok..


terdengar suara orang mengetuk pintu ruangan tersebut dari luar.


Mikami melirik pintu, “ silahkan masuk.! ” ucapnya.


Krak..


Pintu terbuka, terlihat seorang pemuda berambut putih dengan tatapan datar masuk, di bagian belakang pakaiannya terdapat lambang Kelelawar Merah yang tertutup kain putih, dia adalah Uhara Denko, kakak angkat Sinam.


Mikami menatap Uhara, “ maaf sudah memanggil mu saat kau berada di luar Desa. ” ucapnya. “ padahal aku sendiri tahu bagaimana sulitnya jadi anggota Kelelawar Merah. ” lanjutnya.


Uhara menatap Mikami, “ tidak masalah, tapi.. apa yang membuat Pimpinan memanggil ku.? ” dia bertanya. “ bukankah seharusnya Pimpinan berada di Desa Pedang Kembar untuk mengadakan pertandingan persahabatan. ” lanjutnya.


Mikami menatap serius Uhara, “ ada sedikit masalah dan pertandingan terpaksa dibubarkan.. baiklah, aku akan langsung ke intinya. ” ucapnya, “ aku ingin kau membunuh seseorang. ” lanjutnya.


“ membunuh seseorang.? ” Uhara sedikit terkejut.


“ ya, dia cukup kuat dan dengan mudah mengalahkan beberapa petarung elit Desa Yama. ” jawab Mikami, “ mungkin bisa dikatakan dia adalah petarung level atas sama seperti mu, Uhara.. ” lanjutnya.


Uhara terlihat serius, “ siapa orang itu dan mengapa Pimpinan ingin aku membunuhnya.? ” dia bertanya.


“ orang itu adalah.. Abame.. ” jawab Mikami dengan tatapan tajam.


“ apa.?! ” Uhara terkejut, “ guru... Abame. ”


Mikami tersenyum tipis, “ begitu, ya.. aku lupa dia pernah menjadi gurumu. ” ucapnya.


“ kenapa Pimpinan ingin aku membunuh guru Abame? bukankah dia sudah lama meninggalkan Desa.?! ” ucap Uhara sedikit keras.


“ tenangkan dirimu, Uhara.! ” Mikami bernada tinggi, “ Abame masih berada di hutan Yama, mungkin dia mencari informasi dan menjualnya pada Desa lain.. dan lagi, dia sudah membunuh beberapa petarung Yama, kita harus membunuhnya. ” lanjutnya datar.


“ membunuh guru Abame..? ” batin Uhara tersentak, di perlihatkan dari sisi kanan, kiri, depan maupun belakang Uhara, sepertinya dia benar-benar bimbang.


Mikami menatap Uhara yang bimbang, “ sepertinya tugas ini memang terlalu berat untuk mu, aku tidak akan memaksamu dan akan mencari orang lain untuk menggantikan mu. ” ucapnya.


Uhara menatap Mikami cukup lama, “ tidak, aku akan melakukan tugas ini, cukup aku yang berjalan di kegelapan yang penuh darah. ” lalu berucap dengan wajah serius.


Mikami tersenyum tipis, “ kau benar-benar anggota Kelelawar Merah. ” ucapnya.


“ baiklah, sekarang dimana dia berada? aku akan segera melaksanakan tugas ini. ” ucap Uhara.


Mikami mengambil kertas yang ada di atas meja di depannya, itu adalah sebuah peta.


Greb..


Mikami melemparkan peta tersebut, Uhara langsung menangkapnya.


Uhara memperhatikan peta tersebut, “ begitu, ya..” ucapnya kemudian menggulungnya kembali, dia menatap datar Mikami, “ baiklah Pimpinan, aku akan berangkat. ” ucapnya.


Tap.. Tap..


Uhara berjalan kearah pintu, dia akan meninggalkan ruangan tersebut.


“ Uhara..! ” Mikami memanggil.


Uhara menghentikan langkah dan melirik kearah Mikami.


“ kau jangan meremehkannya, dia bukan seperti Abame yang kau kenal.. salah satu Petarung Yama yang selamat berkata dia bisa membelah diri menjadi dua. ” ucap Mikami serius.


“ membelah diri.? ” Uhara terlihat serius, “ baiklah aku mengerti. ” lanjutnya lalu bergerak pergi.


Tap.. Tap..


Uhara berlari meninggalkan pusat Desa Yama, kini dia sudah berada di pinggiran, yang ada hanya persawahan dan perkebunan penduduk.


Uhara berdiri di jalan setapak, di sebelah kirinya terdapat hutan,sebelah kanannya persawahan, “ begitu, ya.. jadi guru Abame berada di hutan ini.. dan jalan ini adalah jalan menuju rumah kakek dan nenek. ” ucapnya.


Uhara memandang hutan tersebut, “ apakah aku bisa menguatkan diri untuk membunuh orang yang pernah mengajariku banyak hal. ” gumamnya, lalu memasuki hutan tersebut.


langit malam sudah mulai luntur bersama matahari yang kembali terbit, hari sudah pagi dan kicauan burung menghiasi hari.


Tap..


Uhara melompat dari dahan pohon dan mendarat di bumi, kemudian berjalan perlahan sambil memandang peta.


“ seharusnya di sini. ” ucap Uhara sambil menatap sekeliling.

__ADS_1


“ kau mencari siapa.?! ” Tiba-tiba terdengar suara dari atas Uhara.


Uhara terkejut, kemudian menoleh ke atas, disitu terlihat seorang laki-laki berumur sekitar dua puluh enam tahun berdiri di rumah pohon, dia adalah Abame yang berambut pendek.


“ guru.. Abame.? ” Uhara tertegun.


Abame tersenyum, “ begitu, ya.. jadi Mikami Sato mengirim mu untuk membunuh ku.. ” ucapnya.


“ maaf guru Abame, tapi itulah kenyataannya. ” ucap Uhara, “ tapi, aku tidak ingin membunuhmu, kau adalah guru yang banyak mengajarkan ku tentang apa itu dunia petarung. ” dia masih memandang kearah Abame yang berada di atas.


“ tidak ingin membunuh ku.? ” Abame tersenyum jahat, “ kau berbicara seolah kau bisa melakukannya. ” lanjutnya.


“ tidak, aku hanya tidak ingin bertarung melawan guruku sendiri, jadi.. aku harap kau pergi meninggalkan desa Yama.. ” ucap Uhara.


Tap..


Abame melompat dan mendarat di depan Uhara, hanya sekitar tujuh meter jarak mereka.


“ bagaimana jika aku menolak.? ” ucap Abame tersenyum, “ apa kau akan menarik pedang mu untuk memaksa ku.? ”


Uhara menatap Abame, dia terlihat serius dengan mata yang datar.


Abame tersenyum, “ sebagai anggota Kelelawar Merah, seharusnya kau bisa mengabaikan perasaan mu dan bertarung menghadapi ku. ” ucapnya. “ membunuh dan memberikan penderitaan pada orang lain adalah tugas mu, benar bukan.? ” lanjutnya.


Uhara terlihat kesal, “ aku melakukan itu agar perdamaian terus terjadi, ayah dan ibuku terbunuh karena petarung dari Desa Pedang Kembar, dan itu terjadi disaat Desa Pedang Kembar mulai berdiri. ” ucapnya.


“ tidak, itu terjadi karena Mikami Sato terlalu serakah, apa sulitnya memberikan kebebasan pada Desa kecil yang mulai berdiri.. ” Abame terlihat serius.


“ memberikan kebebasan sama saja dengan memberikan kekuasaan, dan setelah mereka merasa memiliki kekuatan, mereka akan menyerang dan peperangan akan terjadi. ” ucap Uhara, “ setelah itu, penderitaan, kebencian dan dendam akan bermunculan.. lebih baik aku menyelesaikan di awal, itu adalah tugas kami anggota Kelelawar Merah. ” dia terlihat serius.


“ lalu, apa kau pikir tindakan Kelelawar Merah tidak melahirkan kebencian dan dendam.? ” Abame tersenyum jahat.


Uhara menatap Abame, dia tidak menjawab, sepertinya dia tidak tahu harus menjawab apa.


“ aku yakin kau tahu jawabannya. ” ucap Abame.


“ setidaknya, hanya itu yang bisa kulakukan. ” ucap Uhara penuh keraguan. “ memperkecil kebencian dan kemungkinan perang di masa depan.. itulah yang bisa kulakukan. ”


“ mungkin benar yang kau katakan, hanya beberapa orang yang selamat dari pembantaian Kelelawar Merah, tapi.. ” Abame menghentikan ucapan, “ bagaimana jika kebencian orang itu benar-benar kuat, dan pada akhirnya dia memiliki kekuatan untuk balas dendam. ” lanjutnya dengan wajah mencekam.


“ jika itu terjadi, aku yang akan bertanggung jawab. ” jawab Uhara penuh keyakinan.


“ hahaha.. ” Abame tertawa, “ Uhara, sepertinya kau lupa bahwa dunia petarung itu luas, masih banyak petarung yang lebih kuat darimu.. percayalah, suatu saat nanti pasti ada anak dari Klan Taro yang begitu kuat, dia datang untuk balas dendam pada kalian.. disaat itu kau tidak akan bisa apa-apa..! ” lanjutnya, wajah Satoji Taro terbayang di kepalanya.


“ Klan Taro.?! ” Uhara terkejut, ingatan saat dia dan anggota Kelelawar Merah membantai Klan Taro kembali muncul, ada rasa bersalah di wajahnya.


Uhara terdiam, dia menatap Abame.


“ karena aku sadar, Yama sudah membusuk, kalian hanya memikirkan kemakmuran Desa Yama, tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana penderitaan orang-orang diluar Desa besar yang kelaparan serta ketakutan karena Kelelawar Merah.. ” ucapnya penuh kebencian, “ Mikami Sato hanyalah sampah yang tidak pantas memimpin Yama, keserakahan dan ketakutannya menimbulkan penderitaan pada orang lain, dia adalah satu-satunya orang yang pantas di salahkan.! ” lanjutnya.


Uhara menatap Abame, “ dia.. aku merasa bahwa dia sangat membenci Pimpinan. ” batinnya.


“ Uhara, mungkin aku guru mu, tapi aku tidak banyak mengajarkan mu cara bertarung, semua orang menganggap aku lemah. ” ucap Abame, “ aku juga bersikap seolah membenci senjata.. ” lanjutnya.


“ ya, itu juga alasan kenapa banyak orang yang tidak suka padamu, kau bersikap seperti petarung Arkan yang selalu membenci senjata.. ” ucap Uhara.


“ tapi.. itu semuanya hanyalah kebohongan yang ku mainkan sebelum aku meninggalkan Yama.. ” ucap Abame, dia mulai bersiap, ” Uhara, aku tidak pernah mengajarkan cara bertarung yang sesungguhnya padamu, sekarang akan ku perlihatkan.! ” dia berteriak.


Tap..


Abame berlari kearah Uhara.


“ guru, apa kau serius.?! ” teriaknya.


Blaak.. Buaak..


diawal pertarungan, keduanya bertarung dengan tangan kosong, Abame menyerang dengan brutal, sementara Uhara menahan dengan kewalahan.


Uhara terlihat kesal, “ guru, ada apa denganmu? kau berubah.! ” ucapnya sambil menahan tendangan Abame.


“ setiap luka memberi pelajaran, dan setiap pelajaran merubah seseorang. ” jawab Abame sambil menyerang Uhara, “ hatiku sudah banyak menanggung luka, berbeda dengan mu yang mampu menekan perasaan mu sendiri demi menjadi anjing pesuruh Mikami Sato. ” lanjutnya.


Uhara terlihat marah, “ aku bukan anjing pesuruh, aku hanya tidak ingin ada orang lain yang berada di posisi ku.! ” ucapnya.


Buaakk..


Uhara melepaskan tendangan keras yang langsung di tahan oleh Abame dengan menyilangkan tangan, namun Abame tetap terdorong kebelakang, keduanya kembali berjarak.


Abame menatap serius Uhara, “ berhentilah berpura-pura kuat, hatimu bukan baja. ” ucapnya datar.


“ berisik.! ” Uhara kembali maju, “ kau tahu apa tentang ku?! teriaknya.


Buakk.. Blaak..


pertarungan dilanjutkan, Uhara menyerang dengan gerakan cepat, dia kesana-kemari sambil melepaskan tinju serta tendangan.

__ADS_1


Abame mampu menahan dan menghindari serangan Uhara, dia juga bergerak cepat dengan sesekali melompat, terkadang dia juga membalas Uhara.


Abame tersenyum, “ sepertinya kau mulai serius. ” ucapnya.


Syuut..


Uhara melepaskan tendangan menyamping kearah wajah Abame, dengan tenang Abame menahan dengan kedua tangannya, kaki Uhara terhenti di samping kepala Abame.


“ lumayan. ” Abame tersenyum.


Uhara melirik kakinya yang masih digenggam Abame, kemudian bersiap menarik pedangnya.


Buaakk..


sebelum Uhara berhasil menarik pedangnya, Abame mendaratkan tendangan lurus ke perut Uhara yang langsung terhempas kebelakang.


Tap..


saat terhempas, Uhara mencoba mengembalikan keseimbangan dan mendarat dengan cantik.


Uhara menatap datar Abame, “ kau benar-benar kuat, guru Abame. ” ucapnya.


Abame tersenyum jahat, “ benarkah? aku tidak percaya si jenius Uhara berkata seperti itu. ” ucapnya.


“ guru Abame, kau sudah meninggalkan desa, tapi kenapa kau masih ada di sini.? ” tanya Uhara serius. “ apa tujuan mu yang sebenarnya.? ” lanjutnya.


Abame menatap serius Uhara, namun tidak menjawab.


Tap..


Abame kembali bergerak, dia berlari kearah Uhara.


“ sudah cukup pemanasannya.! ” teriak Abame.


Blaakk... Buaak..


Abame dan Uhara kembali adu pukul dengan kecepatan tinggi, untuk sesaat keduanya terlihat imbang.


disuatu kesempatan, Abame mengarahkan tendangan menyamping kearah wajah Uhara dengan kaki kanan, Uhara dengan cepat menunduk dan menjegal kaki kiri Abame yang menjadi tempat bertumpu.


Syuut..


Abame kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, dia menggunakan kedua tangannya untuk menggantikan kaki.


Buaak.. Buukk..


Abame melesatkan tendangan bertubi-tubi dengan kaki yang diatas, dia menggunakan kaki bagian luar untuk menyerang wajah Uhara.


Greb..


Uhara menangkis serangan Abame dengan gerakan kedua tangannya yang sangat cepat, dan di satu kesempatan dia berhasil menangkap kaki kanan Abame.


Wusshh..


Uhara mengayunkan tubuh Abame dengan menarik kaki kanan Abame.


Abame memaksa kedua tangannya yang menempel di tanah untuk memberikan dorongan, kini dia sudah berada di udara, walaupun kaki kanannya masih di cengkram Uhara, posisinya terlihat di untungkan.


Buaakk..


dengan sangat keras, Abame melepaskan tendangan lurus kearah wajah Uhara dengan kaki kiri, Uhara menahan dengan tangan kiri, namun genggamannya terlepas dari kaki kanan Abame.


Sraak..


Uhara terdorong mundur beberapa langkah, keduanya kembali berjarak dari pertarungan tadi yang begitu cepat.


Uhara menatap Abame serius, “ benar-benar kuat. ” batinnya.


Abame tersenyum, “ dapat mengimbangi Uhara Si Jenius bertarung tangan kosong merupakan sebuah kebanggaan, benarkan Uhara.? ” ucapnya.


Tap..


Uhara dan Abame saling menatap tajam, kemudian melompat dengan tempo bersamaan.


Buaak..


keduanya bertemu di udara, Uhara mengarahkan tendangan kearah Abame, Abame menghindar dan menjadikan kaki Uhara tersebut sebagai pijakan.


keduanya saling melewati dan membelakangi, Abame melirik kebelakang dan berhasil mendaratkan tapak kakinya di punggung Uhara walau pelan.


Tap..


keduanya mendarat di bumi dengan waktu bersamaan, saat ini posisi mereka saling membelakangi dengan jarak sekitar lima meter.


Abame tersenyum jahat, “ Jurus Dua Sentuhan, berhasil.! ” ucapnya.

__ADS_1


Uhara tersentak, “ apa ini? tubuhku tidak bisa bergerak.?! ” batinnya, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


__ADS_2