SINAM

SINAM
Keseimbangan


__ADS_3

Yoja menatap Sansiro dengan kesal, “aku tidak perduli dengan kata-kata mu.. tapi setidaknya kau terlihat sedikit lebih kuat. ” ucapnya.


Sansiro menatap Yoja, kemudian menoleh Sinam, “Sinam, kau sudah babak belur.. kau istirahat sebentar, akan ku habisi dia. ” ucapnya.


Sinam tertegun, dia hanya diam menatap Sansiro.


Traang..


Sansiro bersiap dengan pedang besarnya.


“aku Sansiro, akan mengalahkan mu.! ” ucapnya penuh semangat.


“jangan banyak bicara, tunjukkan cara bertarung mu.! ” tantang Yoja berdiri kokoh.


“baiklah.. ” Sansiro membungkukkan badan, dia terlihat bersiap maju, “aku datang.! ” lalu melesat cepat.


Wushh..


dengan sangat cepat, Sansiro berlari ke arah Yoja, saat sudah dekat dia mengarahkan tebasan dari atas kebawah sambil berteriak.


“cepatnya.?! ” Yoja terkejut, kemudian melompat mundur untuk menghindar.


Cep..


Sansiro memaksa gerak pedangnya yang seharusnya membacok tanah jadi menancap, kemudian Sansiro memijak ujung gagang pedangnya, dia terlihat bersiap menendang Yoja yang masih di udara.


“apa.?! ” Yoja terkejut, sepertinya dia tidak menduga hal ini.


Blaak..


Yoja menahan dengan kedua tangan menyilang, namun posisinya yang di udara membuatnya terhempas saat berbenturan dengan kaki Sansiro.


Deiki melirik Sansiro, “gaya bertarung anak ini sangat berbeda dengan temannya, dia terlihat lebih pengalaman. ” batinnya.


“Sansiro hebat.! ” batin Sinam.


Tap..


Yoja mendarat dengan posisi bagus, namun Sansiro langsung memburunya dengan cepat.


“HIAAA..! ”Sansiro berteriak keras sambil mengarahkan tebasan ke arah Yoja.


Yoja menarik pedangnya, lalu menahan dengan tebasan. begitu kedua pedang tersebut beradu, Yoja langsung terpental.


“terhempas..?! ” tubuh Yoja masih terhempas, dia menancapkan pedangnya ke tanah untuk menghentikan laju tubuhnya, namun tidak terlalu berguna dan akhirnya dia menghantam dinding.


“hebat.. siapa anak itu.?! ”


“benar, sepertinya dia dari Klan hebat. ! ”


semua orang langsung heboh, mereka bertanya-tanya tentang Sansiro.


Rokuga tersenyum, “jadi anak itu teman Sinam, ya.. jika seperti ini Sinam tidak perlu memaksakan diri lagi. ”


Sansiro berdiri kokoh memandang Yoja yang terduduk bersandarkan tembok, “ayo bangun dan hadapi aku..! ” ucapnya.


Sinam memandang Sansiro dari belakang, “apa ini..? Sansiro terus bertambah kuat.. dia dengan cepat memukul mundur Yoja.. tapi aku.. aku.. sial. ” dia terlihat sangat kesal, “dasar payah! aku memang tidak berguna! jika seperti ini aku hanya akan membebani Sansiro. ” batinnya.


Yoja masih terduduk, “hehehe.. ” tiba-tiba dia tertawa, “namamu Sansiro, ya.. kau memang hebat Sansiro, aku bisa merasakan kekuatan hebat dari dirimu.. ” dia kembali berdiri.


“tentu saja, karena aku.. ” Sansiro berlari ke arah Yoja, “akan menjadi petarung terkuat..! ” teriaknya.


Yoja berlari ke arah Sansiro, “kalau begitu.. aku tidak akan menahan diri.! ” teriaknya.


Traang.. Tingg..


Sansiro dan Yoja bertemu di tengah, lalu saling serang dengan tebasan cepat dan mematikan.


detik berikutnya, keduanya terdorong kebelakang secara bersamaan walau dalam posisi berdiri, namun Yoja lebih jauh dari Sansiro.

__ADS_1


“apa ini?! aku terdorong lebih jauh dari dia? apa kekuatan fisik anak itu lebih kuat dari ku.? ” Yoja terkejut, “ tidak mungkin.. pedang dia jauh lebih besar, pastinya memiliki bobot lebih dibandingkan pedang ku.. ” batinnya.


Deiki tersenyum, “Sansiro dan Yoja, ya.. jika dilihat dari postur keduanya memang terlihat kuat... tapi, anak yang bernama Yoja itu sampai saat ini masih belum mengeluarkan Shaka miliknya, sepertinya dia masih menahan diri. ” batinnya.


Sansiro tersenyum semangat menatap Yoja, “hey, sepertinya kau cukup kuat.. tapi, kau akan tetap kalah menghadapi ku.! ” kemudian melesat ke arah Yoja.


Yoja tetap tenang, “oi, Sansiro.. aku tidak terlalu suka bertarung menggunakan senjata, bagaimana jika kita bertarung dengan tangan kosong. ” kemudian wajahnya terlihat bersemangat.


Sansiro menghentikan langkah, kemudian tersenyum jahat, “itu yang ingin ku dengar dari mu.! ” ucapnya.


Braak..


Sansiro menancapkan pedang besarnya ke tanah dengan keras, tanah itu sedikit hancur.


“HIAAA..!! ” Sansiro dan Yoja berteriak, lalu berlari saling memburu.


“ini dia.. pertarungan yang kucari.. pertarungan yang hanya mengandalkan kekuatan serta stamina. ” batin Yoja sambil berlari.


“datanglah.. akan ku perlihatkan kekuatan ku padamu. ” batin Sansiro terus berlari.


Buaakk...


setelah keduanya berdekatan, mereka mengayunkan tinju dengan penuh tenaga, kedua tinju itu bertabrakan dan menghasilkan tekanan, angin berhembus menerbangkan debu.


detik berikutnya, keduanya terdorong mundur dengan jarak yang sama, setelah itu keduanya kembali maju dengan wajah mencekam, adu pukul dan tendang pun terjadi.


Deiki menutupi wajahnya dari debu, “benar-benar hebat.. keduanya seimbang. ” batinnya.


Mikami tersenyum, “jadi nama anak itu Sansiro, ya.. wajar saja dia kuat, ayahnya juga petarung hebat.. ” ucapnya.


“pimpinan salah, Tsurugi memang dikenal sebagai petarung hebat saat itu.. tapi dia petarung yang mengandalkan Jurus dan senjata. ” sahut pengawal Mikami.


Buaakk..


tinju Sansiro mendarat di pipi Yoja yang langsung oleng, namun Yoja membalas dengan tendangan keras, Sansiro terjatuh dan tergeletak di tanah.


“matilah.! ” Yoja mengarahkan tendangan kapak ke arah Sansiro yang tergeletak dengan kaki kanannya.


Blaak..


Yoja tersenyum, “kau kuat sekali.. stamina mu juga bagus. ” ucapnya.


“jangan banyak bicara.. kau belum menghibur ku sedikitpun. ” Sansiro tersenyum jahat.


“cih.! ” Yoja terlihat kesal.


keduanya kembali bergerak, saling pukul dan menahan, sampai saat ini pertarungan terlihat seimbang.


Deiki memandang pertarungan, “sampai saat ini mereka seimbang.. jika terus seperti ini, stamina mereka menjadi penentu.. ” batinnya, “tidak, keduanya masih belum mengeluarkan Shaka.. atau mungkin, mereka belum bisa mengendalikan Shaka.?! ”


Sinam terlihat kesal melihat pertarungan Sansiro dan Yoja, “sial, Sansiro terus bertarung, sementara aku hanya diam saja disini.. ” batinnya, “aku tidak bisa seperti ini.. aku tidak mau menjadi beban.. bukan hanya itu, aku juga harus menjadi kuat.. walaupun sekarang aku hanyalah sampah.. tapi aku harus merubah diriku.. ” dia menggenggam erat tinjunya.


Tap..


Sinam berlari ke arah pertarungan, “aku tahu aku tidak bisa berbuat banyak, tapi aku tidak bisa membiarkan Sansiro bertarung sendirian. ” batinnya.


Sansiro dan Yoja masih terus bertarung, wajah keduanya terlihat babak belur, darah mewarnai sekujur tubuh.


Sansiro melirik kebelakang, “Sinam.?! ” dia terkejut, kemudian tersenyum, “bagus, dengan begitu pertarungan akan cepat selesai. ”


“apa yang akan dia lakukan.?! ” batin Deiki memandang Sinam.


Yoja melepaskan pukulan, begitu juga sebaliknya, keduanya sama-sama oleng.


Sinam berlari dari belakang Sansiro, dia tidak terlihat oleh Yoja karena tertutup tubuh Sansiro, sepertinya dia berniat menyerang dengan tiba-tiba.


“dengan begini, dia tidak akan melihat ku. ” batin Sinam terus berlari.


Tap..

__ADS_1


Sinam melompat dan menginjak bahu Sansiro yang kekar, kemudian kembali melompat sambil mengarahkan tendangan kapak ke arah Yoja.


“apa.?! ” Yoja terkejut.


“bagus.! ” Sansiro tersenyum.


“rasakan ini.! ” teriak Sinam.


Blaak..


kaki Sinam menghantam kepala Yoja sangat keras, Yoja kehilangan keseimbangan dengan posisi kepala kebawah karena terkena tendangan kapak Sinam.


“sial.! ” batin Yoja dengan tubuh yang mulai miring.


“masih belum.! ” ucap Sansiro.


Buaakk..


Sansiro melesatkan tendangan keras ke arah kepala Yoja yang mendekati kakinya, seketika Yoja melayang tinggi dan menghantam dinding yang langsung remuk, lalu tubuhnya terjatuh ke tanah.


Sansiro tersenyum menatap Sinam, “kerja bagus, Sinam. ” dia mengacungkan jari jempol.


Yoja kembali berdiri dengan perlahan, “kenapa? ” ucapnya pelan dengan kepala menunduk.


“eh.?! ” Sinam dan Sansiro bingung.


“kenapa kau mengganggu? jelas-jelas kau sudah kalah dasar sialan.! ” Yoja mengangkat kepala sambil berteriak, “kau hanya mengganggu saja.! ” dia menatap Sinam.


“karena kami adalah teman.. ” Sansiro tersenyum, “dia tidak akan membiarkan ku bertarung sendirian, kami sudah berjanji untuk menjadi petarung hebat bersama-sama. ”


“Sansiro.. kau.?! ” Sinam menatap Sansiro.


“teman, ya..? hehehe. ” Yoja tertawa kecil, “teman satu tim, ya..? ” dia tersenyum jahat.


“oi, Saken Takeyomi..! ” Yoja berteriak, dia memandang Saken yang masih duduk di depan bendera, “bukankah kita ini teman, apa kau tidak melihat aku kesulitan..? ayo habisi anak ini.! ” lanjutnya menunjuk Sinam.


“teman.?! ” Saken tertegun, kemudian menoleh Yoja yang menunjuk Sinam.


Tap..


Saken berdiri dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekati pertarungan.


“teman, ya.? ” batin Saken, “sudah lama aku tidak dipanggil dengan kata teman. ”


Deiki melirik Saken dengan serius, “sepertinya dia mulai lagi.. ” batinnya.


Yoja tersenyum jahat menatap Sansiro dan Sinam, “bukan hal sulit mengalahkan kalian berdua, tapi saat ini aku hanya ingin bertarung satu lawan satu dengan mu..! ” ucapnya menatap Sansiro, kemudian menunjuk Sinam, “dan kau! kau akan menyesal telah mengganggu pertarungan kami.. manusia iblis itu akan menghabisi mu. ”


Sinam memandang Saken yang berjalan perlahan, “cih, bisa gawat jika mereka berdua hadapi kami hadapi secara bersamaan. ” batinnya menggertakkan gigi.


“siapa dia.?! ” Sansiro memandang Saken.


“namanya Saken, dia bukan orang biasa, dia benar-benar kuat.! ” Sinam menjawab dengan raut wajah serius.


“begitu, ya.. aku baru ingat ternyata satu tim ada dua orang. ” ucap Sansiro, “ jadi, Saken dan Yoja satu tim, ya.. semakin menarik. ”


Plak..


Sansiro menepuk pundak Sinam.


“baiklah, Sinam. aku serahkan Saken padamu, setelah aku selesai mengurus Yoja, aku akan membantu mu. ” Sansiro tersenyum.


“apa maksudmu? Saken lebih kuat dari Yoja.. aku tidak mungkin bisa menang menghadapinya. ” ucap Sinam.


“Sinam yang kukenal bukanlah seorang pengecut.. kau pasti bisa mengalahkannya. ” ucap Sansiro serius, “karena kau.. akan menjadi petarung hebat, kau juga harus mengungkap jati diri mu. ”


“kau benar, Sansiro. ” ucap Sinam, “kakek dan nenek mengatakan bahwa dengan menjadi petarung aku bisa mengetahui siapa ayah dan ibuku. ” dia terlihat serius.


Yoja melirik Saken yang sudah berdiri di sampingnya, “aku mulai mengenal Saken lebih jauh.. walaupun dia orang yang mengerikan, tapi perasaan dan pikirannya tidak menentu, mudah untuk mempengaruhinya.. bahkan dengan kata-kata, kakaknya bisa membuatnya terdiam cukup lama dengan raut wajah menyedihkan. ” batinnya tersenyum tipis, “dia benar-benar menyedihkan, sepertinya kakaknya sangat membencinya. ”

__ADS_1


Yoja melangkah maju, “oi, Sansiro, ayo kita lanjutkan pertarungan kita.! ” ucapnya penuh semangat.


__ADS_2