
dibawah terik matahari yang dihiasi angin berhembus, berdiri dua anak laki-laki dengan mata saling beradu, mereka adalah Sinam dan Tori yang berada di tengah arena pertarungan, suara penonton memecah keheningan yang sempat terlewatkan.
Sinam menatap tajam Tori, “aku bersumpah.. akan ku kalahkan kau..!! ” ucapnya dingin.
Tori tersenyum jahat, “oh, ya. aku berharap kau tidak hanya membual.. ” ucapnya remeh.
wasit melirik Sinam datar, “anak ini.. aku bisa merasakan semangatnya yang begitu bergejolak.. tapi.. ” kemudian tersenyum tipis, “semangat saja tidaklah cukup.. dia harus memiliki keterampilan bertarung, jika tidak, dia akan berakhir seperti anak yang bernama Sanji tadi. ”
wasit mengangkat tangan keatas, “Sinam dari Desa Yama vs Tori dari Desa Arkan, ayo mulai.!! ” kemudian menjatuhkan tangannya.
Krekk..
Sinam mengencangkan ikat kepala yang berwarna putih, dia berdiri menatap tajam Tori.
disisi lain, Deiki menatap arena dengan serius, “karena sudah seperti ini, kau tidak boleh kalah, Sinam.. ” batinnya.
Tes..
bulir air keringat menetes dari wajah Deiki.
Tap..
“ayo mulai.!! ” detik berikutnya, Sinam melesat cepat kearah Tori.
Tori terkejut, “dia cepat.?! ”
Blak.. Buaakk..
detik selanjutnya, Sinam sudah berada di depan Tori dan langsung melepaskan tendangan serta pukulan, Tori berusaha menahan semua serangan Sinam.
Tori terlihat kewalahan, “sial, dia cepat sekali.! ” dia mencoba menahan.
wasit sedikit terkejut, “hebat, ternyata dia tidak hanya besar bicara, dia lumayan cepat. ” batinnya.
Deiki tersenyum tipis, “seperti biasa, diawal pertarungan Sinam selalu menyerang dengan brutal, dia selalu mampu menekan lawan dengan kecepatannya. ” batinnya.
Sansiro tertegun memandang Sinam, “ jika dibandingkan saat itu.. Sinam sudah jauh bertambah kuat, dia benar-benar cepat.. ” tanpa sadar kepalan tangannya semakin erat.
Blakk..
satu tinju Sinam mendarat di wajah Tori yang langsung oleng, darah muncrat dari mulutnya.
Sinam terlihat serius, “akan ku tunjukkan bahwa kau hanyalah sampah yang hanya bisa meremehkan lawan. ” batinnya.
Buaakk.. Blakk..
beberapa tinju serta tendangan dilepaskan Sinam ke tubuh Tori yang tidak mampu menahan.
“ugh..! ” Tori kesakitan, saat ini tubuhnya melayang di udara.
Sinam menatap Tori yang masih di udara, “masih belum.! ” kemudian melompat ke udara memburu Tori.
Sinam melayangkan tinju dari bawah Tori. disisi lain, Tori melirik kebawah dia berputar untuk menahan tinju Sinam.
“aku tidak akan kalah.! ” teriak Tori.
Blakk..
tinju Sinam berhasil ditahan, namun tubuh Tori semakin melambung tinggi ke udara.
__ADS_1
“cih..! ” Tori terlihat kesal.
Blakk..
tanpa disadari Tori, Sinam sudah berada di atas, dia melepaskan pukulan yang terlihat begitu keras.
“apa.?! ” Tori terkejut, lalu menyilangkan kedua tangan untuk menahan.
Buaak..
walaupun berhasil menahan, namun tubuh Tori terhempas kearah bumi dengan cepat.
“sial, dia tidak memberi ku kesempatan. ” batin Tori.
tubuh Tori semakin dekat dengan bumi, sementara Sinam mulai ditarik gravitasi bumi.
“masih belum.!! ” teriak Sinam, lalu bersiap melayangkan tendangan kapak kearah tubuh Tori.
Buaakk..
dengan sangat keras, tendangan Sinam menghantam perut Tori yang langsung menghantam bumi, terlihat tanah hancur dan debu langsung menggumpal.
Tap..
Sinam mendarat, “hosh.. hosh..! ” dia mengatur nafas, matanya memandang gumpalan debu yang menutupi Tori.
beberapa saat kemudian, terlihat Tori berdiri diantara debu yang menggumpal, dia tersenyum jahat walau wajahnya penuh luka.
Sinam tersentak, “apa? masih bisa bertahan.?! ” batinnya kesal.
Tori tersenyum jahat, “hehehe, serangan boleh juga, tapi sepertinya kau sudah kelelahan.. ” ucapnya.
“kau, bagaimana mungkin.? ” tanya Sinam.
“tapi.. aku tidak bisa melakukannya terus-menerus, aku sudah kehabisan Shaka. ” batin Tori.
“begitu, ya. ” Sinam memejamkan mata, angin mengobrak-abrik rambutnya, “sepertinya aku memang harus menggunakan Jurus Dua Sentuhan, ya.. guru Abame, aku akan memperlihatkan Jurus yang engkau ajarkan padaku. ” batinnya.
Sinam membuka mata lebar, “baiklah, yang barusan hanya pembukaan, yang berikutnya akan ku kalahkan kau.! ” dia terlihat penuh semangat.
Tori tersenyum jahat, “kau terlalu banyak bicara, ayo perlihatkan semua yang kau punya.! ” teriaknya.
Sinam bersiap maju, begitu juga dengan Tori, setelah itu kedua melesat cepat kearah lawan.
“aku datang.! ” teriak Sinam.
Tap.. Tap..
keduanya berlari saling mendatangi, jarak terus terpangkas.
beberapa detik kemudian, keduanya sudah berjarak cukup dekat, Sinam melayangkan tinju kearah Tori.
Tori menatap tinju Sinam dengan seksama, “aku bisa melihatnya dengan jelas, gerakannya semakin lambat. ” batinnya tersenyum.
Wushh..
pukulan Sinam tidak mengenai target, hanya membelah ruang hampa.
“apa.?! ” Sinam terkejut.
__ADS_1
“terimalah ini..!! ” Tori mengarahkan tinju ke perut Sinam, saat ini dia menunduk.
Buaakk..
dengan sangat telak, tinju keras Tori mendarat di perut Sinam.
“akh..!! ” Sinam memuntahkan seteguk darah, matanya melotot selebar lebarnya menahan sakit.
*Wushh..
Buaakk*..
detik selanjutnya, Sinam terhempas sejauh-jauhnya, berkali-kali memantul di bumi, lalu menghantam dinding arena hingga hancur.
“Sinam..!! ” Sansiro berteriak.
Deiki terlihat serius, “gawat, pukulan tadi terlalu keras, mustahil bisa bertahan.. tapi. ” batinnya tersenyum, dia melihat Sinam mulai berdiri kembali, “Sinam tidak mudah menyerah, dia kembali bangkit dan bangkit.. dia tidak pernah tahu kapan untuk menyerah. ”
wasit menatap Sinam dengan terkejut, “masih bertahan.? ” batinnya.
Tori menatap Sinam dengan kesal, “padahal pukulan ku tadi sangat keras, tapi dia masih bisa bertahan.? ” batinnya.
Sinam berdiri diantara puing-puing dan debu tipis, “apakah hanya itu yang kau punya? jika ia, maka kau tidak akan bisa mengalahkan ku. ” ucapnya dengan tubuh penuh luka.
“jangan berlagak kuat! aku tahu kau pasti sangat kesakitan, untuk bangkit saja kau sudah bergetar. ” teriak Tori.
Sinam tersenyum tipis, “namanya bukan pertarungan, jika kau tidak memberikan sedikit perlawanan. lagipula aku akan malu pada Sanji jika pertarungan ini terlalu mudah. ”
“sedikit perlawanan katamu.? ” Tori terlihat sangat kesal, lalu berlari ke arah Sinam, “kau membuat ku kesal. ”
“dia datang, aku harus bisa menahan serangannya.. jika satu pukulannya cukup memberi jarak, aku tidak bisa menggunakan Jurus Dua Sentuhan padanya. ” batin Sinam bersiap.
Tori sudah didekat Sinam, dia melayangkan tinju, “terimalah ini.! ” teriaknya.
Blaak..
tinju Tori berhasil ditahan oleh Sinam dengan kedua tangan menyilang, namun Sinam terdorong beberapa langkah.
“satu sentuhan, aku bisa merasakan Shaka miliknya. ” Sinam terlihat serius.
“cih, dia menahannya..? ” Tori terlihat kesal.
Tap..
Tori melompat ke atas, lalu mengarahkan tendangan keras kearah Sinam.
Sinam menatap tajam kaki Tori, “harus bisa ku tahan.. tapi.. ” batinnya.
Blakk..
Sinam menahan kaki Tori dengan kedua tangannya, namun tubuhnya tertunduk, kedua lututnya menyentuh tanah, seperti tendangan Tori terlalu berat untuk ditahan.
Tori tersenyum jahat, “kau terlalu meremehkan orang dari Desa Arkan, kekuatan fisik kami lebih kuat dibandingkan dengan orang dari desa lain. ” ucapnya remeh.
Sinam mengangkat kepalanya dan menatap Tori sambil tersenyum, “benarkah.? ” ucapnya.
Deg..
Tori tersentak, “apa ini? tubuhku tiba-tiba terasa kaku, apa yang terjadi.? ” batinnya menatap Sinam tidak percaya.
__ADS_1
“aku bisa merasakannya, Shaka ku berhasil mengunci Shaka miliknya. ” batin Sinam, dia mulai berdiri, kaki Tori yang kaku masih berada di genggaman kedua tangannya.
“sekarang saatnya. ” Sinam tersenyum.