SINAM

SINAM
Pengorbanan


__ADS_3

“ bantuan... datang.. ” Sinam memandang kedelapan orang Sanji, dia terlihat lega.


delapan orang Sanji mendekati Satoru, mereka mengelilingi Satoru dan bersiap dengan pedang.


salah satu menoleh Sinam, Sansiro, serta lainnya yang dalam kondisi terluka, lalu menatap Satoru sambil tersenyum remeh, “ menghadapi sekumpulan anak-anak, sepertinya Setan Merah tidak sehebat yang mereka katakan. ” ucapnya.


yang lainnya menoleh kearah Sinam dan Sansiro, “ sepertinya kalian dari Desa Yama, sebaiknya kalian ke Desa Sanji saja, luka kalian akan diobati di sana. ” ucapnya. “ kalian bisa membawa kendaraan kami, lagipula Sanji tidak jauh dari tempat ini. ” lanjutnya.


“ terimakasih.. kami sangat beruntung bertemu kalian.! ” jawab Matsuda cepat sambil membungkuk.


Sinam menoleh Sansiro, “ kau dengar Sansiro? kita selamat.! ” ucapnya sambil tersenyum.


Sansiro terlihat kesakitan, “ ya, kau benar. ” ucapnya sambil tersenyum memaksa.


Tap.. Tap..


Sinam membantu Sansiro untuk naik gerobak yang ada di depan, disitu terlihat Matsuda sudah duduk dengan wajah cemas.


“ ayo cepat, kita harus segera pergi dari tempat ini.! ” ucap Matsuda serius.


“ baiklah.. ” Sinam mempercepat langkahnya, dia menuju tempat Harumi dan Kaori pingsan.


Sinam melihat Ryugu bersama Aozora yang tidak bisa bangkit, tapi Aozora masih sadarkan diri, “ oi, Ryugu, bawa Aozora naik gerobak, kita harus pergi secepat mungkin.! ” ucap Sinam serius.


Ryugu menatap Sinam, “ kenapa aku harus menuruti perkataan mu.? ” ucapnya tidak perduli.


Aozora terlihat kesal menatap Ryugu, “ sudahlah Ryugu, dengarkan saja dia.! ” ucapnya.


Ryugu menoleh Aozora, “ kalau kau yang meminta, baiklah. ” ucapnya.


Tap.. Tap..


Ryugu membawa Aozora, sementara Sinam membopong Harumi dan Kaori.


Ctaang.. Cting..


disisi lain, pertarungan antara Satoru menghadapi delapan Petarung Sanji sudah dimulai, diawali dengan tebasan serta tusukan yang mengguyur Satoru.


“ huh.! ” Sinam membuang nafas kasar, saat ini semuanya sudah ada di gerobak.


Sinam, Matsuda, Sansiro, Harumi dan Kaori berada di gerobak pertama yang ada di depan, sementara Ryugu, Aozora, Jiromaru, Thakesi serta Yoja berada di gerobak kedua yang berada di belakang.


detik selanjutnya, keempat ekor kuda tersebut berteriak, lalu bergerak menarik gerobak gerobak tersebut, perjalanan pun dimulai.


Matsuda terlihat serius, dia menoleh kebelakang, “ kedelapan Petarung Sanji itu pasti bisa dengan mudah dikalahkan Setan Merah, kami harus bergerak cepat.. ” batinnya lalu melirik Sinam dan yang lain, “ sebenarnya anak-anak ini cukup kuat, mereka telah mengulur waktu, sepertinya keberuntungan masih berpihak pada ku. ”


Ctaang.. Traang..


kedelapan Petarung Sanji menyerang Satoru dengan membabi buta, namun Satoru bisa menghindari itu semua dengan mudah, sesekali dia juga menangkis dengan pedang.


Akaza masih duduk di dahan pohon, dia memandang ke arah pertarungan Satoru, “ menarik.. sepertinya aku akan melihat kehebatan Satoru yang sesungguhnya.. ” gumamnya, sepertinya dia menikmati pemandangan itu.


Akaza melirik kearah gerobak kuda yang semakin menjauh, “ sebenarnya aku ingin menghentikan Matsuda, tapi.. ” dia terlihat bimbang, “ sangat disayangkan jika harus melewatkan pertarungan si Setan Merah. ” lanjutnya sambil tersenyum jahat.


Tap..


Satoru mendarat, dia menjaga jarak dari para musuh, lalu menoleh kearah Akaza, “ oi, Akaza, kenapa kau diam saja? cepat kejar Matsuda.! ” teriaknya dengan wajah datar.


“ apa katamu? aku tidak mendengarnya.!! ” teriak Akaza berpura-pura bodoh, “ sebaiknya kau selesaikan cepat pertarungan mu, lalu kita kejar mereka.!! ” dia balik memerintah sambil tersenyum.


“ cih. ” Satoru terlihat sedikit kesal.


Satoru menatap datar kedelapan musuh, kemudian bersiap dengan pedangnya, “ Jurus Pedang, Irisan Kematian.! ” ucapnya.


Zraashh..


detik selanjutnya, Satoru sudah melewati salah satu musuh, dia begitu cepat dengan pedang menempel darah.


musuh yang dilewati Satoru terkejut dan melirik ke belakang, “ sejak kapan..? ” dia menoleh kearah pedang Satoru yang menempel darah, kemudian memandang kearah tubuhnya yang penuh darah, dia tertebas dengan telak, “ AAAAKKHH..!! ” orang itu berteriak keras.


Braakk..


setelah cukup lama menggeliat kesakitan dan berteriak, akhirnya orang itu tumbang, dia tewas dengan tubuh bersimpuh darah.

__ADS_1


“ fiuh.. ” Satoru mengambil nafas, “ satu orang tumbang. ” ucapnya datar.


musuh yang kini tinggal tujuh orang menatap temannya yang sudah tewas, lalu menatap Satoru dengan serius, terlihat tubuh mereka mulai gemetar, sepertinya mereka sedikit goyah.


“ dia cepat sekali.. ” ucap salah satu.


“ ya, kita harus lebih waspada.! ” sahut yang lain.


“ kalau begitu.. ayo kita serang bersama-sama..!! ” teriak salah seorang memberi komando.


Tap.. Tap..


ketujuh Petarung Sanji maju secara bersamaan, mereka bersiap dengan pedang.


Satoru melirik ke segala arah, “ aku harus segera menyelesaikan ini. ” batinnya.


“ Jurus Pedang, Gelombang Pencabik.! ” setelah para musuh dekat, Satoru menjurus sambil memainkan pedangnya cepat sehingga membentuk gelombang melingkar di sekujur tubuhnya.


“ Akkhh.!! ” teriakan para Petarung Sanji menyusul, mereka terpental jauh terkena dampak jurus Satoru.


Braak.. Buaakk..


empat orang yang berada di garis depan terhempas jauh dan tergeletak lemah, sekujur tubuh mereka penuh dengan sayatan dan mengeluarkan darah.


kini, tinggallah tiga orang petarung Sanji yang masih berdiri, mereka terlihat ketakutan dengan tubuh gemetar.


“ apa yang barusan? dan kenapa mereka tewas.? ” ucap salah seorang sambil memandang rekannya yang terbunuh.


salah seorang menatap Satoru dengan ketakutan, “ jadi ini si Setan Merah.. sekarang aku tahu alasan kenapa mereka yang memburu Setan Merah tidak pernah kembali.. ” ucapnya, dia hampir menangis.


“ kau benar, dia adalah Petarung Pedang terbaik, dia benar-benar hebat, sebaiknya kita lari. ” sahut yang lainnya.


Akaza tersenyum memandang pertempuran itu, lalu menoleh Satoru Taro “ orang yang berasal dari Klan Taro memang benar-benar hebat, ya.. Jurus pedang mereka sangat bervariasi.. sepertinya memang benar bahwa Klan Taro saat dulu adalah Samurai.. ” ucapnya, “ tapi.. pedang yang digunakan Satoru sepertinya bukan pedang biasa.. aku bisa merasakan keunikan yang belum terungkap dari pedang itu. ”


Tap.. Tap..


ketiga orang Sanji lari dari pertempuran, mereka menjauhi Satoru dengan cepat.


“ Jurus Pedang, Tebasan Pemecah Kesunyian. ” ucap Satoru.


Ciing..


detik selanjutnya, terdengar suara yang sangat memekakkan menggema di telinga, itu efek jurus pedang Satoru.


“ akh..! ”


“ apa ini? suara ini sangat sakit ditelinga.! ”


mendengar suara menyakitkan itu, ketiga orang Sanji tidak sanggup melanjutkan langkah, mereka menutup telinga dengan wajah menahan sakit.


Blaarr..


dari belakang ketiga orang itu, serangan Satoru semakin mendekat, berbentuk tebasan tebasan pedang yang berasal dari Shaka merah, semakin lama semakin membesar.


Satoru menatap tajam para musuh, “ enyahlah.! ” ucapnya dingin dengan rambut terhempas kesana kemari.


“ Aaakkhh..!! ” terdengar suara teriakan bersama dampak serangan Satoru yang melebar, gelombang udara meningkat menghempaskan debu yang langsung beterbangan.


Buukk..


beberapa saat kemudian, tubuh ketiga orang itu terlihat melayang di udara, lalu terjatuh ke bumi dengan tubuh penuh tebasan, darah mengucur ke segala arah bersama nyawa mereka yang sudah hilang, mereka mati.


“ berakhir. ” ucap Satoru datar, lalu menoleh ke suatu arah, arah tempat Sinam dan yang lain pergi. “ lalu.. tinggal yang berikutnya.. ” lanjutnya.


Tap..


Akaza melompat dan mendarat di samping Satoru, dia tersenyum lepas.


“ maaf, ya.. dari tadi aku hanya menonton. ” ucap Akaza sambil tersenyum.


“ cih. ” Satoru terlihat kesal, lalu mengubah ekspresi menjadi datar, “ kita tidak punya banyak waktu, jika mereka sampai di Sanji, misi kita gagal.. ” ucapnya.


“ baiklah, jika nanti bertemu Matsuda, aku langsung membunuhnya. ” ucap Akaza tersenyum.

__ADS_1


“ ayo pergi.! ” Satoru melesat cepat, Akaza menyusul dari belakang.


Draap.. Draap..


langkah kaki kuda menghempaskan debu, roda gerobak berputar cepat, sementara Sinam dan Matsuda terlihat gelisah, Sansiro, Harumi dan Kaori sudah tertidur dalam luka di sekujur tubuh.


dibelakang gerobak Sinam, gerobak Ryugu dan yang lain menyusul, hanya berjarak sekitar dua puluh meter. didalam gerobak kedua, hanya Ryugu dan Aozora yang tersadar, Jiromaru, Thakesi dan Yoja sudah terlelap, mereka kelelahan.


disaat jalan sedikit menanjak, Matsuda menoleh kebelakang sehingga jarak pandang sangat jauh, disitu terlihat dua orang berlari cepat mencoba menyusul mereka, itu adalah Satoru dan Akaza.


“ sial, mereka sudah dekat.! ” Matsuda terlihat kesal, “ aku sudah menduga ini, tapi ini terlalu cepat. ” ucapnya.


Sinam menatap Matsuda, lalu menoleh kebelakang, “ begitu, ya.. mereka sudah menyusul. ” ucapnya, dia menyadari Satoru dan Akaza yang semakin dekat.


Sinam terlihat bingung, dia menatap Sansiro, Harumi dan Kaori cukup lama, dia tersenyum tipis.


“ paman Matsuda.. ” ucap Sinam yang membuat Matsuda menoleh, “ tolong jaga teman-teman ku. ” lanjutnya.


“ a, apa maksud mu.? ” Matsuda kebingungan.


Sinam menatap Matsuda sambil tersenyum tipis, “ mereka sudah dekat.. harus ada yang menahan mereka, aku yang akan mengorbankan diri.. ” ucapnya.


Matsuda tertegun, “ tapi.. ” ucapnya, dia terlihat bersalah.


Sinam menatap Matsuda, “ aku tahu kau bukanlah seorang Petarung, kau tidak bisa bertarung, jadi.. ” dia tersenyum hangat, “ berhentilah merasa bersalah.. ” lanjutnya.


Matsuda tertegun, dia menatap Sinam dengan mata berkaca-kaca, kemudian menundukkan kepala, “ aku sangat malu pada kalian.. seharusnya aku tidak melibatkan anak-anak baik seperti kalian.. ” ucapnya.


Braak..


tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.


“ eh.?! ” Matsuda mengangkat kepala, dia tidak melihat Sinam disampingnya, “ dimana.? ”


Matsuda mengeluarkan kepala untuk melihat benda jatuh tadi, disitu terlihat Sinam membungkuk di bumi, “ dia.. melompat.. ” gumam Matsuda tertegun.


“ tolong jaga teman-teman ku. ” ucap Sinam tersenyum hangat.


dalam gerobak kedua, Aozora menyadari Sinam yang melompat, dia menoleh kebelakang yang ternyata Satoru dan Akaza sudah dekat, “ jadi.. dia berniat menanggung semuanya sendirian, ya. ” ucapnya.


“ apa yang dia lakukan.? ” ucap Ryugu datar memandang Sinam yang semakin dekat.


Aozora menoleh Ryugu, “ Ryugu, tarik Sinam..!! ” perintahnya tegas, dia terlihat sedih.


Ryugu terkejut menatap Aozora, “ baiklah. ” lalu mengeluarkan tangannya untuk menyambut Sinam.


Draap.. Draap..


detik selanjutnya, gerobak Ryugu dan Aozora berpapasan dengan Sinam.


Ryugu menjulurkan tangannya untuk menangkap Sinam, “ berpeganglah.. ” ucapnya datar.


Sinam terlihat bersiap menyambut tangan Ryugu, dia tersenyum hangat.


Ctaas..


saat bertemu, tangan Sinam memukul tangan Ryugu.


Ryugu tertegun, dia memandang Sinam yang sudah dilewatinya, terlihat Sinam berbicara namun tidak terdengar suaranya, lalu tersenyum hangat kepada Ryugu.


Ryugu memandang Sinam yang semakin jauh, “ apa dia mengatakan sesuatu? apa yang dia katakan.? ” gumamnya pelan.


Sinam memandang ke arah Ryugu yang semakin jauh, mengacungkan jari jempol lalu tersenyum hangat dan meyakinkan.


Ryugu tertegun, kedua matanya terbuka lebar, “ apa maksud.. dari senyumannya itu.? ” ucapnya.


Aozora mengeluarkan air mata walau tidak terdengar suara tangisannya, “ bodoh, dia mengorbankan dirinya untuk kita. ” ucapnya.


Ryugu menatap Aozora, “ mengorbankan dirinya? untuk apa.? ” dia bertanya.


“ untuk melindungi kita. ” Aozora terlihat sangat sedih.


mendengar jawaban Aozora, Ryugu tersentak, matanya terbuka lebar, “ melindungi.. kita.. ” ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2