
beberapa hari kemudian...
pagi ini mentari bersinar terang, langit biru yang dibalut awan putih, kicauan burung menambah keasrian desa Elemen, udara dan pemandangan sungguh menyegarkan jiwa.
Tap.. Tap...
di pusat desa Elemen, Hikasa berjalan diantara orang-orang yang berlalu lalang, disini banyak pedagang mulai dari sayuran hingga makanan.
Hikasa menoleh sekeliling, “ desa ini sangat makmur, semua orang terlihat bahagia. ” batinnya tersenyum.
Tap.. Tap..
Hikasa terus berjalan, kini dia sudah meninggalkan pusat desa Elemen, dia berjalan diantara perumahan.
namun, ada yang ganjil disini, semua orang menatap Hikasa dengan tidak senang, mereka terlihat penuh kebencian.
Hikasa melirik kearah orang-orang itu, “ ada apa dengan mereka? kenapa mereka menatap ku seperti itu.? ” batinnya, “ mereka semua adalah penduduk yang mendukung Hikaru menjadi pemimpin.. seharusnya mereka senang karena keinginan mereka menjadi kenyataan. ”
Deg..
Hikasa tersentak, dia mengadu gigi pertanda kesal, “ begitu, ya.. jadi ini semua ulah Serano.. aku tidak menyadari keberadaannya, tapi rencananya terus berjalan, sialan. ” batinnya.
Hikasa terus berjalan, kini dia sudah jauh dari tempat sebelumnya, disini semua orang terlihat sangat ramah, semua tersenyum menyapa Hikasa.
Hikasa melirik kearah orang-orang, “ dan ini.. adalah penduduk yang menginginkan aku menjadi pemimpin desa.. bahkan mereka sudah menjaga jarak dengan pendukung Hikaru.. desa Elemen sudah terpecah menjadi dua. ” batinnya serius.
Tiga bulan kemudian...
Buaak..
Ctaang...
malam ini, terdengar suara orang yang sedang bertarung, mereka adalah penduduk desa Elemen, terlihat tiga orang melawan tiga orang, lengkap dengan pedang.
“ kalian hanya sekumpulan orang egois, kalian tidak menerima kenyataan.! ” teriak salah satu, dia mengenakan pakaian berwarna merah.
“ kenyataan? kenyataan bahwa senior Hikasa mengalah pada Hikaru, itu maksud mu.? ” sahut orang berpakaian biru.
Ctang..
Cep..
beberapa kali beradu pedang, salah satu orang berpakaian merah terkena tusukan, dia tergeletak di tanah berlumuran darah.
menyaksikan itu, pertarungan langsung berhenti, orang yang membunuh tersebut menatap mayat dengan wajah gemetar, sepertinya dia ketakutan.
kini, tinggal dua orang yang mengenakan pakaian merah, sementara yang berpakaian biru tidak ada yang tewas, mereka semua diam menatap mayat tersebut.
“ sialan kau.! ” beberapa saat termenung, kedua orang berpakaian merah terlihat geram, mereka bersiap menyerang ketiga lawan.
Tap..
Tiba-tiba Hikasa muncul di tengah-tengah, pertarungan yang hendak di lanjutkan kembali terhindar.
“ senior Hikasa.?! ” tiga orang berpakaian biru terkejut, lalu tersenyum.
“ cih.! ” disisi lain, dua orang berpakaian merah terlihat penuh kebencian menatap Hikasa.
“ apa yang terjadi.? ” Hikasa bertanya dengan serius, namun tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
Hikasa menatap mayat yang tergeletak, lalu menoleh orang berpakaian biru yang pedangnya berlumuran darah.
“ jadi kalian melakukan pertarungan mematikan, ya. ” ucap Hikasa datar, namun perlahan wajahnya terlihat mencekam, “ apa yang membuat kalian rela membunuh teman kalian sendiri, hah.?! ” ucapnya keras.
“ dia bukan teman kami. ” jawab orang berpakaian biru, dialah pembunuh tadi, “ itu sebabnya aku membunuhnya. ”
“ hanya karena kau tidak puas karena Hikaru memimpin desa.? ” Hikasa terlihat serius, “ atau karena kau berharap aku yang menjadi pimpinan.? ” lanjutnya.
“ keduanya.. jawabannya karena aku tidak puas karena seharusnya kau yang memimpin desa.. kau lebih pantas, senior.. ” jawab orang berpakaian biru tersebut.
“ apa katamu.? ” orang berpakaian merah tidak terima, “ pemilihan pimpinan dilakukan dengan pertarungan, dan sudah jelas bahwa pemenangnya adalah senior Hikaru.! ”
“ kau bercanda, ya.. sudah jelas bahwa senior Hikasa mengalah.. jika serius, mungkin Hikaru sudah mati. ” sahut orang berpakaian biru.
“ apa.?! ” orang berpakaian merah terlihat kesal, dia mengadu gigi.
“ jadi, mereka mengetahuinya,ya.” batin Hikasa melirik dua kubu itu secara bergantian, “ situasinya semakin memburuk.. sepertinya Serano yang menghasut mereka. ” batinnya serius.
kedua orang berpakaian merah menatap ketiga orang berpakaian biru, “ jika memang benar yang kalian katakan, untuk menghindari pertarungan yang tidak perlu.. sebaiknya pertarungan antara senior Hikaru dan Hikasa kita ulang. ” ucap orang berpakaian merah.
“ ya, kami setuju. ” ketiga orang berpakaian biru tersenyum.
“ apa.?! ” Hikasa tersentak, “ kalian tidak bisa memutuskan seenaknya, sampai kapanpun aku tidak akan bertarung dengan Hikaru.! ” teriaknya.
“ jika anda tidak setuju, kekacauan ini akan terus berlanjut.. kami tidak akan segan jika harus berperang, kami tidak salah, kami hanya membela senior Hikaru, dia sudah resmi menjadi pimpinan desa Elemen.. itu dikatakan jelas oleh pendiri desa sebelum pergi. ” ucap orang berpakaian merah.
“ dan mereka tidak mengakui hal itu, lalu mencari-cari alasan untuk menjatuhkan pimpinan.. kalian hanya sekelompok orang yang keras kepala. ” lanjut orang berpakaian merah yang lain, dia menatap ketiga orang berpakaian biru.
setelah itu, kedua orang berpakaian merah pergi membawa mayat temannya yang sudah tewas.
Hikasa menatap orang yang telah membunuh, “ kau sudah tahu konsekuensinya bukan.? ” tanya Hikasa dingin.
malam itu juga, Hikasa berjalan menuju ruangan pimpinan, sepertinya dia ingin bertemu Hikaru.
“ silahkan masuk.! ” belum sempat Hikasa mengetuk pintu, suara Hikaru dari dalam ruangan sudah menyambut.
Kreek..
Hikasa membuka pintu, lalu masuk dan menatap Hikaru dengan serius,begitu juga sebaliknya.
“ kau sudah mengetahuinya, bukan.? ” tanya Hikasa.
“ para pendukung mu membunuh penduduk desa, ini sudah melewati batas. ” jawab Hikaru dingin.
“ para pendukung ku.? ” Hikasa terlihat kesal, “ jadi maksud mu pendukung ku bukanlah penduduk mu? kau adalah pimpinan desa,kau harus bersikap adil.. ”
“ bukan itu maksudku. ” jawab Hikaru datar, “ aku sudah mendengar semuanya, mereka meminta kita untuk bertarung lagi dengan serius, dari pada itu terjadi, lebih baik kau menjadi pimpinan penduduk yang mendukung mu. ” jelasnya serius.
“ apa.?! ” Hikasa tersentak, “ maksud mu, kita berdua menjadi pimpinan, didalam satu desa.?! itu mustahil Hikaru.! ” ucapnya keras.
Hikaru berdiri dari kursinya, “ lalu apa kau punya solusi yang lebih baik? katakan padaku.?! ” dia terlihat kesal, “ jika aku turun dan kau naik menjadi pimpinan, para pendukung ku mustahil terima, sama seperti dengan para pendukung mu, ini sudah menjadi serius, tidak ada pilihan selain aku dan kau menjadi pimpinan.! ” ucapnya keras.
setelah itu, suasana hening, keduanya terdiam beberapa saat.
“ tidak, aku tidak akan pernah menerima keputusan bodoh mu itu, Hikaru. ” Hikasa mulai bersuara, “ dua raja di satu singgasana, cepat atau lambat pertarungan antar saudara akan terjadi.. bukannya meredam kau malah membakar api perselisihan, Hikaru. ” jelasnya serius.
“ hehehe.. ” Hikaru tertawa kecil, lalu terlihat serius, “ lalu, apa kau punya pendapat yang lebih baik.? ”
Hikasa terdiam sejenak, “ apa Hikari sudah kembali.? ” lalu bertanya balik.
__ADS_1
“ tidak, dia tidak akan kembali dalam waktu yang lama, penyusup dari luar desa terus bermunculan, kondisi kita benar-benar genting. ” jawab Hikaru.
“ katakan padanya agar cepat kembali, mungkin dia memiliki keputusan yang lebih baik. ” ucap Hikasa.
Hikaru terkejut, “ apa kau tidak mengerti situasinya?! Sanji, Arkan dan Yama mulai mendengar rumor bahwa ayah sudah pergi dari desa, cepat atau lambat mereka pasti menyerang kita.! ” teriak Hikaru, “ jika Hikari kembali ke desa, para penyusup dengan mudah menembus perbatasan dan mendapat informasi di desa Elemen, dia adalah ketua pasukan pertahanan, tugasnya sekarang lebih penting daripada sekedar memberi pendapat.! ” lanjutnya.
“ apa katamu? jadi kau meremehkan Hikari.?!” Hikasa terlihat kesal menatap Hikaru, begitu juga sebaliknya, keduanya mengadu gigi.
Tap.. Tap..
terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat, lalu masuk ke dalam ruangan karena pintu tidak di tutup, terlihat seorang pemuda berpakaian serba putih menunduk.
“ hosh.. hosh.! ” orang itu mengatur nafas, dia terlihat kelelahan.
Hikasa dan Hikaru menoleh orang itu, “ pasukan Hikari.?! ” keduanya terkejut.
“ ada apa? kenapa kau tergesa-gesa.? ” tanya Hikaru.
“ salah satu penyusup berhasil lewat, dia sudah memasuki desa. ” jawab pemuda itu.
“ apa.?! ” Hikasa dan Hikaru terkejut.
“ kami sudah sangat lelah.. penyusup terus bermunculan, pertarungan tidak bisa di hindari. ” ucap pemuda itu, “ memangnya dimana pendiri desa? kenapa dia tidak kembali juga.? ” lanjutnya.
mendengar pemuda itu, Hikasa dan Hikaru saling tatap, keduanya terlihat curiga.
Hikasa menatap pemuda itu, baju yang kedodoran, lalu bercak darah yang menempel, “ orang ini.. sangat mencurigakan. ” batinnya.
Hikaru menatap tajam pemuda itu, “ lalu, bagaimana dengan Hikari? apa dia baik-baik saja.? ” ucapnya.
pemuda itu terlihat kebingungan dan berpikir, “ ya, Hikari baik-baik saja.” jawab pemuda itu.
Zrasshh...
detik selanjutnya, melesat cahaya putih lalu disusul darah berceceran, entah apa yang terjadi.
Buuk..
tubuh pemuda tergeletak di lantai, bahu sampai pinggangnya terkoyak sehingga lantai bercucuran darah segar.
“ kalian. ” saat menghembuskan nafas terakhir, pemuda itu berbicara dengan wajah penuh penyesalan.
“ selain penampilan mu yang mencurigakan, seharusnya kau menyebut nama Hikari dengan senior. ” ucap Hikasa. “ seharusnya kau memiliki lebih banyak informasi dan tidak mengajukan pertanyaan mencurigakan. ”
Sriing..
Hikasa menyarungkan kembali pedangnya, walau entah kapan dia menariknya, sepertinya dia memang sangat cepat.
Tap.. Tap..
saat itu juga, seseorang memasuki ruangan tersebut, dia mengenakan pakaian serba putih.
“ pimpinan, senior Hikasa.! ” teriak orang itu.
Hikasa dan Hikaru menatap orang itu serius, lalu saling menatap.
“ sepertinya ini memang orang suruhan Hikari. ” ucap Hikaru.
“ ada apa.? ” tanya Hikasa.
__ADS_1
“ eh.?! ” orang itu terkejut menatap mayat yang tergeletak di lantai penuh darah, lalu menatap Hikasa dan Hikaru, “ aku membawa pesan dari senior Hikari. ”