SINAM

SINAM
Saken Yang Terluka


__ADS_3

Tap.. Tap..


Saken Takeyomi terus berlari tanpa henti, air matanya beterbangan di udara, dia menuju kediaman Klan Takeyomi.


“ kakak, apa kebencian mu padaku sedalam itu sehingga kau meninggalkan Klan dan Desa.? ” batin Saken, wajah Akaza terbayang di pikirannya.


Saken sudah sampai di depan pintu gerbang kediaman Klan Takeyomi, dia mengusap air matanya dan perlahan membuka pintu.


pintu terbuka, sosok Kei Takeyomi ayah Saken dan Akaza menyambut, dia berdiri menatap Saken dengan tangan terlipat, dia seperti menunggu kedatangan Saken.


“ jadi kau sudah kembali, ya.. ” ucap Kei Takeyomi, “ aku sudah dengar semuanya, kau dikalahkan oleh Pewaris Kekuatan Iblis dari Desa Pedang Kembar.. tidak perlu berkecil hati, kau sudah melakukan yang terbaik. ” lanjutnya.


Saken menatap Kei dengan kesal, “ seharusnya ayah tahu apa yang ingin ku tanyakan. ” ucapnya.


Kei menatap Saken serius cukup lama, lalu tersenyum tipis, “ tentang Akaza, ya.. ” ucapnya, ” dia meninggalkan Desa, dan dia sudah masuk daftar pencarian orang. ” lanjutnya.


“ maksudku, apa alasannya.? ” tanya Saken, “ apa karena aku.? ”


Kei menatap Saken, “ tidak, ini bukan karena mu. ” jawabnya.


beberapa waktu lalu, tepatnya tadi malam..


seorang pemuda membuka pakaian khas Petarung Yama, dia adalah Akaza Takeyomi kakak Saken Takeyomi yang saat ini berada di sebuah kamar.


Tap.. Tap..


Akaza berjalan keluar kamar, serta keluar dari rumah tersebut tanpa membawa perlengkapan apapun, dia berjalan di kegelapan.


“ aku dengar dari orang-orang, belakangan ini kau bertindak mencurigakan. ” Tiba-tiba terdengar suara seseorang, dari kegelapan.


Akaza terkejut dan menghentikan langkah, lalu menoleh kearah suara tersebut, disitu terlihat sosok Kei Takeyomi dengan sorot mata tajam.


“ aku sudah muak dengan Yama, aku akan meninggalkan Desa. ” ucap Akaza serius.


“ apa karena Saken.? ” tanya Kei.


Akaza tersenyum, “ ayah, kau pasti bercanda.. aku memang benci dengan Saken, tapi.. mustahil hanya karena itu aku meninggalkan Desa. ” ucapnya.


“ lalu, ini tentang apa.? ” tanya Kei serius.


“ karena Uhara.. ” jawab Akaza cepat, “ dia terus membunuh perasaannya sendiri demi perdamaian, walaupun dia terlihat tenang, namun aku tahu hatinya menangis. ” lanjutnya.


“ bagaimana kau bisa tahu.? ” tanya Kei.

__ADS_1


“ saat aku melakukan pertarungan dengannya, saat itu dia memperlihatkan rasa sakit yang dia rasakan.. dan aku sadar, aku yang teman sekelasnya ternyata tidak tahu apa-apa tentangnya. ” jawab Akaza, “ Yama mengorbankan Uhara untuk menjadi anggota Kelelawar Merah.. dia melakukan yang terbaik dengan membantai Desa kecil serta Klan-klan kuat.. namun sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu.. tapi dia lebih tidak ingin jika orang lain berada di posisinya.. hatinya benar-benar penuh luka.. walaupun dia sanggup menahan luka itu, tapi aku merasa sangat terluka melihat dia seperti itu.. aku tidak bisa tertawa di atas penderitaannya. ” lanjutnya.


Kei Takeyomi memejamkan mata, “ begitu, ya.. ” ucapnya.


Akaza menatap Kei, “ sekalipun ayah mencoba menahan ku pergi.. aku akan tetap bersikeras. ” ucapnya serius.


Kei membuka mata, menatap datar Akaza, “ aku tidak ingin melakukan pertarungan mematikan melawan anak ku sendiri, sekarang pergilah, besok semua orang akan mulai mencari mu. ” ucapnya.


Akaza tertegun, “ terimakasih.. ayah.. aku akan memastikan bahwa keputusan mu malam ini tidak salah. ” ucapnya lalu membalikkan badan.


“ apa tidak ada yang ingin kau katakan pada Saken.? ” tanya Kei Takeyomi.


“ tidak ada, dia terlalu kuat untuk mendapatkan kekhawatiran dari petarung lemah seperti ku.. ” jawab Akaza lalu melompat dan akhirnya hilang.


Kei Takeyomi menatap Saken, kejadian tadi malam hanya ada di ingatannya dan tidak dia ceritakan pada Saken.


“ jika bukan karena ku, kenapa kakak pergi meninggalkan Desa.? ” tanya Saken.


“ entahlah, aku tidak tahu apa alasan dia. ” jawab Kei.


“ lalu.. ayah membiarkan dia pergi begitu saja. ” lanjut Saken.


“ dia berbeda dengan mu, dia bukan lagi anak-anak.. aku tidak bisa memaksakan kehendak ku padanya.. ” ucap Kei Takeyomi, “ lagipula, dia juga sudah siap bertarung. ”


“ seharusnya ayah tetap menahannya, jika perlu patahkan kakinya sehingga dia tidak bisa pergi. ” Saken terlihat sedih. “ ini semua salah Klan yang selalu membandingkan aku dengan kakak.. kalian selalu memuji ku, namun selalu meremehkan kakak.. dasar menyebalkan. ” ucapnya lalu berjalan menjauh dari Kei Takeyomi.


Tap.. Tap..


“ oi, Saken, kau cepat sekali.! ” ucap Sinam, “ hosh.. hosh..! ” kemudian mengatur nafas.


Saken tidak menatap Sinam, tatapan matanya terlihat kosong, “ Sinam, ya.. ” ucapnya, “ tolong.. biarkan aku sendiri. ” lanjutnya.


Sinam terkejut menatap Saken, “ aku mengerti perasaan mu.. tapi. ”


“ tapi apa.?! ” Saken memotong dan terlihat kesal, “ memangnya kau tahu apa tentang perasaan ku.?! ” teriaknya.


Sinam tertegun, “ Saken.. aku tahu saat ini kau sedang hancur, jadi.. sebagai sahabat aku tidak akan membiarkan berlarut dalam kesedihan.. aku akan membuatmu tertawa. ” ucapnya penuh keyakinan.


“ tertawa katamu.?! ” Saken berdiri dari duduknya, dia menatap Sinam serius, “ jangankan tertawa di atas luka, menangis tanpa suara saja bagiku bukanlah hal yang mudah.!! ” teriaknya, dia terlihat kesal.


“ Saken.. kau.? ” Sinam terlihat bingung.


“ Sinam.. kau adalah satu-satunya orang yang ku anggap sahabat, kau berbeda dengan yang lain, kau memandang ku sebagai manusia, bukan sebagai Iblis, aku tidak ingin menyakitkan mu. ” ucap Saken mulai tenang, “ sekarang, pergilah.. aku tidak ingin menyakiti mu. ” lanjutnya.

__ADS_1


Sinam menatap Saken, dia terdiam dengan tatapan dalam.


“ jika kau tidak ingin pergi, maka aku yang akan pergi. ” ucap Saken lalu berjalan perlahan meninggalkan Sinam.


“ Saken.. bukankah kakakmu selalu bersikap dingin padamu? lalu kenapa kau begitu terluka.? ” Sinam bertanya.


Saken menghentikan langkah, lalu menoleh Sinam, “ dia seperti itu karena benci dengan sosok Iblis di dalam diriku, sebelum keberadaan Iblis ini terlihat dia sangat menyayangi ku.. tapi setidaknya dia lebih baik dari orang-orang Klan Takeyomi yang selalu memuji Iblis dalam diriku, padahal sebenarnya sangat ketakutan.. ” ucapnya, lalu melirik Kei Takeyomi, “ menjijikkan, bukan? lebih baik dibenci oleh kenyataan, daripada dicintai oleh kemunafikan. ” lanjutnya, lalu kembali berjalan.


Sinam menatap Saken, rambutnya terhempas angin yang berhembus, “ Saken... hatinya benar-benar penuh luka. ” batinnya, lalu bersiap mengejar Saken.


“ biarkan dia sendiri.! ” Kei Takeyomi menahan Sinam.


Sinam menghentikan langkah, menoleh Kei Takeyomi, “ tapi Saken. ” ucapnya, lalu memandang kepergian Saken.


“ seiring berjalannya waktu, mungkin luka itu akan sembuh. ” ucap Kei, “ atau malah sebaliknya. ” lalu berbicara dalam hati.


★★★★★


Sinam berjalan sendirian, dia menuju pinggiran Desa Yama, tempat kakek dan nenek yang selama ini merawatnya.


“ Sansiro sialan, dia meninggalkan ku.! ” ucapnya kesal.


beberapa saat kemudian, Sinam terlihat melamun, dia kembali teringat dengan Saken, “ aku harap dia baik-baik saja. ” gumamnya.


cukup jauh melangkah, Sinam berhenti sejenak, dia memandang hutan di pinggir jalan, itu adalah hutan tempat Abame berada.


“ perjalanan ke rumah kakek dan nenek masih jauh.. lebih baik aku ketempat guru Abame, aku yakin Satoji sudah diajarkan Jurus. ” batin Sinam. “ aku tidak sabar bertemu mereka. ”


Tap.. Tap..


Sinam memasuki hutan, dia berlari cepat, sesekali juga berlompatan di pepohonan.


Deg..


setelah sampai di tempat, Sinam tersentak, dia melihat kekacauan di sekitar rumah pohon Abame.


“ apa yang terjadi? sepertinya baru saja terjadi pertarungan di sini..!” Sinam menatap sekeliling, lalu manjat dan mendapati rumah pohon kosong.


“ jangan-jangan.. petarung Yama mengetahui keberadaan guru Abame dan menyerang. ” Sinam mengadu giginya, “ Sial.!! ”


Sinam turun dari rumah pohon, lalu mengelilingi tempat tersebut, “ dimana? guru Abame dan Satoji dimana? kenapa tidak ada mayat mereka.?! ” batinnya, lalu menghentikan langkah “ tidak ada, itu artinya mereka berdua selamat, dan mereka... meninggalkan ku sendirian. ” dia terlihat bersedih.


Buukk..

__ADS_1


Sinam memukul batang pohon dengan keras.


“ padahal baru saja memiliki guru dan teman seperti Satoji, dan kini mereka telah pergi, sial..!! ” Sinam terlihat kesal, matanya berkaca-kaca.


__ADS_2