SINAM

SINAM
Jiromaru Dan Thakesi


__ADS_3

“apa yang terjadi? apa mereka sudah mulai.?! ” Sinam membuka gerbang perlahan dengan keraguan.


Brraak..


begitu gerbang terbuka, tubuh seseorang terlempar kearah Sinam yang tidak menghindar, tubuh Sinam ikut terhempas kembali keluar gerbang.


“aduh.! ” Sinam kembali bangkit, lalu menoleh orang yang menabraknya.


orang ini masih tergeletak, dia tidak bisa bangkit lagi, dari sudut bibirnya mengalir darah.


Sinam terkejut, lalu berlari kearah orang itu, “ hey, kau baik-baik saja? apa yang terjadi.? ”dia mencoba menolong orang itu.


“aku baik-baik saja. ” jawab orang itu, kemudian menoleh kearah pintu gerbang yang sedang terbuka, disitu terlihat Yoja sedang bertarung menghadapi para penantang.


Blakk... Buaak...


Yoja bertarung menghadapi dua orang dengan brutal, dia dengan mudah menekan dua lawannya yang menggunakan senjata tanpa senjata.


“ada apa ini?! apa hanya ini yang kau punya? hibur aku lebih lama lagi.! ” teriak Yoja dengan senyum kematian.


Sinam menoleh Yoja, “ jadi dia, ya. ” gumamnya.


Sinam membantu orang itu untuk berdiri dan kembali masuk gerbang, setelah itu orang itu mengangkat tangannya keatas, “aku menyerah.! ” teriaknya menatap Deiki.


Deiki melirik anak itu, kemudian menoleh tim medis yang berada di pinggir arena, “ tim medis, anak ini terluka.! ” teriaknya.


anak itu menoleh Sinam, “ jika kau tidak ingin babak belur seperti ku, menyerahlah! kau tidak akan merasakan sakit, mereka terlalu kuat untuk orang seperti kita. ” ucapnya.


Sinam menoleh anak itu, “terima kasih sudah mengingatkan, tapi aku tidak akan menyerah sebelum bertarung. ” dia tersenyum.


“ begitu, ya. ” anak itu tersenyum lalu pergi dibawa tim medis.


Deiki melirik Sinam, “kau hampir terlambat, tapi setidaknya kau datang lebih cepat beberapa detik sebelum waktu habis. ” ucapnya.


Sinam menoleh Deiki, kemudian melemparkan tas dari Sansiro, “ ketujuh peta ada di dalam.. kau benar-benar menjengkelkan.. kau membuat kami saling berebut. ” ucapnya.


“kau katamu? memangnya kau pikir usiaku berapa tahun.? ” Deiki terlihat kesal, “ anak ini.. jika tidak salah dia salah satu anak bodoh yang memetik bunga padi tadi, anak yang satunya dimana.? ” batinnya.


“oi, oi, oi.. kenapa kau sendiri? temanmu dimana.?! ” tanya Deiki.


“ sebentar lagi dia pasti datang. ” jawab Sinam, “ kau tidak mengatakan setiap anggota tim harus sampai bersama, kau hanya berkata semua peta tidak boleh hilang, benar bukan.?! ”


“begitu, ya. ” Deiki tersenyum, “ baiklah, kau bisa bertarung sesuka mu. ”


“jadi mereka berpisah karena ada masalah, ya.. kerja bagus. ” batin Deiki. “ kalau begitu, total tim yang sampai ke Arena pelatihan Akademi tepat waktu hanya sekitar dua puluh tim dari empat puluh enam tim. ”


Blaak.. Buakk..


Yoja terus menghajar para penantang, tubuhnya yang berotot membuatnya tampak menakutkan, setiap lawan yang beradu pukul dengannya pasti terlempar.


“ayo, siapa lagi yang menantang, apa kalian tidak ingin merebut bendera itu.?! ” teriak Yoja menoleh kearah bendera, di situ juga terlihat Saken duduk dengan santai.


Deiki terlihat kesal menoleh Yoja, “ anak ini memang kuat, tapi disini masih banyak anak anak kuat dari berbagai Klan terkenal, mereka menahan diri karena menunggu kau kehabisan tenaga dan melemah. ” batinnya.


Mikami Sato tersenyum memandang kearah anak-anak yang berada di Arena, “ melihat mereka yang begitu bersemangat, aku percaya masa depan Desa Yama pasti cerah. ” batinnya.


disisi lain, Rokuga dan Kazuo juga menonton, seperti biasa mereka selalu bersama, tatapan keduanya tertuju pada Harumi Sato penuh harapan.


“Kazuo, menurutmu, apakah Harumi bisa mengalahkan anak itu. ” dia memandang Yoja.


Kazuo tersenyum, “menang atau kalah bukan jadi masalah, jika dia kalah pengalamannya akan bertambah, jika menang berarti dia sudah bertambah kuat. ” ucapnya, “tapi.. aku sendiri benci kekalahan. ” lanjutnya.


“ ayo siapa lagi yang ingin menantang ku.?! ” teriak Yoja penuh semangat, dia memandang kearah semua orang yang ada di situ.


Sinam menatap Yoja sambil menggertakkan gigi, “ sial, aku hanya sendiri, jika aku menantang mereka pasti sulit.. ” dia terlihat kesal, “belum lagi dengan anak itu, dia bahkan belum bergerak sedikitpun. ” kemudian menoleh Saken Takeyomi.

__ADS_1


Harumi dan Kaori terlihat kesal menatap Yoja, “Harumi, bagaimana ini? aku hampir tidak bisa menahan diri. ” Kaori terlihat kesal.


“tahan dirimu sebentar lagi, jika kita ingin menjadi pemenang akhir, kita harus menantang di akhir. ” bisik Harumi.


setelah itu, suasana hening untuk sesaat, semuanya saling tatap.


“ada apa ini?! ”


“ayo tantang?!


“beri pelajaran anak sombong itu! buat dia menyesal.! ”


para penonton mulai gelisah, mereka berteriak kencang dengan penuh emosi.


“hey, ada apa dengan kalian? kalian benar-benar pengecut. ” Deiki ikut kesal.


“kami yang akan menantang.! ” Tiba-tiba terdengar suara teriakan.


semua mata menuju arah suara, disitu terlihat dua orang anak laki-laki, yang satu berambut oranye, yang satunya berambut hitam, nama mereka adalah Jiromaru Zaku dan Thakesi Nakai.


Tap.. Tap..


Jiromaru Zaku dan Thakesi Nakai melangkah perlahan, keduanya tersenyum menatap Yoja dan Saken.


“awalnya kami ingin menunggu beberapa saat lagi, tapi kesombongan mu membuat kami panas. ” Jiromaru memain mainkan Toya yang ada ditangannya dengan lihai.


“tunggu, Jiromaru.! ” Thakesi terlihat serius, “ biar aku yang membereskan mereka. ”


Yoja tersenyum penuh nafsu membunuh, sementara Saken masih duduk di dekat bendera.


Thakesi mengarahkan kedua telapak tangannya kearah Yoja dan Saken, “Jurus Penghalang. ” ucapnya dingin, tubuhnya masih diam di tempat.


Kraak...


setelah itu, tiba-tiba muncul sebuah kubus transparan yang mengunci Yoja dan Saken, namun ukurannya cukup untuk membuat keduanya bergerak.


“apa itu? aku melihat penghalang seperti kaca disitu.! ” ucap Kaori.


“kalau tidak salah, itu adalah teknik yang khas dari Klan Nakai. ” sahut Harumi juga terkejut.


Sinam memandang dinding kaca tersebut, “hebat, dia hanya menggerakkan tangannya, tapi sudah bisa mengunci lawan. ” batinnya.


Deiki melirik Thakesi Nakai, “oh, jadi diantara mereka sudah ada yang bisa menggunakan jurus, ya. ” batinnya.


Yoja memandang sekeliling yang terhalang dinding kaca, kemudian tersenyum, “hebat juga kau.. tapi.. ” dia menghentikan ucapan.


Blaak..


“ini tidak berguna di hadapan ku.! ” teriak Yoja sambil melepaskan tendangan kearah penghalang transparan tersebut, namun tidak berguna sedikitpun.


“apa.?! ” Yoja terkejut, lalu kembali melepaskan pukulan dan tendangan untuk membebaskan diri dari penghalang yang dibuat Thakesi, tapi belum berguna.


Thakesi menatap datar Yoja, “percuma saja, kau tidak akan bisa menghancurkannya.. menyerahlah, sebelum Shaka mu dihisap habis oleh Jurus ku. ” ucapnya datar.


Jiromaru melirik Thakesi, “jadi, selama orang itu berada di dalam penghalang yang kau buat, Shaka mereka akan diserap.. ” ucapnya. “Klan Nakai memang hebat. ”


“wah, hebat..! ”


“ayo Thakesi, habisi dia..! ”


“Klan Nakai memang hebat.! ”


para penonton berteriak semangat, Klan Nakai yang terlihat berkumpul tersenyum memandang Thakesi.


“tahun ini Klan Nakai memasukkan satu anak yang hebat, ya.. ” ucap salah seorang yang berasal dari Klan Zaku, “ namun Jiromaru dari Klan Zaku juga tidak kalah hebat. ”

__ADS_1


“tidak perlu memperdebatkan hal yang tidak berguna, kedua Klan kita sama-sama hebat, lagipula Klan kita sudah bersahabat sejak era Shakayama.. ” sahut orang dari Klan Nakai.


Tap...


tiba-tiba Saken berdiri dari duduknya, dia menatap tajam Jiromaru dan Thakesi dengan tangan yang terlipat.


“jadi begitu, ya.. ” wajahnya terlihat mencekam, semua mata tertuju kearahnya.


Yoja menoleh Saken, “sepertinya dia akan memperlihatkan kekuatannya. ”


Zuoorr...


tiba-tiba Saken mengeluarkan Shaka sangat besar, Shaka tersebut berwarna hijau bercampur hitam sehingga terlihat gelap, Shaka tersebut menggumpal di dalam penghalang.


“apa? ” semua orang terkejut.


Sinam terkejut, “dia sudah bisa menggunakan Shaka? tapi ini terlalu besar.! ” batinnya.


Braakk..


seketika penghalang yang mengunci Saken hancur, namun tubuh Saken belum terlihat karena tertutup Shaka gelap yang menggumpal.


“dia menghancurkannya.?! ” Thakesi terkejut dan kesal.


“hebat.! ” Jiromaru terus menatap gumpalan Shaka gelap itu.


sesaat kemudian, Shaka Saken mulai mengecil, wajahnya terlihat mencekam, sementara tubuhnya tertutup oleh ular besar yang melingkar.


“ular..?! ” semua orang terkejut, seketika wajah mereka memucat menatap ular besar ini.


Sinam terlihat mundur beberapa langkah, “apa-apaan ini.?! ” dia menggertakkan gigi.


Thakesi dan Jiromaru menatap Saken dengan penuh ketakutan, “jadi dia.. iblis ular yang dibicarakan itu.. ” ucap Thakesi.


Saken menatap tajam dengan sebelah mata tertutup rambut, tangannya mengarah ke Jiromaru dan Thakesi. “ enyahlah.! ” ucapnya datar.


Wusshh..


setelah itu ular besar yang mengelilingi Saken melesat kearah Jiromaru dan Thakesi.


“Thakesi, mundur.! ” teriak Jiromaru, lalu keduanya melompat mundur.


Braak..


kepala ular Saken menghantam tanah, seketika puing-puing dan debu beterbangan.


Saken menatap tajam Jiromaru dan Thakesi yang juga menatapnya, kemudian menghancurkan dinding transparan yang menyelimuti Yoja dengan ularnya.


“akhirnya aku bebas.! ” Yok tersenyum jahat.


Saken dan Yoja menatap Jiromaru dan Thakesi, sepertinya pertarungan antar tim akan dimulai.


Kei Takeyomi tersenyum memandang Saken dari kursi penonton, “bagaimana? apa kalian masih ingin membanggakan Klan, kali ini Klan Takeyomi yang paling unggul. ” batinnya, “ sebagai kepala Klan, ayah bangga memiliki anak seperti mu Saken. ”


disisi lain, terlihat Akaza berdiri agak jauh dari ayah serta Klan Takeyomi, dia memandang kesal Saken, “cih, manusia setengah iblis.. ” batinnya.


Deiki melirik Saken, “jadi dia langsung menunjukkan sisi iblisnya, ya.. ” batinnya.


Sraak..


Saken menarik kembali ular besar itu, seketika ular tersebut hilang masuk ke tubuh Saken yang saat ini memejamkan mata.


Saken membuka matanya, bola matanya berubah seperti mata ular, taringnya juga panjang.


Jiromaru terlihat serius dan takut, “Thakesi, biar aku yang menghadapi Iblis Ular itu, kau hadapi yang satunya.” ucapnya, “ kau tidak pantas menghadapinya, Jurus mu bisa di hancurkan nya dengan mudah. ”

__ADS_1


“kau benar, kau lebih cocok bertarung dengan jarak dekat, sementara aku tidak memiliki fisik serta stamina seperti mu. ” jawab Thakesi juga serius.


Sinam memandang Yoja dan Saken, “bagaimana ini? mereka terlalu kuat.. aku tidak bisa bertarung sendirian.. Sansiro, cepatlah kau datang. ” batinnya.


__ADS_2