SINAM

SINAM
Hati Yang Bimbang


__ADS_3

“ hosh.. hosh.. ” nafas Uhara terengah-engah, dia terlihat sangat kelelahan dengan wajah penuh luka.


didepan Uhara, Abame tersenyum remeh, “ menyerahlah Uhara, kau tidak akan bisa mengalahkan ku. ” ucapnya, dia terlihat baik-baik saja.


Uhara menatap Abame kesal, lalu menatap telapak tangannya sambil mengatur nafas, “ dia benar-benar kuat, aku sudah mengeluarkan semua Jurus ku.. dan aku sudah kehabisan Shaka.. aku tidak bisa mengalahkannya.. ” batinnya, “ tapi.. jika aku meminjam kekuatan makhluk itu.. aku pasti bisa, tidak, apa yang kupikirkan? aku adalah manusia, dan akan selamanya menjadi manusia. ” lanjutnya dalam hati.


“ kembalilah Uhara, katakan pada Mikami Sato bahwa kau sudah menghabisi ku. ” ucap Abame, “ aku tidak mungkin menghabisi muridku sendiri, tapi setidaknya aku memberikan satu pelajaran padamu, bahwa masih banyak yang tidak bisa kau lakukan. ” lanjutnya.


Uhara menatap Abame serius, “ tapi.. kau masih belum menjawab pertanyaan ku.. kau sudah meninggalkan Desa Yama tapi kenapa masih berada di hutan Yama.?! ” dia bertanya.


Abame tersenyum tipis, “ mencari peninggalan Hikari sang Pengendali Air.. dan aku sudah menemukannya. ” ucapnya.


“ Hikari Pengendali Air.? ” Uhara terkejut, “ maksudmu Petarung yang berasal dari Desa Elemen.? ” lanjutnya.


“ benar sekali. ” Abame tersenyum.


Uhara terlihat serius, “ kau berkata kau sudah menemukannya.. memangnya apa peninggalannya dan apa hubungannya dengan Desa Yama.? ” dia bertanya.


“ peninggalannya adalah seorang anak yang cukup kau kenal.. ” Abame tersenyum jahat, “ yaitu Sinam.. ” lanjutnya.


Uhara tersentak, “ Sinam.?! ” dia terlihat tidak percaya, dan akhirnya terdiam.


“ benar, Sinam.. dia adalah anak Hikari sang Pengendali Air.. sudah sembilan tahun lebih aku mencarinya.. dan akhirnya aku menemukannya, sangat kebetulan jika dia di urus oleh kakek nenek yang mengurus mu dulu, Uhara. ” ucap Abame.


“ itu mustahil, bagaimana kau bisa tahu jika Sinam anak dari Hikari..?! ” Uhara menolak untuk percaya. “ lalu, apa tujuan mu.?! ”


“ hehehe.. ” Abame tertawa kecil, “ baiklah, akan ku jelaskan padamu Uhara, ini berawal dari hampir sepuluh tahun lalu, kau masih anak-anak dan belum menjadi murid ku, sementara aku masih seusia dengan mu yang sekarang. ” ucapnya.


“ saat itu, aku diminta Mikami Sato untuk menyusup ke Desa Elemen. ” ucap Abame.


“ menyusup.?! ” Uhara bertanya.


“ ya, ini adalah awal kehancuran desa Elemen.. saat itu aku diminta mencari tahu apakah Huyabasa Nogo sang Pendiri Desa Elemen sudah berpetualang.. karena itu adalah rumor yang beredar. ” ucap Abame sambil mengingat masa lalu, “ tapi, saat melewati perbatasan, aku tertangkap oleh Hikari sendiri, yang saat itu sebagai ketua pertahanan.. ” lanjutnya.


“ tertangkap? lalu kenapa kau masih hidup.? ” tanya Uhara.


“ itulah yang spesial dari Hikari. ” Abame tersenyum , “ dia tidak membunuh ku, dan dia berkata bahwa Huyabasa Nogo sudah tidak ada di desa.. aku tidak tahu kenapa dia bertindak seperti itu.. dia memperlakukan ku seperti temannya. ” lanjutnya.


“ lalu aku bertanya padanya kenapa membiarkan ku hidup dan memberitahu ku semua.. ” Abame terlihat bersedih, “ dan dia berkata ‘ aku melihat api perdamaian dimata mu, kau melakukan ini karena terpaksa, bukan? kau adalah seorang petarung yang membenci peperangan dan aku percaya padamu.. jika kau ingin memberi informasi kepada desa mu, itu pilihan mu, aku tidak akan pernah menyesal karena membiarkan mu hidup. ’ itulah yang dia katakan. ” lanjut Abame.


Uhara menatap Abame, “ begitu, ya.. jadi kau membocorkan informasi dan perang pun pecah. ” ucapnya.


“ tidak, aku tidak kembali cukup lama ke Desa Yama dan memilih bersama Hikari.. namun setelah kembali aku langsung di penjara, sepertinya Yama tahu apa yang telah ku lakukan. ” ucap Abame. “ seiring berjalannya waktu, Yama, Sanji dan Arkan membentuk aliansi untuk menyerang Desa Elemen.. dan hanya ada satu orang selain aku yang ingin memberontak. ” lanjutnya.


“ memberontak.?! ” Uhara terkejut.


“ ya, dia adalah Rokuga Sato, adik dari Mikami Sato sang Pimpinan Yama.. ” ucap Abame serius.


“ Rokuga Sato.?! ” sekali lagi Uhara terkejut.

__ADS_1


“ benar, dia berhasil lolos setelah semua petarung Yama pergi untuk berperang.. aku mengetahui bahwa dia adalah sahabat dekat Hikari, dan aku berasumsi dia akan menyelamatkan Sinam. ” jawab Abame. “ sesuai harapanku, Sinam masih hidup.. dan aku menemukannya tanpa diberi tahu Rokuga. ” lanjutnya.


Uhara termenung, ingatannya sembilan tahun yang lalu kembali melintas, saat itu dia masih berusia tujuh tahun.


malam itu, hujan turun dengan lebatnya, Uhara kecil tidur di temani selimut, namun matanya masih terbuka.


“ maaf aku merepotkan kalian.. aku tidak tahu lagi harus menitipkan anak ini dimana, aku berpikir pinggiran desa adalah tempat yang aman. ”


“ tidak masalah, kami dengan senang hati menerimanya.. ”


“ ya, sebentar lagi Uhara juga masuk Akademi, jadi kami akan kesepian.. ”


“ memangnya siapa nama anak ini.? ”


“ Sinam, namanya adalah Sinam. ”


“ nama yang bagus, kami akan mengurusnya dengan baik. ”


tepat di saat itu, terdengar suara orang berbincang yang disamarkan oleh air hujan, Uhara mengintip dari pintu dan melihat kakek dan nenek sedang berbincang dengan seseorang, yaitu Rokuga Sato.


Uhara terbangun dari ingatannya, lalu menatap Abame serius, “ aku percaya Sinam adalah anak Hikari.. tapi, apa tujuan mu mencarinya.? ” dia bertanya.


“ tidak ada tujuan khusus, aku hanya ingin berterimakasih pada Hikari, dan aku ingin Sinam menjadi Petarung hebat. ” jawab Abame, “ dan yang menariknya, Hikari mewariskan Elemen Air di tubuh Sinam.. walau Sinam belum menyadarinya, cepat atau lambat dia akan sadar.. dan itu akan menjadi penuntun Sinam menuju kebenaran.. ”


“ kebenaran.?! ” Uhara bertanya serius.


Abame tersenyum jahat, “ kebenaran bahwa Desa Yama yang dicintainya adalah dalang kehancuran keluarganya.. aku tidak sabar menantikan hal itu terjadi, aku penasaran jalan seperti apa yang akan dia ambil. ” ucapnya.


Abame menatap Uhara, “ lalu, apa yang akan kau lakukan Uhara, apa kau akan mencoba menutupinya dari Sinam, percuma saja, kau tidak akan bisa melakukannya. ” ucapnya sambil tersenyum, “ atau, kau akan membunuhnya, dengan begitu dia tidak berpotensi balas dendam di masa depan. ” lanjutnya, namun dia terlihat serius.


Uhara masih terdiam, nafasnya tidak beraturan, dia terlihat sangat bimbang.


“ ada apa Uhara? kenapa kau diam saja? ayo jawab aku, apa yang akan kau lakukan? apa yang akan kau lakukan terhadap Sinam yang kau anggap sebagai saudara sendiri.?! ” Abame bertanya dengan wajah penuh amarah.


Uhara terdiam, sepertinya dia tidak tahu harus menjawab apa.


Abame menenangkan diri, lalu menatap datar Uhara, “ sudah kuduga, kau yang bahkan seorang pembunuh tidak bisa melakukannya, itu artinya kasih sayang mu pada Sinam lebih besar dari pada kasih sayang mu pada Yama. ” ucapnya.


“ aku tidak ingin membunuh Sinam, tapi aku juga tidak ingin membiarkannya balas dendam.. apa yang harus ku lakukan.? ” Uhara berucap dengan tubuh gemetar. “ aku tidak pernah berpikir jika dia adalah anak dari korban masa lalu.. dia bahkan lebih menyedihkan dari ku.. guru Abame.. tolong beritahu aku, apa yang harus ku lakukan.?! ” lanjutnya berteriak di ujung perkataannya, dia terlihat frustasi.


Abame menatap datar Uhara, “ terkadang, seorang petarung akan dipaksa untuk memilih, dan dalam pilihan itu hanya ada paksaan. ” ucap Abame, “ Uhara, sekarang kembalilah, aku tidak punya jawabannya.. ” lanjutnya.


“ kembali katamu?! bagaimana jika aku bertemu Sinam?! aku bahkan tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus ku perlihatkan di depannya.?!! ” Uhara berteriak.


“ orang seperti mu, hanya pantas berwajah tenang, Uhara. ” jawab Abame. “ itulah Uhara yang ku kenal. ”


Uhara tertegun, dia menatap Abame cukup lama, lalu menundukkan kepala.


“ kau sudah mengetahui kebenaran tentang Sinam, jadi.. berhentilah mengotori tanganmu dengan darah orang yang tidak bersalah seperti yang kalian lakukan sebagai anggota Kelelawar Merah.. ” ucap Abame serius, “ lalu, berpikirlah untuk memikirkan masa depan, karena dunia Petarung sudah terlalu busuk.. sudah terlalu banyak dendam serta kebencian yang begitu pekat.. cepat atau lambat dunia petarung akan mengalami kehancuran. ” lanjutnya.

__ADS_1


Abame terdiam, dia terlihat bersalah.


Abame menatap Uhara, “ sekarang kembalilah, katakan pada Mikami Sato kau sudah membunuh ku. ” ucapnya, “ dengan begitu dia akan merasa puas, dan aku akan meninggalkan hutan ini. ”


Uhara menatap Abame serius, “ guru.. kenapa kau sangat membenci pimpinan? apa yang salah dari dia..? ” dia bertanya.


Abame menatap langit, “ kebencian ini lahir begitu saja.. mungkin ini adalah bentuk rasa ketidakpuasan ku terhadap kenyataan.. jujur saja aku membenci Desa Yama.. tapi kebencian itu perlahan hanya tertuju pada Mikami Sato sang Pimpinan Yama, karena dia adalah penggerak semua Petarung Yama.. ” jawabnya, lalu melirik Uhara, “ Uhara.. aku tidak seperti yang kau lihat.. di dalam hatiku sudah di penuhi kegelapan.. jadi, jika suatu saat nanti kita bertemu lagi sebagai musuh, tolong jangan terkejut.. ” kemudian tersenyum tipis.


“ apa maksud mu.? ” Uhara terkejut.


“ aku sudah kehilangan semua orang yang berharga bagiku, aku tidak punya tujuan hidup.. aku sudah tidak tahu harus kemana, jujur saja aku sangat senang jika suatu saat nanti Sinam bertekad untuk balas dendam. ” ucap Abame.


Uhara terkejut, “ guru.. kau..?! ” ucapnya.


“ ya, aku adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan.. selalu berpikir tentang indahnya masa lalu.. dan akhirnya berada di lubang penyesalan karena tidak bisa melakukan apa-apa disaat itu. ” ucap Abame.


Uhara terlihat berpikir, “ aku mengerti apa yang kau rasakan.. ” ucapnya menguatkan diri, “ sebagai petarung, kita benar-benar menyedihkan.. dipaksa memilih hal yang sebenarnya bukan pilihan, tapi.. sekarang aku sudah punya pilihan.. ” ucapnya meyakinkan.


Abame melirik Uhara, “ pilihan.?! ” ucapnya.


Uhara membalikkan badan, “ benar, ini untuk masa depan. ” ucapnya, “ guru Abame, terimakasih kau sudah memberi tahu tentang siapa Sinam yang sebenarnya. ” lanjutnya.


“ jangan senang dulu, suatu saat aku akan kembali untuk mengambil Sinam kembali. ” ucap Abame, “ saat dia sudah menguasai Elemen Airnya. ” lanjutnya.


Uhara melirik tajam Abame, “ benarkah? itu jika kau bisa melakukannya.. karena aku akan menghalangi dengan kekuatan penuh. ” ucapnya begitu mendominasi, Shaka hitam tipis muncul di sekujur tubuhnya, auranya begitu mencekam.


Abame tersentak, “ apa ini? Uhara sialan.. dia masih menyimpan kekuatan yang begitu kuat.. ” batinnya.


Abame membalikkan badan, “ ada satu hal yang belum ku beri tahu padamu, Uhara. ” ucapnya.


Uhara melirik ke belakang, “ katakan saja. ” ucapnya.


“ Huyabasa Nogo.. aku yakin dia masih hidup, apa kau tahu apa yang akan dia lakukan setelah tahu desa dan keluarganya dihancurkan.?! ” tanya Abame.


“ mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan tiga desa yang beraliansi. ” jawab Uhara datar.


Abame tersenyum, “ melihat ekspresi mu, sepertinya kau menyadari bahwa Huyabasa Nogo masih hidup. ” ucapnya.


“ dengan julukan Shakayama kedua, serta penguasa lima Elemen.. Huyabasa Nogo tidak akan mati semudah itu.. dan aku menyadari itu setelah tahu sejarah Desa Elemen. ” jawab Uhara.


“ begitu, ya.. ” ucap Abame lalu tersenyum jahat, “ aku berharap bisa menemukannya... dan.. ” dia menghentikan ucapannya, namun wajahnya berubah terlihat begitu mencekam.


Uhara tersentak, dia terlihat bingung, “ guru Abame.. apa yang sebenarnya kau rencanakan.? ” batinnya bertanya.


Tap...


setelah itu, keduanya berpisah meninggalkan tempat itu, Uhara penuh luka gores dan darah yang mulai mengering.


disisi lain, Abame mendekati tubuhnya yang lain, yang saat ini tergeletak di tanah, kemudian menapakkan telapak tangannya, tubuhnya kembali menyatu.

__ADS_1


“ uhuk.. uhuk..! ” baru saja tubuhnya kembali menyatu, Abame memuntahkan darah, padahal dari luar dia terlihat baik-baik saja.


“ sial.. aku terlalu memaksakan diri.. tapi.. ” Abame kembali mengingat Shaka hitam serta aura mencekam Uhara sebelum berpisah, “ dia bahkan belum serius dan masih menyimpan kekuatannya. ”


__ADS_2