
Hikaru dan Himiko terus berlari, sudah entah berapa lama mereka melakukan aksi kejar-kejaran dengan pasukan musuh.
Hikaru menoleh kebelakang, dia melihat pasukan musuh terus mengejar dengan jarak yang semakin mendekat, “gawat, mereka semakin mendekat. ” batinnya.
Tap.. Tap..
tiba-tiba Hikaru menghentikan langkahnya, “sial, kenapa bisa begini.?! ” batinnya terlihat kesal menatap lautan yang ada didepannya.
kini Hikaru sudah tidak bisa lari lagi, saat ini dia dan Himiko sedang berdiri di bibir jurang, terpeleset sedikit saja akan terjatuh dan terjun ke lautan.
Himiko bersembunyi di balik tubuh Hikaru, “ayah, bagaimana ini.? ” tanyanya sedih sambil menatap pasukan musuh.
Tap... Tap..
pasukan musuh sudah menyusul, mereka menghentikan langkah tidak jauh dari Hikaru dan Himiko.
“hahaha, mau kemana kau penguasa api? ”
“sekarang kau tidak bisa lari lagi.”
“akan kami beri pilihan, kami bunuh atau terjun ke lautan, jika kau melompat mungkin kesempatan mu untuk hidup lebih besar. hahaha.. ”
pasukan musuh berbicara lalu tertawa.
“sial.. ” Hikaru terlihat kesal sambil menoleh kearah lautan, “aku berbeda dari Hikari, aku penguasa api yang bahkan tidak bisa berenang. ”
“tidak ada pilihan lain. ” Hikaru menatap pasukan musuh, “aku akan menghadapi kalian. ” dia mulai menarik pedangnya.
Himiko menggenggam erat pakaian ayahnya, “ayah.” ucapnya.
“tenanglah Himiko, ayah tidak akan membiarkan mu mati lebih dulu. jika ayah terbunuh, kau harus lompat ke lautan. ” Hikaru melepaskan genggaman Himiko.
“terlalu banyak bicara, ayo maju.! ” pasukan musuh berteriak dan langsung menyerbu.
Hikaru menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, “majulah.! ” lalu membuka mata lebar-lebar.
Traang..
dengan sekali tebasan yang dialiri api, Hikaru berhasil membunuh beberapa pasukan musuh.
pasukan musuh sedikit menjaga jarak, “teman-teman, sebaiknya kita hati-hati. ” ucap salah seorang.
Tap.. Tap..
pasukan musuh kembali maju dengan langkah bersamaan.
Trang.. Ting..
adu pedang kembali berlanjut, pasukan musuh berjatuhan satu persatu, namun Hikaru juga penuh goresan karena serangan lawan.
“Hosh.. Hosh..! ” Hikaru semakin kelelahan, “sial, mereka terlalu banyak. ” dia memandangi pasukan musuh yang masih berjumlah ribuan.
Zraashh..
di suatu kesempatan, pasukan musuh berhasil menebas tangan kanan Hikaru sampai terputus dan jatuh ke tanah bersama pedangnya, darah pun mengalir dari bekas tebasan.
Buk..
kedua lutut Hikaru terjatuh, sementara tangan kirinya memegangi tangan kanannya sambil meringis kesakitan. kemudian tubuhnya membungkuk.
“ayah.! ” Himiko berlari ke arah Hikaru.
“bunuh anak itu.! ” pasukan musuh bergerak kearah Himiko.
Zuoorr..
Hikaru mengangkat kepalanya, tiba-tiba dia menyemburkan api kearah seluruh pasukan musuh termasuk yang memburu Himiko.
“ini adalah api yang gunakan dengan Shaka terakhir ku. ” batin Hikaru sambil menyemburkan api yang tidak habis-habis.
“AKHH..! ” puluhan orang terbakar terkena api Hikaru dan berteriak keras.
__ADS_1
semburan api Hikaru telah usai, dia menatap tanah dengan wajah penuh keringat serta nafas yang terengah-engah.
“sudah terlalu banyak pasukan ku yang kau bunuh, sudah saatnya aku untuk menghabisi mu. ” tiba-tiba ada yang bersuara tepat didepan Hikaru.
Hikaru masih berjongkok dan terkejut, dia menatap keatas dan melihat Judoro sudah berdiri kokoh, “kau..? ”
“ayah, awaass..! ” teriak Himiko.
Greebb..
Judoro mencengkram leher Hikaru dengan cepat dan keras, lalu mengangkat tubuh Hikaru keatas.
Hikaru tersenyum jahat, “ini untuk tangan kanan ku yang kau lukai. ” ucapnya dingin.
Craskhh..
Judoro menusuk perut Hikaru dengan tinju kirinya sampai tembus, terlihat tangannya melewati perut Hikaru serta penuh darah.
“AKHH..! ” darah segar muncrat dari mulut Hikaru dan menempel ditubuh Judoro.
“AYAAAHH..! ” disaat bersamaan, Himiko berteriak keras menatap kejadian berdarah di depan matanya.
Judoro mencabut tinjunya dari perut Hikaru, lalu melemparkan tubuh Hikaru kesamping, “sudah selesai. ” ucap Judoro tersenyum.
Tap.. Tap..
Himiko berlari kearah Hikaru yang tergeletak lemas, “ayah, bertahanlah ayah. ” setelah dekat dia langsung memeluknya sambil menangis, air mata Himiko membasahi wajah Hikaru.
Hikaru menggerakkan tangannya dengan perlahan untuk menyentuh wajah Himiko, “Himiko.. tetaplah hidup, ayah ingin kau menjadi petarung yang hebat. ” ucapnya, tangannya kembali terjatuh bersama matanya yang tertutup.
“ayah... bangun ayah! jangan tinggalkan aku..! ” Himiko berteriak sejadi-jadinya.
Judoro memandang Himiko, “ya ampun, aku jadi merasa bersalah. ” ucapnya sambil memiringkan kepalanya.
sesaat kemudian, Himiko menghentikan tangisannya serta melepaskan ayahnya dari pelukannya. dengan perlahan Himiko berdiri dari duduknya, “sialan, kau harus membayarnya.. ” ucapnya tanpa menoleh dengan suara penuh kebencian.
“heh?!” Judoro melirik Himiko, “kau membuatku kesal. ”
Judoro tersenyum tipis, “sepertinya aku tidak bisa membiarkan mu hidup. ” seringainya.
“Hiaaa.! ” Himiko berteriak lalu berlari kearah Judoro.
Blaakk..
dengan mudah tinju api Himiko dihindari oleh Judoro, detik berikutnya Himiko melesatkan tendangan bawah yang tepat mengenai kaki Judoro, namun tidak bergeming sedikit pun.
Buaakk..
dengan cepat, Judoro membalas dengan tendangan yang tepat mendarat di wajah Himiko.
Himiko terlempar dan tergeletak di bumi, “cih.. ” dia meludahkan sedikit darah, dengan wajah kesal dia mencoba bangkit.
Judoro tersenyum jahat, “aku suka dengan anak yang pantang menyerah. ”
Himiko kembali berdiri, dia berlari kearah Judoro dengan kedua tangan yang berapi.
Tap..
tiba-tiba Judoro menghilang dari tempat semula, Himiko terkejut dan menoleh kesana-kemari.
“kau mencari apa.? ” tiba-tiba terdengar suara Judoro dari belakang Himiko.
tanpa menoleh kebelakang, Himiko melesatkan tinju serta tendangan, namun tidak mengenai sasaran.
“sial..! ” Himiko kesal.
“aku disini. ” ucap Judoro.
Greebb..
saat Himiko menoleh kebelakang, tetapi tangan Judoro menyambut dengan mencengkram leher Himiko.
__ADS_1
“Akh..! ” Himiko meringis.
Judoro mengangkat Himiko keatas, “sepertinya aku akan membunuhmu sama seperti ayahmu. ” dia tersenyum sambil menyiapkan tinju.
tepat disaat itu, tiba-tiba ada bayangan seseorang di atas Himiko dan Judoro, orang itu adalah Hikari yang bersiap melesatkan tendangan kampak kearah tangan Judoro yang mencengkram leher Himiko.
Bukk..
kaki Hikari menghantam tangan Judoro, Himiko pun terlepas dari genggaman Judoro.
“sialan..! ”
Baak.. Bukk..
Judoro berteriak lalu menendang Hikari dan Himiko secara bergantian, keduanya terlempar ke bibir jurang, tepatnya tidak sampai satu meter Himiko terjatuh.
Hikari kembali berdiri dan menatap Judoro, “orang ini lagi, aku tidak perlu bertarung, yang terpenting hanyalah keselamatan Himiko. ”
“paman.. ” Himiko kembali berdiri di belakang Hikari.
“Himiko, lompat lah ke laut, paman tidak bisa melindungi mu. ” Hikari melirik Himiko.
Himiko tertegun dan terdiam, “lalu, bagaimana dengan paman.? ”
“tidak perlu kau pikirkan. ” jawab Hikari.
Hikari melirik perutnya yang penuh darah karena luka serangan Judoro sebelumnya, “sial, Shaka yang diberikan Rokuga sudah habis, aku tetap tidak bisa menggunakan airku untuk menyerang. ” batinnya.
“Hosh.. Hosh..! ” tiba-tiba Hikari nafas terengah-engah, wajahnya juga memucat.
Judoro tersenyum menatap Hikari, “ada apa dengan mu, kita belum bertarung tapi kau sudah kelelahan.. ” ucapnya, “hehehe, maaf, aku lupa kau sudah terkena Jurus paling mematikan milik ku, tidak ku sangka kau masih bisa bertahan dan malah mengantarkan nyawa. ” lanjutnya.
“Himiko, cepat lompat.! ” teriak Hikari.
“tapi, paman.?! ” Himiko ragu.
Buk..
lutut Hikari membentur tanah, “aku sudah tidak bisa bertahan lagi. ” batinnya.
“paman..?! ” Himiko bergegas menuju Hikari.
Drashh..
tepat di saat itu, tanah tempat Himiko berpijak ambruk menjadi pasir, sedikit air terlihat berpisah dari pasir tersebut.
“paman..! ” Himiko terjatuh ke lautan bersama pasir serta air yang bergerak mencoba menangkap Himiko.
Blakk..
disaat bersamaan, Hikari yang membungkuk terjatuh, wajahnya membentur tanah sehingga keningnya berdarah.
“eh?! apa yang terjadi.? ” Judoro kebingungan.
Hikari menatap tanah yang berada di depan matanya, “pengendalian air terakhir telah mempertaruhkan nyawaku, sekarang tinggal tekad kau bertahan hidup Himiko. ” batinnya bersama nafas nafas terakhir.
disisi lain, Himiko sudah terjatuh ke tanah, namun segumpal air membuatnya tidak tenggelam dan mendorongnya ke arah tepi.
“ini? air paman. ” gumam Himiko.
cukup jauh dari tepi, tiba-tiba air yang membuatnya masih bisa bertahan tiba-tiba lenyap, “paman.. ” Himiko seolah memahami sesuatu, dia sekali lagi meneteskan air mata walau tersamarkan oleh air laut.
Tes.. Tes..
awan yang awalnya mendung, akhirnya meneteskan hujan sederas derasnya, membasahi Judoro serta pasukannya, sementara mayat Hikari dan Hikaru tetap ditempat.
Judoro menatap langit, “hujan? sebaiknya kita pergi dari. ” dia pun pergi bersama pasukannya.
“hosh.. hosh..! ” setelah cukup lama bergelut dengan ombak lautan, Himiko berhasil sampai ke pantai, tubuhnya yang sudah basah bertambah basah di siram hujan kala itu.
Himiko menggenggam erat dadanya, “sesakit inikah rasanya kehilangan orang-orang terdekat? di bunuh tepat didepan mata sendiri, hehehe.. ” dia tertawa kesedihan.
__ADS_1
Himiko mengangkat kepalanya dan menatap langit, bulir-bulir air langsung menusuk wajahnya, “aku bersumpah akan membalas semua ini! akan ku buat mereka lebih menderita, akan ku hancurkan segalanya.! ” teriaknya penuh dendam.