SINAM

SINAM
Kekalahan Sinam


__ADS_3

Sinam menatap Saken yang masih terduduk, tubuhnya Sinam masih di balut dengan Shaka.


Saken kembali berdiri dengan perlahan, lalu menatap Sinam yang juga menatapnya, saat ini keduanya cukup berjarak.


Deiki melirik Saken, “saat ini situasi berbalik, Saken terus dipukul mundur oleh Sinam. ” batinnya.


“Saken.. Saken..! ”


“ayo Saken..! ”


“habisi dia..! ”


melihat pertarungan yang semakin sengit, orang-orang dari Klan Takeyomi berteriak memberi semangat.


Sinam menoleh kearah Klan Takeyomi yang memberi dukungan pada Saken, lalu menoleh kearah Saken, “kau berkata kau iri pada ku hanya karena aku cukup dekat dengan kak Uhara, sekarang lihatlah..! ” ucapnya datar, “kau memiliki Klan yang selalu mendukung mu.. kau terlahir sebagai orang yang spesial.. jika kakak mu terus membenci mu, kau hanya perlu membuatnya mengakui mu.. ” lanjutnya.


Saken menatap Sinam, “benar.. aku selalu memaksanya untuk menyerah.. tapi, disisi lain aku juga menunggunya untuk kembali berdiri.. ” batinnya, “yang kucari dari dia adalah tatapannya.. tatapan mata yang ketakutan setelah melihat kekuatan Iblis ku.. tapi dia berbeda.. dia sama sekali tidak terlihat takut.. dia mengingatkan diriku pada sahabat-sahabat ku pada saat itu, sebelum mengetahui aku mewarisi kekuatan Iblis, tatapan yang memandang ku sebagai seorang manusia. ”


Saken menatap Sinam sambil berjalan beberapa langkah, “oi, Sinam.! ” teriaknya, “aku menghargai mu, kau benar-benar kuat! tapi, aku juga tidak ingin kalah.! ” lanjutnya sambil tersenyum.


“jika kau menghargai ku, jangan remehkan ku dan tunjukkan semua kekuatan mu.! ” teriak Sinam tersenyum semangat, “kita sudah terlalu lama bertarung dan aku ingin segera mengakhirinya.. ”


Saken tertegun, “dia ingin aku menunjukkan kekuatan ku.? ” batinnya lalu tersenyum. “Sinam, kau benar-benar berbeda dari orang lain.. ”


“HIAAA..! ” Saken berteriak keras, Shaka hijau kehitaman miliknya kembali muncul dengan dahsyatnya, Shaka biru milik Sinam tidak mampu mengimbangi.


Saken menatap Sinam, “Sinam, akan ku tunjukkan semua kekuatan ku padamu.! ” teriaknya.


“bagus, dia sudah mengeluarkan kekuatannya. ” Sinam tersenyum, “yang berikutnya pasti selesai. ” batinnya.


Sraak..


pakaian di punggung Saken tiba-tiba koyak, lalu puluhan Ular muncul dengan bagian ekor menyatu dengan daging Saken, namun ukurannya tidak besar.


“Ular.?! ” Sinam terkejut.


Saken tersenyum jahat, “bagaimana Sinam, aku yakin sekarang kau takut.? ” ucapnya.


Tap.. Tap..


tanpa menjawab, Sinam langsung melangkah maju. awalnya langkahnya terlihat santai, namun akhirnya terlihat sangat cepat.


“jika aku takut, akan ku hilangkan dengan rasa sakit.! ” ucap Sinam dengan wajah serius.


“baiklah, ayo maju.! ” Saken memainkan tangannya, seketika semua Ular bergerak menerjang Sinam.


Tap..


Sinam menghindari beberapa Ular, namun dihadapannya masih terdapat puluhan Ular yang siap menerkam.


“mereka terlalu banyak. ” batin Sinam terlihat kesal.


Buaakk..


beberapa Ular yang menyerang terkena pukulan serta tendangan Sinam, namun masih banyak yang siap menyerang.


Crakhh..


leher Sinam terkena gigitan salah satu Ular Saken, Sinam menarik tubuh Ular itu tersebut dengan paksa, setelah lepas Sinam langsung memukul kepala Ular tersebut sampai pecah, namun leher Sinam juga mengeluarkan darah.


Kini, hanya beberapa Ular yang menutupi Saken dari pandangan Sinam, namun dibelakang Sinam masih banyak Ular yang mengejar.

__ADS_1


Buakk.. Bukk..


Ular yang menutupi Saken dari Sinam tiba-tiba terkapar, Sinam baru saja melesatkan pukulan bertubi-tubi.


Sinam berlari ke arah Saken yang berjarak tinggal lima meter, “aku datang, Saken.!” teriaknya.


“majulah, Sinam.! ” teriak Saken tersenyum semangat.


“perasaan apa ini..?” batin Saken tersenyum, matanya berkaca-kaca, “entah kenapa aku merasa sangat senang bertarung dengannya. ” batinnya.


Sinam sudah sangat dekat dengan Saken, dia melompat sambil mengarahkan tinju, “rasakan ini.! ” teriaknya.


“eh.?! ” Tiba-tiba laju tubuh Sinam terhenti, tubuhnya masih di udara dan tinjunya sekitar setengah meter lagi menghantam Saken.


Saken tersenyum, “kau kalah, Sinam. ” ucapnya.


Sinam menoleh kearah perutnya, disitu terdapat Ular yang melilitnya dari belakang sehingga dia tidak bisa bergerak maju.


“cih, jika aku hebat dalam berpedang, mungkin bukanlah hal sulit untuk mengatasi Ular-ular sialan ini.! ” batin Sinam kesal.


Greeb..


Saken memanjangkan tangan kanannya, lalu mencengkram leher Sinam.


“jangan biarkan dia bergerak.! ” ucap Saken menatap Sinam.


Sraakk..


setelah itu, semua Ular Saken yang masih hidup mengerumuni tubuh Sinam, lalu membelit sehingga terlihat saling belit.


“sial..! ” batin Sinam kesal, dia tidak bisa bergerak, perlahan matanya terbalut dengan tubuh Ular.


Deiki memandang Ular yang membalut Sinam, “dengan Ular sebanyak itu, tidak mungkin dia bisa lolos. ” batinnya.


“HIAAA..!! ” Sinam berteriak keras, seketika semua ular yang membelitnya terlepas, tubuh semua ular tersebut hancur dan banyak mengeluarkan darah. Shaka biru ditubuh Sinam semakin besar.


“apa?! ” Deiki terkejut, “dia menekan tubuhnya untuk mengeluarkan Shaka sebesar itu?! bisa-bisa dia.. ” batinnya.


tangan kanan Saken yang mencengkeram leher Sinam terlepas dan kembali memendek, “akh.. ” dia terlihat kesakitan sambil memegangi tangan kanannya itu.


Sinam kembali mengayunkan tinju keras kearah Saken, “rasakan ini..! ” teriaknya.


Buaakk..


dengan sangat telak, tinju Sinam menghantam wajah Saken tepat di bagian hidung, Saken terhempas sekuat-kuatnya.


“akh..! ” Saken kesakitan dengan tubuh yang masih terhempas, wajahnya penuh darah yang terbang ke udara.


Sraak..


saat masih terhempas, Saken memanjangkan tangan kirinya untuk membalas Sinam dengan tinju.


“aku tidak akan kalah..! ” batin Saken.


“apa.?! ” Sinam terkejut.


Buaakk..


tinju kiri Saken mendarat di wajah Sinam yang langsung terpental.


Boomm..

__ADS_1


Saken menghantam dinding yang langsung hancur, sementara Sinam menghantam dinding di sisi lainnya, keduanya tergeletak diantara puing-puing.


Sinam kembali berdiri dengan perlahan, “aku tidak menyangka dia bisa melepaskan tinju disaat terhempas. ” batinnya terlihat kesal.


Saken kembali berdiri dengan perlahan, dia mengusap darah di wajahnya, hidungnya yang pecah beregenerasi dan kembali seperti semula.


Sinam menatap Saken yang juga menatapnya, saat ini keduanya berdiri dipinggir Arena, sekitar seratus meter jarak yang memisahkan.


“Sinam.. ” Saken mulai melangkah maju dengan perlahan, “aku tahu kau pantang menyerah.. ” Shaka hijau kehitaman ditubuhnya terus berkobar.


“Saken.. ” Sinam bergerak maju dengan langkah perlahan, “aku tahu kau spesial.. ”


“tapi aku.. ” kecepatan Saken semakin bertambah.


“tapi aku.. ” Sinam juga mempercepat langkahnya, Shaka biru miliknya terus berkobar.


Tap.. Tap..


Sinam dan Saken saling memburu, keduanya berlari saling mendatangi.


“tidak akan kalah..! ” teriak Sinam dan Saken bersamaan dengan wajah mencekam, keduanya bersiap mengayunkan tinju.


Wushh..


Sinam dan Saken melesatkan tinju secara bersamaan, kedua tinju itu tidak bertemu dan saling melewati, sementara Shaka keduanya terlihat sudah menjadi satu.


Buaakk..


tinju Sinam menghantam pipi kiri Saken, sementara tinju Saken mendarat di pipi kiri Sinam, keduanya terlihat sangat kesakitan dengan ekspresi jelek. detik selanjutnya keduanya terlempar dengan sangat dahsyat, lalu menghantam tembok tempat awal mereka berada.


disisi lain, semua penonton membisu, mata mereka terus terbuka, sepertinya mereka tidak ingin melewatkan sedikitpun adegan pertarungan Saken dan Sinam.


Sinam masih tergeletak, “uhuk, uhuk.. ! ” dia terbatuk-batuk, lalu mencoba bangkit kembali dengan memaksa.


Sinam berjalan perlahan, “apa aku menang.?! ” batinnya, dia melihat Saken masih tergeletak diujung sana, tepatnya diantara puing-puing.


Bleb..


Tiba-tiba Shaka biru ditubuh Sinam menghilang, “apa yang terja.. ” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sinam mulai kehilangan kesadaran, pandangannya mulai memudar.


Saken mencoba kembali bangkit, “hosh.. hosh..! ” nafasnya terengah-engah, dia terlihat sangat kelelahan, tubuhnya dibanjiri dengan darah.


Sinam hampir tumbang, dia masih bisa melihat Saken yang mencoba untuk bangkit walau tidak jelas, “aku... kalah.. ” batinnya, perlahan tubuhnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya tumbang.


“dia pingsan.?! ” Deiki berlari ke arah Sinam.


Deiki memeriksa tubuh Sinam, “sepertinya dia sangat kelelahan, dia memang sangat memaksakan diri.. dia juga kehabisan Shaka. ” batinnya.


“tim medis, bawa anak ini dan rawat dia.! ” Deiki memangil tim medis, lalu Sinam dibopong keluar Arena.


Saken memandang Sinam yang dibawa pergi dalam keadaan tergeletak, “jadi, aku menang, ya.. ” batinnya, “hosh.. hosh.. ” dia terlihat sangat kelelahan.


Brukk..


kedua lutut Saken jatuh ke tanah, sepertinya dia kesulitan untuk berdiri.


“cih, aku benar-benar lelah.. ” batin Saken.


Deiki menoleh Saken, “sepertinya dia juga sudah mencapai batasnya.. Iblis Ular ditubuhnya mungkin masih bisa diajak bertarung.. tapi tubuhnya sudah sulit untuk bergerak. ” batinnya. “dia yang sekarang masih terlalu muda.. mungkin beberapa tahun ke depan dia akan lebih hebat lagi.. ” batinnya.


Harumi masih terpukau dengan pertarungan barusan, “Sinam memang hebat, dia hampir mengalahkan anak yang bernama Saken itu. ” batinnya.

__ADS_1


“anak yang bernama Sinam itu, mungkin suatu saat akan menjadi petarung yang sangat hebat. ” ucap Kazuo tersenyum.


Rokuga termenung, “Hikari berkata bahwa Air ditubuh Sinam akan keluar jika dia dalam terdesak, tapi.. ” batinnya, “baguslah, mungkin semua itu tidak benar, setidaknya itu akan menyelamatkan hidup Sinam.. Sinam, kau tumbuh menjadi anak yang kuat.. jika Hikari dan Hayumi masih ada, aku tidak tahu sebahagia apa mereka sekarang. ”


__ADS_2