
Deiki menoleh kearah langit yang sudah sore, “baiklah, hari ini sampai disini dulu.. ” setelah itu dia langsung menghilang.
Kazuo masih disitu, dia melirik kearah Deiki yang sudah pergi, “seperti biasa, dia tidak pernah basa-basi. ” batinnya.
“hosh.. hosh..!! ” semua orang mengatur nafas, sepertinya mereka baru saja melakukan latihan yang cukup berat.
“huh! ini sangat membosankan dibanding dengan bertarung. ” gumam Sansiro, lalu menoleh Sinam, “Sinam, ayo pulang.! ” ucapnya.
“oi, Sansiro.! ” Tiba-tiba Yoja memanggil, Sansiro langsung menoleh, “kau bisa tinggal di rumah ku jika kau mau sampai kita pergi ke Desa Pedang Kembar, lagipula ayah dan ibu ku tidak di rumah.. yah, itu jika kau mau.. ” ucapnya agak ragu.
Sansiro menoleh Yoja, “tidak perlu, aku akan pulang dengan Sinam. ” ucapnya.
“rumah ku cukup besar untuk menampung kau dan teman-teman mu, aku tahu kalian tinggal di pinggiran desa. ” ucap Yoja.
Sansiro menatap Yoja agak lama, lalu menoleh Sinam, “Sinam, bagaimana.?! ” ucapnya.
Sinam tersenyum, “aku ada urusan, jadi aku harus pergi. ” jawabnya. “kau saja, lain kali aku juga ikut. ”
“oh, begitu, ya.. baiklah.! ” ucap Sansiro.
Sinam dan Satoji berjalan keluar pintu gerbang, “aku tidak bisa mengajak Sansiro bertemu guru Abame. ” batin Sinam.
Satoji berjalan di samping Sinam, dia menoleh kearah Saken yang juga menatapnya , “cih, dia terus menatap ku seperti itu, jika ada kesempatan akan ku habisi dia. ” batinnya terlihat kesal.
Saken menatap tajam Satoji, “aku tahu dia mewarisi kekuatan Iblis, tapi.. Iblis apa itu.? ” batinnya.
Sinam dan Satoji terus berjalan, mereka melewati berbagai macam pedagang yang ada di pinggir jalan.
Sinam mengambil dompetnya yang bermotif bunga-bunga, lalu mengecek isinya, “ya, ampun.. uangku tinggal segini. ” gumamnya, “dasar guru Abame sialan, dia menyuruh ku untuk membeli makanan, tapi tidak memberikan uang.. ” lanjutnya.
setelah itu, terlihat Sinam memesan beberapa makanan, lalu melanjutkan perjalanan sambil membawa bungkusan makanan tersebut.
★ ★★★★
Sinam dan Satoji sudah berada di rumah pohon milik Abame dimalam hari ini, terlihat mereka menikmati makanan yang dibawa Sinam dari pusat Desa Yama, beberapa lampu obor menerangi rumah pohon tersebut.
“wah, ini lezat sekali.. kau benar-benar terbaik Sinam. ” Abame menyantap makanan dengan lahap.
“jika kau mau lagi, kau harus memberi uangnya, jika terus seperti ini, aku yang miskin. ” ucap Sinam sinis.
Abame menatap Sinam dengan wajah serius, “miskin katamu? dari awal kau sudah miskin, kau membuatku marah.. ” dia merenggangkan ototnya.
“maaf guru, maaf.! ” Sinam ketakutan.
“hahaha.. ” Satoji tertawa lepas menatap Sinam dan Abame, “jadi ini.. ikatan antara guru dan murid.. ” batinnya.
“hahaha.. ” Abame ikut tertawa.
__ADS_1
“hahaha..! ” Sinam menyusul.
beberapa saat kemudian, terlihat Sinam sudah tergeletak dengan suara dengkuran yang keras, dia tertidur lelap.
disisi lain, Satoji duduk di teras rumah pohon, pandangannya tertuju keatas, memandang bulan sabit yang ditemani ribuan bintang, sepertinya dia termenung.
“apa yang kau pikirkan, Satoji.? ” Abame muncul dan duduk di samping Satoji.
Satoji menoleh, lalu kembali menatap langit, “tidak ada. ” jawabnya.
“ada yang ingin ku sampaikan padamu, Satoji. ” ucap Abame, “aku tahu kau bersahabat dengan Sinam, tapi.. kau tidak bisa terus dekat dengannya, perlahan tentang kau yang berasal dari Klan Taro akan terbongkar.. aku yakin kau sudah tahu apa yang terjadi setelah itu. ” ucapnya.
Satoji menoleh Abame, dia terlihat berpikir dengan wajah serius.
“Satoji, kau bisa menjadi murid ku.. aku memang tidak terlalu kuat untuk membuat mu menjadi petarung hebat, apa lagi kau memiliki dendam yang harus kau balaskan... tapi, jalan untuk menjadi petarung hebat tidaklah mudah.. semua butuh kerja keras. ” ucap Abame.
Satoji terkejut, “kau.. kenapa kau bisa tahu.? ”
Abame tersenyum tipis, “aku mendengar kabar bahwa Klan Taro telah dibantai habis, aku tidak menyangka ada anak spesial yang selamat. ” ucapnya.
“spesial.?! ” Satoji terkejut.
“kau mewarisi kekuatan Iblis Serigala, Satoji.. ” Abame menjawab cepat.
Satoji menatap telapak tangannya yang langsung bergetar, seketika perkataan Deiki saat menceritakan tentang Tujuh Iblis terlintas, “jadi.. aku manusia setengah Iblis.. pantas saja waktu itu.. aku.. ” ucapnya.
Satoji menatap punggung Abame, “orang ini.. sejauh mana dia tahu tentang ku? walaupun dia selalu bersikap baik, tapi.. rasanya sangat sulit untuk mempercayainya.. senyumannya selama ini seolah palsu. ” batinnya.
Abame melirik Satoji, “aku tahu siapa yang membantai Klan Taro, tapi aku tidak akan memberi tahunya.. ” batinnya.
Keesokan paginya...
Sinam dan Satoji kembali karena pertarungan, seperti biasa, Sinam selalu datang terakhir, anak-anak yang lain sudah datang, termasuk Sansiro karena tidur di rumah Yoja.
Harumi mendekati Sinam, “hey, Sinam! kau selalu datang belakangan, daripada kau berjalan tiap pagi dari pinggiran desa ke pusat desa, lebih baik kau tinggal di rumah ku.! ” ucapnya blak-blakan.
“eh.?! ” Sinam dan yang lainnya terkejut, mereka menatap Harumi dengan wajah rumit.
Harumi menatap Sinam yang juga menatapnya, “ji,jika kau tidak mau, aku juga tidak memaksa. ” pipinya sedikit memerah.
Sinam tersenyum hangat, “tidak ku sangka, ternyata kau sangat baik, Harumi. ” ucapnya, “tapi, aku tidak mungkin tinggal di kediaman Klan Sato, Klan yang menjadi asal Pimpinan Desa Yama. ” ucapnya.
Harumi tertegun menatap Sinam, pipinya semakin memerah, “ya, sudah. ” ucapnya pelan.
Kaori melirik Harumi, “apa-apaan sikap sok imutnya itu.? ” batinnya, lalu memandang Satoji, “anak bernama Satoji itu datang lagi.. aku tidak bosan bosan memandangnya, dia tampan sekali. ” batinnya.
Tap...
__ADS_1
Deiki tiba-tiba muncul, dia menatap semua muridnya, lalu melirik sekeliling, “aku harus memastikan Kazuo tidak ada disini, dia hanya mengganggu saja. ” batinnya kesal, “baguslah, dia tidak ada. ”
Deiki menatap semuanya, “baiklah semuanya, ayo kita lanjutkan latihannya..! ” teriaknya.
latihan kembali dimulai, Sinam dan yang lainnya terus berlatih, semuanya terlihat begitu kelelahan dan bosan, sementara Satoji hanya memandang.
hari sudah sore, kali ini Sinam dan Satoji ikut Sansiro untuk istirahat di rumah Yoja, mereka tidak harus pulang ke pinggiran desa.
hal seperti itu terus berlanjut, tidak terasa hari ini adalah hari keenam latihan, tidak ada yang berubah, hanya Satoji yang mulai berbaur dengan yang lainnya, namun tidak dengan Saken, mereka terlihat saling menjauhi.
Deiki menatap semuanya, “baiklah anak-anak, latihan hari ini cukup sampai disini. ” ucapnya, “dan satu lagi, besok tidak perlu datang, istirahatlah yang cukup, kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, menuju Desa Pedang Kembar mungkin memakan waktu sekitar satu setengah hari. ” ucapnya. lalu pergi sebelum mendengar jawaban murid-muridnya.
“apa-apaan dia? padahal ada yang ingin ku tanyakan. ” Yoja terlihat kesal.
“kau benar, dia tidak pantas menjadi seorang guru. ” sahut Jiromaru.
Kaori mendekati Satoji, dia terlihat ragu, “hey, Satoji.. aku membuat kue, apa kau mau mencicipi.? ” dia membuka bungkusan kain yang membalut sebuah wadah kue, dia terlihat malu-malu.
Satoji tertegun menatap Kaori, lalu tersenyum tipis, “baiklah, anggap saja ini sebagai tanda persahabatan kita. ” ucapnya lalu mencicipi.
“persahabatan.?! ” batin Kaori, “apa dia benar-benar tidak tahu.. rasanya benar-benar sakit. ” dia seperti hilang harapan.
beberapa saat kemudian, Kaori kembali tersenyum menatap Satoji, “tidak masalah dia menganggap aku apa, setidaknya aku dekat dengannya. ” batinnya.
diantara yang lainnya, Sinam dan Kaori yang paling dekat dengan Satoji, Kaori selalu memberikan perhatian lebih, dia tidak pernah bosan dengan sikap dingin Satoji.
malam ini, seperti biasa, Sinam, Satoji, dan Sansiro beristirahat di rumah Yoja, mereka terlelap di alam mimpi, malam panjang terasa singkat.
keesokan harinya, Sinam kembali ke pinggiran desa untuk menemui kakek dan neneknya, begitu juga Sansiro.
“kakek, nenek.. besok aku berangkat ke Desa Pedang Kembar.. aku harap kakek dan nenek jaga kesehatan. ” ucap Sinam lembut.
“jangan khawatirkan kami, fokus saja dengan latihan mu, bukankah kau bercita-cita untuk menjadi petarung hebat. ” kakek dan nenek tersenyum lepas.
disisi lain, Sansiro menemui ayahnya yang sedang berada di sawah, “ayah, besok aku akan ke Desa Pedang Kembar.. lihat saja nanti, aku akan menjadi petarung hebat melampaui ayah. ” ucapnya semangat.
ayah Sansiro, Tsurugi tersenyum tipis, lalu mengelus rambut Sansiro, “sebagai seorang orang tua, ayah hanya bisa mendukung setiap jalan yang kau ambil.. ayah percaya padamu, Sansiro.. ” ucapnya.
setelah menemui kakek dan nenek, Sinam juga memasuki hutan, tempat Abame berada, “guru Abame, aku akan bertarung besok, lawan ku berasal dari tiga Desa besar.. aku akan menggunakan Jurus yang kau berikan. ” ucapnya.
“Sinam, jika kau benar-benar terdesak, benar-benar tidak bisa bertarung lagi.. menyerahlah. ” ucap Abame datar.
“menyerah.?! ” Sinam terkejut, “kenapa.?! ”
Abame terlihat serius, “aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.. ” ucapnya.
“tenang saja, aku tidak akan kalah.! ” Sinam tersenyum hangat.
__ADS_1
Abame menatap Sinam, “ada sesuatu yang membatasinya dengan kematian saat dalam pertarungan.. jika dia terdesak, aku takut Air didalam tubuhnya keluar.. jika dunia tahu, dia tidak terselamatkan. ” batinnya.