SINAM

SINAM
Sinam Dan Deiki


__ADS_3

“ bodoh.. lemah.. banyak mimpi.. itulah aku, aku hanyalah manusia yang menginginkan kemustahilan menjadi kenyataan, tidak seharusnya aku berada di sini.! ” teriak Sinam, air matanya kembali menetes.


“ berhentilah menyalahkan diri sendiri, itu semua bukan salah mu. ” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing.


Sinam terkejut, lalu menoleh kearah suara tersebut yang berasal dari atas, disitu terlihat Deiki sedang duduk di atas dahan pohon.


“ guru Deiki.?! ” ucap Sinam, lalu mengusap air matanya.


Deiki terlihat santai di atas pohon, “ kau tahu kenapa orang selalu berkata bahwa laki-laki itu dilarang menangis? karena itu sungguh tidak enak di pandang, jadi berhentilah menangis, itupun jika kau seorang laki-laki. ” ucapnya.


“ tapi.. rasa ini sangat menyakitkan, kau tidak mengerti apa yang ku rasakan. ” ucap Sinam, dia terlihat kesal.


“ aku tahu apa yang terjadi padamu, Uhara meninggalkan Yama.. ” jawab Deiki cepat, “ yang membuat mu merasa tersakiti adalah harapan mu sendiri, kau berharap Uhara tetap berada di samping mu setiap saat.. sedikit mengingatkan, bahkan bayangan mu meninggalkan mu di saat kau berada di kegelapan.. ” lanjutnya.


Sinam tertegun, dia terdiam dan menatap Deiki.


“ kita hidup di dunia Petarung, setiap orang menanggung rasa sakit yang berbeda, begitu juga jalan yang kita ambil, kita semua memikul penderitaan kita masing-masing. ” ucap Deiki, “ jika kau tidak bisa menerima kenyataan ini, maka berhentilah menjadi Petarung.! ” lanjutnya dengan wajah mencekam.


“ mungkin benar yang guru katakan, tapi apa kau pernah di tinggalkan oleh orang yang sangat berharga bagimu.? ” Sinam terlihat kesal.


Deiki tersenyum tipis, “ sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini.. jangankan di tinggalkan, aku bahkan di khianati oleh teman terdekat ku sendiri. ” ucapnya.


“ dikhianati.. teman terdekat.? ” Sinam terkejut.


“ benar, kami berdua sangat akrab, saat itu kami masih seusia mu, dan kami menjalankan misi pertama kami.. ” ucap Deiki, dia terlihat sedih, “ diluar perkiraan kami, kami terdesak dan terkepung.. disaat itu teman ku mengkhianati ku dan ingin mengorbankan ku.. melihat kenyataan itu, aku pun mengkhianati dia balik.. ” lanjutnya.


“ lalu, apa yang terjadi.? ” tanya Sinam.


“ seperti yang kau lihat, aku masih ada disini, tapi.. temanku mati disaat itu. ” jawab Deiki, “ selain penuh kegagalan, hidupku juga penuh penyesalan... ” lanjutnya.


Sinam menatap Deiki tidak percaya, “ kau.. membiarkan teman mu mati...? ” ucapnya.


“ terkadang aku juga berpikiran seperti itu, tapi ketika aku melihat sekali lagi kenyataan, dia hanyalah sampah yang ku anggap sahabat. ” jawab Deiki serius, “ tetap saja aku merasa menyesal, dan itu adalah luka yang tidak memiliki obat.. aku selalu mengingat itu dan ingin mengulang waktu.. tapi, aku lebih menyesal karena harus mengenal dia. ” lanjutnya.


Sinam menundukkan kepala, “ tapi.. jika aku jadi guru Deiki, aku akan tetap menyelamatkan orang itu.. ” ucapnya.


“ walaupun kau harus mengorbankan nyawa.? ” tanya Deiki, “ manusia itu seperti sebuah koin, satu namun memiliki dua sisi, jangan pernah berharap pada mereka, karena mereka bisa berubah kapan saja.. itulah pelajaran yang kudapat dari kejadian itu.. ” lanjutnya.


Sinam menatap Deiki serius, “ benar jika manusia bisa berubah kapan saja, tapi jika kita tidak saling percaya, maka ikatan yang kita sebut sahabat itu tidak memiliki arti yang nyata. ” ucapnya, “ mungkin guru menganggap aku orang yang bodoh, tapi.. walaupun koin memiliki dua sisi yang berbeda dan bisa berubah kapan saja, dia tetaplah satu.. dan sahabat tetaplah sahabat, aku tidak akan membiarkan sahabat ku mati di depan ku. ” ucapnya penuh keyakinan.


Deiki tertegun menatap Sinam, lalu tersenyum tipis, “ benar juga, aku sedang berbicara pada anak yang bodoh. ” ucapnya


“ tapi... aku suka cara pandang mu, jika sahabat ku saat itu berpikiran seperti mu, mungkin aku rela mengorbankan nyawa ku.. ” batin Deiki.

__ADS_1


Deiki menatap Sinam, “ baiklah, sekarang berhentilah bersedih.. tersenyumlah, karena orang kuat sebenarnya adalah orang yang mampu tersenyum dan tetap tenang didalam situasi apapun. ” ucapnya.


Sinam menghapus air matanya, “ mendengar cerita guru, aku sadar bahwa masih banyak petarung yang lebih menderita daripada aku. ” ucapnya lalu tersenyum, “ lagipula aku yakin pasti bertemu lagi dengan kak Uhara. ” lanjutnya.


Deiki tersenyum tipis menatap Sinam, “ baiklah, langsung ke intinya saja.. ” ucapnya, “ mulai besok, kau harus tinggal di pusat Desa, aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan Sansiro.. ” lanjutnya.


“ tinggal di pusat Desa..? ” tanya Sinam.


“ ya, tapi kalian bukan sebagai murid Akademi, melainkan resmi menjadi petarung muda Yama.. ” jawab Deiki tersenyum hangat.


Wusshh..


angin berhembus meniup rambut Sinam yang saat ini tertegun menatap Deiki, dia seperti tidak percaya.


“ petarung muda Yama? itu artinya.. kami..? ” ucap Sinam.


“ benar, kalian bersepuluh akan menjalankan tugas, di samping itu kalian juga akan berlatih dengan keras. ” ucap Deiki. “ tenang saja, tugas kalian hanyalah tugas yang mudah dilakukan, jauh dari nyawa. ” lanjutnya.


Sinam tersenyum lepas, “ terimakasih.. guru Deiki.. ” ucapnya. “ aku tidak sabar menjalankan tugas itu. ” lanjutnya.


Deiki tersenyum tipis, “ aku juga bangga menjadi guru dari murid-murid seperti kalian, kalian sungguh memiliki tekad yang luar biasa. ” ucapnya.


★★★★★


didepan Mikami, duduk beberapa orang petarung Yama, sepertinya mereka sedang melakukan rapat.


“ bagaimana ini pimpinan? kita harus segera mencari pengganti Uhara untuk mengisi kekosongan dalam Kelelawar Merah. ” ucap salah seorang.


“ benar, Desa Pedang Kembar, Sanji dan Arkan mulai bersuara, bagaimanapun Kelelawar Merah adalah organisasi empat Desa besar, kita harus segera memasukkan orang. ” lanjut yang lainnya.


Mikami menghela nafas, “ aku mengerti.. kita harus mencari pengganti Uhara secepat mungkin, tapi tidak ada yang begitu pantas di pikiran ku. ” ucapnya.


“ benar yang pimpinan katakan, tugas anggota Kelelawar Merah sangat berat, kita harus menyumbangkan petarung yang sangat kuat, jika tidak, mungkin hanya akan menyia-nyiakan nyawa saja. ” ucap salah seorang.


Mikami terlihat berpikir cukup lama, “ panggil Kazuo sekarang.! ” lalu memberi perintah.


“ eh.?! ” semua orang terkejut.


“ Kazuo? pimpinan ingin mengorbankan anak sendiri.?! ” tanya seseorang.


“ aku tidak punya pilihan lain. ” jawab Mikami.


“ sebaiknya pimpinan mencari orang lain, Kazuo pasti menolak. ” ucap yang lainnya.

__ADS_1


“ benar, kita semua tahu seberapa kerasnya dia terhadap pimpinan. ” sahut yang lainnya lagi.


Mikami menghela nafas, “ kita tidak tahu jika tidak menanyakannya langsung. ” ucapnya.


“ baiklah, aku akan memanggilnya. ” salah seorang pergi meninggalkan tempat itu, sepertinya dia ingin memanggil Kazuo.


Tap.. Tap..


beberapa saat menunggu, akhirnya orang tadi datang bersama Kazuo Sato, anak dari Mikami Sato.


begitu masuk, Kazuo menyapa Mikami dengan tatapan sinis, dia juga terlihat kesal.


Mikami menatap datar Kazuo, “ berhentilah menatap ku seperti itu, sekarang duduklah. ” ucapnya.


Kazuo mencoba tenang, kini wajahnya menjadi datar, “ sepertinya kalian sedang kesulitan mencari pengganti Uhara, menyedihkan sekali.. ” ucapnya masih berdiri.


“ jaga bicara mu Kazuo, kau sedang berbicara dengan pimpinan Yama.! ” tegas salah seorang.


Kazuo tersenyum tipis menatap Mikami, “ keputusan yang baik jika Uhara meninggalkan Yama, sepertinya dia sudah bosan menjadi anjing pesuruh mu.. ” ucapnya ringan.


Mikami menatap Kazuo datar, “ aku yakin kau sudah tahu kenapa kami memanggilmu.. jadi, bagaimana jawaban mu.? ” dia bertanya.


Kazuo terlihat kesal, “ jangan bercanda! siapa yang mau bergabung dengan Kelelawar Merah, hah.?! ” teriaknya, “ organisasi yang dibentuk untuk memberikan penderitaan pada orang lain, seharusnya memberikan kebahagiaan.!! ” lanjutnya.


“ tapi.. ini juga demi perdamaian. ” jawab Mikami.


“ perdamaian di atas penderitaan orang lain.?! ” sarkas Kazuo.


“ terkadang, kita harus mengorbankan sesuatu untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. ” ucap Mikami.


Kazuo membalikkan badan, “ kita semua menginginkan perdamaian, tapi bukan perdamaian seperti ini yang kuinginkan. ” ucapnya lalu pergi.


setelah itu, semua orang di ruangan tersebut menghela nafas, sepertinya adu argumen antara anak dan ayah tadi cukup membuat mereka kesulitan bernafas.


“ sudah ku duga, akhirnya akan seperti ini.! ”


“ kesalahan apa yang dilakukan pimpinan sehingga memiliki anak seperti Kazuo. ”


“ Kazuo tidak salah, dia hanya menyampaikan apa yang ada dihatinya. ”


kemudian orang-orang saling berbisik.


Mikami menghela nafas, “ dasar keras kepala.! ” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2