
“oi, Sansiro!! ” dihari yang masih pagi ini, tiba-tiba Yoja berteriak keras, “apa yang terjadi?! kenapa atap rumah ku bolong-bolong begini.?! ”
Sinam dan Sansiro terbangun dari tidurnya karena teriakan Yoja, keduanya saling tatap.
“gawat.! ” ucap keduanya lalu berlari keluar rumah mendatangi Yoja.
“oi, Yoja, kenapa kau berteriak? mengganggu saja. ” Sansiro bersandiwara dengan mengucek mata serta menguap.
Yoja menunjuk kearah atap rumahnya yang penuh lubang, “kalian lihat, kenapa bisa seperti ini? jika ayah dan ibuku tahu, bisa tamat riwayat ku. ” ucapnya.
“kami tidak tahu apa-apa, kau tahu sendiri kami baru saja bangun. ” ucap Sansiro.
“ya, itu benar.! ” ucap Sinam sambil menganggukkan kepala, dia terlihat bodoh.
Yoja menghela nafas, “jadi kalian tidak tahu, ya. ” ucapnya, “jika kalian pelakunya, mana mungkin kalian bisa tertidur nyenyak..” lanjutnya.
“ya, ya. ” Sinam dan Sansiro cengengesan.
Sansiro melirik Sinam, “yosh, berhasil. ” batinnya, dia menahan senyum.
Sinam melirik Sansiro, “sandiwara Sansiro hebat, kami selamat! tapi, mulai sekarang aku tidak bisa mempercayai Sansiro begitu saja. ” batinnya tersenyum tipis.
Yoja memandang keatas, “hari ini ayah dan ibu ku pulang, sebelum bertemu mereka, kita harus pergi. ” ucapnya.
“ya, ayo berangkat.! ” Sansiro bersemangat.
“aku tidak sabar melihat Desa Pedang Kembar. ” Sinam tersenyum.
setelah melakukan persiapan, mereka bertiga berangkat, menuju tempat latihan mereka sebelumnya, arena pertarungan Akademi.
“aku yakin kita yang datang pertama. ” ucap Sansiro.
“kau benar, kita datang terlalu cepat. ” sahut Yoja.
“ya, aku masih mengantuk, seharusnya kita tidur saja dulu. ” lanjut Sunam.
saat ini, mereka sudah berdiri di depan gerbang Arena Pelatihan. beberapa saat berdiam diri, akhirnya mereka membuka pintu gerbang.
“kalian lama sekali. ”
“benar, anak-anak laki-laki memang pemalas.! ”
“apa maksudmu? aku juga laki-laki. ”
ocehan anak-anak yang lain langsung menyambut, mereka terlihat kesal menatap Sinam, Sansiro dan Yoja.
Sinam terlihat prustasi, “salah besar.. kami datang terakhir. ” batinnya.
Sansiro menatap sekeliling, matanya terhenti pada Deiki, “wah, ternyata guru Deiki sudah datang, ya. tidak biasanya cepat. ” ucapnya.
“yah, kita harus berangkat cepat, perjalanan kita cukup jauh. ” ucap Deiki, “tidak perlu basa-basi, ayo berangkat. ” lanjutnya.
“ya.!! ” semuanya terlihat bersemangat.
Yoja melirik Sinam, “ jika seandainya tadi tidur dulu, mungkin kami akan ditinggal. ” batinnya.
diantara semua anak-anak yang bersemangat, terlihat Kaori berbeda, wajahnya memancarkan kesedihan yang terpendam sambil melamun.
Harumi menatap Kaori, “hey, Kaori, ada apa dengan mu? kau tidak seperti biasanya, apa kau sakit.? ” ucapnya.
Kaori tersadar dari lamunannya, “tidak, aku tidak sakit, disaat pagi hari aku memang agak pendiam. ” dia beralasan, namun kesedihannya tidak bisa disembunyikan.
Harumi menatap serius Kaori, “kita sudah lama berteman, jika ada masalah, tidak perlu sungkan, mungkin aku bisa membantu mu. ” ucapnya.
“benar, tidak ada apa-apa. ” Kaori tersenyum paksa.
Deiki dan kesepuluh orang muridnya mulai berangkat, mereka berjalan santai dengan membawa tas masing-masing, mereka melewati perumahan dan mulai keluar dari pusat desa.
Sansiro terkejut melihat arah yang mereka ambil, “eh, kenapa kita dari sini? bukankah gerbang keluar Desa Yama di arah sebaliknya? ” ucapnya.
__ADS_1
“iya, benar juga. ” ucap Jiromaru.
Deiki melirik kearah Sansiro, “gerbang keluar Desa Yama ada empat, timur, barat, selatan dan utara.. jika kearah sana menuju gerbang barat, tapi gerbang terdekat untuk menuju Desa Pedang Kembar adalah gerbang timur.. jadi kita lewat gerbang timur. ” jelasnya.
“begitu, ya. aku baru tahu. ” ucap Sansiro.
Sinam berjalan di paling belakang, dia memandang ke kanan dan kiri, sepertinya dia menikmati pemandangan.
di samping Sinam, terlihat Kaori memandang Sinam dengan wajah penuh arti, seolah ingin berbicara.
Sinam menoleh Kaori, “ada apa? kenapa kau menatap ku seperti itu.? ” ucapnya.
Kaori semakin mendekati Sinam, “bukankah kau sahabat Satoji? apa kau tahu dimana dia.? ” bisiknya.
Sinam terkejut, “ aku.. aku tidak tahu. ” bisiknya.
Kaori terlihat bersedih, “tadi malam aku bertemu dengan dia, katanya dia akan pergi. ” bisiknya.
Sinam terdiam, “ada apa dengan anak ini? apa dia menyukai Satoji? aku tidak mungkin memberi tahunya.. masalahnya Satoji bersama guru Abame. ” batinnya.
Kaori menatap Sinam dengan dalam, “jadi, kau memang tidak tahu, ya. aku pikir karena kalian sangat akrab kau tahu.. maaf, ya. ” bisiknya.
Sinam tersenyum, “jadi, kau menyukai Satoji, ya. ” ucapnya dengan suara keras, semua orang langsung menoleh, sepertinya dia mencoba mencairkan suasana.
“a, apa maksudmu.? ” Kaori terlihat malu.
“eh, jadi Kaori bersedih karena Satoji, ya. ” ejek Harumi.
“ya, ampun, manis sekali. ” ucap yang lainnya.
“bukan, tidak seperti itu.! ” pipi Kaori semakin memerah.
Deiki melirik kebelakang, “anak jaman sekarang, masih kecil sudah mulai suka menyukai.. ” batinnya, “sangat berbeda dimasa ku dulu, yang dikejar hanya kekuatan. ”
Kaori melirik kesal Sinam, “dasar menyebalkan. ” bisiknya, dia terlihat geram.
“hehe.. hehe. ” Sinam membalas dengan cengengesan.
“lihat, bukankah itu Deiki. ”
“benar, itu Deiki dan murid-muridnya. ”
“sepertinya mereka menuju Desa Pedang Kembar. ”
“ya, aku sangat ingin menyaksikan pertarungan di sana, sayangnya tidak bisa. ”
cukup dekat dengan gerbang, dua orang prajurit Desa Yama sedang berjaga, mereka duduk di sebuah rumah yang hanya ada atapnya, keduanya berbincang menatap Deiki dan kesepuluh muridnya.
Deiki tersenyum menatap dua penjaga itu, dia melambaikan tangannya, namun senyumnya terlihat palsu dan mengejek.
“Deiki sialan, dia sangat pandai membuat kita kesal. ”
“dia seperti itu karena menganggap kita teman sekelasnya dulu, tidak perlu serius. ”
ucap kedua orang itu bergantian.
Tap.. Tap..
langkah kaki Deiki mulai melewati gerbang Desa Yama, Sinam dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
Deiki memandang ke depan, terlihat jalan cukup lebar begitu panjang seperti tak berujung, sisi kanan dan kiri jalan tersebut hutan membentang luas.
“kita sudah keluar. ” ucap Deiki.
Sansiro terlihat bersemangat, “setelah sekian lama, akhirnya aku menginjakkan kaki di luar Desa Yama.!! ” teriaknya.
Sinam memandang jalan yang membentang, “akhirnya.. akhirnya.. ” dia tersenyum lepas.
Deiki kembali melangkah, “baiklah, ayo pergi.! ” ucapnya.
__ADS_1
“ya.!! ” semua murid semangat.
perjalanan terus berlanjut, langkah kaki yang awalnya penuh semangat, kini perlahan melambat, panas matahari membuat semua orang lelah, keringat mengucur di tubuh.
Harumi mengusap keringat, “panas sekali, guru Deiki, apa masih jauh lagi.? ” ucapnya.
“sudah aku katakan, perjalanan kita sekitar satu setengah hari, kita belum setengahnya. ” jawab Deiki.
“hosh.. hosh.. ” semua murid menghentikan langkah, mereka mengatur nafas.
Deiki menatap langit, dia mencoba menatap matahari yang ada di atas, “baiklah, kita istirahat dulu, aku juga sudah lapar. ” ucapnya.
“istirahat? bukankah perjalanan masih jauh? tidak ada waktu untuk istirahat. ” ucap Sinam semangat.
“ya, ya. ” Sansiro dan Yoja mengangguk.
Jiromaru terlihat kesal, “apa kau mau mati? aku sudah lapar.. kau duluan saja. ” ucapnya menatap Sinam.
“sudah di putuskan, kita akan istirahat sebentar. ” ucap Deiki.
setelah itu, semuanya menepi, mereka duduk di bawah pohon rindang, mengeluarkan perbekalan dan makan.
Sinam mengunyah makanan, “satu hari lagi sampai di Desa Pedang Kembar.. itu artinya besok siang. ” batinnya, “aku tidak sabar menggunakan Jurus yang diajarkan guru Abame... semuanya belum tahu termasuk Sansiro, aku ingin lihat bagaimana ekspresi mereka setelah melihat kehebatan Jurus ku. ”
“hihi.. aku jadi tidak sabar. ” Sinam tersenyum jahil.
Sansiro melihat Sinam tersenyum sendiri, “dia kenapa.? ” batinnya.
setelah selesai makan, Deiki menatap semua muridnya, “mulai sekarang, kalian harus berhati-hati, kita sudah jauh meninggalkan Desa Yama. ” ucapnya.
“maksud guru.? ” Thakesi bertanya.
“mungkin banyak pembunuh yang akan mengincar kita, itu sebabnya aku melarang kalian untuk membawa barang barang berharga. ” jawab Deiki, “bisa jadi pembunuh dari Desa lain yang tidak ingin kita sampai dengan selamat.. perompak, atau kriminal kriminal lainnya. ” ucapnya.
Deiki berdiri, “kita lanjutkan perjalanan, mungkin Pimpinan Desa sudah sampai di Desa Pedang Kembar. ” ucapnya.
disisi lain, Mikami Sato dan beberapa pengawalnya sudah sampai di depan gerbang Desa Pedang Kembar yang terdapat dua ukiran pedang yang terbuat dari batu, Desa ini terlihat makmur, namun tidak semaju Desa Yama.
Mikami Sato terlihat serius, “Desa Pedang Kembar.. jika sembilan tahun lalu peperangan dengan Desa Elemen tidak terjadi, mungkin Desa ini sudah hancur. ” batinnya.
“Pimpinan, ayo masuk. ” ucap salah satu pengawal Mikami Sato, kemudian mereka melewati gerbang Desa Pedang Kembar dan memasuki desa.
beralih ke Deiki dan kesepuluh muridnya, m
terlihat mereka kembali melanjutkan perjalanan, langit yang mendung membuat suasana terasa nyaman, mereka bersemangat.
Deiki melirik ke sisi kanan, dia melihat beberapa bayangan orang berlompatan dengan cepat di pepohonan hutan, “jadi, mereka sudah mulai, ya. ” batinnya tersenyum, entah apa alasannya.
Deiki melirik kebelakang, “sekarang saatnya.. aku melihat kemampuan bertarung kalian. ” batinnya.
Tap..
muncul tiga orang bertopeng di depan Deiki secara tiba-tiba, semua orang terkejut.
salah satu orang yang ditengah mengarahkan tebasan kearah Deiki yang tetap diam.
“guru Deiki.!! ” Sinam dan lainnya yang berada belakang berteriak, ada juga yang tidak berani melihat.
Zrashh..
sekilas, terlihat pedang musuh merobek tubuh Deiki, darah terbang ke sana kemari.
Buakk..
Deiki belum tumbang, orang yang menebas tadi melesatkan tendangan yang menghantam perut Deiki, Deiki terhempas dan membentur batang pohon pinggir jalan, lalu tergeletak lemah seolah-olah sudah tewas.
Sinam menatap Deiki yang tergeletak, kemudian menatap ketiga orang itu, “guru Deiki dikalahkan dengan mudah.? ” batinnya tidak percaya.
orang yang menyerang Deiki menyarungkan pedang, kini ketiganya tidak memegang senjata apapun.
__ADS_1
ketiga orang bertopeng itu bersiap maju, “tinggal kalian, kami bisa bermain-main sedikit. ” salah satu berucap, “bersiaplah menerima kematian. ”