SINAM

SINAM
Kemampuan Harumi


__ADS_3

Ctang.. Cting...


terdengar suara besi beradu, terlihat juga dua orang sedang bertarung, itu adalah Harumi Sato dan seorang anak laki-laki yang berasal dari desa Sanji.


Tap..


setelah beradu senjata, keduanya terdorong kebelakang dan menjaga jarak.


anak laki-laki tersebut bernama Shiba, “ untuk seorang wanita, boleh juga kau. ” dia tersenyum remeh menatap Harumi, di kedua tangannya terdapat senjata berupa kapak berukuran kecil.


“ gender tidak ada sangkut pautnya di dunia petarung. ” jawab Harumi serius, ditangannya terdapat sebilah pedang.


di atas, Deiki dan murid-muridnya terlihat khawatir, mereka menatap arena pertarungan penuh harap.


“ ayo Harumi, habisi dia.!! ” teriak Kaori sahabat Harumi.


Harumi menoleh Kaori, kemudian melirik Sinam yang ada di samping Kaori, “ dia menang dua kali berturut-turut.. Sinam, aku tidak akan kalah dari mu. ” batinnya, dia mulai berapi-api.


Harumi menatap tajam Shiba, menarik satu lagi pedangnya sehingga menjadi dua, lalu melesat maju.


Tap..


“ baiklah, akan ku tunjukkan cara bertarung orang dari Sanji.!! ” Shiba semangat.


Trang.. Ctang..


keduanya kembali beradu senjata, Harumi dua pedang, sementara Shiba kapak kembar berukuran kecil.


beberapa saat keduanya terlihat seimbang, semua serangan Shiba berhasil ditepis dan dihindari Harumi, begitu juga sebaliknya, keduanya memiliki kecepatan setara.


“ cih.! ” Harumi terlihat kesal, “ aku tidak akan kalah.! ” batinnya dengan gigi beradu.


Ctang.. Cting..


Harumi menambah kecepatan, dia berhasil memojokkan Shiba dengan gerakan pedangnya yang sulit di baca, terlihat Shiba mundur perlahan.


Zrasshh...


di suatu kesempatan, Harumi mengarahkan tusukan kearah wajah Shiba yang langsung menghindar, namun pipinya sedikit tergores dan mengeluarkan darah.


“ cih.! ” Shiba terlihat kesal.


Zrash..


sekali lagi, Harumi berhasil mengikis paha Shiba dengan tusukan pedangnya yang begitu gesit.


“ hiaa..!! ” Harumi berteriak sambil mengayunkan pedang untuk memotong Shiba.


Tap..


Wushh..


Shiba melompat mundur untuk menghindar, pedang Harumi membelah udara.


Harumi menatap kesal Shiba, “ padahal sedikit lagi. ” batinnya.


Shiba menatap serius Harumi, “ sepertinya aku terlalu meremehkan mu.” ucapnya datar, “ sekarang, aku akan lebih serius. ”


Shiba menatap kedua kapak yang berada di tangannya, beberapa saat kemudian kapak tersebut mulai di balut cahaya berwarna hijau, sepertinya dia mengaliri kapak tersebut dengan Shaka.


Harumi sedikit terkejut, “ dia mengaliri kapak nya dengan Shaka, itu artinya dia mulai serius. ” batinnya.


Shiba bersiap, “ sekarang, terimalah ini.!! ” teriaknya sambil melemparkan satu kapak nya kearah Harumi.


Wusshh..


kapak yang dialiri Shaka hijau tersebut melayang di udara memburu Harumi.


Ctang..


Harumi menangkis kapak tersebut dengan pedangnya, percikan api tercipta, Harumi terdorong beberapa langkah, sementara kapak tersebut berputar di udara.


“ berat sekali. ” batin Harumi.


Wusshh..


Tiba-tiba saja, kapak tersebut kembali melesat kearah Harumi dengan gaya berputar.


“ hehehe, aku ingin tahu bagaimana cara kau menghadapinya. ” Shiba tersenyum remeh, “ aku tidak akan menahan diri.! ” lalu melemparkan satu lagi kapak nya.


“ berbalik.?!” Harumi terkejut melihat kapak Shiba yang kembali mengarah nya, lalu dia melirik kearah lainnya, disitu terlihat kapak Shiba yang lain siap menyambut.


Harumi melompat ke atas, lalu mengayunkan kedua pedangnya untuk menangkis kedua kapak Shiba.


Ctang.. Cting..


beberapa kali bergesekan dengan pedang Harumi, kedua kapak Shiba berputar menjauh terkena pantulan.


Harumi mendarat ke bumi, menoleh Shiba yang tetap berdiri dengan mata terpejam, “ begitu, ya.. jadi dia mengendalikan kapak tersebut dengan Shaka.. aku harus memecah konsentrasinya.! ” batinnya lalu berlari kearah Shiba.

__ADS_1


Shiba membuka mata dan tersenyum jahat, “ kali ini tidak akan meleset.! ” batinnya.


Harumi berlari kearah Shiba, tanpa disadarinya dua kapak Shiba sudah menyusul dibelakang.


Harumi merasakan sesuatu dan menoleh kebelakang, “ apa.?! ” dia terkejut.


Zrash.. Crakhh..


dengan bertubi-tubi, Harumi terkena serangan kapak kembar milik Shiba yang berputar-putar dengan cepat.


“ Aaakh..!! ” Harumi berteriak kesakitan.


“ Harumi.!! ” Kaori berteriak cemas.


Greb..


kedua kapak Shiba melesat kearah Shiba, dengan mudah dia menangkap senjatanya itu.


Bukk..


Harumi terjatuh, tubuhnya penuh luka gores dan dipenuhi darah, sepertinya dia sudah tidak bisa bertarung.


Shiba menatap Harumi, “ sepertinya sudah berakhir. ” gumamnya.


wasit berjalan kearah Harumi yang tergeletak, “ jika bertarung dengan senjata, Sanji memang hebat.. tapi, anak ini juga lumayan. ” batinnya.


Tap..


belum sempat wasit mendekat, Harumi kembali berdiri dengan perlahan serta gemetar.


“ masih belum. ” ucap Harumi terdengar berat.


Shiba menatap harumi datar, “ menyerahlah, aku tidak ingin melukai wanita lebih dari ini. ” ucapnya datar.


Sriing..


Harumi tidak menjawab, dia melemparkan kedua pedangnya hingga menancap di tanah, lalu menarik dua pedang lagi dari punggungnya, melemparkannya lagi sehingga menancap di tanah.


setelah itu, Harumi duduk diantara keempat pedang tersebut yang menancap, dia memejamkan mata dengan telapak tangan yang beradu.


Shiba kebingungan, “ apa yang dia lakukan.?! ” batinnya.


Deiki bingung melihat Harumi, “ sedang apa dia.? ” dia terlihat berpikir, lalu tiba-tiba tersentak, “ jangan-jangan.. dia.?! ”


Sriing..


beberapa saat kemudian, keempat pedang yang mengelilingi Harumi mulai mengeluarkan sinar berwarna hijau, itu adalah Shaka yang mengalir, perlahan pedang mulai terangkat dan melayang di udara.


Shiba mengendalikan kedua kapak nya dengan Shaka seperti sebelumnya, “ tidak akan ku biarkan.!! ” teriaknya lalu melemparkan kedua kapak nya untuk menyerang Harumi.


Harumi membuka mata, menoleh kearah kapak Shiba yang menuju kearahnya.


Ctang.. Cting..


pedang Harumi bergerak dan melesat untuk menghadang kedua kapak Shiba, lagi-lagi senjata itu kembali bergesekan, percikan api berulang kali tercipta.


Kaori tersenyum bahagia melihat itu, “ hebat, Harumi juga bisa mengendalikan senjata dengan Shaka.!! ” teriaknya.


“ itu adalah teknik milik Rokuga Sato, ayah Harumi. ” ucap Deiki.


“ milik ayah Harumi.?! ” tanya Aozora.


“ ya, ayahnya bahkan bisa mengendalikan belasan pedang sekaligus.. tapi teknik itu sangat banyak menguras Shaka, beruntung Klan Sato memiliki Shaka yang besar. ” jawab Deiki.


“ begitu, ya. ” sahut Jiromaru.


Ctaang.. Cting..


kedua kapak Shiba terus bergesekan dengan dua pedang Harumi, terus terdengar suara besi yang beradu.


dua pedang Harumi yang lain sudah melayang di udara, Shaka hijau terlihat membalut, namun gerakannya masih begitu berat.


Shiba menoleh kedua pedang Harumi yang sepertinya tidak terkendali dengan baik, “ baguslah, sepertinya dia hanya mampu mengendalikan dua pedang saja. ” batinnya, saat ini dia terlihat fokus mengendalikan dua kapak nya yang masih beradu dengan dua pedang Harumi.


“ Hiaa..!! ” Harumi berteriak keras, urat di wajahnya terlihat jelas.


Tes..


tanah dibasahi darah, ternyata dari mulut Harumi keluar sedikit darah, sepertinya dia terlalu memaksa.


namun, kedua pedang Harumi yang melayang mulai bergerak, melesat cepat menyerang Shiba.


Shiba menoleh dua pedang Harumi yang memburunya, “ celaka.!! ” dia melompat untuk menghindar.


Traang..


kedua kapak Shiba terjatuh ke tanah bersama Shaka hijau yang menghilang, sepertinya serangan Harumi membuat konsentrasinya terganggu.


Shiba terlihat kesal, “ cih.! ”

__ADS_1


Sriing..


saat ini, keempat pedang Harumi sudah mengelilingi Shiba, mustahil untuk di hindari.


Harumi berdiri dari duduknya, “ menyerahlah, kau sudah berakhir. ” ucapnya serius.


Shiba menatap ke depan dengan kesal bersama giginya yang beradu, disitu terlihat ujung pedang begitu mengancam, kanan, kiri serta belakang, semuanya sama saja, tidak ada celah untuk keluar.


menghela nafas panjang, Shiba pun mengangkat tangan keatas, “ aku menyerah.. aku mengaku kalah.. walaupun kau berasal dari desa Yama, tapi kau mengalahkan ku dalam mengendalikan senjata.. kau benar-benar hebat. ” ucap Shiba pasrah.


★★★★★


“ hosh.. hosh..! ” Himiko mengatur nafas, dia mulai terlihat kelelahan.


saat ini, tepatnya di hutan ini, api biasa serta api biru berkobar dengan dahsyatnya, hutan terbakar luas dan angin berhembus kencang, asap mengepul sehingga awan mendung tercipta di langit.


Hikasa melirik sekeliling, dia juga terlihat kelelahan, “ api biru yang sangat mengerikan.. ” ucapnya, kemudian menatap Himiko, “ aku yakin kau sudah menguasai api hijau. ” lanjutnya.


Himiko bersiap, dia mengayunkan pedang kembar apinya kebelakang, lalu mengayunkan kembali ke depan, tepatnya kearah Hikasa.


Blaarr..


api muncul dari pedang Himiko, lalu melebar kearah Hikasa.


Tap.. Tap..


Hikasa melompat untuk menghindar, lalu berlari kearah hutan yang belum terbakar.


“ cih, jangan harap bisa lolos.! ” Himiko berteriak kesal, lalu berlari menyusul Hikasa.


pertarungan di antara pepohonan pun terjadi, keduanya berlari berdampingan dengan jarak cukup jauh, sesekali pepohonan menutup pandangan karena mereka lintasi.


Bzcipcipbzcip..


Hikasa mengarahkan dua jarinya kearah Himiko, seketika petir muncul dan siap menyambar Himiko.


Blaarr..


Himiko berhasil menghindar dengan menambah kecepatan, beberapa pohon tersambar dan terbakar.


Himiko menoleh kearah pepohonan yang tersambar petir Hikasa, “ cih.! ” dia terlihat kesal, lalu membalas dengan mengayunkan pedang untuk menyerang Hikasa.


Blaarr..


seperti biasa, pedang kembar api milik Himiko mengeluarkan api setiap kali terayun, hutan cukup luas terpotong dan terbakar terkena api dari pedang Himiko yang melebar.


Himiko menghentikan langkah, menatap pepohonan yang hangus terkena serangannya, menoleh kanan dan kiri, sepertinya dia mencari keberadaan Hikasa.


“ sial, aku kehilangan dia.! ” Himiko terlihat kesal.


detik selanjutnya, Himiko tiba-tiba merasakan sesuatu dibelakang, “ gawat.! ” dia memutar tubuhnya.


Buaakk..


benar saja, Hikasa berada di situ dan langsung melepaskan tendangan, Himiko menahan dengan kedua tangannya namun tetap terhempas jauh walau dalam posisi berdiri.


Srekk..


Himiko menancapkan pedangnya ke tanah, perlahan tubuhnya mulai berhenti dari hempasan tersebut.


Himiko menatap tajam Hikasa, “ kenapa.. dia tidak menggunakan petirnya..?! ” batinnya.


Hikasa menatap datar Himiko, “ kau berkata ingin membunuh ku, tapi.. apa kau yakin sudah mengetahui semuanya. ” ucapnya.


“ apa maksud mu.? ” Himiko terlihat kesal.


“ tentang kejadian sembilan tahun lalu, apa kau tidak ingin tahu apa alasan ku menghianati desa.? ” Hikasa terlihat serius.


Himiko terdiam, sesaat dia terlihat ragu.


“ jika kau tidak keberatan, aku ingin bicara sedikit. ” ucap Hikasa.


Himiko menghilangkan keraguannya, menatap tajam Hikasa, “ manusia selalu melakukan sesuatu tanpa peringatan, tapi.. jika sudah terjadi akan membuat buat alasan.. ” ucapnya dingin, “ alasan apapun yang kau ucapkan, bagiku tidak lebih dari sebuah kebohongan. ” lanjutnya.


Hikasa menghela nafas, “ begitu, ya. ” dia terlihat kecewa.


masih dihutan yang sama, namun cukup jauh dari tempat Himiko dan Hikasa bertarung, dua prajurit Sanji yang sedang berpatroli menyadari itu.


“ apa yang terjadi.?! ”


“ itu.. tidak salah lagi, itu hutan yang terbakar.!”


“ api biru? yang benar saja? lalu awan mendung itu.!! ”


“ tidak salah lagi, itu adalah ulah penguasa api yang dibicarakan itu.. sepertinya dia terlibat pertarungan. ”


“ aku pikir itu hanya rumor, ternyata benar penguasa api berkeliaran di desa kita.. apa yang harus kita lakukan.? ”


“ jangan bodoh, kita tidak memiliki kesempatan untuk menang jika bertarung dengannya.. sebaiknya kita kembali ke desa dan menyampaikan kejadian ini, itu yang dikatakan para petinggi desa. ”

__ADS_1


setelah berbincang-bincang, keduanya pergi menjauh dari tempat itu, sepertinya mereka menuju pusat desa Sanji.


__ADS_2