
“baiklah, kami tidak memiliki banyak waktu, kami akan segera pergi. ” ucap Deiki menatap Kazuo dan dua temannya.
“kami menunggu kabar gembira dari kalian, aku harap kalian membawa banyak kemenangan. ” ucap Kazuo.
“kakak tidak perlu khawatir, kami pasti mengharumkan Desa Yama. ” ucap Harumi.
Kazuo tersenyum menatap Harumi, “baiklah Harumi, aku menitipkan nama Klan Sato padamu, jadi kau tidak boleh kalah. ” ucapnya.
Deiki menatap kesepuluh muridnya, “baiklah semua, ayo kita lanjutkan perjalanan.! ” ucapnya.
“ya.!! ” Sinam dan yang lain menjawab, perjalanan kembali dilanjutkan.
Kazuo dan dua temannya memandang kepergian Deiki dan yang lain, mereka terlihat serius.
“jadi, bagaimana menurut kalian.? ” tanya Kazuo.
“jujur saja, aku sangat terkejut dengan anak itu, dia menggunakan Jurus dengan darah, dia benar-benar berbahaya. ” ucap salah seorang sambil menunjuk Ryugu yang menggendong Aozora.
“anak itu, ya. ” Kazuo menatap punggung Ryugu dengan serius, “senior Deiki menyuruh ku untuk mencari tahu tentang dia karena penasaran, benar saja, dia bukan anak biasa. ”
“apa maksud mu.? ” tanya teman Kazuo.
“berbeda dengan pewaris kekuatan Iblis yang memiliki satu raga namun memiliki dua jiwa, jiwa anak itu menyatu dengan Iblis, satu raga satu jiwa, dia adalah Ryugu yang hidup sebatang kara.. dia dipungut oleh orang tua gadis kecil yang saat ini berada di punggungnya itu. ” ucap Kazuo.
“begitu, ya.. aku memang pernah mendengar tentang cerita itu, Klan yang melakukan apa saja demi mendapatkan kekuatan Iblis.. cerita ini sudah ada dari era Shakayama. ” sahut yang lainnya.
“dengan kata lain.. dia rela memberikan hidupnya pada Iblis tersebut.. tapi, sepertinya anak yang bernama Ryugu itu belum menyadari asal kekuatannya itu. ” ucap Kazuo, “mungkin orang tuanya mati karena berurusan dengan Iblis tersebut. ”
“dibandingkan dengan anak itu, anak yang mewarisi kekuatan Iblis Ular itu juga tidak kalah hebat, aku kesulitan saat menghadapinya. ” sahut yang lainnya.
Kazuo tersenyum tipis, “Saken Takeyomi, ya.. ” ucapnya, “kesepuluh murid senior Deiki benar-benar hebat, generasi kali ini penuh kejutan, gaya bertarung mereka sangat unik. ”
“ya, generasi sebelumnya tidak ada yang sehebat mereka. ” sahut yang lainnya.
“hampir semua dari mereka memiliki latar belakang yang kuat, aku jadi tidak sabar melihat mereka tumbuh menjadi kuat. ” sahut yang lainnya lagi.
Kazuo menatap punggung Sinam yang sudah semakin jauh, “Sinam, ya.. anak itu terus membuat ku takjub, saat itu dia bertarung hebat saat menghadapi Saken Takeyomi, kali ini dia membuat diriku tidak bisa bergerak. ” batinnya.
“mereka sepuluh akan tumbuh menjadi kuat dan menjadi penopang Desa Yama di masa depan, tapi.. jika salah satu saja berkhianat, kita akan kerepotan. ” ucap Kazuo, lalu membalikkan badan, “ayo pergi.! ” kemudian pergi dari tempat itu.
Kazuo berlompatan diantara pepohonan, wajahnya terlihat serius, kedua temannya mengikuti dari belakang.
“aku sudah mencari tahu tentang asal usul anak itu, tapi aku tidak menemukan apa-apa, dia hanya anak biasa yang tinggal di pinggiran Desa bersama kakek dan neneknya.. lalu, Shakanya terlalu besar untuk anak yang tidak memiliki latar belakang kuat, Sinam.. sebenarnya siapa kau.? ” batin Kazuo.
Tap.. Tap..
__ADS_1
Deiki dan kesepuluh muridnya terus berjalan, semuanya terlihat bersemangat, seolah mendapatkan kekuatan baru.
Aozora berada di punggung Ryugu, dia terlihat kesal, “sudah aku katakan, kau tidak perlu ikut campur setiap urusanku. ” ucapnya.
“aku akan melindungi mu apapun yang terjadi, itu janji yang ku ucapkan pada orang tuamu, lagipula aku selalu maju setelah kau kalah. ” jawab Ryugu.
“cih, sudah kuduga, kau pasti berkata seperti itu. ” Aozora terlihat kesal.
“terserah apa yang kau katakan, aku akan membunuh siapa saja yang berani melukaimu. ” ucap Ryugu dingin.
cukup lama dalam perjalanan, hari mulai gelap di makan waktu, matahari tidak terlihat lagi, Deiki dan kesepuluh muridnya terlihat istirahat didepan api unggun.
“padahal aku masih semangat, sayang sekali kita harus istirahat karena sudah gelap. ” ucap Sansiro.
“jika kau ingin pergi, pergi saja sendiri.! ” Kaori terlihat kesal.
Sinam menatap Deiki yang terlihat tenang duduk di depan api unggun, “guru, apakah perjalanan kita jauh lagi? apa orang dari Desa lain sudah sampai.? ” tanyanya.
Deiki menoleh Sinam, “perjalanan kita lewati sudah lebih setengahnya, itu jawaban untuk pertanyaan pertama. ” jawabnya, “kemungkinan besar orang dari Desa Sanji dan Arkan sudah sampai. ” lanjutnya.
“itu artinya, jarak mereka menuju Desa Pedang Kembar lebih dekat dibandingkan dengan kita.? ” Thakesi ikut bertanya.
“tidak, Desa Arkan menempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan kita yang berasal dari Desa Yama, tapi mereka memiliki fisik yang kuat, mungkin mereka berlari tanpa henti, anak-anak dari sana akan menjadi lawan yang tangguh bagi kalian. ” jawab Deiki. “lalu Desa Sanji, mereka memang bertetangga dengan Desa Pedang Kembar, wajar saja mereka sudah sampai. ” lanjutnya.
Sinam terkejut mendengar ucapan Deiki, lalu berdiri, “kalau begitu, bukan saatnya kita beristirahat, kita harus melanjutkan perjalanan. ” ucapnya penuh semangat.
“baiklah.” Sinam langsung duduk.
Keesokan Harinya...
Deiki dan kesepuluh muridnya kembali melanjutkan perjalanan, semuanya masih terlihat bersemangat, Aozora juga sudah jalan sendiri tanpa bantuan Ryugu.
perjalanan terus berlanjut, waktu terus berjalan, detik berganti menit, menit berganti menjadi jam. sudah berjam-jam mereka berjalan, matahari sudah berada di atas, teriknya matahari membuat langkah mereka menjadi berat.
“guru Deiki, apakah masih jauh.? ” tanya Kaori sambil mengusap keringatnya, “aku sudah lelah. ”
“berhentilah mengeluh, semua wanita sama saja, hanya bisa menjadi beban. ” sahut Jiromaru dengan sarkas.
“apa katamu.?! ” sontak Harumi dan Aozora menyahut, bola mata keduanya hampir keluar menatap Jiromaru.
Jiromaru terlihat ketakutan, “ya, ampun.. aku lupa ada dua wanita lagi di sini. ” batinnya.
Kaori menatap Jiromaru kesal, lalu mengalihkan pandangannya, “seandainya Satoji ada di sini, mungkin dia akan berkata berbeda. ” batinnya, “Kaori, apa kau baik-baik saja, aku tidak keberatan jika harus menggendong mu.. ’ mungkin itu yang dia katakan. ” wajah Satoji muncul di khayalan Kaori.
“tidak perlu memasang wajah lelah seperti itu, karena.. ” Deiki tersenyum, “kita sudah sampai. ” ucapnya.
__ADS_1
Sinam dan yang lain terkejut dan terdiam, mereka menatap Deiki tidak percaya.
Deiki menunjuk kesuatu arah, “kalian lihat, itu adalah gerbang Desa Pedang Kembar.. ”
Sinam mengikuti arah jari Deiki, “bukankah itu hanya hutan? dimana gerbangnya.? ” ucapnya.
“di balik hutan ini, mungkin tinggal sekitar lima ratus meter lagi. ” jawab Deiki.
Tap.. Tap..
tanpa basa-basi, Sinam dan yang lainnya langsung berlari meninggalkan Deiki, mereka menuju gerbang Desa Pedang Kembar yang tertutup hutan tipis dari arah mereka.
“ya, ampun, aku ditinggalkan. ” Deiki menggaruk kepala, lalu menoleh Ryugu yang masih diam ditempat, “apa kau tidak berniat mengejar mereka.? ” tanyanya.
“aku tidak sebodoh itu. ” jawab Ryugu tenang.
Sinam dan yang lainnya sudah berada di depan gerbang yang terbuka, mereka memandang kearah dalam yang terdapat perumahan.
“jadi ini, Desa Pedang Kembar, ya. akhirnya kita sampai juga. ” Sinam tersenyum lepas.
“kalau begitu, ayo kita masuk.! ” Sansiro bergegas masuk.
belum melewati gerbang, Sansiro di hadang oleh dua orang penjaga, keduanya menahan dengan menyilangkan pedang.
“hey, bocah! siapa kalian.? ” ucap salah satu.
“mereka adalah murid-murid ku. ” tiba-tiba Deiki muncul, “kami orang yang dikirim Desa Yama untuk mengadakan pertandingan persahabatan ini. ” lanjutnya.
kedua orang itu menatap Deiki, lalu saling tatap dan mengangguk.
“baiklah, kami percaya, tapi kami tidak menyangka akan selama ini. ” ucap salah satu.
“apa kalian mendapat masalah dalam perjalanan.? ” tanya yang lain.
Deiki tersenyum, “begitulah.” ucapnya.
“baiklah, kami sudah menyiapkan penginapan untuk kalian, silahkan ikuti orang itu, dia yang akan menunjukkan jalan. ” salah satu penjaga gerbang menunjuk orang yang sudah disiapkan untuk memberi arah.
Deiki menatap atas gerbang yang terdapat ukiran dua pedang dari batu, “daripada itu, aku lebih tertarik dengan legenda yang menjadi kebanggaan Desa Pedang Kembar ini, aku ingin melihat lubang kehancuran yang selalu dibicarakan itu. ” ucapnya.
kedua penjaga gerbang itu tersenyum, “sudah kuduga, orang dari Desa Sanji dan Arkan juga berkata sama, sepertinya lubang kehancuran yang tercipta akibat pertarungan dua petarung pengguna Pedang Kembar sangat terkenal, ya. kami benar-benar bangga. ” ucap salah satu.
Deiki menatap orang yang siap untuk memberikan arah, “maaf, ya. kami harus merepotkan kalian, tapi, ini juga kewajiban kalian, pertarungan persahabatan kali ini diadakan di Desa Pedang Kembar. ” kemudian tersenyum.
“bukan masalah. ” orang itu tersenyum.
__ADS_1
Deiki menoleh Sinam dan yang lain, “kalian bisa istirahat, tapi jika ingin ikut, silahkan saja. ” ucap Deiki.
“tentu saja kami ikut guru. ” jawab Sinam dan yang lain.