
Tap.. Tap..
matahari bersinar terang, diantara pepohonan terlihat dua pemuda sedang berjalan perlahan, salah satu bertubuh tinggi dan satunya terlihat biasa saja, kedua pemuda itu adalah Satoru Taro dan Akaza Takeyomi.
Akaza melirik Satoru, “ jadi.. orang ini adalah satu-satunya yang selamat ketika pembantaian Klan Taro dilakukan Kelelawar Merah. ” batinnya serius.
Satoru melirik Akaza, “ kenapa kau melirik ku.? ” dia bertanya datar.
“ bukan apa-apa. ” jawab Akaza santai, “ Satoru, ya.. apa kau masih punya seseorang yang berharga bagimu.? ” lanjutnya bertanya.
Satoru menghentikan langkah, “ aku yakin kau sudah dengar sedikit tentang ku saat di markas.. seluruh anggota Klan ku telah terbunuh.. ” ucapnya lalu menatap langit, “ saat itu aku hanyalah pecundang yang tidak bisa apa-apa.. aku menyaksikan kematian ayahku, dan itu terus mengganggu ku sampai saat ini. ” lanjutnya.
Akaza terkejut, “ lalu, apa kau tahu siapa yang membunuh Klan mu.? ” ucapnya, dia memandang Satoru dari belakang.
Satoru terlihat penuh kebencian, “ tidak, yang aku tahu malam itu tiba-tiba muncul beberapa petarung kuat, salah satunya berambut putih, orang itu yang telah mengukir goresan di pipi ku. ” ucapnya, angin menerpa rambutnya sehingga pipinya terlihat, disitu terlihat bekas luka goresan.
Akaza menatap Satoru dari belakang, “ berambut putih? tidak salah lagi, itu adalah Uhara, dan sisanya adalah anggota Kelelawar Merah yang lain.. ” batinnya serius, “ sebaiknya aku tidak memberi tahunya, biar bagaimanapun aku berasal dari Yama, biarlah dia tahu sendiri bahwa yang membantai Klan Taro adalah Kelelawar Merah. ” lanjutnya masih didalam hati.
“ mungkin sekelompok orang itu adalah suruhan dari salah satu Desa besar.. dan jika benar, aku yang sekarang masih terlalu lemah untuk membunuh seorang Pimpinan Desa.. ” ucap Satoru datar, “ tapi, berbicara tentang orang yang berharga, aku masih memilikinya. ” lanjutnya.
Akaza sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis, “ jadi.. kau bukan satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian itu, ya. ” ucapnya.
“ benar. ” jawab Satoru, “ aku memiliki seorang adik laki-laki, aku tidak melihat dia selamat, tapi aku yakin dia masih hidup, dia itu.. sangat spesial, aku tidak tahu entah apa itu, tapi aku merasakan sesuatu yang begitu kuat didalam dirinya. ” lanjutnya, wajah Satoji terbayang di pikirannya.
Akaza tersenyum, “ begitu, ya.. kalau begitu, kita sama saja. ” ucapnya.
Satoru melirik Akaza, “ sama saja? apa maksud mu.? ” dia bertanya.
“ aku memiliki seorang adik laki-laki, dan dia sangat spesial, seluruh anggota Klan ku sangat mengagumi dia, bahkan seluruh Desa Yama. ” jawab Akaza tersenyum pahit, “ dan sialnya, ayah dan anggota Klan ku selalu membandingkan kami.. tanpa pernah memikirkan perasaan ku sedikitpun, menyebalkan bukan.? ” lanjutnya.
Satoru melirik tajam Akaza, “ jadi, hanya karena hal kecil itu kau meninggalkan Desa Yama.? ” dia bertanya.
“ hahaha, hahaha.. ” Tiba-tiba Akaza tertawa terbahak-bahak, “ yang benar saja, bagaimana mungkin aku pergi hanya karena itu, biar bagaimanapun dia tetaplah adikku. ” lanjutnya sambil tertawa.
setelah itu, wajah Akaza berubah menjadi sedih, “ aku hanya tidak ingin tertawa diatas penderitaan orang lain.. ” ucapnya menatap langit, wajah Uhara terlintas di pikirannya.
“ begitu, ya.. ” ucap Satoru datar, “ aku hanya tidak bisa membayangkan ada seorang kakak yang membenci adiknya sendiri. ” lanjutnya.
Satoru menundukkan kepala, dia menatap tanah, “ dibandingkan dengan mu, aku hanyalah sampah yang tidak berguna, aku tidak bisa berbuat apa-apa, lari dan meninggalkan adikku sendiri, jika bertemu dengannya nanti, aku tidak tahu harus bagaimana.. jika waktu bisa diulang, aku akan mengorbankan nyawaku saat itu.. tapi, kenyataannya aku terlalu pengecut. ” ucapnya.
Akaza tertegun menatap Satoru dari belakang , lalu tersenyum hangat, “ ternyata orang seperti mu juga banyak bicara, ya. ” ucapnya.
Satoru sedikit terkejut, lalu memperlihatkan wajah datar, “ begitu, ya.. sepertinya aku memang terlalu banyak bicara hari ini. ” ucapnya datar, lalu melanjutkan perjalanan.
Akaza mulai melangkah, “ tidak perlu sungkan, ada saatnya kita harus melepaskan semua yang kita pendam.. ” ucapnya, “ aku berharap kedepannya kita menjadi teman yang akrab.. ” lanjutnya.
Tap.. Tap..
keduanya berjalan dengan perlahan, kini keduanya sudah berada di jalan, namun kiri kanannya terdapat pepohonan, terik matahari tidak mampu menembus rimbunnya dedaunan.
Satoru melirik Akaza, “ Akaza, apa tujuan mu bergabung di Kaisar Besi.? ” dia terlihat serius.
__ADS_1
Akaza terlihat bingung, “ entahlah, tujuan ku hanyalah mencari kekuatan agar bisa mengubah dunia yang busuk ini.. ” ucapnya santai.
Satoru tertegun, lalu tersenyum tipis, “ kalau begitu, yang perlu kita lakukan hanyalah menghabisi Agara sang Pimpinan Kaisar Besi. ” ucapnya tersenyum jahat. “ aku sudah muak melihatnya. ” lanjutnya.
“ eh.?! ” Akaza terkejut dan bingung.
★★★★★
Tap.. Tap..
terdengar suara langkah kaki sekumpulan orang, itu adalah Sinam, Matsuda dan kedelapan orang lainnya yang saat ini berjalan dibawah terik matahari, namun pepohonan di pinggir jalan menyejukkan udara.
“ paman Matsuda, apakah masih jauh.? ” Sinam bertanya.
Matsuda terlihat tidak perduli, dia terus menoleh ke kanan dan kiri sambil memeluk tasnya, “ lihat saja peta mu.! ” jawabnya, dia terlihat panik.
Sinam menatap Matsuda serius, “ orang ini.. sangat mencurigakan. ” batinnya.
Tap.. Tap..
perjalanan terus berlanjut, semuanya terlihat kelelahan.
“ paman Matsuda, sebaiknya kita istirahat dulu. ” ucap Kaori terlihat lelah.
“ benar, dari pagi sampai sekarang kita terus berjalan, aku butuh istirahat. ” sahut Thakesi.
Matsuda tidak perduli, “ aku membayar kalian bukan untuk bermalas-malasan. ” ucapnya.
Matsuda mempercepat langkahnya, “ sebentar lagi sudah memasuki kawasan Sanji, dan jika sampai aku sudah aman, di sana banyak petarung yang siap melindungi ku. ” batinnya, “ aku rindu dengan keluarga ku, aku menyesal karena bergabung dalam Kaisar Besi, tidak! aku beruntung, karena menjual senjata berharga dari Kaisar Besi aku bisa memiliki uang sebanyak ini. ” batinnya sambil memegang erat tasnya, dia tersenyum lepas.
Tap..
Tiba-tiba terlihat bayangan orang di pepohonan yang berada di depan Matsuda yang berada di garis depan.
“ ada musuh.!! ” Sinam bereaksi.
“ musuh? dimana.?! ” Matsuda terlihat panik, dia menoleh kanan kiri.
“ musuh.?! ” Sansiro menoleh Sinam dan mengikuti arah matanya, “ semuanya, lindungi paman Matsuda.!! ” lalu berteriak.
Tap.. Tap..
Sansiro berlari dan berdiri di depan Matsuda, begitu juga yang lain, mereka semua berdiri di depan kecuali Sinam dan Ryugu.
Sinam terlihat serius, “ tidak salah lagi, ada seseorang didepan sana. ” batinnya.
Wushh..
detik selanjutnya, terlihat sekilas bayangan melesat cepat dari depan ke belakang bersama suara yang terdengar cukup mengancam.
Matsuda menyadari itu dan menoleh kebelakang, wajahnya menjadi pucat bersama keringat dingin yang menetes, dia menoleh kebelakang dengan penuh keraguan.
__ADS_1
“ Yo, Matsuda. ” terdengar suara seseorang yang memberi sapaan.
Deg..
Matsuda semakin ragu untuk menoleh setelah mendengar suara itu, dia menelan ludah pertanda takut.
“ suara itu..? ” ucap Matsuda hingga akhirnya dia berhasil menoleh kebelakang, “ Setan Merah.!! ” lalu bersuara keras.
dihadapan Matsuda, terlihat seorang pemuda sedang duduk santai di dahan pohon, dia adalah Satoru Taro yang saat ini berwajah datar.
Sinam menatap Satoru, dia terlihat serius, “ orang ini.. dia terlihat begitu kuat. ” batinnya sambil mengadu gigi.
Matsuda terlihat sangat ketakutan, “ dari sekian banyak anggota Kaisar Besi, kenapa harus orang ini yang datang.? ” batinnya menatap Satoru.
saat ini posisi sudah berbalik, yang berada di depan Matsuda hanyalah Sinam dan Ryugu, sementara Sansiro dan yang lain berada di belakang.
Sinam, Matsuda serta yang lain menatap Satoru dengan berbagai macam ekspresi, namun suasana menjadi hening, aura mencekam Satoru memang cukup mengancam.
Tap..
Satoru yang duduk mulai berdiri, dia menatap datar Matsuda.
Matsuda terlihat panik, “ akan ku berikan semua uangku, tapi tolong biarkan aku hidup.!! ” teriaknya.
Satoru mulai bergerak, “ siapa yang perduli dengan nyawa orang lain. ” ucapnya datar, dia bersiap menarik pedang di punggungnya.
melihat reaksi Satoru, Matsuda menjadi sangat panik, “ hey, kalian semua, ayo lindungi aku, aku tidak membayar kalian untuk cuma-cuma.!! ” teriaknya menoleh sekeliling.
Wushh..
detik selanjutnya, Satoru sudah berada di depan Matsuda, namun kakinya belum menyentuh bumi, terlihat pedangnya sudah terayun dan tertuju kearah leher Matsuda.
disisi lain, Sinam masih diam ditempat, hanya bola matanya yang bergeser mengikuti pergerakan Satoru, waktu seolah terhenti baginya.
“ cepat sekali.! ” batin Sinam.
Ctaang..
saat pedang Satoru hampir menebas Matsuda, Sinam menahan tebasan itu dengan pedangnya.
Sinam terlihat keberatan menahan pedang Satoru, “ cepat lari paman, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. ” ucapnya tertahan.
Satoru melirik Sinam datar, “ reaksi yang bagus. ” ucapnya pelan.
Buuaakk..
detik selanjutnya, tidak jelas apa yang terjadi, tubuh Sinam terlempar jauh dengan dahsyatnya.
Braak..
tubuh Sinam menghantam batang pohon sampai tumbang, disisi lain terlihat Satoru berpose seperti baru saja melepaskan tendangan.
__ADS_1
masih ditempat yang sama, bersembunyi dibalik dedaunan, Akaza mengintip semua yang terjadi.
“ sial, kenapa jadi seperti ini.?! ” batinnya kesal, “ mereka adalah teman sekelas Saken, aku tidak mungkin menghabisi junior ku sendiri, tapi jika hanya diam, tetap saja Satoru membunuh mereka.!! ” lanjutnya, dia terlihat bimbang.