
Yoja berlari ke arah Sansiro, “aku datang.! ” teriaknya sambil tersenyum jahat.
Sansiro menoleh Sinam, “baiklah Sinam, aku serahkan dia padamu. ” ucapnya lalu menatap Saken.
Sansiro berlari ke arah Yoja, setelah bertemu keduanya saling pukul.
Saken berjalan perlahan mendatangi Sinam, “jadi kau yang akan menjadi lawan ku. ” ucapnya datar.
Sinam tidak menjawab, matanya menatap serius Saken, diam juga masih dia ditempat.
Fuhh...
angin sepoi-sepoi datang menghembus, rambut Sinam bergoyang-goyang, begitu juga dengan Saken, keduanya masih saling menatap.
Deiki melihat serius Sinam dan Saken, “Saken adalah Iblis Ular, bisa di katakan dia petarung terkuat diantara anak-anak ini.. sementara Sinam masih terlalu lemah, walau bertarung dengan tangan kosong dia tidak terlalu buruk, tapi sepertinya dia belum bisa menggunakan Shaka. ” batinnya, “Sinam, bagaimana cara kau menghadapi Saken? pantang menyerah saja tidak cukup.? ”
Rokuga terlihat serius, “kenapa jadi seperti ini? jika anak setengah Iblis itu menjadi lawan Sinam.. bisa-bisa.. ” batinnya.
Kazuo tersenyum, “wah, semakin menarik saja. ” ucapnya.
Saken menatap Sinam, “kau.. sepertinya aku pernah melihatmu. ” ucapnya, “kau adalah anak yang waktu itu berteriak-teriak saat kakak ku bertarung ditempat ini.. ”
“bukankah kau juga berteriak-teriak. ” Sinam tersenyum, “tapi sayang, kakak mu terlalu lemah untuk berhadapan dengan kak Uhara. ” lanjutnya.
“terlalu lemah katamu.?! ” Saken terlihat marah. “tapi, sepertinya kau sangat dekat dengan kakakmu. ” lanjutnya.
“kami memang terlihat seperti adik kakak, tapi kami tidak ada hubungan darah, kami hanya tinggal di tempat yang sama. ” jawab Sinam.
Saken terlihat terkejut, “mereka bukan adik-kakak, tapi mereka sedekat itu.? ” batinnya.
“hehehe.” Saken tertawa kecil, “padahal aku dan kakakku saudara kandung, tapi dia membenci ku, aku benar-benar iri padamu. ” wajahnya terlihat menakutkan.
“eh.?! ” Sinam terlihat terkejut.
“kalau begitu.. akan ku habisi kau.! ” Saken berteriak sambil berlari.
Tap.. Tap..
Sinam mulai bergerak, dia berlari ke arah Saken yang juga berlari kearahnya, namun Saken terlihat belum menggunakan Shaka serta sisi Iblisnya.
“kakak mengatakan aku bukanlah apa-apa jika tanpa kekuatan Iblis ini, akan ku tunjukkan padanya kalau itu tidak benar. ” batin Saken.
Saken mengarahkan pukulan keras ke arah kepala Sinam sambil berteriak, Sinam menghindar dengan berbalik, tangannya menjadi kaki, lalu membalas Saken dengan dua tendangan beruntun saat kakinya masih di atas.
Blaak..
wajah Saken terkena tendangan, setelah itu dia terhempas kebelakang dan tergeletak.
Sinam tersenyum, “aku berhasil.. aku berhasil memukulnya.. ” batinnya, lalu kembali memasang kuda-kuda.
Saken kembali berdiri dengan perlahan, “sial.! ” dia terlihat kesal.
Deiki melirik Saken, “ada apa dengannya? kenapa dia tidak menggunakan kekuatannya.? ” batinnya.
Saken menatap Sinam yang seperti menantang dengan kuda-kuda, “cih, ada apa ini? bisa-bisanya aku diremehkan oleh orang seperti dia. ” batinnya.
“apa yang kau pikirkan bodoh? ”Tiba-tiba terdengar suara dari dalam tubuh Saken, itu adalah Iblis Ular yang ada di tubuhnya.
“berisik.! ” jawab Saken, “kau yang menyebabkan aku dibenci oleh kakakku sendiri. ” lanjutnya.
“hehehe.. sekuat apapun kau berusaha untuk tidak menggunakan kekuatan ku, pada akhirnya pasti kau gunakan.. kita adalah satu, aku Iblis setengah manusia, dan kau manusia setengah Iblis. ” ucap Iblis Ular tersebut, “jika kakakmu membenci mu, itu artinya dia bukanlah kakakmu, dia iri padamu yang selalu mendapat perhatian lebih dari Klan ataupun ayahmu.. ”
Sinam memandang Saken kebingungan, “sedang apa dia? apa dia berbicara sendiri.? ” sepertinya dia tidak mendengar suara Iblis Ular.
Saken memejamkan matanya, “dia tetaplah kakakku.. saat sebelum keberadaan mu terlihat, dia sangat menyayangi ku.. dia adalah orang berharga bagiku, tapi.. ” ucap Saken.
“tapi apa.? ” tanya Iblis ular.
“tapi yang kau katakan memang benar, kita adalah satu dan tidak mungkin terpisahkan.. ” jawab Saken, “kalau begitu, ayo kita habisi anak ini.. ”
__ADS_1
Bllaarr..
Tiba-tiba, Shaka di tubuh Saken keluar dengan dahsyatnya, Shaka hijau kegelapan itu terlihat begitu menakutkan.
“apa.?! ” Sinam terkejut.
“dia mulai serius.! ” batin Deiki.
beberapa saat kemudian, Shaka Saken mulai memudar, wajahnya terlihat mencekam.
“aku datang.! ” Saken melesat cepat ke arah Sinam, namun hanya tubuhnya yang bergerak memanjang, sementara pinggang dan kakinya masih diam di tempat.
“apa.?! ” Sinam terkejut.
wajah Saken sudah didepan Sinam, kepalanya terlihat hampir menabrak tubuh lawan, namun Sinam menghindar dengan gerakan kayang.
“apa.?! ” Saken terkejut.
Deiki tersenyum, “seperti biasa, diawal pertarungan Sinam cukup cepat, dia bisa menghindari serangan Saken. ” batinnya.
Blaak..
Sinam yang dalam posisi kayang, mengangkat kedua kakinya untuk menendang tubuh Saken yang berada di atasnya, seperti salto belakang hanya saja kedua tangannya menyentuh tanah.
“cih.! ” tubuh Saken yang seperti ular terhempas keatas, dia terlihat kesal.
Sraak..
saat masih di udara, Saken menarik kakinya yang masih jauh dengan memendekkan tubuhnya, lalu mengubah kedua tangannya menjadi ular dan menyerang Sinam yang masih di bawahnya.
Boomm..
Sinam melompat kesana-sini untuk menghindari serangan beruntun dari Saken, kedua ular Saken menabrak tanah yang langsung berlubang dan hancur, debu ikut menggumpal.
detik berikutnya, Saken mendarat di tanah dengan hempasan yang cukup kuat, tanah sedikit retak dan debu terbang dengan gaya melingkar.
Saken menarik kembali tangan ularnya, seketika tangan itu berubah menjadi normal kembali, “jika kau ingin menyerah, masih belum terlambat. ” ucapnya.
“hosh.. hosh.. ” Sinam tidak menjawab, dia masih mengatur nafas.
Deiki melirik Sinam, “walaupun dia cepat, tapi staminanya tidak bertahan lama. ” batinnya.
“bagaimana? aku yakin kau sekarang takut, aku bukanlah manusia seperti mu, aku adalah Iblis. ” Saken tersenyum jahat.
“hehehe, jangan bercanda!” Sinam tersenyum, “kau manusia seperti ku, hanya saja kau lebih spesial. ”
“manusia..?! ” batin Saken tertegun.
“aku Sinam.. pasti mengalahkan mu.! ” Sinam tersenyum semangat.
“kau menganggap ku manusia, tapi sebenarnya kau sangat takut dengan ku, aku adalah Iblis. ” ucap Saken, “semua orang selalu tersenyum padaku, memuji kekuatan dan mengatakan aku anak yang spesial.. tapi kenyataannya mereka takut pada ku karena aku seorang Iblis.. tidak ada yang mau bersahabat dengan ku karena takut dengan kekuatan ku..”
“jika kau masih memiliki perasaan.. itu artinya kau manusia..” Sinam mulai berlari ke arah Saken, “ karena memiliki perasaan.. barulah bisa dikatakan manusia yang sesungguhnya.. ”
“berhenti beromong kosong, akan ku buat kau takut melihat kekuatan ku.! ” Saken berlari ke arah Sinam.
Tap.. Tap..
keduanya berlari secara bersamaan saling memburu, disaat bertemu keduanya kembali adu pukul.
Blaak..
Sinam melayangkan tinju yang langsung ditahan Saken dengan telapak tangan. Saken membalas, dia melesatkan tendangan ke arah kepala Sinam dengan kaki kanan, dengan gesit Sinam menunduk dan berniat menjegal kaki Saken.
Buaakk..
Saken mengangkat kaki kirinya yang hampir dijegal oleh Sinam, lalu mengarahkannya ke wajah Sinam yang masih menunduk dengan gaya berputar, Sinam terpental jauh bersama cipratan darah yang terbang ke udara, lalu diikuti debu yang beterbangan.
“uhuk... uhuk.. ” Sinam batuk, dia kembali berdiri dengan perlahan.
__ADS_1
Saken memandang Sinam yang berjarak cukup jauh, “hey, Sinam.. aku belum mengeluarkan semua kekuatan Iblis ku.. sekuat apapun kau berusaha, kau akan tetap kalah.. ” teriaknya, “menyerahlah.. kau tidak akan bisa mengalahkan ku.! ”
“berisik.! ” teriak Sinam dengan kedua mata melotot, “sudah aku katakan aku tidak akan menyerah.! ” wajahnya dipenuhi darah.
“cih, dasar keras kepala.! ” Saken terlihat kesal.
Tap.. Tap..
Saken berlari ke arah Sinam yang masih diam ditempat, “orang lemah seperti mu, sampai kapan pun tidak akan bisa mengalahkan manusia Iblis seperti ku.! ” sambil berteriak.
saat sudah dekat dengan Sinam, Saken langsung menerjang dengan tendangan melayang, Sinam menahan dengan kedua tangan, namun terdorong dan tumbang.
Saken memandang Sinam yang tergeletak, “sekarang menyera.. ” dia menghentikan ucapannya, dia menatap Sinam yang mencoba berdiri.
“dasar keras kepala.! ” Saken terlihat kesal, dia kembali mendekati Sinam.
Sinam baru saja berdiri, dia terlihat sangat lemah, wajahnya sudah babak belur.
Buaakk..
Saken meninju pipi kanan Sinam, walau tidak tumbang, Sinam oleng ke kanan dengan bibir pecah.
Sinam membenarkan posisi perlahan, lalu membalas dengan meninju pipi kiri Saken walau sangat pelan, Saken tidak bergeming sedikitpun.
Deiki memandang pertarungan, “Sinam sudah kehabisan tenaga, tapi dia cukup hebat bisa bertahan sampai sejauh ini.. aku akan segera menghentikan pertarungan ini. ” batinnya.
semua orang memandang pertarungan itu, raut wajah mereka terlihat bersedih.
Saken melirik Sinam kesal, “kau.. sampai kapan kau akan ber.. ”
Buaakk..
belum selesai Saken berbicara, Sinam mengadu kening mereka, Saken terdorong dan terduduk, sementara Sinam hampir terjatuh.
“dasar sial..! ” Saken kembali berdiri dengan wajah geram.
Buuaakk..
dengan sangat keras, Saken menendang perut Sinam yang sudah sangat lemah, Sinam terhempas sejauh-jauhnya dan menghantam dinding yang langsung retak, lalu debu datang menyamarkan untuk sesaat.
“pertarungan ini benar-benar tidak layak untuk dilanjutkan. ” batin Deiki lalu berjalan mendekati Sinam.
Saken memandang debu yang menutupi Sinam, dia seperti tidak sabar untuk menunggu.
setelah beberapa saat tertutupi, akhirnya tubuh Sinam terlihat, dia tergeletak lemah dengan tubuh penuh luka dan darah.
Deiki menatap Sinam, “pertarungan ini sudah selesai, kau sudah kalah.. ” ucapnya tersenyum hangat, “tapi aku sangat menghargai perjuangan mu.. ”
Sinam mencoba berdiri dengan memaksa, tubuhnya bergetar, “belum.. ” ucap Sinam, “aku belum menyerah.! ”
“aku sama seperti mu, aku tidak suka dengan kekalahan, tapi.. ” ucap Deiki, “kau sudah mencapai batas mu. ”
“sudah aku katakan pada mu, aku tidak akan menyerah. ” Sinam berjalan perlahan menuju Saken dengan kepala tertunduk, dia melewati Deiki tidak perduli.
Saken menatap Sinam dengan ekspresi kesal, “dasar bodoh! apa kau tidak takut mati! lihat semua lukamu, menyerahlah..! ” teriakannya menggema di arena pertarungan.
“eh.?! ” Sansiro dan Yoja mendengar itu, menoleh dan menghentikan pertarungan sejenak.
Sinam mengangkat kepalanya untuk menatap Saken, “menyerah katamu? hehehe.. jangan bercanda.. ” dia tertawa kecil.
“menyerah adalah kata yang paling ku benci.. menyerah hanya akan membuat ku berhenti ditempat.. tapi, waktu tidak akan ikut berhenti untuk menemani.” ucap Sinam, “aku tidak seperti dirimu, ketika kau ingin menyerah ada yang selalu mendukung mu ‘anakku, teruslah berjuang dan jangan menyerah, ayah dan ibu pasti mendukung mu’ itulah yang ayah dan ibu mu katakan. ” dia terlihat bersedih.
Saken tertegun memandang Sinam, dia membisu dan mematung.
“kau berbeda dengan ku, kau bisa memakan apa yang kau inginkan disetiap saat, tidur di ruangan yang hangat.. dan lagi..dan lagi.. kau selalu mendapatkan kasih sayang kedua orang tuamu.. ” mata Sinam berkaca-kaca. “tapi walaupun begitu.. sudah ku putuskan tidak akan pernah menyerah..! ” dia berteriak di ujung perkataannya.
Sansiro terlihat bersedih, “Sinam.. kau..?! ” matanya berkaca-kaca.
Saken tertegun, namun kemudian kembali kesal, “baiklah jika kau tidak akan menyerah, akan ku bunuh kau.! ” teriaknya.
__ADS_1