SINAM

SINAM
Latihan Bersama


__ADS_3

pagi ini terlihat cerah, pinggiran desa Yama terlihat begitu tenang dengan udara menyejukkan, sementara pusat Desa Yama seperti biasanya, banyak orang berlalu lalang.


walaupun suasana begitu cerah, namun tidak cukup untuk mencerahkan suasana hati seorang gadis berambut hitam yang saat ini terlihat murung, dia adalah Sena, teman sekelas Uhara dan Akaza, Sena juga cukup dekat dengan Sinam.


Sena menatap gambar Uhara dan Akaza yang menempel berdampingan di sebuah dinding, dia terlihat sedih dan kecewa.


“ apa sebenarnya yang kalian pikirkan sehingga meninggalkan Yama.? ” gumam Sena.


Sena terus menatap gambar kedua sahabatnya itu, “ jika suatu saat nanti kita bertemu.. kalian akan menjadi musuhku.. apa yang akan kulakukan jika itu terjadi. ” batinnya bimbang.


disisi lain, jauh dari tempat Sena berada, Sinam dan Sansiro berjalan dari pinggiran desa menuju pusat Desa Yama, keduanya sambil berbincang-bincang.


“ sebenarnya aku tidak ingin berpisah dari kakek dan nenek, tapi tidak ada pilihan lain, aku harus bertambah kuat. ” ucap Sinam.


“ kau benar, aku juga tidak ingin meninggalkan ayah ku yang dalam kondisi seperti itu, tapi mau bagaimana lagi.. dia juga meminta ku untuk mengejar mimpi. ” sahut Sansiro.


Sinam menghentikan langkah dan menatap tanah, “ benar yang kau katakan, kita harus mengejar mimpi.. dan lagi, jika ingin mengetahui siapa orang tua ku.. hanya menjadi petarung terkuat serta dikenal semua orang, yang memberikan ku pilihan.. ” ucapnya lalu menatap langit.


Sansiro menatap Sinam, “ Sinam.. aku percaya kita bisa melakukannya, ya, kita harus bisa melakukannya.! ” ucapnya penuh keyakinan.


Sinam menatap Sansiro, lalu tersenyum hangat, “ ya, kita pasti bisa.! ” ucapnya penuh semangat.


“ kalau begitu, sebaiknya kita lebih cepat.! ” Sansiro berlari, Sinam menyusul dari belakang.


Tap.. Tap..


Sinam dan Sansiro terus berlari, keduanya terlihat bersaing dengan sesekali saling melirik, keduanya seperti lomba lari, debu beterbangan dan mengikuti langkah kaki keduanya.


setelah cukup lama berlari, keduanya sampai di pusat Desa Yama, tepatnya di arena pertarungan Akademi.


“ hosh.. hosh..! ” Sinam dan Sansiro ngos-ngosan, keduanya mengatur nafas dengan kedua tangan di lutut.


didepan Sinam dan Sansiro, Deiki dan murid yang lain sudah berkumpul, mereka lebih dulu tiba karena memang tinggal di pusat Desa Yama.


Sinam menatap Deiki, “ akhirnya sampai juga.. ” ucapnya sambil mengatur nafas.


“ ya, tapi aku yang lebih dulu sampai, kau masih kalah cepat, Sinam. ” Sansiro menoleh Sinam sambil tersenyum.


Deiki menatap Sinam dan Sansiro, “ untuk orang yang tinggal di pinggiran Yama, kalian cepat juga sampai di sini. ” ucapnya sambil tersenyum tipis.


“ jelas-jelas mereka sudah terlambat, tapi guru malah memuji mereka, guru Deiki selalu bersikap baik kepada anak laki-laki. ” ucap Harumi terlihat kesal.


Aozora menoleh Harumi, lalu menoleh Sinam dan Sansiro, “ kali ini aku setuju dengan Harumi.. jelas-jelas kita sudah menunggu lama. ” sahutnya.


Sansiro menatap Harumi dan Aozora dengan kesal, “ memangnya kalian pikir perjalanan kami dekat, hah.?!! ” teriaknya geram.


“ soal itu.. ” Harumi terlihat sok manis, “ kami tidak mau tahu. ” ucapnya.


mendengar itu, seketika wajah Sansiro memerah, dia terlihat geram, “ wanita sialan.! ” dia bersiap mendekati Harumi.


“ sudah, kau tidak perlu membuang-buang waktu mu untuk hal bodoh seperti ini. ” Sinam menahan Sansiro, “ apapun yang mereka katakan, pada akhirnya kau tetap salah, wanita selalu benar.. lebih baik kita diam.. ” lanjutnya.


Sansiro menahan diri, lalu menatap Sinam, “ benar juga yang kau katakan. ” dia menghela nafas.


Harumi dan Aozora menatap Sinam, keduanya terlihat kesal dan ingin mengatakan sesuatu.


Sinam menatap Harumi dan Aozora, “ diamlah, waktu ku terlalu berharga untuk berdebat dengan kalian berdua. ” ucapnya berlagak keren, lalu melangkah menjaga jarak.


Deiki menatap semua muridnya, “ dasar wanita, mereka selalu mempermasalahkan hal-hal kecil.. merepotkan sekali. ” batinnya menghela nafas.

__ADS_1


Sinam seperti menyadari sesuatu, “ seharusnya ada tiga anak perempuan, kenapa yang bersuara hanya Harumi dan Aozora.? ” batinnya, lalu menoleh kearah teman-temannya.


Kaori menatap Sinam penuh arti, sepertinya ada yang ingin di tanyakan.


Sinam menatap Kaori, “ aku tahu apa yang ingin dia katakan. ” batinnya lalu mendekat.


Kaori tersenyum tipis melihat Sinam yang mendekat, matanya berbinar penuh harap.


Sinam berdiri di depan Kaori, menatapnya serius, “ aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, tapi.. ” ucapnya, “ Satoji sudah meninggalkan Yama, aku juga tidak tahu dimana dia sekarang. ” lanjutnya.


Kaori terlihat sedih, “ begitu, ya. ” ucapnya pelan.


Harumi menatap Kaori, “ jadi.. Kaori memang menyukai anak yang bernama Satoji itu, ya. ” batinnya.


Deiki menatap Sinam, “ Satoji, ya.. jadi anak itu sudah pergi... dia memang bukan berasal dari Yama.. ” batinnya.


Sansiro menatap Sinam dari belakang, “ Sinam.. dia tidak mengatakan bahwa Satoji telah pergi.. walau tidak akrab, Satoji tetaplah teman ku. ” batinnya.


Sinam menatap Kaori yang bersedih, tersenyum hangat sambil memegang bahu Kaori, “ tenang saja, suatu saat nanti kita pasti menemukannya, kita bisa tertawa bersama lagi. ” ucapnya.


Kaori tertegun menatap Sinam, lalu tersenyum tipis, “ Sinam.. terimakasih. ” ucapnya.


Sinam menoleh sekeliling, di situ semua temannya ada selain Saken, “ Saken dimana? aku tidak melihatnya. ” dia bertanya.


“ dia tidak datang. ” jawab Deiki cepat, “ sepertinya kepergian Akaza membuatnya murung, dan tidak tahu sampai berapa lama. ” lanjutnya.


Sinam terlihat sedih, “ begitu, ya.. ” ucapnya.


“ wajar saja Saken seperti itu, kepergian kak Uhara saja bagiku sangat menyakitkan. ” batin Sinam.


“ oh, ya guru Deiki, bukankah kau berkata kami akan kau sediakan tempat tinggal, tempatnya dimana..? ” tiba-tiba Sansiro membuka suara menatap Deiki.


“ soal itu.. aku sudah menyiapkan tempatnya, nanti sore akan ku tunjukkan, sekarang aku harus pergi dulu, ada tugas yang harus ku selesaikan. ” jawab Deiki.


“ kalian latihan saja dulu, aku tidak bisa menemani kalian. ” jawab Deiki.


“ bukankah guru berkata akan memberikan tugas pada kami.? ” Sinam terlihat kesal.


Deiki melirik Sinam, “ itu benar, tapi tugas yang bisa kalian lakukan hanyalah tugas yang mudah.. untuk saat ini tidak ada yang seperti itu, jika ada kalian akan mendapat perintah. ” jelasnya, “ sekarang lebih baik kalian latihan saja, dengan begitu kemampuan kalian akan bertambah. ” lanjutnya.


Tap..


detik berikutnya, Deiki sudah menghilang dari tempatnya, hanya debu melingkar yang terlihat.


“ yah, dia pergi. ” ucap Sinam kesal.


“ tapi, guru Deiki memang cepat. ”


setelah beberapa saat kemudian, semuanya terlihat berlatih, mereka bertarung dengan mencari pasangan masing-masing.


Buaak.. Buukk..


Sansiro dan Yoja beradu pukul.


“ kau semakin kuat saja. ” ucap Yoja sambil tersenyum hangat.


“ bukan, sepertinya kau yang semakin lemah. ” jawab Sansiro sambil tersenyum hangat.


“ kalau begitu, aku tarik lagi perkataan ku tadi. ” Yoja semakin bersemangat.

__ADS_1


“ bukankah seorang pria dilarang dilarang menarik kata-katanya sendiri.? ” Sansiro juga bersemangat.


Ctang.. Ctiing..


di samping itu, Aozora dan Kaori juga bertarung, Aozora menggunakan cakar besi kebanggaannya, sementara Kaori menggunakan dua pedang.


Sinam memandangi semua sahabatnya yang berlatih, “ semuanya berlatih.. sementara mempelajari Jurus Satu Tarikan Nafas tidak bisa sendiri, saat nafas ku sesak dan tidak bisa bergerak, harus ada yang membantu ku.. ” batinnya.


diantara semua, Ryugu juga tidak berlatih, dia duduk santai di bawah pohon, angin sepoi-sepoi menghempas rambutnya.


Sinam menatap Ryugu, “ anak itu... anak yang memiliki kekuatan aneh, bertarung menggunakan darah. ” batinnya.


Sinam mendekati Ryugu, “ hey, kau, kenapa kau tidak berlatih.? ” ucapnya menyapa.


Ryugu menoleh Sinam, “ selagi cara hidupku tidak mengganggu mu, diamlah. ” ucapnya datar, namun penuh penekanan.


Sinam terkejut, “ anak yang aneh. ” gumamnya lalu pergi.


“ hosh.. hosh..! ” Harumi mengatur nafas, dia duduk di tanah, sepertinya dia baru saja berlatih.


Sinam menatap Harumi, “ bagus, dia sedang istirahat, aku bisa meminta bantuannya. ” batinnya lalu mendekati Harumi.


Sinam menatap Harumi, “ Harumi, jika nanti tiba-tiba aku tergeletak, tolong pukul punggung ku. ” ucapnya langsung ke intinya.


Harumi menatap Sinam bingung, dia juga tidak berbicara.


Sriing..


Sinam mengeluarkan pedang, kemudian terlihat bersiap.


“ seimbangkan Shaka ke seluruh tubuh, lalu tarik nafas panjang dan tahan. ” batin Sinam serius sambil mengingat ucapan Uhara.


Harumi menatap Sinam bingung, “ apa yang dia lakukan. ” batinnya.


“ Jurus Satu Tarikan Nafas.! ” ucap Sinam, lalu melesat entah kemana.


Harumi tersentak, dia tidak melihat Sinam, “ dimana dia.?! ” ucapnya.


Braak..


tiba-tiba Sinam tersungkur di tanah, dia terlihat kesakitan, posisi dia sekitar dua puluh meter dari tempat awal dia berada.


Harumi terkejut, “ apa yang terjadi.?!” dia melihat Sinam yang tergeletak, dia langsung berlari mendekati Sinam.


“ akh.! ” Sinam kesakitan, namun suaranya tertahan, “ sial, dadaku sesak, dan aku kehabisan nafas. ” batinnya.


Harumi sudah didekat Sinam, namun dia terlihat bingung, “ apa yang harus kulakukan.? ” ucapnya, dia panik.


Sinam meronta ronta untuk memaksa tubuhnya bergerak, namun tidak bisa, dia melirik Harumi, “ bodoh, apa yang dia lakukan.?! ” batinnya kesal.


Harumi berjongkok, menatap Sinam dengan wajah bersedih, “ bodoh, apa yang kau lakukan.? ” ucapnya sambil memegang wajah Sinam.


“ pukul punggungnya, itu yang dikatakannya tadi. ” tiba-tiba Ryugu bersuara, namun dia terlihat tenang.


Harumi menoleh Ryugu, lalu memukul punggung Sinam.


“ uhuk.! ” Sinam batuk bersama tubuhnya yang bergerak, kemudian menatap Harumi yang berada di dekatnya, “ ternyata wanita itu memang bodoh, ya. ” ucapnya.


Harumi menatap Sinam yang berada di dekatnya, “ kau sendiri yang bodoh, tiba-tiba tersungkur seperti itu.. membuat khawatir saja. ” ucapnya mengecilkan suara diakhir perkataannya, pipinya sedikit memerah.

__ADS_1


Sinam berdiri dari duduknya, dia menatap Ryugu yang sedang duduk menikmati udara, “ anak itu.. walaupun seperti itu, dia memperhatikan semuanya, dan lagi.. aku merasakan kehampaan didalam dirinya.. ” batinnya.


Sinam mengalihkan pandangan dari Ryugu, lalu menatap pedang yang berada di genggaman, “ dibandingkan dengan saat itu, sudah ada kemajuan dari latihan ku.. aku sudah cukup berpindah tempat saat menggunakan Jurus Satu Tarikan Nafas, tapi... rasa sakitnya masih sama. ” batinnya.


__ADS_2