
“baiklah, akan ku bunuh kau.!” ucap Saken dingin, lalu mengubah ekspresinya menjadi menakutkan.
Sraakk...
setelah itu, Saken merubah tangan kanannya menjadi ular yang sangat besar, ular itu berwarna hijau kehitaman.
Sinam menatap Saken, dia tidak terlihat takut dengan ular yang ada di depan matanya.
“besar sekali..?! ” Deiki sedikit terkejut.
Saken menggerakkan ularnya untuk menyerang Sinam, “matilah..! ” teriaknya.
Sansiro menatap pemandangan itu, “Sinam..! ” teriaknya sambil berlari ke arah Sinam.
“aku lawan mu..! ” Yoja menghalangi langkah Sansiro, lalu memukulnya.
Bllaak..
Sansiro terjatuh, dia mencoba berdiri kembali, lalu memandang Sinam.
Groo..
Ular milik Saken melesat cepat ke arah Sinam, mulutnya menganga sehingga terlihat taring runcingnya yang dibalut air liur.
“aku.. tidak akan menye.. ” belum sempat Sinam menyelesaikan perkataannya, Ular Saken sudah menerkam, dia pun tertelan.
“apa.?! ” Rokuga berdiri dengan tiba-tiba, “gawat! ini gawat.! ” batinnya.
Kazuo menoleh Rokuga, “ada apa paman? kau terlihat sangat serius. ” ucapnya.
“ini gawat! anak itu bisa mati. ” jawab Rokuga.
“benar, ini sudah melewati batas.! ” sahut Harumi.
“dengan kondisi seperti itu, anak yang bernama Sinam itu tidak mungkin bisa keluar. ” ucap Kaori.
Kazuo tersenyum, “kalian tenang saja, senior Deiki pasti sudah memikirkannya.. dia tidak mungkin membiarkan anak itu mati. ” ucapnya.
Rokuga memandang Ular Saken yang menelan Sinam, “jiwa Air ditubuh Sinam keluar, bukan hanya Sinam, aku juga akan terbunuh. ” batinnya.
Saken memandang Ularnya, wajahnya terlihat serius dan seperti menunggu, “pasti sudah selesai.! ”batinnya.
Deiki memandang Ular besar tersebut, “beberapa menit lagi, dengan begitu Sinam pasti sudah lemah, mungkin dia sudah kesulitan untuk berdiri dan tidak bisa untuk memaksa bertarung. ” batinnya.
Sinam berada di dalam perut Ular besar tersebut, tubuhnya terhimpit bagian dalam Ular tersebut yang dipenuhi dengan cairan seperti lendir.
“ini.. cairan pencernaan?! jika terus disini aku bisa meleleh. ” batin Sinam mencoba bergerak namun tidak bisa.
“apakah aku akan berakhir di sini.? ” batin Sinam seperti mulai pasrah, “kakek.. nenek.. Sansiro, paman Tsurugi.. kak Sena, kak Uhara.. ” lanjutnya.
Tiba-tiba Sinam tersentak, dia mengingat sesuatu, “insting bertarung yang akan mengajarkan pada kalian cara mengendalikan Shaka.. ” wajah dan suara Uhara muncul di benaknya.
“benar, saat ini aku sedang bertarung, aku pasti bisa mengeluarkan Shaka.! ” batinnya kembali bersemangat, “aku tidak bisa terus mengharapkan Sansiro untuk menolong, diluar sana dia pasti sedang bertarung. ” batinnya.
“ayo konsentrasi. ” Sinam memejamkan matanya, “aku pasti bisa. ”
Tap.. Tap..
Deiki berjalan perlahan mendekati Saken, dia menatap Saken dengan wajah datar, “oi, Saken, sudah saatnya kau keluarkan anak itu! aku yakin dia masih hidup di dalam. ” ucapnya.
Saken menatap Deiki, “eh.?! ” kemudian terlihat terkejut, dia menatap ularnya, sepertinya dia merasakan sesuatu.
Blaarr...
Tiba-tiba Ular besar yang menelan Sinam menggeliat, lalu perutnya pecah dan mengeluh banyak darah.
“apa.?! ” semua orang terkejut.
beberapa detik kemudian, terlihat Sinam berjalan keluar dari perut Ular tersebut ya penuh darah, dia berhenti di depan Saken, tubuhnya dibalut dengan Shaka biru yang sangat besar.
__ADS_1
“apa?! dia masih selamat.?! ” Saken terkejut melindungi Sinam yang dipenuhi dengan Shaka.
Deiki terkejut melihat Sinam, “besar sekali, Shaka ini terlalu besar untuk anak yang baru bisa menggunakan Shaka. ” batinnya.
Sansiro dan Yoja sekali lagi menghentikan pertarungan, mereka menoleh kearah Sinam.
“Sinam?! dia juga bisa mengendalikan Shaka, bagus.! ” batin Sansiro.
“cih, anak itu masih bisa bertahan, lalu apa-apaan dengan Shaka itu? ” batin Yoja.
Rokuga tersenyum, “bagus, Sinam sudah berhasil mengeluarkan Shakanya. ” batinnya.
Harumi dan Kaori tertegun, “dia.. hebat juga. ” ucap mereka.
“wah, semakin menarik saja.. ! ” Kazuo tersenyum.
Zuorr..
Shaka Sinam masih menggelegar, tekanan angin disekitar membuat debu beterbangan, dia menatap Saken yang masih terdiam.
Mikami memandang Sinam dari kejauhan, “Shaka anak itu besar sekali, dari mana dia.? ” tanyanya.
“maaf pimpinan, kami juga tidak tahu, sepertinya dia tidak berasal dari Klan hebat. ” jawab pengawalnya.
“tapi, jika dilihat-lihat, anak seusia dia tidak mungkin mengeluarkan Shaka sebesar itu di saat pertama kali, mungkin dia berasal dari Klan hebat. ” sahut yang lainnya dengan wajah serius.
“maksud mu, antara Klan Nogo dan Klan Taro.? ” tanya Mikami serius.
“aku tidak berkata seperti itu, lagipula itu jelas mustahil, kedua Klan tersebut sudah punah. ” jawab orang tersebut.
“Klan Taro baru-baru ini di habisi Uhara dan anggota Kelelawar Merah yang lainnya, anak ini tidak mungkin berasal dari sana. ” sahut pengawal Mikami.
“benar, tapi bagaimana dengan Klan Nogo? sembilan tahun yang lalu Desa Elemen sudah dimusnahkan, dan sudah dipastikan bahwa semua keturunan Huyabasa Nogo telah mati. ” sahut yang lainnya.
“tidak sepenuhnya Klan Nogo telah punah, Hikasa sang Penguasa Petir masih hidup walau tidak ada yang tahu dimana dia sekarang, lalu anaknya Hitomi, setelah kehancuran Desa Elemen dia tinggal di Desa Sanji, aku dengar dia menjadi petarung yang sangat kuat. ” ucap salah seorang.
“jika diingat-ingat, peperangan saat menghancurkan Desa Elemen benar-benar menakutkan, walaupun jumlah mereka sedikit tapi mereka benar-benar tangguh, dalam hidupku itu adalah perang yang paling besar. ” ucap yang lainnya. “jika seandainya Hikasa tidak berkhianat, bisa jadi pasukan tiga Desa besar akan kalah. ”
Mikami memandang Sinam, “anak ini memang terlihat sangat mirip dengan Penguasa Api dan Penguasa Air, tepatnya saat dia menggunakan Shaka biru itu, mengingatkan ku pada Penguasa Air. ” batinnya, “tapi, waktu itu hanya Penguasa Api yang memiliki anak.. walaupun tidak ditemukan jasadnya karena hujan, seandainya anak Penguasa Api masih hidup, seharusnya dia seumuran dengan Uhara, enam belas atau tujuh belas tahun, sementara anak ini terlihat sangat muda.. ” lanjutnya serius.
Saken menatap Sinam sambil tersenyum, “Sinam, kau benar-benar kuat! ayo kita lanjutkan pertarungan ini.! ” dia mengubah ekspresinya.
Tap.. Tap..
tanpa menjawab, Sinam langsung melesat cepat ke arah Saken dengan tubuh yang masih dibalut dengan Shaka biru.
“cepatnya.?! ” Saken terkejut, Sinam sudah berada di depannya.
Blaak..
Sinam melesatkan tendangan keras ke arah kepala Saken dengan gaya menyamping, Saken menahan dengan tangan kanannya.
tangan Saken masih menahan kaki Sinam, “berat sekali.” batin Saken.
Sinam dan Saken saling tatap dengan mata yang cukup dekat, setelah itu Sinam melayangkan tinju ke arah wajah Saken yang langsung menahan dengan telapak tangan kirinya.
Kini, kedua tangan Saken sudah terkunci karena menahan kaki serta tangan Sinam. begitu juga sebaliknya, kaki dan tangan Sinam tidak bisa bergerak.
Saken tersenyum jahat, “sekarang giliran ku.! ” kakinya mulai terayun untuk melepaskan tendangan.
Wushh..
tendangan Saken tidak mengenai Sinam dan membelah udara, Sinam sudah terlepas dan langsung menghindar.
Saken menoleh ke kanan dan kiri, “dimana dia.?! ” kemudian menoleh ke atas, namun tidak menemukan Sinam.
Saken tersentak, kemudian membalikkan badan namun terlambat, Sinam sudah melepaskan tendangan keras, Saken sempat menahan namun tetap tercampak.
Brukk..
__ADS_1
tubuh Saken membentur bumi, berguling-guling lalu tergeletak.
“sial, dia bertambah cepat dan kuat.! ” dia terlihat kesal.
Saken masih setengah berdiri, namun dia melihat kaki Sinam didepan matanya.
“gawat.! ” Saken menoleh ke atas, tendangan Sinam langsung menyambut.
Saken melayang jauh ke arah dinding. saat kepalanya hampir menghantam tembok, dia berputar, kakinya menghancurkan tembok tersebut, lalu menghentakkan kakinya untuk mendapat dorongan dan melesat cepat ke arah Sinam, tekanan kakinya membuat dinding hancur dengan bergelombang.
Sinam menatap tajam Saken yang melesat kearahnya, Shaka biru ditubuhnya terus menggelora, dia masih diam ditempat.
“matilah.! ” teriak Saken sambil mengarahkan tinju.
Grebb..
Sinam menangkap tinju Saken, lalu memutar tubuh Saken lalu melemparkannya sampai kembali menghantam dinding.
Saken terlihat menahan sakit, “dia menahannya.?! ” batinnya.
“jadi begitu, ya. ” Deiki tersenyum, “Sinam bertambah kuat dan cepat, ini sering terjadi ketika seseorang pertama kali membangkitkan Shaka miliknya.. tapi aku penasaran anak ini berasal dari mana.? ” batinnya.
Saken kembali berdiri, lalu mengubah dua tangannya menjadi Ular yang tidak terlalu besar, kedua Ular tersebut melesat cepat ke arah Sinam.
Sinam berlari ke arah Saken, “jadi ini.. perasaan ketika kita sudah mengendalikan Shaka.. perasaan ingin terus bertarung tanpa jeda.. terus maju dan maju.. ” batinnya.
Braakk..
Ular Saken menerkam Sinam, moncongnya menghantam tanah karena Sinam sudah melompat untuk menghindar, tanah terus hancur.
Sinam masih di udara, Ular kedua mengarah ke Sinam dengan mulut terbuka lebar, Sinam tidak bisa menghindar, dia masuk kedalam mulut Ular tersebut.
“HIAAA..!! ” Sinam berteriak keras, mulut Ular tersebut terbuka, terlihat Sinam sedang memaksa Ular tersebut untuk membuka mulutnya.
“apa.?! ” Saken terkejut.
Krakk..
mulut Ular tersebut koyak bersama terciptanya darah, lalu tergeletak. Sinam melompat dan mendarat di bumi, lalu berlari menuju Saken.
Sraak..
Saken mengubah Ularnya yang mati menjadi tangannya kembali, kemudian menggerakkan Ularnya yang tersisa satu lagi untuk menyambar Sinam dari belakang.
Buaakk..
Sinam menendang kepala Ular tersebut, Ular itu terhempas jauh lalu tergeletak lemah.
“cih, sial.! ” Saken terlihat kesal, lalu mengubah ularnya menjadi tangannya kembali.
Tap.. Tap..
Saken juga bergerak, dia berlari ke arah Sinam yang juga berlari kearahnya, setelah dekat keduanya terlihat mengayunkan tinju.
“matilah..! ” teriak Saken.
“kaulah yang akan kalah..! ” teriak Sinam bersamaan dengan Saken.
Boomm..
tinju Sinam dan Saken saling bertabrakan, tekanan udara terlihat bergelombang, angin kencang memaksa debu untuk beterbangan.
detik berikutnya, Sinam mengubah tinjunya menjadi cengkraman dan menangkap tinju Saken, lalu memutarnya dengan keras.
“Akh..! ” Saken berteriak kesakitan.
“Hiaaa.!! ” Sinam berteriak keras sambil menghantamkan tinju kirinya ke wajah Saken.
Buaakk..
__ADS_1
tinju Sinam sangat dahsyat, tubuh Saken terlempar, berkali-kali memantul di bumi, berguling-guling, lalu terhenti menabrak dinding walau tidak terlalu kuat, tubuhnya terlentang di samping dinding.
Deiki menatap Saken, “walaupun dia bisa beregenerasi, tapi bukan berarti dia tidak bisa merasakan sakit.. Shaka ditubuhnya mungkin tidak terhingga, tapi tetap saja dia bisa lelah.. dia tetaplah manusia.. sebentar lagi dia mencapai batasannya. ” batinnya, kemudian menoleh Sinam, “disisi lain, Sinam baru saja membangkitkan Shaka miliknya, dia takkan merasa lelah untuk sesaat.. tapi begitu Shaka tersebut habis, mungkin dia langsung pingsan. ”