
“sudahi sedih mu sahabat ku, itu tidak akan mengubah apa-apa. ” ucap pria berjubah hitam tersebut.
Hikari menoleh kebelakang, “Rokuga.?! ”
Pria berjubah hitam tersebut adalah Rokuga, sahabat dari Hikari yang berasal dari desa Yama, dia adalah adik dari Mikami sang pemimpin Yama.
Rokuga berjalan kearah Hikari, “bangunlah Hikari, pertarungan belum selesai. ”
“aku sudah tidak bisa bertarung, tubuh ku terasa berat. ” jawab Hikari, “tidak ku sangka kau benar-benar datang Rokuga. ”
“siapa kau?
“jangan menghalangi kami jika ingin selamat.! ”
pasukan musuh memandang kearah Rokuga dengan geram.
Rokuga melirik kebelakang, hanya bola matanya saja yang terlihat karena memakai topeng, “Hikari, aku akan mengurus mereka dengan cepat, kau tidak perlu khawatir. ” dia berjalan kearah musuh.
Tap.. Tap...
Rokuga berlari cepat kearah musuh dengan sepasang pedang ditangan, Shaka hijau menghiasi senjatanya.
“maju..! ” semua pasukan musuh maju menyerbu Rokuga.
Traang.. Tiing..
suara dentingan pedang mulai terdengar, sesekali suara teriakan kematian juga menyertai, darah muncrat ke segala arah.
Zrasshh..
Rokuga terus menebas tanpa tergores, sekujur tubuhnya dibanjiri darah lawan.
“kenapa ini harus terjadi.? ” batin Rokuga sambil bertarung, “maafkan aku Hikari, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain ini. ”
disisi lain, Hikari tergeletak di samping Hayumi dan Sinam, dia memegangi wajah Sinam dengan wajah sedih.
“Sinam.. kau harus tetap hidup, kau harus menjadi petarung tangguh yang membawa perdamaian.. ini memang sulit, perjalanan mu pasti berat, tapi ayah percaya pada mu.. kau.. kau pasti bisa mencapainya.. ” Hikari mulai serak dan matanya berkaca-kaca. “maafkan ayah Sinam... ayah tidak bisa menemanimu.. ayah tidak akan ada disaat kau terpuruk, kesepian... penderitaan.. perjalanan panjang mu ayah tidak bisa bersamamu.. ” air matanya pun menetes.
Sinam sudah berhenti menangis, dia kembali terlelap dan seperti tidak perduli dengan ucapan ayahnya.
Rokuga sudah menghabisi semua pasukan musuh, dia menyarungkan pedang dan mendekati Hikari.
Rokuga menatap Hikari yang tergeletak, “maafkan aku Hikari, aku tidak bisa memberi mu informasi tentang penyerangan ini, aku tidak bisa keluar desa. ” ucapnya tertahan, “aku sudah mencoba untuk membatalkan penyerangan ini, namun kakak menolak, aku berniat membelot, tapi... ” dia menghentikan ucapannya.
__ADS_1
“seandainya ini tidak terjadi.. ” lanjut Rokuga.
“cukup Rokuga.! ” Hikari bersuara dan duduk, “kau tidak perlu minta maaf, kau datang saja sudah membuat ku senang. kau tidak bersalah, biar bagaimanapun kau adalah penduduk desa Yama, sekuat apa pun persahabatan kita, kau tidak harus mati bersamaku ditangan pasukan kakakmu, ini adalah yang terbaik, akhir yang memang harus berakhir seperti ini. ” dia tersenyum.
Rokuga tertegun, “yang terbaik? kenapa? apa kau tidak membenci desa ku.?! ”
“benci atau tidak sudah tidak ada artinya lagi, tidak perlu menyimpan dendam disaat akan mati, lagipula penyerangan ini terjadi karena kerja sama kakakku, Hikasa dengan ketiga pimpinan desa lain, ini tidak bisa dihindari. ” jawab Hikari.
“kakakmu.?! ” Rokuga terkejut, “kenapa dia melakukan ini.? ”
“aku tidak tahu, pastinya dia memiliki alasan tersendiri. ” jawab Hikari.
suasana hening sesaat.
“Rokuga, sebagai sahabat, aku ingin kau merawat Sinam, aku ingin kau menyelamatkan Sinam. ” tiba-tiba Hikari berucap dengan serius.
“tidak perlu kau katakan, aku pasti akan merawat Sinam dengan baik, dia akan menjadi petarung yang hebat di masa depan. ” jawab Rokuga.
“sampai mati sepertinya aku akan terus menyusahkan mu. ” Hikari tersenyum yang menyelip kesedihan.
“jangan bodoh Hikari, kau adalah sahabat terbaik ku, kita sudah saling mengenal dari kecil.. setelah kepergian mu nanti.. mungkin aku.. mungkin.. akan dihantui rasa bersalah selamanya. ” ucap Rokuga.
Hikari menatap Rokuga, “bisakah kau lepas topeng mu? jika wajahmu tidak terlihat kau terasa jauh.. ”
Hikari tertegun menatap Rokuga, dia menundukkan kepala, air mata juga menetes.
Hikari menatap wajah Sinam, “aku harap Sinam akan akrab dengan anak mu, mereka juga seusia, mereka pasti menjalankan misi bersama. ”
“pastinya begitu. ” jawab Rokuga.
Hikari tersenyum, “padahal kita sudah lama bersahabat, tapi aku tidak tahu nama putrimu, hehehe, ternyata aku memang belum mengenal mu. ” dia tertawa kesedihan.
“Harumi.. namanya adalah Harumi.. mirip dengan nama istrimu.. ” ucap Rokuga. “aku ingin dia menjadi wanita yang kuat seperti Hayumi.. ”
Hikari menatap Rokuga cukup lama, “hahaha, aku pikir kau malu memberi tahu ku.. ” tiba-tiba dia tertawa.
“hahaha, aku takut kau berpikir bahwa aku menyukai istri mu, hahaha. ” Rokuga menjawab dengan tawa.
setelah beberapa saat tertawa, Hikari terlihat serius, dia menatap Sinam sambil memainkan telunjuk kirinya yang langsung muncul setetes air, “ini akan menjadi senjata terakhirnya sekaligus pelindungnya.. ”
setelah itu, setetes air tersebut terbang dan masuk ke tubuh Sinam tepat dibagian bahu, lalu membekas jelas.
“apa yang kau lakukan?! ” Rokuga terkejut.
__ADS_1
“aku belum mengajarkannya apa-apa, sebagai orang tua, hanya ini yang bisa ku lakukan. ” jawab Hikari.
“apa itu artinya dia akan menguasai Elemen Air.? ” tanya Rokuga.
“hanya saat terdesak, jika beruntung dia pasti bisa mengendalikannya. ” jawab Hikari sambil tersenyum.
“kenapa kau lakukan? bukankah itu hanya akan membahayakannya dan membuatnya sengsara! semua orang akan tahu dia adalah anakmu termasuk kakakku, dia akan berakhir tragis.! ” ucap Rokuga setengah berteriak.
“masalah itu aku percaya pada mu. ” ucap Hikari cepat, “walau setetes, air itu adalah Shaka terakhir ku. ”
Rokuga terdiam menatap Hikari, “lalu bagaimana dengan penguasa api dan anaknya? apa kau tidak akan menolong mereka? saat ini mereka sedang diburu oleh pasukan kakakku dan yang lainnya. ”
“pantas saja.. ” kemudian Hikari tersenyum, “hehehe, dengan kondisi ku sekarang, aku tidak bisa apa-apa, aku sudah kehabisan Shaka. sebaiknya kau bawa Sinam dan pergilah, aku akan mati disini. ”
Greeb..
Rokuga menempelkan tangannya di bahu Hikari yang sedang terduduk, “mungkin kakakmu sudah tidak mungkin bisa bertahan, tapi keponakan mu masih punya harapan. ” ucapnya.
Hikari tertegun, dia melihat tangan Rokuga yang menempel mengeluarkan Shaka berwarna hijau, “Rokuga, kau.?! ”
“ini hanya membuat mu bertahan lebih lama, tapi tidak bisa menyembuhkan lukamu yang terlalu parah. ” Rokuga tersenyum.
“sekali lagi Terima kasih Rokuga, kau benar-benar membantu. ” setelah beberapa saat Hikari berdiri dan berucap.
Hikari menatap Rokuga, kemudian meletakkan tinjunya ke depan, “ini adalah adu tinju kita yang terakhir. ”
“kau benar.! ” Rokuga mengarahkan tinjunya.
Buk..
kedua tinju mereka bertemu.
“Rokuga, aku titip Sinam, dan.. selamat tinggal.. ” ucap Hikari sambil tersenyum.
“lebih tepatnya sampai jumpa lagi, karena suatu saat aku pasti menyusul mu. ” Rokuga juga tersenyum.
“aku tidak punya banyak waktu, aku akan pergi sekarang. ” Hikari membalikkan badan, lalu melirik Hayumi, “istriku, aku akan segera menyusul mu, jadi jangan merasa kesepian. ” batinnya.
Tap.. Tap..
Hikari mulai berlari menuju tempat Hikaru dan Himiko.
“Terima kasih Rokuga, kau sudah memberikan ku Shaka mu, aku jadi sedikit bertenaga. ” batin Hikari.
__ADS_1
Rokuga menggendong Sinam, dia memperhatikan bekas tetes air dibahu Sinam, “Hikari, aku akan menjaga anak mu demi persahabatan kita. ” lalu pergi meninggalkan tempat itu.